Laporan Pemeriksaan Tanah Amblas Di Desa Bero, Kec. Manyaran, Kab. Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah.

Menindaklanjuti surat dari Pemerintah Kabupaten Wonogiri No. 360/8964 tanggal 30 Desember 2019, perihal Permohonan bantuan kajian teknis terkait tanah amblas di wilayah Kabupaten Wonogiri, bersama ini kami sampaikan laporan hasil pemeriksaan lapangan sebagai berikut:

 1. Lokasi dan Waktu Kejadian Tanah Amblas:

Bencana tanah amblas (sinkhole/luweng) terjadi di Dusun Jetis Kidul RT 02 RW 02, Desa Bero, Kec. Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Secara geografis berada terletak pada koordinat 07° 51’ 07,6” LS dan 110° 49 52,1” BT. Amblasan di lokasi ini terjadi berulang kali, awal kejadian sejak tahun 2015, dan semakin membesar pada 18 Desember 2019.

 

2. Kondisi daerah bencana:

  • Morfologi, Morfologi di lokasi amblasan merupakan pedataran. Tanah amblas terjadi pada lahan pesawahan dan kebun campuran pada ketinggian 225 meter di atas permukaan laut.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Surakarta-Giritontro (Surono, dkk., P3G, 1992), lokasi amblasan berada pada lokasi yang disusun oleh batuan Formasi Wonosari-Punung (Tmwl) berupa batugamping, batugamping napalan-tufan, batugamping konglomerat, batupasir tufan, dan batulanau di bagian atas. Di bagian bawah terendapkan batuan dari Formasi Semilir (Tms) yang terdiri dari tuff, breksi batuapung dasitan, batupasir tufan dan serpih. Hasil pengamatan lapangan, tanah yang amblas merupakan hasil pelapukan batupasir tufan berupa lempung berwarna coklat, kurang kompak, sarang, dan porous, dengan ketebalan lebih dari 6 meter.
  • Keairan, Kondisi keairan pada daerah bencana cukup melimpah. Untuk keperluan sehari-hari masyarakat setempat memanfaatkan air dari mata air yang disalurkan melalui pipa-pipa paralon. Di beberapa rumah terdapat sumur gali dengan kedalaman rata-rata 7 – 10 meter. Di bagian utara bencana terdapat Sendang yang berair sepanjang tahun. Di Desa Bero ini terdapat PDAM Giri Tirta Sari yang menjadi sumber air desa lainnya yaitu Desa Pijiharjo. Keberadaan PDAM ini kemungkinan bukan penyebab amblasan tanah di Jetis Kidul.
  • Tata guna lahan, Lahan di daerah lokasi amblasan umumnya berupa persawahan, kebun campuran (didominasi jagung), dan pemukiman. Jalan desa dan pemukiman penduduk berjarak sekitar 20 – 25 meter dari lokasi amblasan tanah. Di lembah bagian timur terdapat Kali Teleng yang mengalir sepanjang tahun.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah di Kabupaten Wonigiri, Provinsi Jawa Tengah (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah amblasan di  Dusun Jetis Kidul, Desa Bero dan sekitarnya termasuk dalam zona kerentanan gerakan tanah Sangat Rendah sampai Rendah. Artinya zona ini jarang terjadi gerakan tanah, kecuali pada daerah tebing sungai, dan jika tidak mengalami gangguan pada lereng.

 

3. Situasi dan Dampak Bencana

Tanah amblas (luweng/sinkhole) terjadi di sekitar areal kebun campuran dan persawahan. Morfologi lubang amblasan berbentuk oval dengan dimensi panjang sekitar 17,2 meter, lebar sekitar 7,2 meter, kedalaman mencapai 16 meter, dan total luas sekitar 97,2 m2 dengan arah memanjang barat - timur.

Dampak:

  • Area kebun amblas dan rusak.
  • Jalan desa dan pemukiman terdekat berpotensi terancam jika amblasan tidak segera tidak ditangani.

 

Radargram hasil penguluran GPR memperlihatkan terdapatnya rongga di bawah permukaan yang mengindikasikan aliran bawah permukaan. Kondisi ini terbentuk akibat pelarutan batugamping oleh aliran air. Pelarutan semakin intensif seiring dengan meningkatkatnya volume dan aliran air yang melalui rongga tersebut sehingga rongga semakin membesar sehingga terjadi amblasan.

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Tanah amblas:

Secara umum faktor yang menyebabkan terjadinya amblasan di daerah pemeriksaan antara lain adalah:

  • Tanah pelapukan yang tebal dan bersifat porous yang menyerap air dengan cepat.
  • Curah hujan yang tinggi dan persawahan basah memicu terjadinya infiltrasi air persawahan ke lubang amblasan.
  • Pelarutan gamping oleh air yang membentuk rongga dan aliran bawah permukaan.

 

5. Mekanisme Terjadinya Tanah amblas: 

Peningkatan volume air hujan dan pesawahan menyebabkan debit air naik sehingga intensitas penerobosan air bertambah, mengerosi bagian dinding dan atap lubang amblasan. Karena batuan dasar di Dusun Jetis Kidul adalah batugamping, maka proses pelarutan pun juga meningkat dan pembentukan dimensi ruang rongga semakin membesar secara cepat dan ditambah dengan beban penjenuhan air pada atap lubang mengakibatkan terjadi amblasnya tanah.

 

6. Rekomendasi Teknis

Keberadaan jalur aliran air di bawah tanah akan berpotensi menyebabkan kejadian tanah amblas berpotensi berulang dan membesar jika terdapat akumulasi air yang cukup tinggi pada lubang atau jalur air tersebut terutama saat terjadi hujan deras dengan durasi yang cukup lama, maka disarankan agar:

  • Sebelum ada upaya mitigasi struktural pada sinkhole, maka masyarakat dihimbau tidak melakukan aktivitas, mendekat, berkumpul, dan/atau melintas terlalu dekat lubang amblasan terutama saat dan setelah hujan deras.
  • Segera membuat rambu – rambu peringatan rawan amblasan pada areal potensi terjadinya amblasan dengan lebar buffer minimal 10 m untuk menghindari potensi bahaya amblasan baik vertikal dan horizontal.
  • Segera dibuat saluran air/drainase yang kedap air di sekitar lubang amblasan, dan saluran air diarahkan ke arah lembah.
  • Melakukan pemantauan mandiri dan intensif terhadap perkembangan amblasan tanah. Jika terus berkembang dan mendekat ke arah permukiman agar segera dilaporkan kepada pemerintah daerah setempat.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat setempat maupun pengunjung untuk waspada dan mampu mengantisipasi potensi ancaman tanah amblas.
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan dari aparat pemerintah atau BPBD setempat.

 

LAMPIRAN

Wonogiri 1 (100220)

Gambar 1. Peta lokasi amblasan/sinkhole di Dusun Jetis Kidul, Desa Bero, Kec. Manyaran, Kab. Wonogiri, Jawa Tengah.

 

Wonogiri 2 (100220)

Gambar 2. Peta Geologi Desa Bero dan sekitarnya, Kec. Manyaran, Kab. Wonogiri.

 

Wonogiri 3 (100220)

Gambar 3. Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Desa Bero dan sekitarnya, Kec. Manyaran, Kab. Wonogiri.

 

Wonogiri 4 (100220)

Gambar 4. Peta Situasi Amblasan (luweng/sinkhole) dan lintasan GPR di Dusun Jetis Kidul, Desa Bero, Kec. Manyaran, Kab. Wonogiri.

Interpretasi Radargram hasil pengukuran bawah permukaan dengan menggunakan Ground Penetrating Radar (GPR).

 

Wonogiri 5 (100220)

Gambar 5. Analisis pada Lintasan 1 pengukuran berarah barat-timur dengan panjang lintasan 47 meter dan kedalaman 10 meter menunjukkan terdapatnya banyak zona lemah berupa retakan/rekahan yang tidak menerus sampai ke permukaan/ tidak menimbulkan retakan pada permukaan tanah. Pada posisi terjadinya amblasan terlihat penurunan lapisan pada radargram yang ditunjukkan oleh batas garis hijau dan terdapat indikasi alur bawah permukaan.

 

Wonogiri 6 (100220)

Gambar 7. Analisis pada Lintasan 1 pengukuran berarah utara-selatan dengan panjang lintasan 41 meter dan kedalaman 9 meter menunjukkan terdapatnya zona lemah berupa retakan/rekahan yang tidak menerus sampai ke permukaan/ tidak menimbulkan retakan pada permukaan tanah. Pada posisi terjadinya amblasan terlihat penurunan lapisan pada radargram yang ditunjukkan oleh batas garis hijau. Pada kotak merah dalam radargram menunjukkan pola isian material yang berada di lapisan atas yang runtuh ke bawah. Jika air permukaan tidak terkendali dan masuk ke lubang amblasan, isian material yang. runtuh tersebut bisa tergerus kembali sehingga lubang/amblasan semakin membesar.

 

Wonogiri 7 (100220)

Foto 1. Amblasan tanah pada area kebun dan sawah warga di Dusun Jetis Kidul, Desa Bero, Kec. Manyaran, Kab. Wonogiri, lubang yang mengarah ke pemukiman warga (atas kiri), lubang yang mengarah ke arah selatan yaitu arah lembah/sungai (atas kanan).

 

Wonogiri 8 (100220)

Foto 2. Proses pengambilan data bawah permukaan menggunakan Ground Penetrating Radar (GPR) di Dusun Jetis Kidul, Desa Bero, Kec. Manyaran, Kab. Wonogiri yang dilaksanakan Bersama BPDB Kab. Wonogiri dan warga setempat.