Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat

Laporan hasil pemeriksaan gerakan tanah di Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Pemeriksaan dilaksanakan dalam rangka menindaklanjuti surat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Cianjur, Nomor : 362/54/DL/BPBD/2020, tanggal 07 Januari 2020, perihal Permohonan Penelitian/ Kajian Cepat. Pemeriksaan dilaksanakan bersama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Cianjur dan pihak aparat Desa Wargaasih, sebagai berikut :

A. Kp. Cibalong RT 04/ RW 02, Desa Wargaasih, Kecamatan Kadupandak :

 

1.    Lokasi dan Waktu Terjadi Gerakan Tanah :

Gerakan Tanah terjadi di Kp. Cibalong RT 04/ RW 02, Desa Wargaasih, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Terletak pada Koordinat 107° 01’ 25,23” dan 07° 11’ 24,80”. Gerakan Tanah ini terjadi pada awal tanggal 7 Januari 2020 pukul 17.15 WIB.

 

2.    Jenis Gerakan Tanah

Jenis gerakan tanah yang terjadi berupa nendatan/ rayapan pada tanggul saluran air dan pada areal persawahan.

 

3. Dampak Gerakan Tanah

Gerakan tanah di daerah ini menyebabkan :

  • 1 (satu) rumah terancam,
  • Saluran irigasi Ciletak II/ Ciroyom terancam,
  • 315 areal sawah retak-retak.

 

4.    Kondisi Umum Daerah Bencana :

  • Morfologi, Secara umum morfologi Kp. Cibolang, Desa Wargaasih adalah daerah perbukitan dengan lereng terjal sampai curam, dengan kemiringan lereng 25° - 70°. Ketinggian pada wilayah ini 551 – 604 meter.
  • Geologi, Berdasarkan pengamatan dilapangan, batuan penyusun di daerah  bencana berupa tuff berwarna coklat muda, agak rapuh, sarang, dengan tanah pelapukan berwarna coklat muda. Tanah pelapukan berketebalan antara 2 - 3 meter. Pada bagian bawah terdapat breksi vulkanik yang berperan sebagai bidang gelincir. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Sindangbarang dan Bandarwaru, Jawa (Koeswono,dkk, 1996), daerah bencana tersusun oleh Formasi Koleberes yang terdiri dari batupasir tuf berlapis baik, kurang mampat, dan kristal dengan sisipan tuf, breksi tuf batuapung, dan breksi (Tmk); dan Formasi Beser yang terdiri dari breksi andesit, breksi tuf, tuf kristal dan batulempung (Tmbe).
  • Tataguna Lahan, Tataguna lahan pada daerah bencana adalah pertanian lahan basah/ persawahan, dan saluran irigasi, serta pada bagian tengah terdapat satu rumah.
  • Keairan, Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah dalam kondisi baik dan melimpah pada musim hujan. Aliran permukaan (run off) mengalir bebas di permukaan dan sebagian meresap ke dalam saluran terbuka di atas permukaan tanah. Berdasarkan keterangan penduduk, pada musim kemarau, daerah bencana berada pada kondisi keairan yang cukup.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Januari 2020, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Kadupandak terletak pada zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah – Tinggi artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

5.    Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di lokasi ini antara lain :

  • Kemiringan lereng yang terjal sampai curam, mengakibatkan tanah mudah bergerak.
  • Tata guna lahan berupa pertanian lahan basah dan saluran irigasi yang tidak kedap air menyebabkan tanah jenuh air dan mudah bergerak.
  • Adanya bidang lemah yang berupa tufa dengan breksi yang bersifat kedap air sehingga dapat berfungsi sebagai bidang gelincir gerakan tanah.
  • Curah hujan yang tinggi dan selama sehari semalam sebelum terjadi gerakan tanah.

 

6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Tataguna lahan berupa sawah serta ditambah dengan beban dari saluran irigasi yang berada diatas tanah bebas mengakibatkan kandungan air dalam tanah meningkat sehingga tanah menjadi jenuh air, bobot masa tanah bertambah, ikatan antar butir tanah mengecil, akibatnya lereng menjadi tidak stabil dan bergerak mencari keseimbangan baru maka terjadilah nendatan/ rayapan.

 

7.  Rekomendasi :

  • Agar masyarakat yang tinggal di sekitar daerah bencana lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadinya longsor susulan.
  • 1 (satu) rumah yang terancam harus direlokasi ke tempat yang lebih aman.
  • Diperlukan penataan penggaliran saluran irigasi, dengan membangun saluran irigasi kedap air,  pengendalian air permukaan (surface water drainage) dengan cara perencanaan tata saluran permukaan, pengendalian air rembesan.
  • Menutup retakan dengan dipadatkan, untuk menghindari air masuk kedalam retakan.
  • Membuat perselingan sawah dengan tanaman berakar keras terutama pada bagian yang terjal.
  • Meningkatkan Sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari BPBD/aparat pemerintah daerah setempat.

 

B. Jalan Tanjakan Purut, Kp. Purut, Desa Sukaraja, Kecamatan Kadupandak.

1.    Lokasi dan Waktu Terjadi Gerakan Tanah :

Gerakan Tanah terjadi di jalan Tanjakan Purut, Kp. Purut, Desa Sukaraja, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Terletak pada Koordinat 107° 03’ 09,40” dan 07° 14’ 07,62”. Gerakan Tanah ini terjadi pada awal bulan Oktober 2019 dan masih berlangsung hingga saat pemeriksaan.

 

2.    Jenis Gerakan Tanah

Jenis gerakan tanah berupa longsoran bahan rombakan pada jalan tanjakan Purut.

  

3. Dampak Gerakan Tanah

Gerakan tanah di daerah ini menyebabkan :

  • Badan jalan longsor

 

4.    Kondisi Umum Daerah Bencana :

  • Morfologi, Secara umum morfologi wilayah Kp Purut, Desa Sukaraja adalah daerah perbukitan dengan lereng terjal sampai curam, dengan kemiringan lereng 25° - 70°. Ketinggian pada wilayah ini 295 - 410 meter.
  • Geologi, Berdasarkan pengamatan dilapangan, batuan penyusun di daerah  bencana berupa batulempung berwarna coklat tua kehitaman bersifat getas (britle), agak rapuh, dengan tanah pelapukan berwarna coklat muda. Tanah pelapukan berketebalan antara 2 - 3 meter. Pada bagian bawah lapisan terdapat breksi dan tuff. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Sindangbarang dan Bandarwaru, Jawa (Koeswono,dkk, 1996), daerah bencana tersusun oleh Formasi Koleberes yang terdiri dari batupasir tuf berlapis baik, kurang mampat, dan kristal dengan sisipan tuf, breksi tuf batuapung, dan breksi (Tmk); dan Formasi Bentang yang terdiri dari runtuhan turbidit, berupa batupasir tuff berlapis baik, kurang mampat, tuff Kristal, tuff batuapung dengan sisipan lempung globigerina, batu lanau, batulempung napalan, dan breksi andesit, konglomerat, tuf lapilli dan breksi tuf (Tmb); Anggota Kadupandak Formasi Bentang yang terdiri dari batulempung kenyal, batulempung tufan, setempat bersisipan dengan tuf batuapaung, lapilli dan breksi andesit (Tmbk).
  • Tataguna Lahan, Tataguna lahan pada daerah bencana bagian atas tebing jalan, bagian tengah badan jalan dan pada bagian bawah berupa rumpun bambu, dan pemukiman.
  • Keairan, Keairan di lokasi gerakan tanah dalam kondisi baik dan melimpah pada musim hujan. Air permukaan (run off) mengalir bebas di permukaan dan sebagian meresap ke dalam tanah melalui saluran terbuka. Berdasarkan keterangan penduduk, pada musim kemarau, daerah bencana berada pada kondisi keairan yang cukup.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Oktober 2019, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Kadupandak terletak pada zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah – Tinggi artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

5.    Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di lokasi ini antara lain :

  • Kemiringan lereng yang terjal sampai curam, mengakibatkan tanah mudah bergerak,
  • Adanya bidang lemah yang berupa breksi dengan batulempung yang bersifat kedap air sehingga dapat berfungsi sebagai bidang gelincir gerakan tanah,
  • Beban kendaraan yang melintas,
  • Curah hujan yang tinggi pada saat sebelum terjadi gerakan tanah.

 

6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Batuan penyusun berupa batulempung yang kedap air yang berfungsi sebagai bidang gelincir ditambah dengan kemiringan lereng yang terjal serta curah hujan yang tinggi mengakibatkan bobot massa meningkat dan tanah jenuh air sehingga tanah mudah bergerak mencari keseimbangan baru.

 

7.  Rekomendasi :

  • Agar masyarakat yang melintasi dan tinggal di sekitar daerah bencana lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadinya longsor susulan.
  • Membangun tembok penahan tebing (Retaining Wall) pada bagian atas serta bagian bawah badan jalan, dengan pondasi harus sampai batuan dasar agar stabil.
    • Membuat rambu-rambu lalu lintas peringatan rawan longsor, agar pengguna jalan waspada bila melalui jalur jalan ini, terutama di musim hujan.
    • Meningkatkan Sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
    • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari BPBD/aparat pemerintah daerah setempat.

 

C. Jalan Kuwuk RT 01/ RW 06, Kp. Bojongkasih, Desa Sindangsari :

1.    Lokasi dan Waktu Terjadi Gerakan Tanah :

Gerakan Tanah terjadi di Jalan Kuwuk RT 01/ RW 06, Kp. Bojongkasih, Desa Sindangsari, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Lokasi gerakan tanah terletak di koordinat 107° 02’ 41,91” dan 07° 13’ 46,05”. Gerakan Tanah ini terjadi pada hari Jumat, tanggal 9 Januari 2020 pukul 13.00 WIB.

 

2.    Jenis Gerakan Tanah

Jenis gerakan tanah berupa nendatan dan rayapan yang terjadi pada badan jalan desa Kuwuk.

 

3. Dampak Gerakan Tanah

Gerakan tanah di daerah ini menyebabkan :

  • Badan Jalan Kuwuk terputus.
  • 1 (satu) petak areal persawahan terancam.

 

4.    Kondisi Umum Daerah Bencana :

  • Morfologi, Secara umum morfologi Jalan Kuwuk RT 01/ RW 06, Kp. Bojongkasih adalah daerah perbukitan, dengan lereng terjal sampai dengan sangat terjal, dengan kemiringan lereng 30° - 45°. Ketinggian pada wilayah ini 313 – 416 meter.
  • Geologi, Berdasarkan pengamatan dilapangan, batuan penyusun di daerah  bencana berupa batulepung berwarna coklat tua kehitaman bersifat getas (britle), agak rapuh, sarang, dengan tanah pelapukan berwarna coklat muda. Tanah pelapukan berketebalan antara 2 - 3 meter. Pada bagian bawah lapisan terdapat breksi dan tuff. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Sindangbarang dan Bandarwaru, Jawa (Koeswono,dkk, 1996), daerah bencana tersusun oleh Formasi Koleberes yang terdiri dari batupasir tuf berlapis baik, kurang mampat, dan kristal dengan sisipan tuf, breksi tuf batuapung, dan breksi (Tmk); dan Formasi Bentang yang terdiri dari runtuhan turbidit, berupa batupasir tuff berlapis baik, kurang mampat, tuff kristal, tuff batuapung dengan sisipan lempung globigerina, batu lanau, batulempung napalan, dan breksi andesit, konglomerat, tuf lapilli dan breksi tuf (Tmb); Anggota Kadupandak Formasi Bentang yang terdiri dari batulempung kenyal, batulempung tufan, setempat bersisipan dengan tuf batuapaung, lapilli dan breksi andesit (Tmbk).
  • Tataguna Lahan, Tataguna lahan pada daerah bencana adalah sawah, jalan desa dan bagian bawah adalah kebun campuran.
  • Keairan, Kondisi keairan di sekitar lokasi Jalan Kuwuk dalam kondisi baik dan melimpah pada musim hujan. Air permukaan (run off) mengalir bebas di permukaan dan sebagian meresap ke dalam tanah melalui celah/retakan. Air permukaan berupa air hujan dan pembuangan dari permukiman, sebagian besar disalurkan melalui saluran terbuka di atas permukaan tanah. Berdasarkan keterangan penduduk, pada musim kemarau, daerah bencana berada pada kondisi keairan yang cukup.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Januari 2020, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Kadupandak terletak pada zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah – Tinggi artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

5.    Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di lokasi ini antara lain :

  • Kemiringan lereng yang terjal sampai sangat terjal, mengakibatkan tanah mudah bergerak,
  • Adanya bidang lemah yang berupa breksi dengan batulempung yang bersifat kedap air sehingga dapat berfungsi sebagai bidang gelincir gerakan tanah,
  • Beban kendaraan yang melintas,
  • Curah hujan yang tinggi pada saat sebelum terjadi gerakan tanah.

 

6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah

Batuan penyusun berupa batulempung yang kedap air ditambah dengan kemiringan lereng yang terjal serta curah hujan yang tinggi mengakibatkan massa bobot tanah meningkat dan tanah jenuh air sehingga tanah mudah bergerak mencari keseimbangan baru.

 

7.  Rekomendasi :

  • Agar masyarakat yang melintasi dan tinggal di sekitar daerah bencana lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadinya longsor susulan.
  • Membangun tembok penahan tebing (Retaining Wall) pada bagian atas serta bagian bawah badan jalan, dengan pondasi harus sampai batuan dasar agar stabil.
  • Membuat rambu-rambu lalu lintas peringatan rawan longsor, agar pengguna jalan waspada bila melalui jalur jalan ini, terutama di musim hujan.
  • Batuan yang ada diwilayah gerakan tanah berupa batulempung dan napalan, batuan ini mudah mengalami gerakan tanah rayapan, sehingga saluran air harus kedap air (disemen).
  • Meningkatkan Sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari BPBD/aparat pemerintah daerah setempat.

 

Lampiran

Kadupandak 1 (070220)

Gambar 1. Peta Lokasi Gerakan Tanah Desa Wargaasih, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur,Provinsi Jawa Barat

 

Kadupandak 2 (070220)

Gambar 2. Peta Lokasi Gerakan Tanah Desa Sukaraja, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur,Provinsi Jawa Barat

 

Kadupandak 3 (070220)

Gambar 3. Peta Lokasi Gerakan Tanah Kp. Bojongkasih, Desa Sindangsari, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur,Provinsi Jawa Barat

 

Kadupandak 4 (070220)

Gambar 4. Peta Geologi Desa Wargaasih dan Sekitarnya, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.

 

Kadupandak 5 (070220)

Gambar 5. Peta Geologi Desa Sukaraja dan Sekitarnya, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.

 

Kadupandak 6 (070220)

Gambar 6. Peta Geologi Desa Sindangsari dan Sekitarnya, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.

 

Kadupandak 7 (070220)

Gambar 7. Peta Situasi Gerakan Tanah di Desa Wargaasih dan Sekitarnya, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.

 

Kadupandak 8 (070220)

Gambar 8. Penampang Gerakan Tanah di Kp. Cibalong, Desa Wargaasih, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.

 

Kadupandak 9 (070220)

Gambar 9. Peta Situasi Gerakan Tanah di Kp. Purut, Desa Sukaraja, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.

 

Kadupandak 10 (070220)

Gambar 10. Penampang Gerakan Tanah di Kp. Purut, Desa Sukaraja, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.

 

Kadupandak 11 (070220)

Gambar 11. Peta Situasi Gerakan Tanah di Kp. Bojongkasih, Desa Sindangsari, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.

 

Kadupandak 12 (070220)

Gambar 12. Penampang Gerakan Tanah di Kp. Bojongkasih, Desa Sindangsari, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.

 

POTENSI GERAKAN TANAH

DI KABUPATEN CIANJUR, PROVINSI JAWA BARAT

 PADA BULAN JANUARI 2020

Kadupandak 13 (070220)

Keterangan :

Kadupandak 14 (070220)

 

Kadupandak 15 (070220)

Gambar 13. Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah pada  bulan Mei 2019 di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

 

Foto Lapangan

Kadupandak 16 (070220)

Foto 1. Retakan yang terjadi di areal persawahan Kp. Cibalong RT 04/ RW 02, Desa Wargaasih.  Gerakan tanah ini  mengakibatkan  315 sawah terancam

 

Kadupandak 17 (070220)

Foto 2.    Pada Foto A dan B adalah Saluran Irigasi baru yang dibuat karena saluran Irigasi yang ada di Kp. Kp. Cibalong RT 04/ RW 02, Desa Wargaasih retak-retak akibat gerakan tanah yang terjadi pada tanggal 7 Januari 2020. Saluran Irigasi ini sebaiknya dibuat  dengan tembok peranen. Foto C  adalah memperlihatkan pipa-pipa yang digunakan untuk mengaliri areal persawahaan.

 

Kadupandak 18 (070220)

Foto 3. Gerakan tanah  tipe longsoran bahan rombakan yang terjadi di Tanjakan Purut, Kp. Purut, Desa Sukaraja.  Garis  merah menunjukan mahkota longsoran.

 

Kadupandak 19 (070220)

Foto 4. Tataguna lahan pada bagian bawah lereng di Tanjakan Purut, Kp. Purut, Desa Sukaraja adalah rumpun bambu, sebaiknya areal ini dibuat perselingan dengan tanaman berakar kuat dan dalam untuk mengurangi pergerakan tanah

 

Kadupandak 20 (070220)

Foto 5. Gerakan tanah tipe nendatan/ rayapan yang terjadi di jalan Kuwuk RT 01/ RW 06. Gerakan tanah ini terjadi karena curah hujan yang tinggi serta tata guna lahan pertanian lahan basah yang berada di bagian atas jalan.

 

Kadupandak 21 (070220)

Foto 6.  Jalan di Kp Kuwuk terputus akibat gerakan tanah yang terjadi pada tanggal 9 Januari 2020.     Gerakan tanah ini diakibatkan dari akumulasi air dari curah hujan yang tinggi serta dari lahan pertanian yang berada tepat dbagian atas longsoran.