Laporan Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Ngargoyoso Dan Jenawi, Kab. Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah

Menindaklanjuti surat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Karanganyar No.360/479/XII/2019, perihal Permohonan Penelitian Wilayah Rawan Bencana, bersama ini kami sampaikan laporan hasil pemeriksaan lapangan sebagai berikut:

 1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Lokasi gerakan tanah di Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah sebagai berikut:

  • Desa Nglegok, Kec. Ngargoyoso, Kampung Dederan RT 01 RW 05, Desa Nglegok. Secara geografis lokasi tersebut berada pada  7° 35’ 41,2” LS dan 111° 04’ 20,6” BT. Berdasarkan keterangan penduduk setempat, gerakan tanah terjadi pada hari Senin, 23 Desember 2019, pukul 05.30 WIB setelah hujan deras dan lama.
  • Desa Girimulyo, Kec. Ngargoyoso, Dusun Putrojalu RT 02 RW 12, Desa Girimulyo. Secara geografis lokasi tersebut berada pada  7° 36’ 49,8” LS dan 111° 06’ 46,3” BT. Berdasarkan keterangan penduduk setempat, gerakan tanah terjadi sejak 2016.
  • Desa Menjing, Kec. Jenawi, Dukuh Guntur, Dusun Menjing RT 01 RW 07, Desa Menjing. Secara geografis lokasi tersebut berada pada  7° 32’ 19,4” LS dan 111° 07’ 21,8” BT. Berdasarkan keterangan penduduk setempat, gerakan tanah terjadi sejak 2018, setiap musim hujan.

 

2.  Kondisi daerah bencana :

a. Morfologi

  • Desa Nglegok, Kec. Ngargoyoso, Morfologi pada lahan yang berada di atas tubuh longsoran berupa dataran di punggungan, sedangkan pada bagian bawah atau lereng yang bergerak berupa lembah dengan kemiringan lereng antara 15°- 20°, di pinggiran tebing mencapai lebih dari 30°. Gerakan tanah terjadi pada lahan tegalan dan ladang pada ketinggian 537 – 550 mdpl.
  • Desa Girimulyo, Kec. Ngargoyoso, Morfologi pada lokasi ini berupa perbukitan bergelombang dengan kemiringan lereng antara 10°- 20°, di pinggiran tebing mencapai lebih dari 45°. Lereng pada lokasi ini dipotong untuk keperluan pemukiman. Gerakan tanah terjadi pada tanah di pemukiman pada ketinggian 800 – 850 mdpl.
  • Desa Menjing, Kec. Jenawi, Morfologi pada lokasi ini berupa perbukitan bergelombang dengan kemiringan lereng antara 10°- 30°, di pinggiran tebing mencapai lebih dari 40°. Lereng pada lokasi ini dipotong untuk keperluan pemukiman. Gerakan tanah terjadi pada tanah tebing di atas pemukiman pada ketinggian 537 – 600 mdpl.

b. Geologi

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Ponorogo, Jawa (Sampurno drr., 1997), secara regional lokasi gerakan tanah berada pada lokasi yang disusun oleh endapan Lahar Lawu (Qlla) berupa komponen andesit, basal, batuapung yang bercampur dengan pasir gunungapi. Di bawah batuan ini terendapkan batuan yang lebih tua yaitu Breksi Jobolarangan (Qvjb) berupa breksi gunungapi yang setempat bersisipan lava, bersusunan andesit dan Batuan Gunungapi Lawu (Qvl) berupa tuf dan breksi gunungapi, bersisipan lava, umumnya bersusunan andesit.

Berdasarkan pengamatan lapangan, lokasi gerakan tanah di Desa Nglegok disusun oleh tanah pelapukan berupa lempung sampai lempung pasiran sangat halus berwarna coklat sampai coklat tua, dengan ketebalan antara 2 hingga mencapai 4 meter, bersifat gembur dan mudah luruh ketika terkena air. Tanah penutup juga bersifat mudah retak ketika kering atau kemarau, hal ini terlihat pada lahan di sekitar tubuh longsoran yang retak-retak. Di bawah tanah pelapukan tersebut tersusun oleh breksi,

Di Desa Girimulyo disusun oleh tanah pelapukan berupa lempung pasiran berwarna coklat, dengan ketebalan antara 2 hingga mencapai 5 meter, bersifat gembur dan mudah luruh ketika terkena air.

Di Desa Menjing ditemukan kontak tanah lapukan breksi dengan bidang gelincir lava. Tanah pelapukan berupa lempung pasiran berwarna coklat, dengan ketebalan antara 3 hingga mencapai 4 meter, bersifat gembur dan mudah luruh ketika terkena air.

 

c. Keairan

  • Desa Nglegok, Kec. Ngargoyoso, Kondisi air permukaan di daerah bencana baik. Untuk keperluan sehari-hari masyarakat setempat memanfaatkan air dari mata air yang disalurkan melalui pipa-pipa paralon. Di bagian lembah yang terletak di timur tubuh longsoran terdapat anak sungai yang mengalir sepanjang tahun, pada saat pemeriksaan terbendung oleh material longsoran.
  • Desa Girimulyo, Kec. Ngargoyoso, Kondisi air permukaan di daerah bencana baik. Untuk keperluan sehari-hari masyarakat setempat memanfaatkan air dari mata air yang disalurkan melalui pipa-pipa paralon.
  • Desa Menjing, Kec. Jenawi, Kondisi air permukaan di daerah bencana baik. Untuk keperluan sehari-hari masyarakat setempat memanfaatkan air dari mata air Bukit Kerang yang disalurkan melalui pipa-pipa paralon. Terdapat aliran sungai kecil yang berhulu di Bukit Kerang.

d. Tata guna lahan

  • Desa Nglegok, Kec. Ngargoyoso, Lahan di lokasi mahkota dan tubuh longsoran berupa tegalan dan ladang yang berada di lereng bagian atas dan setempat terdapat rumpun bambu. Pemukiman yang rusak dan terancam terletak di lereng tengah, bagian barat tubuh longsoran. Di lembah, bagian utara kaki longsoran dimanfaatkan menjadi ladang, tegalan, dan kebun campuran.
  • Desa Girimulyo, Kec. Ngargoyoso, Lahan di lokasi bencana gerakan tanah berupa pemukiman dan kebun campuran. Dataran pada pemukiman merupakan hasil pemotongan lereng, pada bagian tepi lereng terjal diratakan dengan tanah timbunan. Di atas timbunan ini berdiri bangunan permanen.
  • Desa Menjing, Kec. Jenawi, Lahan di lokasi gerakan tanah dimanfaatkan sebagai permukiman dan kebun campuran dengan sedikit diselingi pohon besar berakar dalam dan kuat. Lahan yang mengalami gerakan tanah terletak di bagian atau pada punggungan dan di bawahnya dimanfaatkan sebagai permukiman.

e. Kerentanan gerakan tanah

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah di Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah Desa  Nglegok, Girimulyo, dan Desa Menjing termasuk dalam zona kerentanan gerakan tanah Menengah sampai Tinggi. Artinya daerah ini mempunyai potensi menengah hingga tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

3. Situasi dan Dampak Bencana

  • Desa Nglegok, Kec. Ngargoyoso, Jenis gerakan tanah yang terjadi adalah longsoran melengkung. Lebar mahkota longsoran 29 meter dengan arah N 15° E. Ketinggian lereng yang bergerak 10 m.  Panjang landaan material longsoran dari mahkota sampai ujung landaan mencapai 112 meter hingga menutupi sebagian aliran sungai. Pada saat pemeriksaan dijumpai retakan-retakan berarah relatif Utara – Selatan (N355°E) dengan lebar antar 1-2 cm yang berkembang di sekitar pemukiman yang terancam. Menurut keterangan penduduk retakan ini terbentuk setelah terjadinya gerakan tanah. Dampak bencana 1 (satu) rumah rusak dan 1 (satu) rumah terancam.
  • Desa Girimulyo, Kec. Ngargoyoso, Gerakan tanah berjenis rayapan yang ditandai dengan retakan (tipe lambat) pada permukiman. Retakan terjadi pada lantai rumah dan dinding tembok penahan yang terbangun di atas di tanah timbunan/urugan. Retakan terjadi secara berulang setiap tahunnya dan mengancam 2 (dua) rumah.
  • Desa Menjing, Kec. Jenawi, Jenis gerakan tanah yang terjadi adalah longsoran pada tebing setinggi 7 meter yang berada di samping rumah warga. Pada saat pemeriksaan terdapat bekas longsoran lama yang berpotensi menjadi longsoran susulan jika tidak segera ditangani. Dampak bencana 1 (satu) rumah terancam.

Hasil pemeriksaan bawah permukaan menggunakan Ground Penetrating Radar (GPR) memperlihatkan terdapatnya zona lemah berupa retakan/rekahan yang tidak menerus sampai ke permukaan/ tidak menimbulkan retakan pada permukaan tanah di Lintasan 1 dan 2 (di halaman depan dan belakang rumah). Offset atau nendat terlihat sampai permukaan dan menyebabkan kerusakan pada badan jalan (Lintasanh 3).

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

Faktor penyebab gerakan tanah antara lain:

  • Sifat fisik tanah pelapukan yang tebal, lunak, dan jenuh air sehingga mudah luruh dan tidak stabil (mudah bergerak).
  • Bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan dengan batuan dasar lava dan tuf yang kedap air sebagai bidang gelincir.
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik (tidak kedap air) dan tersumbat sehingga air terakumulasi pada satu tempat menyebabkan tanah jenuh air dan meningkat bobot massanya (Di Desa Nglegok).
  • Kemiringan lereng yang terjal mengakibatkan tanah mudah bergerak.
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah.
  • Timbunan tanah yang kurang padat sehingga terjadi retakan pada bagian rumah (Di Desa Girimulyo).

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah : 

  • Desa Nglegok, Kec. Ngargoyoso, Longsoran bahan rombakan bergerak dengan cepat, berawal dari saluran air yang tidak kedap tersumbat sehingga air mterakumulasi dan meluap. Hujan dengan intensitas tinggi dan lama menyebabkan volume air meningkat dan meresap masuk ke dalam tanah lapukan yang tebal, sarang, mudah menyerap air, mengakibatkan lereng jenuh air dan bobot masa tanah bertambah. Kondisi ini menyebabkan terbentuknya zona lemah akibat akumulasi air pada kontak tanah pelapukan dengan batuan dasar yang kedap. Kondisi tersebut ditambah dengan kemiringan yang terjal, mengakibatkan tanah menjadi tidak stabil dan terjadilah longsoran.
  • Desa Girimulyo, Kec. Ngargoyoso, Tanah/ batuan yang bersifat lepas pada material urugan/timbunan yang belum padat jika diguyur hujan menyebabkan terjadinya erosi, yang mengakibatkan air dan material urugan terbawa pada bagian bawah lereng. Erosi secara berlebihan bisa memicu longsor pada tanah timbunan. Selain itu konstruksi bangunan permanen yang terlalu berat juga menyebabkan tanah urugan bergerak mengakibatkan retakan pada lantai bangunan dan talud penahan tebing.
  • Desa Menjing, Kec. Jenawi, Limpasan air hujan (run off) masuk dan meresap ke dalam tanah yang bersifat sarang, gembur dan tidak kompak, menyebabkan tanah menjadi jenuh air, sehingga bobot masanya bertambah dan kuat gesernya menurun. Kondisi ini menyebabkan terbentuknya zona lemah akibat akumulasi air pada kontak tanah pelapukan dengan batuan dasar (lava) yang kedap. Kondisi tersebut ditambah dengan kemiringan yang hampir tegak akibat pemotongan lereng, mengakibatkan tanah menjadi tidak stabil dan terjadilah longsoran.

 

6. Rekomendasi Teknis

Mengingat curah hujan yang diperkirakan masih tinggi, untuk menghindari terjadinya gerakan tanah susulan dan mengurangi risiko akibat bencana gerakan tanah, maka direkomendasikan:

  • Meningkatkan kewaspadaan bagi penduduk yang bermukim dan beraktivitas di lokasi gerakan tanah dan sekitarnya, terutama pada saat dan setelah turun hujan.
  • Agar dilakukan penataan sistem aliran permukaan (drainase) dengan konstruksi kedap air (pipa/semen). Saluran air dialirkan langsung ke arah lembah/kaki lereng/sungai terdekat. Jika terjadi kebocoran atau penyumbatan pada saluran agar segera ditangani agar tidak terjadi penumpukan air di satu tempat yang bisa memicu longsor.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk mengenal tanda-tanda awal terjadinya gerakan tanah.
  • Masyarakat  agar mengikuti arahan yang disampaikan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar dan Provinsi Jawa Tengah dalam penanganan gerakan tanah.
  • Ke depannya agar tidak mengembangkan permukiman mendekat ke arah lereng dan melakukan pemotongan lereng tanpa memperhatikan kaidah kestabilan lereng.
  • Saran teknis khusus di setiap lokasi gerakan tanah sebagai berikut:

Desa Nglegok, Kec. Ngargoyoso:

  • 1 (satu) rumah rusak saat ini sudah tidak memiliki lereng penahan akibat terbawa longsoran. Untuk menghindari kerugian yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa, jika rumah tidak direlokasi disarankan:
  • Membuat jarak antara bangunan rumah dengan lereng yang tergerus longsor dengan dilengkapi perkuatan yang memenuhi syarat pada lereng tersebut.
  • Dibuatkan perkuatan lereng dengan syarat keteknisan yang ketat. Pondasi harus mencapai batuan dasar dan memiliki daya dukung yang kuat untuk menahan bangunan rumah tersebut.
  • 1 (satu) rumah terancam di sekitar lokasi bencana tidak perlu direlokasi, dengan syarat:
  • Untuk menghindari berulangnya longsoran, agar dilakukan pelandaian lereng pada lahan yang mengalami longsoran, mengarahkan aliran air permukaan menjauh dari lahan yang retak-retak, dan dibuat perkuatan lereng (dinding penahan tebing/retaining wall) pada bagian bawah lereng dengan dilengkapi pembuangan air yang memadai. Perkuatan lereng mengikuti kaidah geologi teknik dengan pondasi yang menembus batuan dasar yang keras
  • Retakan pada lereng atas segera diisi dengan tanah liat dan dipadatkan agar air tidak masuk ke dalamnya.
  • Daerah lereng bekas longsoran agar dilandaikan secara berjenjang dan ditanami kembali dengan tanaman/pohon-pohon, yang berakar kuat dan dalam untuk meningkatkan daya dukung tanah di daerah tersebut.
  • Genangan air yang menghambat aliran sungai agar segera dialirkan agar tidak berkembang menjadi aliran bahan rombakan/banjir bandang yang dapat mengancam penduduk di bagian hilir sungai.
  • Melakukan pemantauan terhadap perkembangan retakan, jika terjadi perkembangan yang cepat agar segera lapor kepada pemerintah daerah setempat (BPBD) dan mengungsi.

Desa Girimulyo, Kec. Ngargoyoso:

  • Mengutamakan bangunan semi permanen dengan konstruksi ringan terutama untuk rumah-rumah yang berada dekat dengan lereng terjal agar tidak terlampau membebani lereng.
  • Memelihara vegetasi di daerah berlereng terjal untuk menjaga kestabilan lereng dan mengurangi laju erosi dari limpasan air hujan.
  • Memperbaiki talud yang rusak dengan dilengkapi dengan pipa atau lubang-lubang drainase pada dindingnya serta pondasinya mencapai batuan dasar/keras.
  • Tanah urugan agar dipadatkan kembali dengan metoda pemadatan yang benar agar permukaan tanah kokoh dan tidak mudah bergeser atau terjadi gerakan tanah tipe rayapan dan juga untuk meningkatkan daya dukung tanah terhadap pondasi dan bangunan di atasnya.
  • Agar melakukan pemantauan secara berkala pada tebing tegak di atas rumah terancam (bagian utara rumah). Jika ditemukan retakan segera ditutup dengan tanah lempung/liat dan dipadatkan, dan segera melapor ke kepada aparat setempat.

Desa Menjing, Kec. Jenawi:

  • Dibuat tembok penahan tebing (retaining wall) pada tebing terjal di samping rumah (bagian timur). Tembok penahan dilengkapi dengan pipa atau lubang-lubang drainase dan pondasinya mencapai batuan dasar/keras.
  • Nendatan di badan jalan dan potensi retakan di sekitar rumah (di sekitar lintasan GPR) agar segera ditangani, dengan melakukan penataan sistem aliran permukaan (drainase) dengan konstruksi kedap air (pipa/semen).
  • Memelihara vegetasi di lereng bagian atas dari rumah terancam (bagian timur) untuk menjaga kestabilan lereng dan mengurangi laju erosi dari limpasan air hujan.

 

LAMPIRAN

Jenawi 1 (100220)

Gambar 1. Peta lokasi gerakan tanah di Kampung Dederan Rt 01 Rw 05, Desa Nglegok, Kec. Ngargoyoso, Kab. Karanganyar, Jawa Tengah

 

Jenawi 2 (100220)

Gambar 2. Peta lokasi gerakan tanah di Dusun Putrojalu Rt 02 Rw 12, Desa Girimulyo, Kec. Ngargoyoso, Kab. Karanganyar, Jawa Tengah.

 

Jenawi 3 (100220)

Gambar 3. Peta lokasi gerakan tanah di Dukuh Guntur, Dusun Menjing Rt 01 Rw 07, Desa Menjing, Kec. Jenawi, Kab. Karanganyar, Jawa Tengah.

 

Jenawi 4 (100220)

Gambar 4. Peta Geologi Desa Nglegok dan Desa Girimulyo, Kec. Ngargoyoso, serta Desa Menjing, Kec. Jenawi, Kab. Karanganyar, Jawa Tengah.

 

Jenawi 5 (100220)

Gambar 5. Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Desa Nglegok dan Desa Girimulyo, Kec. Ngargoyoso, serta Desa Menjing, Kec. Jenawi, Kab. Karanganyar, Jawa Tengah.

 

Jenawi 6 (100220)

Gambar 6. Peta situasi gerakan tanah di Desa Nglegok, Kec. Ngargoyoso, Kab. Karanganyar, Jawa Tengah.

 

Jenawi 7 (100220)

Gambar 7. Penampang situasi gerakan tanah di Kp. Dederan, Desa Nglegok, Kec. Ngargoyoso, Kab. Karanganyar.

 

Jenawi 8 (100220)

Gambar 8. Peta situasi gerakan tanah di Desa Girimulyo, Kec. Ngargoyoso, Kab. Karanganyar, Jawa Tengah.

 

Jenawi 9 (100220)

Gambar 9. Penampang situasi gerakan tanah di Dusun Putrojalu, Desa Girimulyo, Kec. Ngargoyoso, Kab. Karanganyar.

 

Jenawi 10 (100220)

Gambar 10. Peta situasi gerakan tanah dan lintasan GPR di Desa Menjing, Kec. Jenawi, Kab. Karanganyar, Jawa Tengah.

 

Jenawi 11 (100220)

Gambar 11. Penampang situasi gerakan tanah di Dukuh Guntur, Dusun Menjing, Desa Menjing, Kec. Jenawi, Kab. Karanganyar.

 

Interpretasi Radargram hasil pengukuran bawah permukaan dengan menggunakan Ground Penetrating Radar (GPR) di Dukuh Guntur, Dusun Menjing, Desa Menjing, Kec. Jenawi, Kab. Karanganyar:

Jenawi 12 (100220)

Gambar 12. Analisis pada Lintasan 1 pengukuran berarah timur-barat dengan panjang lintasan 17,5 meter dan kedalaman 10 meter menunjukkan terdapatnya zona lemah berupa retakan/rekahan yang tidak menerus sampai ke permukaan/ tidak menimbulkan retakan pada permukaan tanah.

 

Jenawi 13 (100220)

Gambar 13. Analisis pada Lintasan 2 pengukuran berarah timur-barat dengan panjang lintasan 19,75 meter dan kedalaman 10 meter menunjukkan terdapatnya zona lemah berupa retakan/rekahan yang tidak menerus sampai ke permukaan/ tidak menimbulkan retakan pada permukaan tanah.

 

Jenawi 14 (100220)

Gambar 14. Analisis pada Lintasan 3 berarah utara-tengara dengan panjang lintasan 76,5 meter dan kedalaman 10 meter menunjukkan terdapatnya zona lemah berupa retakan/rekahan yang tidak menerus sampai ke permukaan/ tidak menimbulkan retakan pada permukaan tanah. Terdapat offset atau nendat yang terlihat sampai permukaan dan menyebabkan kerusakan pada badan jalan terekam dalam radargram pada posisi 50 m. Pada kotak merah dalam radargram menunjukkan pola isian material yang berada di lapisan atas yang runtuh ke bawah.

 

Jenawi 15 (100220)

Foto 1. Tubuh longsoran di Kp. Dederan, Desa Nglegok, Kec. Ngargoyoso. Tanda panah merah menunjukkan rumah yang bagian belakangnya rusak terbawa longsoran, rumah terancam yang berada di atas longsoran dan material di kaki longsoran.

 

Jenawi 16 (100220)

Foto 2. Talud yang menahan lahan urugan yang rusak di Dusun Putrojalu, Desa Girimulyo, Kec. Ngargoyoso, Kab. Karanganyar.

 

Jenawi 17 (100220)

Foto 3. Tebing tegak di atas rumah di Dusun Putrojalu, Desa Girimulyo, Kec. Ngargoyoso. Agar dilakukan pemantauan secara berkala pada tebing tersebut. Jika ditemukan retakan di atasnya segera ditutup dengan tanah lempung/liat dan dipadatkan.

 

Jenawi 18 (100220)

Foto 4. Proses pengambilan data bawah permukaan menggunakan Ground Penetrating Radar (GPR) di Dukuh Guntur, Dusun Menjing, Desa Menjing, Kec. Jenawi.

 

Jenawi 19 (100220)

Foto 5. 1 (satu) rumah terancam yang berada di bawah tebing terjal terdapat bekas longsoran lama yang berpotensi menjadi longsoran susulan.

 

Jenawi 20 (100220)

Foto 6. Koordinasi dan sosialisasi bersama dengan petugas dari BPBD dan Dinas terkait lainnya di Kabupaten Kab. Karanganyar, Jawa Tengah serta wawancara mengenai pemeriksaan dengan awak media nasional