Laporan Pemeriksaan Gerakan Tanah Dan Banjir Bandang Tahap Ii, Di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten

Laporan hasil pemeriksaan lapangan bencana gerakan tanah dan banjir bandang di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, sebagai berikut:

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah dan banjir bandang terjadi pada lereng jalan yang menghubungkan Kabupaten Lebak dan Kabupaten Bogor serta di sepanjang aliran Sungai Ciberang yang terjadi pada hari Rabu, 1 Januari 2020. Lokasi gerakan tanah berjumlah 279 titik berdasarkan pengamatan lapangan dan visual menggunakan drone, beberapa lokasi yang memiliki dampak signifikan, antara lain:

  • Lereng bukit longsor dan banjir bandang di Kp. Cigobang Babakan, Desa Cigobang, Kecamatan Lebakgedong yang secara geografi terletak pada koordinat 06º 36’ 12,5” LS dan 106º 25’ 21,5” BT. Elevasi 501 m.
  • Longsoran besar yang diduga sempat menutup aliran Sungai Ciladaeun, Desa Gunung Julang, Kecamatan Lebakgedong. Secara geografi terletak pada koordinat 06º 36’ 57,5” LS dan 106º 24’ 32,3” BT. Elevasi 350 m.
  • Putusnya jembatan permanen di Kp. Muara, Kecamatan Lebakgedong, Kabupaten Lebak. Secara geografi terletak pada koordinat 06º 35’ 24,5” LS dan 106º 24’ 30,2” BT.  Elevasi 314 m.
  • Putusnya jalan menuju Desa Gunung Julang. Secara geografi terletak pada koordinat 06º 37’ 30” LS dan 106º 24’ 50” BT.  Elevasi 616 m.

 

2. Kondisi daerah bencana :
  • Morfologi, Morfologi daerah bencana berupa perbukitan bergelombang dengan relief kasar pada bagian hulu Sungai Ciberang sedangkan pada bagian hilir berupa pedataran. Kemiringan lereng secara umum berkisar antara 30° - 50°. Lokasi gerakan tanah terjadi pada elevasi antara 271 – 501 meter di atas permukaan laut.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Leuwidamar, Jawa (Sujatmiko dan S. Santosa, 1992), secara regional gerakan tanah terjadi pada batuan gunungapi Endut (Qpv) yang tersusun oleh breksi gunungapi, lava, dan tuf.  Di bawah batuan gunungapi tersebut terendapkan satuan yang tersusun oleh batulempung, betulempung pasiran, dan lignit dari Anggota Batulempung dari Formasi Bojong Manik (Tmbc). Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, secara umum batuan tersusun oleh breksi gunungapi, tuf, dan lava. Sebagian besar batuan tersebut telah teralterasi menjadi lempung. Kondisi di permukaan sebagian besar telah mengalami pelapukan tinggi.
  • Keairan, Keairan dalam kondisi melimpah. Air permukaan berupa aliran sungai dan air hujan, di beberapa titik terdapat mata air. Aliran sungai bersifat permanen seperti Sungai Ciberang yang mengalir deras, sedangkan limpasan air hujan pada badan jalan mengalir melalui saluran drainase di beberapa tempat.
  • Tata guna lahan, Tata guna lahan pada bagian hulu berupa hutan dan kebun campuran. Pada beberapa tempat terdapat sawah dan lahan terbuka. Sedangkan pada bagian hilir didominasi oleh pemukiman.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah pada Bulan Januari 2020 di Kabupaten Lebak, Banten (PVMBG, Badan Geologi), daerah bencana terletak pada zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah sampai Tinggi. Artinya, daerah ini mempunyai potensi menengah hingga tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

3. Situasi gerakan tanah dan dampak bencana

Gerakan tanah yang terjadi pada tebing jalan penghubung Kabupaten Lebak dan Kabupaten Bogor didominasi oleh longsoran bahan rombakan yang materialnya menimbun badan jalan dan beberapa lokasi jalannya amblas. Sedangkan gerakan tanah yang terjadi di sepanjang aliran Sungai Ciberang berupa longsoran bahan rombakan pada lereng bukit yang materialnya menimbun aliran sungai sehingga terjadi pembendungan. Longsoran tersebut berkembang menjadi aliran bahan rombakan/banjir bandang.

Dampak dari gerakan tanah dan banjir bandang berdasarkan data dari BPBD Kabupaten Lebak (23 Januari 2020) :

  • 9 orang meninggal dunia
  • 2 orang hilang
  • 680 rumah rusak berat
  • 262 rumah rusaj sedang
  • 646 rumah rusak ringan
  • 4.618 KK mengungsi

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah dan banjir:
  • Kemiringan lereng yang terjal mengakibatkan tanah mudah bergerak,
  • Tanah pelapukan yang tebal yang bersifat poros, mudah jenuh, mudah tererosi dan permeabel sehingga memicu terbentuknya rembesan air di kaki lereng saat kondisi jenuh. Batas tanah pelapukan dan tanah/batuan yang relatif kedap air merupakan bidang gelincir longsoran.
  • Material longsoran di bagian hulu Sungai Ciberang terutama pada anak-anak sungainya yang membendung aliran sungai. Saat material longsor tersebut sudah tidak kuat menahan aliran air, terjadi aliran bahan rombakan yang merusak dan mengikis lereng sungai di sekitar alirannya. Putusnya jembatan di Desa Muhara disebabkan material banjir bandang yang menumpuk pada jembatan sehingga jembatan tidak kuat menampung debit air disertai dengan banyaknya material.
  • Curah hujan yang tinggi. Menurut informasi dari BMKG curah hujan tanggal 31 Desember 2019 yang tercatat di stasiun ARG Cikasungka mencapai 301,6 mm.

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah :

Curah hujan yang tinggi dan lama mengakibatkan terjadinya peresapan air ke dalam lapisan tanah penutup yang bersifat sarang dan mudah meloloskan air. Peresapan air ini menyebabkan terjadinya penjenuhan dan penambahan beban massa tanah. Setelah tanah jenuh, air kemudian tertahan pada lapisan bagian bawah yang bersifat kedap air, sehingga terjadi akumulasi air. Kemiringan lereng yang terjal dan hujan yang turun terus menerus semakin memicu terjadinya gerakan tanah/longsor kemudian menimbun aliran Sungai Ciberang dan anak-anak Sungai Ciberang dan terjadi pembendungan alami oleh material longsoran. Karena volume air terus bertambah sehingga tanggul genangan tidak kuat menahan dan terjadilah aliran bahan rombakan/banjir bandang yang bergerak sangat cepat ke arah hilir. Luncuran banjir bandang ini menimbulkan erosi di sepanjang alur yang dilaluinya sehingga aliran menjadi semakin pekat dan mengakibatkan terjadinya peningkatan daya rusak di bagian hilir pada daerah yang dilalui Sungai Ciberang.

 

6. Rekomendasi

Mengingat curah hujan yang masih tinggi dan masih adanya potensi gerakan tanah tersebut, untuk menghindari terjadinya longsor susulan yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa disarankan:

  • Penduduk yang bermukim di bawah longsoran, pemukiman yang rusak terlanda banjir bandang dan longsoran sebaiknya mengungsi ke tempat yang lebih aman,
  • Rumah-rumah yang berdekatan dengan tebing di Kp. Cigobang Babakan, Desa Cigobang agar direlokasi ke tempat yang lebih aman.
  • Segera melakukan pembersihan terhadap material longsoran yang menutupi jalan agar lalu lintas pulih kembali. Proses perbaikan agar mengutamakan aspek keselamatan dan kewaspadaan terhadap longsor susulan.
  • Membenahi saluran drainase agar alur musiman, limpasan air dan rembesan tidak mengalir liar.
  • Tidak mengembangkan permukiman mendekat ke arah lereng terjal dan pada alur sungai kecil/besar serta pada sepadan Sungai.
  • Tidak mendirikan bangunan pada bantaran Sungai.
  • Melakukan pelandaian atau perkuatan lereng atau membuat buffer area antara lereng dengan badan jalan.
  • Melestarikan pepohonan kuat berakar dalam terutama pada lereng terjal guna mempertahankan kestabilan lereng dan mencegah erosi air permukaan.
  • Berkoordinasi dengan BMKG setempat terkait prediksi curah hujan harian hingga mingguan untuk meningkatkan kewaspadaan serta untuk monitoring.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

 

LAMPIRAN

Banten 1 (290120)

Gambar 1. Peta sebaran titik lokasi gerakan tanah di Kecamatan Lebak Gedong, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten

 

Banten 2 (290120)

Gambar 2. Peta gelogi Kecamatan Lebak Gedong, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten

 

Banten 3 (290120)

Gambar 3. Peta prakiraan terjadinya gerakan tanah di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten bulan Januari 2020

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

KABUPATEN LEBAK, PROVINSI BANTEN JANUARI 2020

Banten 4 (290120)

Keterangan :

Banten 5 (290120)

 

Banten 6 (290120)

Gambar 4. Peta situasi gerakan tanah di Desa Cigobang, Kec. Lebak Gedong, Kab. Lebak

 

Banten 7 (290120)

Gambar 5. Penampang gerakan tanah di Kp. Cigobang, Kec. Lebak Gedong, Kab. Lebak

 

Banten 8 (290120)

Gambar 6.  Peta situasi gerakan tanah di sekitar S. Ciladaeun, Desa Muhara, Kec. Lebak Gedong, Kab. Lebak

 

Banten 9 (290120)

Gambar 7.  Penampang gerakan tanah di sekitar S. Ciladaeun, Desa Muhara, Kec. Lebak Gedong, Kab. Lebak

 

Banten 10 (290120)

Gambar 8.  Peta situasi gerakan tanah di Kec. Lebak Gedong, Kab. Lebak, Banten

 

Banten 11 (290120)

Gambar 9. Peta situasi gerakan tanah di Desa Muhara, Kec. Lebak Gedong, Kab. Lebak

 

Banten 12 (290120)

Gambar 10.  Peta situasi gerakan tanah di Desa Gunung Julang, Kec. Lebak Gedong, Kab. Lebak

 

Banten 13 (290120)

Gambar 11.  Penampang gerakan tanah di Kp. Gunung Julang, Kec. Lebak Gedong, Kab. Lebak

 

Banten 14 (290120)

Foto 1. (a) Jembatan yang putus terlanda banjir bandang di Desa Banjar Irigasi, Kecamatan Lebak Gedong  (b) Penduduk yang masih gotong royong membersihkan rumah dan perabotan rumah tangganya

 

Banten 15 (290120)

Foto 3 Jalan menuju Desa Muhara yang terlanda oleh longsor susulan karena hujan yang cukup lebat

 

Banten 16 (290120)

Foto 4 (a) Jembatan di S. Ciladaeun, Desa Cigobang yang putus/hanyut terlanda oleh banjir bandang di Desa Cigobang, Kec. Lebak Gedong, (b) Rumah di bantaran Sungai yang hancur terlanda oleh banjir bandang

 

Banten 17 (290120)

Foto 5 (a) Mahkota longsor di Kp. Cigobang Babakan, desa Cigobang dengan tinggi mahkota 17.5 m, panjang landaan 138 m, arah N 340E mengakibatkan korban 6 orang meinggal, (b) Rumah korban yang rusak berat terlanda material longsor

 

Banten 18 (290120)

Foto 6. Kondisi pemukiman penduduk di Kp. Cigobang Babakan, desa Cigobang hampir semuanya rusak berat terlanda longsor

 

Banten 19 (290120)

Foto 7. Jalan menuju Desa Cigobang yang sempat putus dapat dilalui kendaraan roda 2 dan pejalan kaki

 

Banten 20 (290120)

Foto 8. (a) Mahkota longsor di S. Ciladaeun, Desa Muhara yang diperkirakan sempat menutup aliran S. Ciladeun sehingga mengakibatkan banjir bandang (b) Jembatan sementara yang dibuat di S. Ciberang, Desa Muhara dapat dilalui oleh pejalan kaki