Laporan Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat

Laporan  singkat  hasil  pemeriksaan  gerakan tanah dan calon lahan relokasi oleh Tim Paska Bencana Gerakan Tanah di Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, berdasarkan surat permintaan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bandung Barat dengan nomor 360/258-BPBD/2020, tertanggal 27 januari 2020, sebagai berikut:

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Lokasi gerakan tanah di desa ini berada di Komplek Triniti, Desa Cigugurgirang, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Secara geografis lokasi tersebut berada pada  6° 49’ 8” LS dan 107° 35’ 20” BT. Gerakan tanah terjadi pada Hari minggu, 19 Januari 2020.

 

2. Dampak Gerakan Tanah :
  • 1 (satu) rumah rusak
  • 3 (tiga) rumah dan fasiltas doa di komplek trinity terancam
  • Memutuskan jalur air bersih dan kotor yang mengalir ke permukiman warga di 7 RW di wilayah Desa Cigugurgirang.

 

3. Kondisi daerah bencana :
  • Morfologi : Secara umum, morfologi daerah bencana merupakan perbukitan bergelombang kuat dengan kemiringan lereng sekitar 5 - 25°, namun tebing yang longsor memiliki kemiringan lereng 35° - 60°. Lereng dipotong untuk keperluan saluran air dan jalan.
  • Geologi : Berdasarkan Peta Geologi Lembar Bandung, Jawa (Silitonga dkk, 1973) batuan penyusun daerah bencana merupakan satuan batuan Tufa yang berasal dari G. Dano dan G. Tangkubanparahu (Qyt) dan Tufa Batuapung yang berupa pasir tufa lapilli, bom, lava berongga dan kepingan andesit basal padat yang bersudut dengan banyak bongkah-bongkah dan pecahan pecaha batuapung (Qyt). Berdasarkan hasil pemeriksaan di lokasi, daerah bencana tersusun atas tanah pelapukan yang berupa lempung pasiran dengan ketebalan >5 meter. Diperkirakan tanah pelapukan tersebut merupakan hasil pelapukan dari material vulkanik yang berupa endapan ignimbrit. Di area longsoran juga tesingkap lava yang menunjukan kekar lempeng dan kekar tiang (columnar joint) yang diindikasikan adalah dike dari kegitan magmatisme. Tersingkap pula banyaknya zona hancuran yang merupakan indikasi terdapat sesar/patahan disekitar area longsoran.
  • Tata Guna Lahan : Tataguna lahan pada lokasi gerakan tanah berupa pemukiman, fasilitas doa, jalan desa, saluran air dan kebun campuran pada sekitar lokasi tebing yang longsor.
  • Keairan : Kondisi lokasi Gerakan tanah melimpah air melalui saluran air (drainase). Posisi drainase berada pada tengah lereng. Lebar drainase (2 meter) dengan kedalaman 80 cm.
  • Kerentanan Gerakan Tanah : Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah pada Bulan Februari 2020 di Kabupaten Bandung Barat (Badan Geologi), daerah bencana terletak pada daerah dengan potensi gerakan tanah rendah hingga menengah-tinggi, artinya daerah tersebut mempunyai potensi menengah-tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

 

4. Kondisi Gerakan Tanah :

Gerakan tanah yang terjadi pada daerah ini berupa longsoran material rombakan yang mengakibatkan tebing setinggi lk 25 meter longsor. Mahkota longsoran memiliki lebar sekitar 85,29 meter dengan panjang landaan sekitar 56,75 meter. Material longsoran bergerak ke arah utara-timurlaut (N 24°E) dan ke arah lembah.

 

5. Faktor penyebab gerakan tanah:

Secara umum, faktor penyebab gerakan tanah pada kedua lokasi tersebut adalah:

  • Lereng bukit yang terjal (>35o);
  • Bidang gelincir berupa kontak antara tanah pelapukan dengan lava vulkanik yang lebih kedap pada  zona hancuran (indikasi adanya patahan/sesar);
  • Sifat material rombakan (tanah pelapukan) yang tebal, dan sarang, jenuh serta mudah luruh jika terkena air;
    • Banyaknya air permukaan yang meresap ke dalam tanah melalui pori tanah dari saluran drainase akan meningkatkan beban pada lereng, sehingga membuat lereng menjadi tidak stabil;
    • Pemicu terjadinya gerakan tanah; Resapan air dari saluran drainase yang tidak kedap air dan curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama.

 

6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah:

Gerakan tanah pada lokasi ini terjadi pada lokasi yang disusun oleh batuan yang lapuk dan material rombakan bersifat sarang, yang mudah menyerap air. Pada area tersebut juga merupakan zona hancuran karena adanya indikasi pengaruh sesar/patahan, terdapatnya lava kekar tiang yang menjadi bidang gelincir, serta kelerengan yang terjal menjadi faktor utama pergerakan. Air dari saluran drainase dan air permukaan ditambah air hujan yang masuk pada lapisan tanah pelapukan mengakibatkan tanah pelapukan jenuh air dan mudah luruh. Kondisi ini menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan air pori dan berkurangnya daya ikat tanah. Batuan penyusun lereng yang berupa lava dan ignimbrit dengan permeabilitas rendah berperan sebagai bidang gelincir. Lereng bukit yang terjal menyebabkan tanah bagian atas (tanah pelapukan) bergerak pada bidang gelincir tersebut.

 

7. Kesimpulan dan Rekomendasi Teknis

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, dapat disimpulkan bahwa:

Daerah bencana dekat lereng di Komplek Triniti, Desa Cigugurgirang, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat,  pada saat ini masih berpotensi terjadi pergerakan tanah susulan berupa longsoran material rombakan.

Rekomendasi Teknis :

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan sebagai berikut :

  • Membersihan area longsoran dan memberikan rambu peringatan rawan longsor.
  • Rumah terancam yang berada tepat di atas mahkota longsoran dihimbau untuk dipindahkan ke tempat yang lebih aman atau menjauhi lereng;
  • Rumah terancam yang berada di bawah mahkota longsoran dan masyarakat yang bermukim di daerah tersebut harus selalu waspada terhadap potensi gerakan tanah terutama pada saat dan setelah hujan turun.
  • Melakukan penanganan saluran irigasi warga agar air tidak menjenuhi tanah atau meresap ke bawah permukaan yang dapat mempercepat terjadi gerakan tanah, sebagai berikut:
    • Memindahkan jalur air (saluran irigasi) sehingga tidak berada ditengah lereng, dan atau
    • Mengatur dan mengarahkan aliran air permukaan/drainase dengan gorong-gorong yang kedap air atau pipa pralon sehingga air tidak liar dan menjenuhi lereng;
  • Membangun pondasi atau penahan lereng atau rekayasa lereng dengan ditambah membuat lubang-lubang saluran pembuangan air pada tebing pondasi untuk memperkuat dinding tebing yang terjal sesuai kaidah kegeoteknikan;
  • Selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah turun hujan lebat serta memantau dengan intensif perkembangan retakan yang terjadi atau gejala awal pergerakan tanah seperti kemunculan mata air baru dan/atau mata air lama menjadi keruh, pohon/tiang miring, jatuhnya batu-batu kecil dst, dan jika terjadi warga yang bertempat tinggal pada  rumah terancam sebaiknya mengungsi ke tempat yang aman;
  • Tidak melakukan pemotongan lereng yang tegak dan tinggi karena tanah pelapukan di daerah ini bersifat lepas yang mudah goyah jika lereng diganggu;
  • Tidak membangun pemukiman di atas, pada, dan di bawah lereng dengan kemiringan sedang hingga terjal;
  • Mempertahankan/memelihara dan menanam tanaman berakar kuat dan dalam, guna mempertahankan kestabilan lereng dan mengurangi pohon bamboo yang banyak disekitar lokasi untuk mengurangi beban tanah.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
  • Masyarakat dihimbau selalu berkoordinasi dengan aparatur pemerintah setempat.

 

Lampiran

Parompong 1 (020320)

Gambar 1. Peta Lokasi gerakan tanah di Komplek Triniti, Ds. Cigugurgirang, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat

 

Parompong 2 (020320)

Gambar 2. Peta geologi pada lokasi gerakan tanah di Komplek Triniti, Ds. Cigugurgirang, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat

 

Parompong 3 (020320)

Gambar 3. Peta situasi gerakan tanah dari drone pada lokasi gerakan tanah di di Komplek Triniti, Ds. Cigugurgirang, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat

 

Parompong 4 (020320)

Gambar 4. Peta situasi gerakan tanah pada lokasi gerakan tanah di Komplek Triniti, Ds. Cigugurgirang, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat

 

Parompong 5 (020320)

Gambar 5. Penampang situasi gerakan tanah pada lokasi gerakan tanah di Komplek Triniti, Ds. Cigugurgirang, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat

 

Parompong 6 (020320)

Gambar 6. Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah pada Bulan Januari 2020 di Prov. Jawa Barat

 

TABEL WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

DI KABUPATEN BANDUNG BARAT, PROVINSI JAWA BARAT

 BULAN FEBRUARI 2020

Parompong 7 (020320)

Keterangan :

Parompong 8 (020320)

 

Lampiran Foto

Parompong 9 (020320)

Foto.1 Longsoran bahan rombakan di Komplek Triniti, Desa Cigugurgirang, Kec. Parongpong.

 

Parompong 10 (020320)

Foto.2 Mahkota longsor, terdapat saluran air untuk pertanian dan perkebunan serta jalan antar desa yang rusak hingga batas lereng

 

Parompong 11 (020320)

Foto.  3 Litologi lava kolom yang terkekarkan kuat dan tanah pelapukan diarea longsoran menunjukan adanya indikasi struktur/patahan

 

 

Parompong 12 (020320)

Foto.4 Kerusakan Saluran Pengairan pertanian dan Perkebunan serta jalan antar desa.

 

Parompong 13 (020320)

Foto 5. Pembersihan material longsoran yang menimpa satu rumah di komplek trinity.

 

Parompong 14 (020320)

Foto.6 Pemukiman yang terancam dan berdekatan dengan lokasi Longsor, Desa Cigugugirang, Kec. Parorongpong Kab. Bandung Barat.

 

Parompong 15 (020320)

Foto.7 Koordinasi dan sosialisasi dengan aparatur dan Kepala Desa Cigugugirang, Kec. Parorongpong Kab. Bandung Barat.