Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Desa Bojongkerta, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat

Menindaklanjuti surat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sukabumi No.360/185/II/Sekret tanggal 10 Februari 2020, perihal Permohonan Kajian Pergerakan Tanah di Kp. Ciseureuh, Desa Bojongkerta, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat sebagai berikut:

1. Lokasi Bencana Dan Waktu Kejadian

Lokasi gerakan tanah berada pada koordinat 106° 45’ 07” BT, 06° 58’ 51,9” LS, secara administratif terdapat di Kampung Ciseureuh RT/RW 01/06, Desa Bojongkerta, Kecamata Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Gerakan tanah terjadi pada hari Jum’at, 7 Februari 2020 pukul 08.30 WIB setelah sebelumnya terjadi hujan berintensitas tinggi. Menurut informasi penduduk, gerakan tanah di lokasi ini terjadi berulang kali, pertama kali terjadi 10 tahun yang lalu.

 

2. Kondisi Daerah Bencana

  • Morfologi, Morfologi pada lokasi ini berupa perbukitan bergelombang dengan kemiringan lereng antara 10°- 20°, di pinggiran tebing mencapai lebih dari 30°. Gerakan tanah terjadi pada tanah di pemukiman pada ketinggian 335 mdpl. Di bagian timur lokasi bencana, pada bagian lembah terdapat Sungai Cicatih yang mengalir sepanjang tahun.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Bogor, Jawa (AC. Effendi, Kusnama dan Hermanto, 1998), lokasi gerakan tanah tersusun oleh Batuan Gunungapi Tua (Qvb) berupa breksi gunungapi bersusunan andesit-basal. Di bawahnya terdapat Batuan Gunungapi G. Pangrango (Qpvo) berupa lahar, lava, dan basal andesit. Berdasarkan pengamatan lapangan, batuan penyusun di sekitar lokasi bencana merupakan breksi dan lava, pelapukannya berupa lempung tufan berwarna coklat muda hingga coklat tua, dengan ketebalan antara 2 hingga mencapai 4 meter, bersifat sarang, gembur dan tidak kompak.
  • Keairan, Kondisi keairan di lokasi ini melimpah dengan adanya 3 mata air dengan debit cukup tinggi yang dimanfaatkan masyarakat untuk keperluan rumah tangga dan mengairi pesawahan dan kebun di sekitar pemukiman yang disalurkan melalui pipa-pipa paralon. Selain itu masyarakat juga memanfaatkan air permukaan berupa aliran Sungai Cicatih dan air hujan.
  • Tata Guna Lahan, Secara umum tata guna lahan di lokasi gerakan tanah merupakan areal kebun campuran yang materialnya menimpa areal persawahan di bawahnya. Rumah terdekat berjarak sekitar 30 m dari lokasi bencana.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Potensi Terjadinya Gerakan Tanah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat Bulan Februari 2020, daerah pemeriksaan termasuk dalam Potensi Gerakan Tanah Tinggi. Artinya pada lokasi ini berpotensi tinggi terjadi gerakan tanah. Gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak, akibat curah hujan yang tinggi dan erosi yang kuat.

 

3.  Kondisi Gerakan Tanah

Gerakan tanah di lokasi ini berjenis rayapan yang ditandai dengan retakan dan amblasan yang berkembang menjadi longsoran dengan arah gerakan N 175° E, gerakan relatif ke arah Timur. Gerakan tanah ini merusak kebun campuran dan sawah penduduk serta mengancam pemukiman di Kp. Ciseureuh yang terletak di bawah bukit yang mengalami longsoran.

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

Secara umum faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di daerah pemeriksaan antara lain adalah:

  • Bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan (lapukan breksi) dengan batuan dasar lava yang kedap air sebagai bidang gelincir.
  • Kemiringan lereng yang terjal mengakibatkan tanah mudah bergerak.
  • Tanah pelapukan yang tebal, bersifat sarang dan mudah terkikis oleh air.
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik. Aliran mata air yang melimpah tidak tertampung dan tidak tersalurkan dengan baik yaitu dengan bocornya pipa-pipa saluran. Rembesan dari saluran yang tidak kedap ini membuat air terakumulasi pada satu tempat menyebabkan tanah jenuh air.
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah.

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah 

Limpasan air hujan (run off) dan aliran air dari mata air yang liar masuk dan meresap ke dalam tanah yang bersifat sarang, gembur dan tidak kompak, menyebabkan tanah menjadi jenuh air, sehingga bobot masanya bertambah dan kuat gesernya menurun. Kondisi ini menyebabkan terbentuknya zona lemah akibat akumulasi air pada kontak tanah pelapukan dengan batuan dasar (lava) yang kedap. Kondisi tersebut ditambah dengan kemiringan yang hampir tegak akibat pemotongan lereng, mengakibatkan tanah menjadi tidak stabil dan terjadilah retakan dan amblasan serta berkembang menjadi longsoran.

 

6.  Rekomendasi

Mengingat curah hujan yang diperkirakan masih tinggi, untuk menghindari terjadinya gerakan tanah susulan dan mengurangi risiko akibat bencana gerakan tanah, maka direkomendasikan:

  • Pemukiman di daerah bencana (Kp. Ciseureuh RT/RW 01/06) saat ini masih layak huni, dengan syarat rekomendasi teknis tersebut di bawah dilaksanakan.
  • Meningkatkan kewaspadaan bagi penduduk yang bermukim di bawah bukit yang mengalami longsoran dan yang beraktivitas di lokasi gerakan tanah dan sekitarnya, terutama pada saat dan setelah turun hujan.
  • Memperbaiki/menata saluran air (drainase), di antaranya sebagai berikut;
    • ü Membangun tempat penampungan mata air yang konstruksinya mengikuti kaidah keteknikan yang baik dan disesuaikan dengan volume/debit mata air tersebut.
    • ü Membuat saluran air yang kedap (pipa/semen) yang ditempatkan di atas permukaan. Hal ini untuk mempermudah pemantauan kondisi saluran, jika terjadi kebocoran atau penyumbatan pada saluran agar segera ditangani agar tidak terjadi penumpukan air di satu tempat yang bisa memicu longsor
    • ü Saluran air dialirkan langsung ke arah lembah/kaki lereng/sungai terdekat.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi bencana harap melakukan pemantauan terhadap potensi longsoran susulan terutama pada saat dan setelah hujan deras.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk mengenal tanda-tanda awal terjadinya gerakan tanah dan masyarakat agar selalu mengikuti arahan dari aparat pemerintah setempat dan BPBD.

 

LAMPIRAN

Warungkiara 1 (030320)

Gambar 1. Peta Lokasi Gerakan Tanah di Desa Bojongkerta, Kec. Warungkiara, Kab. Sukabumi, Jawa Barat.

 

Warungkiara 2 (030320)

Gambar 2. Peta Geologi Gerakan Tanah di Desa Bojongkerta dan sekitarnya, Kec. Warungkiara, Kab. Sukabumi, Jawa Barat.

 

Warungkiara 3 (030320)

Gambar 3. Peta Prakiraan Gerakan Tanah di Desa Bojongkerta dan sekitarnya, Kec. Warungkiara, Kab. Sukabumi, Jawa Barat pada Bulan Februari 2020.

 

POTENSI GERAKAN TANAH DI KABUPATEN SUKABUMI

PROVINSI JAWA BARAT BULAN FEBRUARI 2020

Warungkiara 4 (030320)

Keterangan :

Warungkiara 5 (030320)

 

Warungkiara 6 (030320)

Gambar 4. Peta Situasi Gerakan Tanah di Kp. Ciseureuh, Desa Bojongkerta, Kec. Warungkiara, Kab. Sukabumi, Jawa Barat.

 

Warungkiara 7 (030320)

Gambar 5. Penampang Situasi Gerakan Tanah di Kp. Ciseureuh, Desa Bojongkerta, Kec. Warungkiara, Kab. Sukabumi, Jawa Barat.

 

Warungkiara 8 (030320)

Foto 1. Rembesan air yang masih mengalir pada kaki lereng yang mengalami longsoran.

 

Warungkiara 9 (030320)

Foto 2. Retakan dan nendatan pada punggungan yang berada di atas lereng yang mengalami longsoran.

 

Warungkiara 10 (030320)

Foto 3. Sejumlah permukiman di Kampung Ciseureuh pada lembah yang berada di bawah bukit yang mengalami longsoran. Rumah-rumah di lokasi ini terancam jika longsoran terus berkembang.

 

Warungkiara 11 (030320)

Foto 4. Lava yang tersingkap di antara lapukan breksi di bagian bawah tubuh longsoran

 

Warungkiara 12 (030320)

Foto 5. Pemeriksaan dan Koordinasi dilaksanakan dengan pihak BPBD Kabupaten Sukabumi dan aparat desa setempat.