Laporan Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Saguling, Kab. Bandung Barat, Prov. Jawa Barat

Laporan hasil pemeriksaan lapangan Bencana Gerakan Tanah di Kampung Cipait RT.02 RW.06, Desa Girimukti, Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, berdasarkan surat BPBD Kabupaten Bandung Barat dengan nomor surat 360/19020/BPBD tertanggal 27 Januari 2020 perihal Kajian Potensi Bencana. Hasil pemeriksaan adalah sebagai berikut :

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi di Kampung Cipait RT.02 RW.06, Desa Girimukti, Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, secara geografis terletak pada koordinat: 107° 25’ 4” BT - 06° 52’ 55” LS pada ketinggian 740,1 m. Pergerakan tanah berupa munculnya retakan-retakan pada jalan dan kebun yang terjadi pada januari 2020. Terdapat 30 rumah (40kk) yang terancam terdampak gerakan tanah.

2. Jenis Gerakan Tanah

Jenis gerakan tanah berupa nendatan/rayapan yang terdiri dari retakan pada kebun, pemukiman warga dan terutama pada jalan desa (beton). Berdasarkan pengamatan lapangan masih dapat dilihat retakan pada jalan desa (sudah ditutup oleh warga dengan semen) dengan arah retakan N141°E dan N355°E (baratlaut-tenggara) dengan prakiraan arah potensi longsoran ke selatan-baratdaya N222°E kearah lereng yang terjal.

3. Dampak Gerakan Tanah :

Dampak gerakan tanah di daerah bencana menyebabkan:

  • Jalan desa (beton pecah) dan bagian bawah telah tererosi air
  • 30 rumah (44KK) terancam (data BPBD)

4. Kondisi daerah bencana :

  • Morfologi

Morfologi daerah Kampung Cipait RT.02 RW.06, Desa Girimukti, Kecamatan Saguling secara umum berupa perbukitan bergelombang sedang hingga tinggi dengan kemiringan lereng curam - terjal (kemiringan 15°- 35°) dengan elevasi 740 mdpl. Lokasi rumah terancam pada bagian bawah lereng.

  • Geologi 

Berdasarkan hasil pemeriksaan di lokasi bencana, daerah bencana tersusun lapukan batuan vulkanik dengan ketebalan 1-7 m, dengan tanah pelapukan berupa pasir lempungan berwarna coklat tua. Berdasarkan peta Geologi Lembar Cianjur, Jawa Barat (Sudjatmiko, dkk, 1972), daerah penyelidikan termasuk kedalam Breksi Tufan, lava, batupasir, Konglomerat (Pb), intrusi andesit dan Endapan-endapan danau bersifat tufaan. Sedangkan didekat lokasi juga tersikap Formasi Citarum, anggota breksi polemik dan batupasir (Mtb).

  • Tata Guna Lahan 

Tata guna lahan pada daerah bencana berupa permukiman, kebun, ladang dan jalan desa. Pemukiman pada bagian atas, jalan dan kebun/ladang pada bagian tengah dan bagian bawah terdapat persawahan dan permukiman.

  • Keairan 

Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah berasal dari sumber air sumur gali dengan kedalam 3-5 m pada rumah penduduk. Drainase tidak kedap air dan kurang tertata baik, sehingga air permukaan dari permukiman dan air hujan tidak terkendali dengan baik.

  • Kerentanan Gerakan Tanah

Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah pada Bulan Januari 2020 di Kabupaten Bandung Barat (Badan Geologi), daerah bencana terletak pada daerah dengan potensi gerakan tanah rendah hingga menengah-tinggi, artinya daerah tersebut mempunyai potensi menengah-tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

5. Faktor penyebab gerakan tanah:

Secara umum, faktor penyebab gerakan tanah pada lokasi tersebut adalah:

  • Kondisi geologi berupa lapukan batuan vulkanik tuffan berwarna kecoklatan memungkinkan terjadi gerakan tanah tipe rayapan.
  • Tanah pelapukan dari batuan vulkanik tebal dan mudah menyerap air, batuan dasarnya berupa batuan breksi yang dapat bertindak sebagai bidang gelincir
  • Pemukiman yang terancam berada sangat dekat dan dibawah lereng yang terjal sehingga memungkinkan dapat terlanda pergerakan tanah jika beban tanah meningkat dan jenuh.air
  • Sistem saluran drainase baik dari air permukaan maupun dari rumah tangga yang kurang baik dan tidak tertata serta tidak kedap air sehingga air terakumulasi dan menambah beban tanah, serta air yang liar dapat masuk kedalam retakan dan menambah kecepatan pergerakan
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama yang turun sebelum gerakan tanah terjadi, memicu terjadinya gerakan tanah.

6. MekanismeTerjadinya Gerakan Tanah:

Kelerengan yang terjal, kondisi geologi batuan vulkanik yang sudah lapuk dan tebal menyebabkan daerah tersebut rentan longsor. Posisi rumah yang sangat dekat bahkan dibawah lereng berpotensi terdampak pergerakan tanah. Curah hujan yang tinggi serta sistem keairan yang kurang baik menyebabkan air hujan masuk ke dalam tanah melalui ruang antar butir tanah sehingga tanah menjadi jenuh air dan menyebabkan bobot masanya bertambah dan tanah menjadi tidak stabil (mudah bergerak) dan menimbulkan retakan-retakan. Rusaknya jalan beton desa ini dipicu oleh air yang liar dan masuk dalam tanah dapat mengerosi bagian bawah jalan beton.

7. Kesimpulan dan Rekomendasi Teknis

 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, dapat disimpulkan bahwa:

Daerah bencana dekat lereng di Kampung Cipait RT.02 RW.06, Desa Girimukti, Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat, pada saat ini masih berpotensi terjadi pergerakan tanah.

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan sebagai berikut :

  • Tidak mendirikan bangunan pada lereng atas atau pada daerah yang dekat dengan tebing, lembah atau alur sungai yang berpotensi mengalami gerakan tanah dan tidak melakukan pemotongan lereng terutama pada area yang sudah curam,
  • Segera menutup retakan dengan lempung yang dipadatkan atau semen (jalan) untuk mengurangi masuknya air kedalam tanah. Aktivitas ini agar dilakukan dengan selalu memperhatikan kondisi cuaca dan faktor keselamatan,
  • Diperlukan pengendalian air permukaan (surface water drainage) yang KEDAP AIR dengan cara perencanaan tata saluran permukaan, pengendalian air rembesan (ground water drainage) serta pengaliran parit pencegat yang diarahkan langsung ke sungai utama,
  • Rumah dan bangunan agar berjarak aman dari tebing dan tidak menambah beban terhadap lereng,
  • Konstruksi bangunan/rumah yang cocok untuk daerah ini adalah konstruksi sederhana/panggung/semipermanen agar mengurangi beban pada lereng,
  • Penataan dan pembenahan saluran keairan permukaan pada kebun, ladang dan persawahan sehingga aliran air tidak tertahan,
  • Memelihara dan menanam tanaman keras berakar kuat dan dalam serta mengurangi pohon bambu yang dapat menambah beban lereng,
  • Masyarakat sebaiknya LEBIH meningkatkan kewaspadaan akan potensi pergerakan tanah kembali dan masyarakat yang berada di sekitar retakan melakukan pemantauan retakan, jika retakan bertambah luas segera melaporkan ke aparat desa setempat atau ke BPBD untuk dilakukan kegiatan pencegahan,
  • Memasang peralatan Lansdlide Early Warning Systems (LEWS) untuk peringatan dini gerakan tanah di lokasi retakan dan nendatan serta Memasang rambu peringatan rawan longsor,
  • Koordinasi dan sosialisasi perlu dilakukan kepada masyarakat berkaitan dengan pengenalan tanda-tanda awal pergerakan tanah seperti pemantauan retakan, kemunculan mataair, longsoran batu (berdimensi kecil) dan amblesan tanah
  • Masyarakat dihimbau agar selalu mengikuti arahan pemerintah atau BPBD setempat.

 

Saguling-1

Gambar 1. Peta Lokasi Gerakan Tanah di Desa Girimukti, Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat

 Saguling-2

Gambar 2. Peta Geologi Kp. Cipait dan sekitarnya, Kab. Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat

Saguling-3

Gambar 3. Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah di Di Jawa Barat Pada Bulan Januari 2020

Saguling-4

 

Saguling-5

Gambar 4. Peta Situasi Gerakan Tanah dari Drone di Kp. Cipait dan sekitarnya, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat

Saguling-6

Gambar 5. Peta Situasi Gerakan Tanah Kp. Cipait dan sekitarnya, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat

Saguling-7

Gambar 6. Penampang A – B Gerakan Tanah Kp. Cipait, Ds. Girimukti, Kecamatan Saguling dan sekitarnya, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat

Saguling-8

Foto 1. Lokasi Longsor pada jalan penghubung antar desa.

Saguling-9

Foto 2. Retakan di jalan yang sudah ditutup warga dengan semen

Saguling-10

Foto 3. Penahan lereng dari Bambu dan bronjong

Saguling-11

Foto 4. Saluran drainase dan air permukaan yang tidak kedap air dan tidak terkendali

Saguling-12

Foto 5. Tataguna Lahan didominasi permukiman diatas lereng, jalan dan kebun serta pohon Bambu pada bagian tengah lereng

Saguling-13

Foto 6. Kelerengan yang terjal dan kondisi rumah yang terancam di Kampung Cipait RT.02 RW.06, Desa Girimukti, Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat