Laporan Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Prov. Jawa Barat

Laporan hasil pemeriksaan lapangan Bencana Gerakan Tanah di Kp. Cibogo RT. 03 RW.07 Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat, berdasarkan surat BPBD Kota Cimahi dengan nomor surat 360/526/BPBD tanggal 31 Desember 2019 perihal Permohonan pengkajian gerakan tanah. Hasil pemeriksaan adalah  sebagai berikut :

 Kp. Cibogo RT. 03 RW.07 Kelurahan Leuwigajah

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi di Kp. Cibogo RT. 03 RW.07 Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat, secara geografis terletak pada koordinat: 107° 31’ 59” BT  - 06° 54’ 42” LS pada ketinggian 732 m. Menurut warga retakan tanah sudah terjadi pada tahun 2007 dan terakhir muncul kembali pada laporan tgl 15 Desember 2019.

 

2. Jenis Gerakan Tanah

Jenis gerakan tanah di Kp. Cibogo RT. 03 RW.07 Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Kertasari, berupa nendatan/rayapan yang ditandai munculnya retakan pada kebun, jalan dan khususnya pada pemukiman warga. Informasi BPBD, retakan terjadi pada badan jalan, jalan gang dan pemukiman warga dengan Panjang 100-150 m, lebar 0-5 cm. Berdasarkan pengamatan lapangan masih dapat dilihat retakan pada rumah dan jalan gang dengan arah retakan N 210°E (orientasi utara-selatan) dengan prakiraan arah potensi pergerakan ke timut kearah sungai/selokan ditimur permukiman.

 

3. Dampak Gerakan Tanah :

Dampak gerakan tanah di daerah bencana menyebabkan (data BPBD Cimahi):

  • Sejumlah bagian badan jalan gang, lantai dan dinding bangunan yang retak
  • 8 rumah rusak ringan
  • 62 rumah terancam

 

4. Kondisi daerah bencana :

  • Morfologi, Morfologi daerah Kp. Cibogo RT. 03 RW.07 Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan secara umum berupa perbukitan bergelombang rendah - sedang hingga dengan kemiringan antara landai (kemiringan <5°) dengan elevasi 700-750 mdpl.
  • Geologi, Berdasarkan hasil pemeriksaan di lokasi bencana, daerah bencana tersusun lapukan batuan vulkanik, dengan tanah pelapukan berupa pasir lempungan berwarna coklat tua. Berdasarkan peta Geologi Lembar Bandung, Jawa Barat (Silitonga, dkk, 1973), daerah penyelidikan termasuk kedalam Tufa berbatu apung berupa Pasir tufaan, lapilli bom, bom lava berongga dan kepingan-kepingan andesit basalt (Qyt).

 

Hasil Geolistrik

Pengukuran geolistrik dilakukan dengan menggunakan satu buah lintasan yang memanjang ke arah Timur ke Barat sepanjang 105 m. Pengukuran ini menggunakan 36 buah elektroda dengan spasi 3 meter dengan menggunakan konfigurasi Wenner-Schlumberger. Berdasarkan konfigurasi yang dilakukan, diperoleh pola resistivitas dengan nilai RMS (root-mean-squared)

Konfigurasi Wenner-Schlumberger

Penampang resistivitas konfigurasi Wenner-Schlumberger diperoleh melalui 5 kali iterasi dan menghasilkan nilai RMS sebesar 0,7%, nilai resistivitas berada pada rentang 2,18 Ωm – 505 Ωm Ωm. Injeksi arus mencapai kedalaman 25 m, yang mana pada ketebalan tersebut terdapat lapisan-lapisan yang memiliki nilai resistivitas yang berbeda-beda. Dari hasil inversi profil bawah permukaan  terlihat pada kedalaman 0 –10 meter memiliki variasi resistivitas rendah (warna biru tua – hijau) dengan resistivitas berkisar antara 2,18 Ωm – 49,0 Ωm, diduga lapisan ini merupakan lapisan yang jenuh air. Pada lapisan ini terdapat sisipan lapisan batauan keras dengan nilai resistivitas tinggi antara 107 Ωm – 505 Ωm. Dibawah lapisan dengan resistivitas rendah tersebut terdapat lapisan yang memiliki nilai resistivitas tinggi yang diindikasikan dengan warna merah – coklat, dengan nilai resistivitas 232 Ωm – 505 Ωm. lapisan ini diduga sebagai lapisan batuan keras didaerah tersebut. Lapisan ini diperkiran sebagai batuan berbutir halus yang jenuh air yang merupakan bagian dari Tufa Iqnimbrite batu apung (Qyt). Hasil geolistrik menunjukan titik 0 – 45 m (dari timur) dengan kedalaman lk 10 m masih banyak interaksi air tanah dan bidang gelincir dangkal, sehingga masih dapat memungkinkan terjadinya pergerakan lokal.

 

  • Tata Guna Lahan, Tata guna lahan pada daerah bencana berupa persawahan, permukiman dan perkebunan. Permukiman berada dikelilingi oleh area lahan basah (persawahan)
  • Keairan, Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah dangkal sehingga masyarakat menggunakan sumur gali pada rumah penduduk. Pengaturan Saluran Drainase jarang dijumpai karena kondisi permukiman padat penduduk. Pada bagian bawah (timur) terdapat aliran sungai.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Desember 2019 di Kota Cimahi (Badan Geologi), daerah bencana terletak pada zona potensi terjadi gerakan tanah rendah-menengah, artinya di daerah ini memiliki potensi kerentanan rendah tetapi dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan longsoran lama dapat aktif kembali.

 

5. Faktor penyebab gerakan tanah:

Secara umum, faktor penyebab gerakan tanah pada lokasi tersebut adalah:

  • Kondisi geologi berupa lapukan batuan vulkanik tuffan berwarna kecoklatan memungkinkan terjadi gerakan tanah tipe rayapan.
  • Tanah pelapukan dari batuan vulkanik tebal dan mudah menyerap air, batuan dibawahnya yang sudah berubah (teralterasi) jadi lempung karena proses terjadinya ”lempung mengembang”.
  • Pemukiman yang dikelilingi oleh area persawahan (lahan basah) sehingga dapat membuat muka air tanah naik.
  • Sistem saluran air/drainase baik dari air permukaan maupun dari rumah tangga yang kurang baik sehingga air terakumulasi dan dapat menambah beban tanah, serta air yang liar dapat terkonsentrasi masuk ke dalam retakan dan menambah kecepatan pergerakan
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama yang turun sebelum gerakan tanah terjadi memicu terjadinya gerakan tanah.

 

6. MekanismeTerjadinya Gerakan Tanah:

Lokasi Kp. Cibogo tersusun oleh tanah pelapukan yang bersifat sarang dan tebal, yang mudah menyerap air. Air hujan dan air limbah rumah tangga yang masuk pada lapisan tanah pelapukan mengakibatkan tanah pelapukan jenuh air dan mudah luruh. Kondisi tataguna lahan disekitar permukiman yang didominasi lahan basah (persawahan) dan topograsi lokasi ke arah timur yang merupakan daerah paling rendah (dekat aliran sungai) membuat tanah pelapukan menjadi semakin jenuh air.  Kondisi ini menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan air pori dan berkurangnya daya ikat tanah. Batuan penyusun bagian bawah yang berupa lapukan batuan gunugapi yang sudah teralterasi menjadi lempungan dengan permeabilitas rendah berperan sebagai bidang gelincir. Kondisi padatnya bangunan rumah dan konstruksinya yang permanen mengakibatkan pembebanan pada lereng bertambah, sehingga terjadi pergerakan tanah dengan ditandai munculnya retakan. Curah hujan yang tinggi serta sistem keairan yang kurang baik juga dapat menambah potensi pergerakan dimana air hujan masuk ke dalam tanah melalui ruang antar butir tanah sehingga jenuh air menyebabkan bobot masanya bertambah dan kuat gesernya menurun, sehingga tanah tidak stabil (mudah bergerak) dan terjadilah retakan-retakan pada tanah.

 

7. Kesimpulan 

  • Gerakan tanah tipe lambat berupa rayapan atau nendatan 
  • Batuannya berupa lapukan batuan gunungapi yang sudah sangat lapuk 
  • Survey drone menunjukan posisi permukiman berada dikelilingi oleh area lahan basah (persawahan) 
  • Survey geolistrik menunjukan adanya akumulasi lapisan jenuh air yang dangkal antara 0-10 meter pada posisi  titik 0 – 45 m ( titik nol dari aliran sungai / sebelah timur ). 
  • Pengaturan drainase (keairan) untuk mengurangi potensi pergerakan. 

 

8. Rekomendasi Teknis 

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan sebagai berikut :

  • Masyarakat diharapkan tidak perlu khawatir/panik,
  • Diperlukan pengendalian air permukaan (surface water drainage) dengan cara perencanaan tata saluran permukaan, pengendalian air rembesan (ground water drainage) serta pengaliran parit pencegat yang diarahkan langsung ke sungai.
  • Penataan dan pembenahan saluran keairan permukaan pada kebun, ladang dan persawahan sehingga aliran air tidak tertahan dan alirannya menjauhi permukiman
  • Memelihara dan menanam tanaman keras berakar kuat dan dalam yang dapat menahan pergerakan.
  • Pemilik rumah dan masyarakat Kp. Cibogo diharapkan lebih meningkatkan kewaspadaan dan melakukan pemantauan retakan dan jika retakan bertambah luas segera melaporkan ke aparat desa setempat atau ke BPBD untuk dilakukan kegiatan pencegahan.
  • Masyarakat perlu dilakukan koordinasi dan sosialisasi pengenalan tanda-tanda awal pergerakan tanah dan dihimbau agar selalu mengikuti arahan pemerintah atau BPBD setempat.

 

LAMPIRAN

cibogo 1 (100220)

Gambar 1. Peta Lokasi Gerakan Tanah Desa Cibogo, Kel. Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat

 

cibogo 2 (100220)

Gambar 2. Peta Geologi Kec. Cimahi Selatan dan sekitarnya, Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat

 

cibogo 3 (100220)

Gambar 3. Peta Prakiraan Potensi Gerakan Tanah bulan Desember 2019 di Kota Cimahi, Jawa Barat

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

DI PROVINSI JAWA BARAT BULAN DESEMBER 2019

cibogo 4 (100220)

Keterangan

cibogo 5 (100220)

 

cibogo 6 (100220)

Gambar 4. Peta Situasi Gerakan Tanah dari Drone di Kp. Cibogo, Kel. Leuwigajah, Kota Cimahi, Jawa Barat

 

cibogo 7 (100220)

Gambar 5. Hasil Pengeolahan Geolistrik menunjukan area kotak merah memperlihatkan lapisan batuan/tanah yang mempunyai tingkat kejenuhan air tinggi di Kp. Cibogo, Kel. Leuwigajah, Kota Cimahi, Jawa Barat

 

cibogo 8 (100220)

Gambar 6. Peta Situasi Gerakan Tanah Kp. Cibogo, Kel. Leuwigajah, Kota Cimahi, Jawa Barat

 

cibogo 9 (100220)

Gambar 7. Penampang A – B Gerakan Tanah Kp. Cibogo, Kel. Leuwigajah, Kota Cimahi, Jawa Barat

 

LAMPIRAN FOTO

cibogo 10 (100220)

Foto 1. Koordinasi dan kerjasama tim pemeriksaan PVMBG dengan BPBD Kab. Bandung dan ketua RW. Kp. Cibogo, Leuwigajah

 

cibogo 11 (100220)

Foto 2. Retakan di jalan gang dan rumah di Kp. Cibogo RT. 03 RW.07 Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat

 

cibogo 12 (100220)

Foto 3. Retakan di rumah warga di Kp. Cibogo RT. 03 RW.07 Kelurahan Leuwigajah

 

cibogo 13 (100220)

Foto 4. Pemeriksaan stratigrafi lapisan tanah dengan menggunakan metode geolistrik

 

cibogo 14 (100220)

Foto 5. Tataguna Lahan basah (persawahan) disekitar pemukiman di Kp. Cibogo RT. 03 RW.07 Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat