Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat

Laporan hasil pemeriksaan lapangan Tim Tanggap Darurat Bencana Gerakan Tanah di Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat, berdasarkan informasi media elektronik pada laman https://regional.kompas.com/read/2020/01/26/19455661/longsor-di-sumedang-dua-orang-tewas-dan-dua-lainnya-kritis , sebagai berikut:

 1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Lokasi gerakan tanah secara adaministratif berada di Dusun Ciukir, Desa Margalaksana, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Secara geografis lokasi tersebut berada pada  6° 52' 44.97" LS dan 107° 54' 12.21" BT. Gerakan tanah terjadi pada hari Minggu, 26 Januari 2020 pukul 14.30 WIB.

 

2. Dampak Gerakan Tanah :

  • 2 (dua) orang meninggal dunia;
  • 2 (dua) orang luka-luka;
  • Lahan pesawahan rusak

 

3. Kondisi daerah bencana :

  • Morfologi : Morfologi daerah bencana merupakan perbukitan agak terjal hingga sangat terjal dengan kemiringan lereng 12°- 35° dengan ketinggian lokasi berada pada 618 meter di atas permukaan laut.
  • Geologi : Berdasarkan Peta Geologi Lembar Bandung, Jawa (Silitonga, 2003), daerah bencana tersusun oleh Hasil Gunungapi Muda Tak Teruraikan (Qyu) yang terdiri dari pasir tufaan, lapilli, breksi, lava, aglomerat. Berdasarkan hasil pemeriksaan di lokasi, kondisi geologi berupa singkapan batuan pasir tufan berwarna coklat, bersisipan dengan breksi dan aglomerat yang berada dibagian bawahnya. Tanah lapukan diendapkan diatasnya dengan ketebalan sekitar ±8 meter.
  • Tata Guna Lahan : Tataguna lahan di lokasi bencana sebagian besar merupakan area pesawahan. Pada lereng bagian atas berupa ladang dan kebun campuran, di bagian tengah dan di bagian bawah berupa kebun campuran dan pesawahan.
  • Keairan : Daerah bencana merupakan hulu Sungai Citunjung yang mengairi pesawahan di bagian lembah. Sedangkan kebutuhan air bagi warga setempat berasal dari mata air yang dialirkan menggunakan pipa.
  • Kerentanan Gerakan Tanah : Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadinya Gerakan Tanah Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat Bulan Januari 2020 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana termasuk dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah - Tinggi. Artinya daerah yang mempunyai potensi menengah - tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan diatas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

  

4. Kondisi Gerakan Tanah : 

Gerakan tanah yang terjadi di lokasi ini berupa tipe longsoran tanah dan aliran bahan rombakan. Longsoran berada di dinding sungai Citunjung mempunyai lebar 59 meter, panjang 67 meter dengan tinggi 23 meter dan  arah longsoran N 1340 E (relatif Tenggara). Berdasarkan informasi setempat, longsoran terjadi secara tiba-tiba setelah turun hujan dengan durasi yang cukup lama. Material longsor yang membentuk bendung alam sekitar 20 menit sebelum bendung alam tersebut jebol dan terjadi aliran bahan rombakan. Arah sungai relatif Barat Daya – Timur Laut.

  

5. Faktor penyebab gerakan tanah:

Secara umum, faktor penyebab gerakan tanah pada lokasi tersebut adalah:

  • Tanah lapukan dan batuan di permukaan yang tebal, gembur, dan sarang mudah menyerap air.
  • Kemiringan lereng agak terjal – sangat terjal dengan slope sekitar 15°-35°.
  • Morfologi berbentuk lembah di bagian lereng atas yang mengalami pergerakan dan merupakan daerah tangkapan air (catchment area).
  • Drainase yang kurang baik di daerah pemukiman dan pada kebun/ladang.
  • Hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang cukup lama sebagai pemicu terjadinya gerakan tanah

 

6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah:

Curah hujan yang tinggi di lokasi bencana serta tanah pelapukan yang bersifat sarang (mudah menyerap air) dan pemanfaatan lahan sebagai kebun campuran /ladang (bukan tanaman berakar kuat), menyebabkan  tanah menjadi jenuh air, bobot masa tanah bertambah dan ikatan antar butir tanah mengecil sehingga menyebabkan lereng menjadi kehilangan kesetimbangan dan tidak kuat lagi menahan beban hingga terjadilah gerakan tanah tipe longsoran tanah. Material longsoran terakumulasi di bagian tubuh aliran Sungai Citunjung yang berada di bawahnya, menyumbat dan membentuk bendung alam. Karena akumulasi air yang terus menerus bertambah, bendung tersebut tidak kuat lagi menahan beban, sehingga mengakibatkan bendung alam tersebut jebol dan terbentuklah aliran bahan rombakan dengan limpasan material bertambah luas dibagian bawah dengan morfologi lebih datar.

 

7. Kesimpulan dan Rekomendasi Teknis 

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, dapat disimpulkan bahwa:

  • Daerah bencana di Dusun Ciukir, Desa Margalaksana, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang pada saat ini hanya mengancam ladang dan pesawahan, tetapi masih berpotensi terjadi pergerakan tanah susulan berupa longsoran.

Rekomendasi Teknis :

Mengingat curah hujan yang diperkirakan masih tinggi, untuk menghindari kerugian yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa, direkomendasikan sebagai berikut :

  • Agar masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di sekitar daerah bencana lebih harus tetap waspada terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadinya longsor susulan;
  • Jika terjadi kembali pembendungan air harus segera dialirkan secara perlahan (dibuat saluran). Namun dalam proses pengerjannya harus dilakukan dengan sangat hati-hati, jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terutama disaat turun hujan;
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai tersebut harus selalu waspada terhadap kemungkinan adanya potensi aliran bahan rombakan;
  • Mengatur aliran air permukaan/drainase agar air tidak  meresap ke bawah permukaan yang dapat mempercepat terjadi gerakan tanah dengan membuat kolam dan saluran air yang ditembok (kedap air);
  • Mengganti lahan pertanian dengan tanaman yang tidak berakar kuat dengan   tanaman yang berakar kuat;
  • Tidak mendirikan pemukiman pada, di bawah dan di atas tebing yang terjal, khususnya yang berada tepat di tepi sungai.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
  • Untuk peningkatan kewaspadaan, perlu adanya pemantauan intensitas curah hujan, pemantauan retakan, dan pemantauan kondisi di lereng bagian atas sampai bawah. Pada saat musim hujan jika ada tanda-tanda retakan tanah, segera diisi dengan tanah liat dan dipadatkan, jika terjadi perkembangan retakan semakin lebar segera laporkan ke pihak berwenang.

 

LAMPIRAN

Margalaksana 1 (070220)

Gambar 1. Peta Lokasi gerakan tanah dan aliran bahan rombakan di Dusun Ciukir, Desa Margalaksana, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat.

 

Margalaksana 2 (070220)

Gambar 2. Peta geologi Desa Margalaksana dan sekitarnya, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

 

Margalaksana 3 (070220)

Gambar 3. Peta situasi gerakan tanah dan aliran bahan rombakan di Dusun Ciukir, Desa Margalaksana, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat.

 

Margalaksana 4 (070220)

Gambar 4. Penampang gerakan tanah dan aliran bahan rombakan di Dusun Ciukir, Desa Margalaksana, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang,Provinsi Jawa Barat.

 

Margalaksana 5 (070220)

Gambar 5. Peta prakiraan wilayah terjadinya gerakan tanah bulan Januari 2020 di Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat.

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

DI KABUPATEN SUMEDANG BULAN JANUARI 2020

Margalaksana 6 (070220)

Keterangan :

Margalaksana 7 (070220)

 

LAMPIRAN FOTO

Margalaksana 8 (070220)

Foto 1. Pemeriksaan dilokasi bencana di Dusun Ciukir, Desa Margalaksana, Kecamatan Sumedang Selatan.

 

Margalaksana 9 (070220)

Foto 2. Lokasi Bencana gerakan tanah dan aliran bahan rombakan dilihat dari foto udara dengan menggunakan drone dari arah Selatan.

 

Margalaksana 10 (070220)

Foto 3. Daerah yang terdampak aliran bahan rombakan dilihat dari foto udara dengan  menggunakan drone dari arah Timur Laut (kiri) dan Barat Daya (kanan).

 

Margalaksana 11 (070220)

Foto 4. Tebing sungai yang longsor dan materialnya membendung sungai Citunjung

 

Margalaksana 12 (070220)

Foto 5. Batuan yang tersingkap dilokasi bencana berupa batu pasir tufan berwarna coklat, bersisipan dengan breksi dan aglomerat yang berada dibagian bawahnya.

 

Margalaksana 13 (070220)

Foto 6. Tataguna lahan disekitar lokasi bencana yang sebagian besar merupakan lahan pesawahan dan ladang/ kebun setempat  jauh dari daerah pemukiman.

 

Margalaksana 14 (070220)

Foto 7. Koordinasi di lokasi bencana dengan petugas dari BPBD Kabupaten Sumedang, Kelurahan Pasanggrahan Baru dan masyarakat disekitar lokasi bencana.

 

Margalaksana 15 (070220)

Foto 8. Koordinasi dengan Kalak BPBD Kabupaten Sumedang sebelum Tim melakukan kajian dilokasi bencana.