Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Desa Cimerang, Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat

Menindaklanjuti surat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sukabumi No.360/185/II/Sekret tanggal 10 Februari 2020, perihal Permohonan Kajian Pergerakan Tanah di Desa Cimerang, Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat sebagai berikut:

1. Lokasi Bencana Dan Waktu Kejadian

Lokasi gerakan tanah di Desa Cimerang, Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat berada pada:

  • Di wilayah pemukiman Kampung Batu Gede RT/RW 03/06, pada  koordinat 106° 54’ 14,2” BT, 07° 03’ 26,6” LS dan 106° 54’ 18,4” BT, 07° 03’ 24,3” LS. Gerakan tanah terjadi setiap musim hujan sejak tahun 2018.
  • 3 (tiga) titik di wilayah kebun campuran dan jalur jalan desa Kampung Batu Gede RT/RW 03/06, titik pertama pada koordinat 106° 54’ 17,9” BT, 07° 03’ 20,8” LS, titik kedua pada koordinat 106° 54’ 25,8” BT, 07° 03’ 22,4” LS, dan titik ketiga pada jalur jalan di koordinat 106° 54’ 23,9” BT, 07° 03’ 26” LS. Gerakan tanah terjadi pada bulan Januari 2020.

 

2. Kondisi Daerah Bencana

  • Morfologi, Morfologi lokasi bencana di Desa Cimerang merupakan daerah landai sampai agak curam dengan kemiringan lereng antara 3°- 8° di lokasi pemukiman, pada ketinggian sekitar 755-760 mdpl dan kemiringan lereng curam di lokasi kebun campuran mencapai lebih dari 20°, pada ketinggian sekitar 768 mdpl.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Jampang dan Balekambang, Jawa (Sukamto, 1975), kedua lokasi gerakan tanah tersusun oleh Batuan Formasi Beser (Tmbv) berupa breksi andesit, breksi tuf, tuf kristal, dan batulempung. Berdasarkan pengamatan lapangan, batuan dasar penyusun di sekitar lokasi bencana Kp. Batu Gede merupakan breksi, andesit, dan batulempung. Tanah pelapukan berupa lempung pasiran berwarna coklat muda hingga coklat tua, bersifat sarang, gembur, dan tidak kompak.
  • Keairan, Kondisi keairan di sekitar lokasi gerakan tanah ini cukup baik dan melimpah pada musim hujan. Air permukaan (run off) mengalir bebas di permukaan dan sebagian meresap ke dalam tanah melalui celah/retakan. Masyarakat di Kp. Batu Gede memanfaatkan air dari mata air Gunung Batu untuk keperluan rumah tangga dan mengairi pesawahan dan kebun di sekitar pemukiman. Selain itu masyarakat juga memanfaatkan sumur bor dengan kedalaman sekitar 8 meter.
  • Tata Guna Lahan, Secara umum tata guna lahan pada lereng atas umumnya berupa kebun campuran, sedang lereng tengah – bawah merupakan daerah pemukiman, areal persawahan, dan kebun campuran. Tipe bangunan di Kp. Batu Gede berupa rumah semi permanen, dan permanen.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) secara regional daerah pemeriksaan di Kp. Batu Gede termasuk dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Rendah. Pada zona ini jarang terjadi gerakan tanah, kecuali pada daerah tebing sungai, dan jika tidak mengalami gangguan pada lereng.

 

3.  Kondisi Gerakan Tanah

Kondisi gerakan tanah di Desa Cimerang, Kec. Purabaya, Kab. Sukabumi:

  • Di wilayah pemukiman Kp Batu Gede berjenis rayapan yang ditandai dengan retakan pada tanah dan bangunan. Dampak gerakan tanah ini sebanyak 49 rumah terancam dengan kondisi 7 rumah dan 1 masjid rusak berat. Rumah-rumah permanen mengalami kerusakan yang lebih parah daripada rumah semi permanen.
  • Di wilayah kebun campuran Kp Batu Gede berjenis rayapan yang ditandai dengan retakan dan amblasan pada tanah kebun dan nendatan pada jalur jalan. Amblasan pada kebun mencapai kedalaman > 2 meter, lebar mencapai 2 meter. Arah gerakan pada titik pertama (bagian utara lokasi) relatif selatan N 170° E, titik kedua (bagian barat lokasi) relatif barat daya N 260° E, dan titik ketiga pada jalur jalan relatif barat N 240° E. Dampak gerakan tanah ini mengancam pemukiman yang berada di bawahnya dan jalur jalan terancam terputus.

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

  • Karakteristik batulempung yang punya plastisitas tinggi dan mudah menyusut ketika kering menyebabkan Gerakan tanah tipe lambat (rayapan).
  • Bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan (lapukan breksi dan tuf) dengan batuan dasar yang kedap air (batulempung) sebagai bidang gelincir.
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik.
  • Kemiringan lereng yang terjal mengakibatkan tanah mudah bergerak

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah 

Di wilayah pemukiman Kp. Batu Gede:

Limpasan air permukaan (air hujan/limbah rumah tangga) yang liar masuk dan meresap ke dalam tanah yang bersifat sarang, gembur dan tidak kompak, menyebabkan tanah menjadi jenuh air, sehingga bobot masanya bertambah dan kuat gesernya menurun. Kondisi ini menyebabkan terbentuknya zona lemah akibat akumulasi air pada kontak tanah pelapukan dengan batuan dasar yang kedap. Kondisi tersebut mengakibatkan tanah menjadi tidak stabil dan terjadilah retakan setelah kemarau panjang merusak bangunan-bangunan di atasnya. Karakteristik batulempung dengan plastisitas tinggi dan kembang susut menyebabkan wilayah ini berpotensi untuk terjadi gerakan tanah tipe lambat.

Di wilayah kebun campuran dan jalur jalan di Kp. Batu Gede:

Tanah pelapukan yang bersifat sarang (mudah menyerap air), curah hujan yang tinggi, serta pemanfaatan lahan sebagai kebun campuran dan ladang, menyebabkan  tanah menjadi jenuh air, bobot masa tanah bertambah dan ikatan antar butir tanah mengecil. Kondisi tersebut ditambah dengan kemiringan lereng yang curam mengakibatkan tanah menjadi tidak stabil dan terjadilah retakan dan amblasan. Retakan tanah semakin berkembang karena adanya penjenuhan oleh peresapan air dari hujan yang tinggi setelah kemarau panjang. Retakan ini berkembang sehingga membentuk tapal kuda. Karakteristik batulempung dengan plastisitas tinggi dan kembang susut menyebabkan wilayah ini berpotensi untuk terjadi gerakan tanah tipe lambat.

 

6.  Rekomendasi

Rekomendasi teknis untuk wilayah pemukiman Kp. Batu Gede antara lain:

  • Pemukiman di daerah tersebut saat ini masih layak huni, tetapi masyarakat harus selalu waspada terutama pada saat dan setelah hujan lebat berlangsung lama.
  • Masyarakat diharapkan terus selalu memantau perkembangan retakan yang ada dan jika terjadi perkembangan yang cepat, segera menjauh dari lokasi gerakan tanah dan melaporkannya kepada instansi yang berwenang.
  • Retakan yang ada dan jika muncul retakan baru agar segera ditutup menggunakan tanah lempung/liat dan dipadatkan agar air tidak masuk ke dalam area retakan.
  • Untuk memperlambat/menghindari peresapan/penjenuhan air ke tanah dan mengantisipasi terjadinya perkembangan gerakan tanah agar dilakukan penataan drainase (air hujan, buangan air limbah rumah tangga, mata air) pada perumahan warga maupun parit/selokan dengan saluran yang kedap air, dengan ditembok atau pemipaan. Aliran air diarahkan langsung dialirkan ke arah lembah/kaki lereng/sungai.
  • Jenis bangunan yang cocok untuk wilayah ini yaitu bangunan yang mempunyai konstruksi ringan dengan pondasi mencapai batuan dasar/keras.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk mengenal tanda-tanda awal terjadinya gerakan tanah.
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan dari aparat pemerintah setempat dan BPBD.

Rekomendasi teknis untuk di wilayah kebun campuran dan jalur jalan di Kp. Batu Gede antara lain:

  • Agar masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di sekitar amblasan agar lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadinya longsor.
  • Sebelum dilakukan pengerjaan perbaikan lereng/ penanggulangan longsor pada retakan yang lebar, lereng harap ditutup dengan terpal untuk mengurangi erosi dan infiltrasi pada area yang longsor.
  • Pada retakan-retakan kecil agar agar segera ditutup menggunakan tanah lempung/liat dan dipadatkan agar air tidak masuk ke dalam area retakan.
  • Selalu memantau perkembangan retakan dan amblasan yang ada.  Jika retakan bertambah luas secara cepat, segera mengungsi dan melapor kepada pemerintah setempat.
  • Agar dapat dibuat retaining wall/dinding penahan lereng/talud pada lokasi yang berdekatan dengan pemukiman.
  • Membuat dan mengarahkan air menjauhi retakan, langsung dialirkan ke lereng bawah/ lembah/arah sungai dengan saluran kedap air.
  • Memperbanyak tanaman tahunan berakar kuat dan dalam pada kawasan kebun dan sekitarnya.

 

LAMPIRAN

Purabaya 1 (030320)

Gambar 1. Peta Lokasi Gerakan Tanah di Desa Cimerang, Kec. Purabaya, Kab. Sukabumi, Jawa Barat.

 

Purabaya 2 (030320)

Gambar 2. Peta Geologi Gerakan Tanah di Desa Cimerang dan sekitarnya, Kec. Purabaya, Kab. Sukabumi, Jawa Barat

 

Purabaya 3 (030320)

Gambar 3. Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah di Desa Cimerang dan sekitarnya, Kec. Purabaya, Kab. Sukabumi.

 

Purabaya 4 (030320)

Gambar 4. Peta Situasi Gerakan Tanah di Kp. Batugede, Desa Cimerang, Kec. Purabaya, Kab. Sukabumi, Jawa Barat.

 

Purabaya 5 (030320)

Gambar 5. Penampang Situasi Gerakan Tanah di Kp. Batugede, Desa Cimerang, Kec. Purabaya, Kab. Sukabumi, Jawa Barat.

 

Purabaya 6 (030320)

Foto 1. Nendatan dan retakan dengan kedalaman antara 1 - 2 meter, lebar 30 cm – 1 meter pada lahan kebun campuran di Desa Cimerang.

 

Purabaya 7 (030320)

Foto 2. Nendatan pada badan jalan dengan kedalaman antara 0,5 – 1 m di Desa Cimerang.

 

Purabaya 8 (030320)

Foto 3. Masjid yang mengalami retakan pada dinding dan lantai. Kanan atas memperlihatkan lantai bagian dalam masjid yang rusak. Bawah bangunan panggung ynag mengalami pergeseran pada batu pondasi.

 

Purabaya 9 (030320)

Foto 4. Bangunan permanen yang mengalami kerusakan yang berat berupa retakan pada dinding dan lantai.

 

Purabaya 10 (030320)

Foto 5. Rumah-rumah panggung yang mengalami kerusakan pada lantai dan pondasi bangunan pada punggungan di bagian atas.

 

Purabaya 11 (030320)

Foto 6. Singkapan lapukan batuan berupa perselingan antara batupasir dengan batulempung pada dinding di sekitar permukiman

 

Purabaya 12 (030320)

Foto 7. Sawah yang menempati lembah di bawah lahan permukiman yang mengalami gerakan tanah.