Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat

Laporan hasil pemeriksaan gerakan tanah di Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Pemeriksaan dilaksanakan dalam rangka menindaklanjuti surat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Cianjur, Nomor : 362/54/DL/BPBD/2020, tanggal 07 Januari 2020, perihal Permohonan Penelitian/ Kajian Cepat. Pemeriksaan dilaksanakan bersama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Cianjur dan pihak aparat desa setempat, sebagai berikut :

A. Kp. Cibadak RT 02/ RW 08, Desa Sukamahi, Kecamatan Sukaresmi :

 

1.    Lokasi dan Waktu Terjadi Gerakan Tanah :

Gerakan Tanah terjadi di Kp. Cibadak RT 02/ RW 08, Desa Sukamahi, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Lokasi Gerakan tanah terletak pada Koordinat 107° 08’ 16,09” dan 06° 41’ 06,30”. Gerakan Tanah ini terjadi pada awal tanggal 4 Januari 2020 pukul 10.00 wib, gerakan tanah ini pernah terjadi puluhan tahun yang lalu.

 

2.    Jenis Gerakan Tanah

Jenis gerakan tanah yang terjadi berupa nendatan/ rayapan pada areal persawahan.

 

3. Dampak Gerakan Tanah

Gerakan tanah di daerah ini menyebabkan :

  • Lahan pertanian (sawah) hancur.

  

4.    Kondisi Umum Daerah Bencana :

  • Morfologi, Secara umum morfologi Kp. Cibadak, Desa Sukamahi adalah daerah perbukitan dengan lereng terjal sampai curam, dengan kemiringan lereng 25° - 70°. Ketinggian pada wilayah ini 554 – 604 meter.
  • Geologi, Berdasarkan pengamatan dilapangan, batuan penyusun di daerah  bencana berupa breksi vulkanik warna coklat dan batulempung warna coklat muda yang berada dibawah breksi vulkanik. Batulempung ini bersifat kedap air dan berfungsi sebagai bidang gelincir. Tanah pelapukan berketebalan antara 2 - 3 meter. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Cianjur, Jawa (2006), daerah bencana tersusun oleh Hasil Gunungapi Tertua yang terdiri dari breksi dan lava, breksi andesit piroksen bersisipan dengan lava andesit (Qot); Breksi dan Lahar dari G.Gede yang terdiri dari batupasir tufan, serpih tufan, breksi tufan, dan aglomerat tufan (Qyg); Anggota batupasir Formasi Cantayan yang terdiri dari breksi kotor berlapis baik, serpih pasiran, lempung serpihan, breksi laut, dan konglomerat (Mtts).
  • Tataguna Lahan, Tataguna lahan pada daerah bencana adalah pertanian lahan basah/ persawahan, bagian atas lereng terdapat saluran irigasi, bagian bawah lereng berupa pemukiman.
  • Keairan, Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah dalam kondisi baik dan melimpah pada musim hujan. Aliran permukaan (run off) mengalir bebas di permukaan dan sebagian meresap ke dalam tanah. Berdasarkan keterangan penduduk, pada musim kemarau, daerah bencana berada pada kondisi keairan yang cukup.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Januari 2020, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Sukaresmi terletak pada zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah – Tinggi artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

5.    Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di lokasi ini antara lain :

  • Kemiringan lereng yang terjal sampai curam, mengakibatkan tanah mudah bergerak.
  • Tata guna lahan berupa pertanian lahan basah yang tidak kedap air menyebabkan tanah jenuh air dan mudah bergerak.
  • Adanya batulempung serpihan yang berada dilokasi bencana merupakan zona lemah yang bisa menyebabkan gerakan tanah lambat.
  • Curah hujan yang tinggi dan selama sehari semalam sebelum terjadi gerakan tanah.
  • Kurangnya tanaman berakar kuat dan dalam dibagian lereng atas sehingga masa tanah tidak terikat dengan kuat oleh akar pepohonan dan mudah bergerak.

 

6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Curah hujan yang tinggi dan lama serta tata guna lahan berupa sawah basah  mengakibatkan kandungan air dalam tanah meningkat sehingga tanah menjadi jenuh air bobot masa tanah bertambah, ikatan antar butir tanah mengecil, akibatnya lereng menjadi tidak stabil dan bergerak mencari keseimbangan baru maka terjadilah longsoran berupa rayapan dan terbentuk retakan selebar 20 cm – 1,5 meter pada areal persawahan. Retakan tersebut merupakan media masuknya air permukaan, terutama air hujan  kedalam retakan tersebut yang memicu pergerakan tanah. Ditambah dengan kondisi batuan penyusun wilayah ini berupa batulempung pasiran yang menjadi media bidang gelincir gerakan tanah di wilayah ini.

 

7.  Rekomendasi :

  • Longsoran yang terjadi berupa nendatan yang diikuti oleh retakan yang pergerakannya relatif lambat, karena lerengnya tidak begitu terjal. Jenis gerakan tanah ini tidak akan menimbun pemukiman, hanya akan merusak bangunan dan prasarana yang ada dan dapat aktif kembali jika tanah jenuh air akibat hujan yang berlangsung lama.
  • Secara visual pemukiman yang berada diatas mahkota longsoran masih layak huni, dan aman, hanya harus terus waspada apabila terdapat retakan-retakan pada pemukiman sudah mulai muncul.

Mengingat curah hujan yang masih tinggi untuk menghindari jatuhnya korban jiwa dan kerugian yang lebih besar, direkomendasikan:

Jangka Pendek:

  • Segera menutupi nendatan dan retakan dengan tanah liat dan dipadatkan agar air tidak masuk ke dalam retakan yang dapat memicu pergerakan tanah.
  • Meningkatkan kewaspadaan pada saat dan setelah turun hujan lebat serta tidak beraktivitas di sekitar lokasi longsor dan dekat dengan alur lembah sungai/alur curah anak sungai.
  • Segera dilakukan perbaikan sistem pengaliran air permukaan dengan saluran yang kedap air.

Jangka Menengah dan Panjang:

  • Memanfaatkan lahan pertanian dengan sistem pola tanam kering yang diselingi oleh pohon besar. Apabila lahan pertanian basah/ persawahan masih dipertahankan, harus diselingi dengan pohon besar dan berakar kuat pada bagian lereng-lerengnya.
  • Tidak mendirikan bangunan pada jarak yang terlalu dekat dengan tebing dan alur aliran sungai.
  • Melakukan penanaman pohon besar dengan akar yang kuat dan dalam untuk meningkatkan daya ikat terhadap tanah.

 

 

B. Kp. Cibuntu RT 01/ RW 01, Desa Cibanteng, Kec. Sukaresmi.

1.    Lokasi dan Waktu Terjadi Gerakan Tanah :

Gerakan Tanah terjadi di Kp. Cibuntu RT 01/ RW 01, Desa Cibanteng, Kec. Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Terletak pada Koordinat 107° 05’ 46,48” dan 06° 41’ 55,70”. Gerakan Tanah ini terjadi pada tanggal 1 Januari 2020 setelah hujan deras selama sehari semalam dan gerakan tanah ini masih berlangsung hingga saat pemeriksaan.

 

2.    Jenis Gerakan Tanah

Jenis gerakan tanah berupa nendatan atau rayapan yang terjadi pada areal persawahan.

 

3. Dampak Gerakan Tanah

Gerakan tanah di daerah ini menyebabkan :

  • 1 (satu) hektare lahan persawahan hancur.

 

4.    Kondisi Umum Daerah Bencana :

  • Morfologi, Morfologi sekitar lokasi bencana merupakan lereng perbukitan dengan kemiringan lereng antara 25 - 45°. Ketinggian tempat antara 558 – 410 m di atas permukaan laut.
  • Geologi, Berdasarkan pengamatan dilapangan, batuan penyusun di daerah  bencana berupa batulempung berwarna coklat muda, lengket, agak rapuh, pada bagian atasnya terdapat breksi tufan warna coklat tua. Tanah pelapukan berketebalan antara 3 - 5 meter. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Cianjur, Jawa (2003), daerah bencana tersusun oleh Hasil Gunungapi terrtua yang terdiri dari breksi dan lava (Qot); Breksi dan Lahar dari Gunung gede yang terdiri dari batupasir tufan, serpih tufan, breksi tufan, dan aglomerat tufan (Qyg); Anggota Batupasir Formasi  Cantayan, yang terdiri dari batupasir kotor berlapis baik, serpih pasiran, lempung serpihan dan breksi laut serta konglomerat (Mtts); Angggota Breksi Formasi Cantayan yang terdiri dari breksi polemic mengandung komponen bersifat basal, andesit dan bagugamping koral, bersisipan batupasir andesit pada bagian atas, dibeberapat tempat mengandung batuan intrusi andesit (Mttb).
  • Tataguna Lahan, Tataguna lahan pada daerah bencana bagian atas pada bagian atas lereng berupa pemukiman, bagian tengah lereng areal pertanian lahan basah/ sawah, pada bagian bawah lereng terdapat Sungai Manglit.
  • Keairan, Keairan di lokasi gerakan tanah dalam kondisi baik dan melimpah pada musim hujan. Air permukaan mengalir bebas di permukaan dan sebagian meresap ke dalam tanah melalui celah/retakan. Air permukaan berasal dari air hujan dan pembuangan dari permukiman, sebagian besar disalurkan melalui saluran terbuka dan tidak kedap air. Berdasarkan keterangan penduduk, pada musim kemarau, daerah bencana berada pada kondisi keairan yang cukup. Sungai Manglit juga mengalir sepanjang tahun.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Januari 2020, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Sukaresmi terletak pada zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah – Tinggi artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

5.    Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di lokasi ini antara lain :

  • Kemiringan lereng yang terjal sampai curam, mengakibatkan tanah mudah bergerak,
  • Adanya bidang lemah yang berupa batulempung yang bersifat kedap air sehingga dapat berfungsi sebagai bidang gelincir gerakan tanah,
  • Beban kendaraan yang melintas,
  • Curah hujan yang tinggi pada saat sebelum terjadi gerakan tanah.
  • Karakteristik batulempung menyebabkan tanah berpotensi untuk terjadi gerakan tanah tipe lambat.

 

6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Akibat curah hujan yang tinggi kandungan air dalam tanah meningkat. sehingga tanah menjadi jenuh air, bobot masa tanah bertambah, ikatan antar butir tanah mengecil, serta batuan penyusun diwilayah ini berupa batulempung yang kedap air menjadi bidang bidang gelincir akibatnya lereng menjadi tidak stabil dan bergerak mencari kesetimbangan baru maka terjadilah gerakan tanah, karena lereng tidak begitu terjal pergerakannya lambat yang terjadi berupa nendatan yang diikuti dengan retakan yang melalui wilayah pesawahan. Karakteristik batulempung dengan plastisitas dan kembang susut menyebabkan wilayah ini berpotensi untuk terjadi gerakan tanah tipe lambat.

 

7.  Rekomendasi :

Gerakan tanah jenis rayapan yang diikuti oleh retakan dan nendatan masih berlangsung dan tetap berlangsung jika terjadi hujan lebat berlangsung lama serta air masuk ke bawah permukaan melalui rekahan. Untuk itu di Rekomendasikan :

  • Segera menutup retakan dan memadatkannya dengan tanah untuk menghindari peresapan air secara cepat ke dalam tanah.
  • Masyarakat diharapkan terus memantau intensitas perkembangan retakan yang terjadi, apabila retakan terus berkembang diharapkan segera mengungsi ketempat yang lebih aman.
  • Apabila pertanian lahan basah dipertahankan sebaiknya dibuat perselingan dengan tanaman akar kuat dan dalam, untuk memperkuat lereng dan tanah tidak mudah bergerak. Terutama pada bagian yang dekat dengan lereng yang terjal/ bagian atas sungai.
  • Pemukiman yang berada dilereng bagian atas masih layak huni, tetapi masyarakat harus selalu waspada terutama pada saat dan setelah hujan lebat berlangsung lama.
  • Tipe rumah panggung/ bangunan konstruksi cocok di daerah ini,  jika daerah tersebut dibangun dengan konstruksi tembok/permanen dan lantai keramik, maka jika terjadi gerakan tanah jenis rayapan akan terjadi retakan pada dinding dan lantai, beresiko roboh.
  • Mengatur aliran air permukaan/drainase agar air tidak meresap ke bawah permukaan yang dapat mempercepat terjadi gerakan tanah. Mengarahkan aliran air permukaan menjauh dari retakan pada permukaan tanah.
  • Mengeringkan kolam ikan dan penampungan air, atau jika dipertahankan maka pembuatan kolam ikan atau penampungan air harus kedap air (disemen).
  • Saluran pada lereng bagian atas (perkampungan) perlu dibuat kedap air (disemen)

 

 

C. Kp. Cipeuteuy, Desa Rawabelut, Kecamatan Sukaresmi :

1.    Lokasi dan Waktu Terjadi Gerakan Tanah :

Gerakan Tanah terjadi di jalan penghubung Kp. Cipari dengan Kp. Cipeuteuy, Desa Rawabelut, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Terletak pada Koordinat 107° 03’ 40,00” dan 06° 40’ 09,60”. Gerakan Tanah ini terjadi pada hari Sabtu, tanggal 10 Januari 2020 pukul 10.00 wib.

 

2.    Jenis Gerakan Tanah

Jenis gerakan tanah berupa Nendatan/ Rayapan yang disertai dengan longsoran bahan rombakan.

 

5. Dampak Gerakan Tanah

Gerakan tanah di daerah ini menyebabkan :

  • Badan jalan penghubung Kp. Cipari, Desa Sukawangi dengan Kp. Cipeuteuy, Desa Rawabelut terputus sepanjang 400 meter.

 

4.    Kondisi Umum Daerah Bencana :

  • Morfologi, Secara umum morfologi adalah daerah perbukitan dengan lereng terjal sampai dengan curam, dengan kemiringan lereng 25° - 50°. Ketinggian pada wilayah ini 527 – 736 meter.
  • Geologi, Berdasarkan pengamatan dilapangan, batuan penyusun di daerah  bencana berupa batulempung serpih berwarna hitam dan kuning kecoklatan bersifat getas (britle), agak rapuh, sarang, tanah pelapukan berketebalan antara 10 – 30  cm. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Cianjur, Jawa (2003), daerah bencana tersusun oleh Anggota Batulempung Formasi Cantayan yang terdiri dari batulempung, serpih tufan mengandung belerang, lignit dan konkresi-konkresi batulempung, dengan sisipan batugamping (Mttc); Anggota Batupasir Formasi Cantayan yang terdiri dari batupasir berlapis, serpih pasiran, lempung serpihan, breksi laut dan konglomerat (Mtts); Anggota Breksi Formasi Cantayan yang terdiri dari polemic mengandung komponen bersifat basal, andesit, batugamping koral, bersisipan batupasir andesit pada bagian atas, dibeberapa tempat mengandung batuan intrusi andesit (Mttb).
  • Tataguna Lahan, Tataguna lahan pada daerah bencana adalah jalan penghubung antar desa dan kebun campuran.
  • Keairan, Kondisi keairan di sekitar bencana dalam kondisi baik dan melimpah pada musim hujan. Air permukaan mengalir bebas di permukaan dan sebagian meresap ke dalam tanah melalui celah/retakan. Berdasarkan keterangan penduduk, pada musim kemarau, daerah bencana berada pada kondisi keairan yang cukup. Pada bagian bawah lereng terdapat Sungai Manglit.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Januari 2020, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Sukaresmi terletak pada zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah – Tinggi artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

5.    Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di lokasi ini antara lain :

  • Kemiringan lereng yang terjal sampai curam, mengakibatkan tanah mudah bergerak,
  • Curah hujan yang tinggi pada saat sebelum terjadi gerakan tanah.
  • Batulempung serpih yang bersifat britle atau rapuh menyebabkan lereng mudah bergerak.

 

6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Batuan penyusun berupa batulempung serpih yang bersifat britle atau rapuh ditambah dengan kemiringan lereng yang terjal serta curah hujan yang tinggi mengakibatkan massa bobot tanah meningkat dan tanah jenuh air sehingga tanah mudah bergerak mencari keseimbangan baru, sehingga tanah menjadi retak-retak, dan terjadi rayapan. Karakteristik batulempung serpih jika kena air mudah rapuh sehingga mudah terjadi gerakan tanah.

 

7.  Rekomendasi :

  • Jalan desa ini sudah tidak layak untuk digunakan, dan untuk menghindari terjadi gerakan tanah susulan jalan desa ini sebaiknya dipindahkan jalurnya agar lebih aman.
  • Agar masyarakat yang melintas daerah bencana lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadinya longsor susulan.
  • Membangun tembok penahan tebing (Retaining Wall) yang dilengkapi dengan lubang-lubang air pada bagian bawah lereng jalan yang longsor/ atau bagian atas sungai, dengan pondasi harus sampai batuan dasar agar stabil, agar tanah tidak terus bergerak.
  • Pembangunan tembok penahan sebaiknya dibuat secara berjenjang (terrasering)
  • Membuat rambu-rambu lalu lintas peringatan rawan longsor, agar pengguna jalan waspada bila melalui jalur jalan ini, terutama di musim hujan.
  • Menata air permukaan dengan baik dan kedap air (disemen), karena karakteristik batulempung serpih mudah bergerak jika terkena air.
  • Meningkatkan Sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari BPBD/aparat pemerintah daerah setempat.

 

Lampiran

Sukaresmi 1 (070220)

Gambar 1. Peta Lokasi Gerakan Tanah Desa Sukamahi, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur,Provinsi Jawa Barat

 

Sukaresmi 2 (070220)

Gambar 2. Peta Lokasi Gerakan Tanah Desa Cibanteng, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur,Provinsi Jawa Barat

 

Sukaresmi 3 (070220)

Gambar 3. Peta Lokasi Gerakan Tanah Desa Rawabeluti, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur,Provinsi Jawa Barat

 

Sukaresmi 4 (070220)

Gambar 4. Peta Geologi Desa Sukamahi dan Sekitarnya, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.

 

Sukaresmi 5 (070220)

Gambar 5. Peta Geologi Desa Cibanteng dan Sekitarnya, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.

 

Sukaresmi 6 (070220)

Gambar 6. Peta Geologi Desa Rawabelut dan Sekitarnya, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.

 

Sukaresmi 7 (070220)

Gambar 7. Peta Situasi Gerakan Tanah di Desa Sukamahi dan Sekitarnya, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.

 

Sukaresmi 8 (070220)

Gambar 8. Penampang Gerakan Tanah di Kp. Cibadak, Desa Cibanteng, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.

 

Sukaresmi 9 (070220)

Gambar 9. Peta Situasi Gerakan Tanah di Desa Cibanteng, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.

 

Sukaresmi 10 (070220)

Gambar 10. Penampang Gerakan Tanah di Kp. Cibuntu, Desa Cibanteng, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.

 

Sukaresmi 11 (070220)

Gambar 11. Peta Situasi Gerakan Tanah di Desa Rawabelut, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.

 

Sukaresmi 12 (070220)

Gambar 12. Penampang Gerakan Tanah di Kp.Cipeteuy, Desa Rawabelut, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.

 

POTENSI GERAKAN TANAH

DI KABUPATEN CIANJUR, PROVINSI JAWA BARAT

 PADA BULAN JANUARI 2020

Sukaresmi 13 (070220)

Keterangan :

Sukaresmi 14 (070220)

 

Sukaresmi 15 (070220)

Gambar 13. Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah pada  bulan Januari 2020 di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

 

Foto Lapangan

Sukaresmi 16 (070220)

Foto 1. Garis merah menunjukkan mahkota longsoran gerakan tanah yang berada di areal persawahan di Kp. Cibadak RT 02/RW 08, Desa Sukamahi, Kec. Sukaresmi. Gerakan tanah ini mengakibatkan areal persawahan retak-retak

 

Sukaresmi 17 (070220)

Foto 2. Retakan-retakan yang berukuran 10 cm sampai dengan 50 cm pada areal persawahan di Kp. Cibadak RT 02/ RW 08, Desa Sukamahi, Kec. Sukaresmi. Untuk menghindari air masuk kedalam lubang retakan sebaiknya retakan ini segera ditutup dengan tanah dan dipadatkan

 

Sukaresmi 18 (070220)

Foto 3. Foto kiri memperlihatkan batulempung yang berada dibawah tanah pelapukan. Adanya batulempung ini menjadi bidang gelincir batuan/lapisan tanah yang berada diatasnya. Foto kanan adalah tim beserta BPBD Kabupaten serta apparat desa Sukamahi.

 

Sukaresmi 19 (070220)

Foto 4. Gerakan tanah tipe nendatan/ rayapan yang terjadi di Kp. Cibuntu RT 01/ RW01, Desa Cibanteng, Kec. Sukaresmi. Gerakan tanah yang terjadi pada hari Rabu, 01 Januari 2020 ini mengakibatkan persawahan hancur.

 

Sukaresmi 20 (070220)

Foto 5.  Kolam ikan yang berada dibagian atas lereng mengakibatkan beban tanah semakin meningkat. Sebaiknya kolam ikan/ kolam penampungan air dibuat permanen (disemen), agar  air tidak meresap kedalam tanah.

 

Sukaresmi 21 (070220)

Foto 6.  Jalan penghubung Kp Cipari dengan Kp Cipeteuy Desa Rawabelut, Kec. Sukaresmi terputus akibat gerakan tanah yang terjadi pada 10 Januari 2020. Material longsoran yang berada dibagian bawah jalan ini mengancam menutup sungai Manglit yang berada dibagian bawahnya.

 

Sukaresmi 22 (070220)

Foto 7.  Akibat gerakan tanah di Jalan penghubung Kp Cipari dengan Kp Cipeteuy Desa Rawabelut, Kec. Sukaresmi terputus, sehingga dibuat jalan baru oleh masyarakat.