Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur

Laporan hasil pemeriksaan lapangan Tim Paska Bencana Gerakan Tanah di Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur, berdasarkan permintaan melalui surat No. 360/1536/424.083/2019 tanggal 16 Desember 2019 dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Pasuruan, sebagai berikut:

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Lokasi gerakan tanah di desa ini berada pada Dusun Gerdo, Desa Gendro, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan. Secara geografis lokasi tersebut berada pada  7° 53' 30.51" LS dan 112° 48' 41.90" BT. Gerakan tanah diawali retakan pada tanggal 8 November 2019, kemudian terjadi amblesan pada 18 November 2019.

 

2. Dampak Gerakan Tanah :
  • 1 (satu) unit rumah dan kandang ternak terancam
  • Saluran air rusak

 

3. Kondisi daerah bencana :
  • Morfologi : Morfologi daerah bencana merupakan perbukitan bergelombang sedang dengan kemiringan lereng 38° dengan ketinggian lokasi berada pada 1050 m di atas permukaan laut.
  • Geologi : Berdasarkan Peta Geologi Lembar Malang, Jawa (P3G, 1998) batuan penyusun daerah bencana merupakan anggota satuan batuan Gunungapi Tengger (Qvt) yang terdiri dari tuf pasiran, tuf batuapung, tuf abu dan aglomerat. Berdasarkan hasil pemeriksaan di lokasi, daerah bencana tersusun atas tuf pasiran yang sudah lapuk berwarna coklat kekuningan, di bagian bawah terdapat aglomerat yang masih merupakan bagian dari formasi Batuan Gunungapi Tengger (Qvt) berwarna coklat kehitaman.
  • Tata Guna Lahan : Tataguna lahan pada lereng bagian atas berupa ladang dan kebun campuran dan jalan desa, di bagian tengah dan bawah berupa kebun campuran didominasi kebun bambu dan rumput sebagai pakan ternak.
  • Keairan : Berdasarkan informasi, tidak terdapat air permukaan berupa sumur dangkal. Sedangkan kebutuhan air bagi warga setempat berasal dari mata air sebelah Timur Laut lokasi yang dialirkan menggunakan pipa.
  • Kerentanan Gerakan Tanah : Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah di Kabupaten Pasuruan pada Bulan November 2019 (Badan Geologi), daerah bencana terletak pada zona potensi terjadi gerakan tanah rendah, artinya daerah yang mempunyai tingkat kerentanan rendah untuk terkena gerakan tanah. Umumnya pada zona ini jarang terjadi gerakan tanah jika tidak mengalami gangguan pada lereng, dan jika terdapat gerakan tanah lama, lereng telah mantap kembali. Gerakan tanah berdimensi kecil mungkin dapat terjadi, terutama pada tebing lembah (alur) sungai.

 

4. Kondisi Gerakan Tanah :

Gerakan tanah yang terjadi di lokasi ini berupa retakan dan amblesan. Retakan di dinding alur sungai dan jalan antar dusun dengan panjang ±40 m dan lebar retakan bervariasi dari 5 – 30 cm, sedangkan amblesan dengan kedalaman sampai 1,5 m-2 m dan ada yang membentuk lubang dengan kedalaman lebih dari 40 meter. Arah retakan relatif Utara-Selatan, N 3150 E. Berdasarkan informasi setempat, air yang melalui saluran sungai kecil yang terdapat retakan langsung terserap, dan muncul di anak sungai yang juga terdapat mata air yang berada di sebelah Barat Laut berjarak datar 50 meter dari lokasi bencana. Selain retakan di alur sungai, terdapat retakan yang sejajar di kebun campuran yang waktu kejadianya bersamaan dengan retakan di alur sungai. Panjang retakan di kebun campuran ± 20 meter dan lebar retakan ±15-30 cm.

 

5. Faktor penyebab gerakan tanah:

Secara umum, faktor penyebab gerakan tanah pada lokasi tersebut adalah:

  • Tanah lapukan dan batuan di permukaan yang tebal, gembur, dan sarang mudah menyerap air.
  • Kemiringan lereng yang cukup terjal dengan slope sekitar 38°.
  • Morfologi berbentuk lembah di bagian lereng atas yang mengalami pergerakan dan merupakan daerah tangkapan air (catchment area).
  • Drainase yang kurang baik di daerah pemukiman dan pada kebun/ladang.
  • Hujan dengan intensitas tinggi sebagai pemicu terjadinya gerakan tanah

 

6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah:

Tanah pelapukan yang bersifat sarang (mudah menyerap air), curah hujan yang tinggi di Dusun Gerdu, Desa Gendro dan sekitarnya, serta pemanfaatan lahan sebagai kebun campuran dan ladang (bukan tanaman berakar kuat), menyebabkan  tanah menjadi jenuh air, bobot masa tanah bertambah dan ikatan antar butir tanah mengecil. Hal tersebut didukung dengan keluarnya air di bagian lembah (anak sungai). Tanah menjadi jenuh air dan retak yang berpotensi mudah bergerak dengan cepat menuju lembah.

 

7. Kesimpulan dan Rekomendasi Teknis

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, dapat disimpulkan bahwa:

  • Daerah bencana di Dusun Gerdu, Desa Gendro, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan pada saat ini hanya mengancam 2 unit bangunan (rumah dan kandang), tetapi masih berpotensi terjadi pergerakan tanah susulan berupa rayapan (retakan dan amblasan) yang berpotensi menjadi longsoran.

Rekomendasi Teknis :

Mengingat curah hujan yang diperkirakan masih tinggi, untuk menghindari kerugian yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa, direkomendasikan sebagai berikut :

  • Agar masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di sekitar daerah bencana lebih waspada terutama 2 unit bangunan (rumah dan kandang) yang berbatasan langsung dengan tebing, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadinya longsor;
  • Pada saat pemeriksaan, upaya mitigasi sudah dilaksanakan oleh pemerintah desa dan warga sekitar, dengan mengalihkan saluran air ke lokasi yang relatif aman dan tidak masuk ke retakan yang ada di aliran sungai;
  • Saluran air yang telah dibangun perlu dibuat permanen dan bagian hulunya dibuat lebih tinggi agar air mengalir dengan lancar;
  • Mengatur aliran air permukaan/drainase agar air tidak  meresap ke bawah permukaan yang dapat mempercepat terjadi gerakan tanah dengan membuat kolam dan saluran air yang ditembok (kedap air);
  • Mengganti lahan pertanian dengan tanaman yang tidak berakar kuat dengan   tanamam yang berakar kuat;
  • Tidak mendirikan pemukiman pada, di bawah dan di atas tebing yang terjal, khususnya yang berada tepat di tepi sungai.
  • Pemasangan rambu-rambu rawan longsor pada daerah yang rawan longsor, agar pengguna jalan waspada bila melalui jalan ini terutama pada saat musim hujan;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
  • Untuk peningkatan kewaspadaan, perlu adanya pemantauan intensitas curah hujan, pemantauan retakan, dan pemantauan kondisi di lereng bagian atas sampai bawah. Pada saat musim hujan jika ada tanda-tanda retakan tanah, segera diisi dengan tanah liat dan dipadatkan, jika terjadi perkembangan retakan semakin lebar segera laporkan ke pihak berwenang

 

LAMPIRAN

Tutur 1 (050220)

Gambar 1. Peta Lokasi gerakan tanah di Dusun Gerdu, Desa Gendro, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur

 

Tutur 2 (050220)

Gambar 2. Peta geologi pada lokasi gerakan tanah di Dusun Gerdu, Desa Gendro, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur

 

Tutur 3 (050220)

Gambar 3. Peta situasi gerakan tanah pada lokasi gerakan tanah di Dusun Gerdu, Desa Gendro, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur

 

Tutur 4 (050220)

Gambar 4. Penampang gerakan tanah pada lokasi gerakan tanah di Dusun Gerdu, Desa Gendro, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

 

Tutur 5 (050220)

Gambar 5. Peta prakiraan wilayah terjadinya gerakan tanah bulan November 2019 di Kabupaten Pasuruan

 

Tutur 6 (050220)

Foto 1. Retakan di lading dengan panjang retakan ±20 meter dan lebar bervariasi 15 – 30 cm berarah relatif Utara-Selatan

 

Tutur 7 (050220)

Foto 2.  Amblesan ±1,5 meter di dinding anak sungai dan jalan desa

 

Tutur 8 (050220)

Foto 3.  Mata air yang berjarak 50 meter (jarak datar) di sebelah Barat Laut dari lokasi retakan dan keluar dari batuan aglomerat yang merupakan bagian dari Formasi Batuan Gunungapi Tengger (Qvt)

 

Tutur 9 (050220)

Foto 4.  Retakan di bangunan kandang sapi berjarak sekitar 75 meter sebelah Selatan lokasi retakan

 

Tutur 10 (050220)

Foto 5.  Upaya mitigasi pemerintah desa dan warga setempat berupa pengalihan saluran air yang perlu dibuat kedap air dan permanen

 

Tutur 11 (050220)

Foto 6.  Pemeriksaan di lokasi didampingi BPBD Kabupaten Pasuruan dan Kepala Desa Gendro serta warga setempat

 

Tutur 12 (050220)

Foto 7.  Pemaparan hasil sementara penyelidikan bencana dihadapan kepala desa, polisi dan warga setempat