Laporan Survey Potensi Gerakan Tanah Di Kec. Cigombong, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat

Laporan hasil pemeriksaan survey potensi gerakan tanah di Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, sebagai berikut:

1. Lokasi Area Survey Gerakan Tanah:

Area survey potensi gerakan tanah terletak di Kawasan Pusat Laboratorium BNN di Lido, Kabupaten Bogor. Secara administrasi terletak di Desa Wates Jaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Secara geografis berada pada koordinat 106° 49' 03,6" BT dan 6°44' 47,6" LS serta pada koordinat 106° 49' 04,6" BT dan 6° 44' 51,5" LS dengan luas area sekitar 23.770 m2.

2. Kondisi daerah survey :

a. Morfologi

Morfologi di daerah gerakan tanah secara umum merupakan landai – agak terjal (4°–12°). Namun pada bagian belakang komplek laboratorium merupakan lembah dan berlereng terjal (23°–40°). Lokasi gerakan tanah berada pada ketinggian antara 515 – 540 m di atas permukaan laut. Terdapat aliran alur lembah yang bersifat musiman dibelakang komplek perkantoran tersebut yang merupakan salah satu alur yang menuju danau Cigombong/ Danau Lido.

b. Geologi

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Bogor, Jawa (Effendi drr., 1998), secara regional lokasi gerakan tanah berada pada litologi tuf berbatuapung (Qvt) yang merupakan produk paling tua dari endapan kuarter bagian dari batuan gunungapi tua. Diatasnya diendapkan batuan gunungapi gunung salak dan batuan gunungapi gunung gede. Dalam kondisi segar tufa batuapung ini umumnya kompak, akan tetapi akan tetapi mudah ditoreh dengan palu atau mudah runtuh jika erosi kuat.ukuran butir lanau – pasir kasar dan termasuk mempunyai permeabilitas rendah – sedang. Tanah pelapukan berupa pasir dengan ketebalan 3 – 5 meter.

c.Keairan

 Sumber air dari sumur komplek perkantoran kedalaman 30 m melalui sumur bor. Namun berdasarkan hasil pengukuruan dengan geolistrik sumber muka air tanah terdapat pada kedalaman 5 m pada bagian belakang gedung. Di bagian dalam Gedung muka air tanah cenderung positif terutama pada saat hujan muncul rembesan pada lantai. Terdapat mata air dan rembesan di kaki longsoran.

d. Tata guna lahan

Lahan di lokasi gerakan tanah ini berupa perkantoran, permukiman dan kebun campuran di bagian atas hingga tengah lereng. Di bagian bawah juga terdapat kebun, semak belukar dan pemukiman dan Danau Lido dibagian paling bawah tempat terakumulasi air yang ada di area tersebut.

e. Kerentanan gerakan tanah

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah di Kabupaten Bogor (PVMBG-Badan Geologi), daerah gerakan tanah termasuk dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah/ Longsor Rendah - Menengah. Artinya, di daerah ini dapat terjadi gerakan tanah, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dapat aktif kembali akibat curah hujan tinggi dan erosi yang kuat.

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

Faktor penyebab gerakan tanah adalah interaksi kondisi geologi dan morfologi serta curah hujan tinggi, yang secara umum antara lain adalah:

  • Batuan tuf berbatuapung dapat mengalami longsor jika erosi tinggi dan jenuh air.
  • Kemiringan tebing lereng yang terjal, terutama pada bagian belakang area perkantoran berupa lembah yang merupakan alur aliran menuju Danau Lido.
  • Tanah pelapukan yang cukup tebal 1-3 m, bersifat lepas dan porous sedangkan di bagian bawahnya berupa lapisan yang lebih kedap.
  • Melimpasnya aliran permukaan atau drainase pada bagian saluran pembuangan sehingga mengerosi lereng dan terjadilah longsor.
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi menjadi pemicu terjadinya gerakan tanah.

5. Analisis Geolistrik

 Analisis geolistrik pada lintasan 1

Hasil pengukuran geolistrik menggunakan konfigurasi Wenner-Schlumberger sebanyak 36 elektroda, jarak antar elektroda sebesar 4 meter. Lintasan ini dibuat memotong mahkota longsor sepanjang 144 meter. Pengolahan data menggunakan iterasi sebanyak 5 kali dengan error yang dihasilkan sebesar 2.5%. Rentang nilai resistivitas yang diperoleh adalah 2,4 – 518 Ωm. Berdasarkan penampang resistivity (Gambar 1), terdapat lapisan dengan nilai resitivitas rendah (warna biru) yakni berkisar 2,4 – 11 Ωm, diperkirakan sebagai zona jenuh air pada titik elektroda 10 sampai 28 dengan kedalaman 12,8 - 27 meter. Terdapat lapisan dengan nilai resitivitas tinggi/blok stabil (warna merah) dengan nilai resitivitas berkisar 240 – 518 Ωm. Pada zona ini diperkirakan terdapat batuan yang cukup kompak.

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan pada elektroda 1 – 8 yang berada di dekat mahkota longsoran, terdapat lapisan jenuh air pada kedalaman 5 meter di bawah lapisan kompak yang longsor. Penanggulangan yang dapat dilakukan adalah membangun ulang tembok penahan yang kuat dan lebih dalam (sampai batuan kompak/blok stabil). Terdapat potensi bidang gelincir pada elektroda 5 – 7, berpotensi menjadi bidang gelincir jika penjenuhan dan pembebanan terus berlanjut, sehingga harus dilakukan pengendalian air yang terakumulasi.

Lintasan 1

cigombong-1

Gambar 1. Hasil pengukuran geolistrik lintasan 1 dengan arah utara – selatan.

 

Analisis geolistrik pada lintasan 2

 Pengukuran geolistrik menggunakan konfigurasi Wenner-Schlumberger sebanyak 36 elektroda, jarak antar elektroda sebesar 3 meter. Lintasan ini dibuat searah mahkota longsor sepanjang 108 meter. Pengolahan data menggunakan iterasi sebanyak 5 kali dengan error yang dihasilkan sebesar 1.3%. Rentang nilai resistivitas yang diperoleh adalah 7,7 – 1044 Ωm. Berdasarkan penampang resistivity (Gambar 2), terdapat lapisan dengan nilai resitivitas rendah (warna biru) yakni berkisar 7,7 – 31,4 Ωm, diperkirakan sebagai zona jenuh air pada titik elektroda 10 sampai 27 dengan kedalaman 11,9 – 20,3 meter. Terdapat lapisan dengan nilai resitivitas tinggi/blok stabil (warna merah) dengan nilai resitivitas berkisar 257 – 1044 Ωm. Pada zona ini diperkirakan terdapat batuan yang cukup kompak.

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan air tanah pada lintasan ini sangat dangkal, berkisar antara 1 – 4 meter. Terdapat indikasi adanya struktur yang dicirikan dengan pola yang menggambarkan celah yang menjadi jalan naiknya muka air tanah. Terdapat potensi bidang gelincir pada elektroda 4 – 8 (12 – 24 m dari tebing), berpotensi menjadi bidang gelincir jika penjenuhan dan pembebanan terus berlanjut, sehingga harus dilakukan pengendalian air yang terakumulasi.

Lintasan 2

cigombong-2

Gambar 2. Hasil pengukuran geolistrik lintasan 1 dengan arah barat – timur

 

6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah :

Gerakan tanah atau tanah longsor pada lokasi ini terjadi karena pada bagian ujung merupakan tempat akumulasi pembuangan air, serta lereng bagian belakang tanpa perkuatan dan saluran drainase/saluran pembuangan air yang baik. Ketika hujan deras maka akumulasi air dan terjadi limpasan air sehingga erosi menjadi semakin tinggi. Daerah tersebut tersusun oleh batuan tuf batuapung dan menjadi mudah runtuh akibat erosi, sehingga terjadi longsoran. Muka air tanah di lokasi ini tergolong dangkal disamping itu terdapat pola struktur yang diperkirakan sehingga ketika hujan deras pada bagian dalam gedung muncul rembesan atau tekanan air positif.

7. Rekomendasi Teknis

Mengingat curah hujan yang diperkirakan masih tinggi dan potensi terjadinya gerakan tanah susulan, untuk menghindari kerusakan yang lebih besar direkomendasikan:

  • Pada bagian yang longsor agar segera dilakukan penguatan lereng/retaining wall/tembok penahan dan penataan aliran air permukaan atau sistem drainase dengan saluran yang kedap dengan pemipaan atau pembuatan saluran dengan konstruksi kedap air dan diarahkan ke lembah/sungai, untuk menghindari peresapan air ke tanah sehingga dapat memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Melakukan pemantauan terhadap munculnya retakan baik pada tembok maupun pada lahan karena bisa sebagai tanda tanda awal longsoran, jika retakan terus berkembang agar segera mengungsi dan melapor ke pihak berwenang.
  • Pada saat ini bangunan Pusat Laboratorium BNN masih aman dari potensi longsor karena belum terlihat tanda-tanda retakan baik pada lahan maupun bangunan.
  • Pada saat ini perlu ditunggu apakah rembesan air didalam Gedung tersebut masih keluar apa tidak, karena pada saat penyelidikan di lokasi ketika hujan gerimis rembesan air tidak keluar. Jika rembesan terus keluar untuk mengurangi munculnya rembesan bisa dibuat beberapa alternative antara lain;
  1. horizontal drainage fungsinya untuk menurunkan muka air tanah (gambar 6);
  2. Dipompa dan disalurkan keluar namun harus membongkar keramik yang ada .

 cigombong-3

Gambar 1. Peta petunjuk lokasi gerakan tanah di Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

cigombong-4

Gambar 2. Peta Geologi Regional Kecamatan Gunungguruh dan sekitarnya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

cigombong-5

Gambar 3. Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

cigombong-6

Gambar 4. Peta situasi gerakan tanah dan pengukuran Geolistrik di Kantor Puslab BNN, Desa Wates Jaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

cigombong-7

Gambar 5. Sketsa penampang gerakan tanah di Puslab BNN Lido Desa Wates Jaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

cigombong-8

Gambar 6. rekayasa mengurangi penurunan muka air tanah/ rembesan melalui horizontal drainage.

cigombong-9

Foto diskusi dan penyampaian hasil geolistrik kepada Kepala Pusat Laboratorium BNN

cigombong-10

Foto Pemasangan Pengukuran Geolistrik Lintasan 1 di Pusat Laboratorium BNN

cigombong-11

Foto Pemasangan Pengukuran Geolistrik Lintasan 2 di Pusat Laboratorium BNN

cigombong-12

Foto Longsoran pada bagian belakang Pusat Laboratorium BNN

cigombong-13

Foto tempat munculnya rembesan air di dalam salah satu gedung di Puslab BNN.