Laporan Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Desa Bunijaya Dan Desa Cilangari, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat

Laporan  hasil  pemeriksaan  lapangan  bencana gerakan tanah di Desa Bunijaya dan Desa Cilangari, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat berdasarkan surat dari BPBD Kabupaten Bandung Barat no. 360/905-BPBD/2019 tanggal 09 Desember 2019. Hasil pemeriksaan sebagai berikut:

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi di Kp. Cihideung, Desa Bunijaya, dan Kp. Hegarmanah, Desa Cilangari, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Secara geografis Kp. Cihideung terletak pada koordinat : 107° 27' 21,00" BT dan 7° 1' 57,00" LS, dan Kp. Hegarmanah terletak pada koordinat : 107° 14' 54.20" BT dan 7° 2' 29.22" LS. Kedua lokasi gerakan tanah terjadi pada 06 Desember 2019 sekitar 17:00 WIB.

 

2. Kondisi daerah bencana :

  • Morfologi, Secara umum daerah bencana di Kp. Hegarmanah merupakan lereng perbukitan curam dengan kemiringan lereng curam mencapai 500 dan lokasi bencana berada pada ketinggian 1169 m di atas permukaan laut. Sedangkan di Kp. Cihideung, morfologi berupa pedataran sampai perbukitan dengan kemiringan lereng sampai 150 dengan ketinggial 1143 m di atas permukaan laut.
  • Geologi, Berdasarkan peta geologi lembar Sindangbarang-Bandarwaru (M. Koesmono, 1996), kedua lokasi bencana termasuk dalam Formasi Beser (Tmbe) berupa breksi andesit, juga breksi tuf, tuf kristal, dan batulempung. Hasil pengamatan di lokasi bencana, tanah pelapukan berupa pasir, tuf berwarna coklat muda yang menumpang di atas batuan breksi tuf tersebut.
  • Keairan, Kondisi keairan di Kp. Hegarmanah, terdapat mata air di Selatan dari lokasi bencana dengan jarak ± 4 Km yang digunakan sehari-hari oleh warga dengan menggunakan pipa. Di Kp. Cihideung, mata air berjarak ± 3 Km di sebelah Utara dari lokasi bencana, sedangkan sumur permukaan dengan kedalaman 12 m.
  • Tata guna lahan, Di Kp. Hegarmanah pada lereng bagian atas berupa kawasan hutan pinus dan lereng bagian menengah ke bawah berupa kebun campuran, sawah dan pemukiman. Sedangkan di Kp. Cihideung tata guna lahan berupa pesawahan, pemukiman dan kebun campuran.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Potensi Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Bandung Barat bulan Desember 2019 (PVMBG-Badan Geologi), kedua lokasi bencana tersebut terletak pada daerah potensi gerakan tanah menengah-tinggi artinya pada lokasi ini berpotensi menengah - tinggi terjadi gerakan tanah. Gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak, akibat curah hujan yang tinggi dan erosi yang kuat.

 

3. Situasi dan Dampak Bencana

Gerakan tanah yang terjadi di Kampung Hegarmanah berupa tipe longsoran yang berkembang menjadi aliran bahan rombakan. Longsoran di beberapa titik dengan dominan arah longsoran N 2880 E. Lokasi longsoran terletak di kebun campuran dan pesawahan. Dampak dari bencana mengakibatkan rusaknya areal pesawahan dan perkebunan. Jarak material longsoran menuju ke pemukiman tinggal beberapa meter dan material tertahan di anak sungai.

Sedangkan di Kp. Cihideung, gerakan tipe lambat ditandai adanya rayapan dan nendatan yang telah berkembang menjadi longsoran. Retakan di beberapa beberapa tempat dengan lebar ±30 cm – 100 cm. Sedangkan retakan yang merusak jalan penghubung Cianjur-Kabupaten Bandung Barat dengan panjang ± 60 meter dan lebar ±32 cm serta amblesan mencapai 1-1,5 meter.

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

Secara umum faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di daerah pemeriksaan antara lain adalah:

  • Kemiringan lereng yang curam;
  • Tanah pelapukan yang agak tebal dan bersifat lunak menumpang pada breksi tuf;
  • Intensitas curah hujan tinggi dan berlangsung lama, sehingga meresap ke dalam tanah lapukan yang gembur tersebut dan melicinkan batuan lunak yang kedap air;
  • Limpasan air hujan (run off) yang menyebabkan lapisan tanah pelapukan menjadi jenuh air dan tidak bias menahan beban;
  • Vegetasi yang kurang kuat di perbukitan yang curam.

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah :

Untuk tipe gerakan tanah rayapan yang berkembang menjadi longsoran di Kp. Cihideung, Desa Bunijaya, terjadi akibat kondisi batuan berupa perselingan breksi tuf dengan batulempung. Curah hujan yang tinggi serta kondisi morfologi berupa lembahan menyebabkan air hujan mudah terakumulasi pada zona ini.  Akibatnya kondisi tanah dan batuan jenuh air menyebabkan bobot masanya bertambah dan kuat gesernya menurun, sehingga tanah tidak stabil (mudah bergerak).

Di Kp. Hegarmanah, Desa Cilangari, gerakan tanah berupa longsoran dan aliran bahan rombakan terjadi akibat adanya retakan-retakan yang muncul pada lereng dengan kemiringan yang terjal. Retakan tersebut kemudian berkembang akibat curah hujan yang tinggi dengan durasi yang lama yang membuat limpahan air hujan meresap pada retakan. Akibat drainase yang buruk limpahan air tersebut mengisi retakan dan menyebabkan tanah menjadi jenuh air dan bobot massanya bertambah sehingga terjadi longsor, selain itu di lokasi bencana merupakan vegetasi yang berakar kurang kuat sehingga lereng menjadi kurangf stabil.

 

6. Rekomendasi Teknis

Dalam rangka upaya penanggulangan terjadinya gerakan tanah susulan direkomendasikan hal-hal sebagai berikut, antara lain:

  • Daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah tipe longsoran, tetapi masyarakat dilokasi bencana tidak perlu khawatir, namun perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama pada saat dan setelah hujan lebat yang berlangsung lama;
  • Segera memperbaiki jalan yang menjadi penghubung 2 kabupaten dengan bahan yang cukup kuat disertai penataan saluran air;
  • Memperkuat kelerangan dengan membangun dinding penahan tebing (retaining wall) untuk mengantisipasi ancaman ke pemukiman;
  • Mengendalikan air permukaan pada lereng, agar air tidak masuk ke dalam retakan tanah dengan membuat saluran kedap air dan air dibuang (dialirkan) menjauhi lereng yang retak;
  • Untuk meningkatkan stabilitas lereng, maka di bawah lokasi bencana tidak dijadikan lahan pertanian sayuran dan sawah tetapi ditanami dengan pepohonan yang berakar kuat yang bisa mengikat komponen tanah;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.

 

LAMPIRAN

Bunijaya 1 (290120)

Gambar 1. Peta petunjuk lokasi gerakan tanah di Desa Bunijaya dan Desa Cilangari, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat

 

Bunijaya 2 (290120)

Gambar 2. Peta Geologi Desa Bunijaya dan Sekitarnya, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat

 

Bunijaya 3 (290120)

Gambar 3. Peta prakiraan potensi gerakan tanah bulan Desember 2019 di Kabupaten Bandung Barat

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH
DI PROVINSI JAWA BARAT BULAN DESEMBER 2019

Bunijaya 4 (290120)

Keterangan :

Bunijaya 5 (290120)

 

Bunijaya 6 (290120)

Gambar 4. Peta situasi gerakan tanah Kp. Cihideung, Desa Bunijaya, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat

 

Bunijaya 7 (290120)

Gambar 5. Penampang A-B gerakan tanah Kp. Cihideung, Desa Bunijaya, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat

 

Bunijaya 8 (290120)

Gambar 6. Peta situasi gerakan tanah Kp. Hegarmanah, Desa Cilangari, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat

 

Bunijaya 9 (290120)

Gambar 7. Penampang A-B gerakan tanah Kp. Hegarmanah, Desa Cilangari, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat

 

1. Kp. Cihideung, Ds. Bunijaya

Bunijaya 10 (290120)

Foto 1. Batuan penyusun berupa breksi tuf perselingan batulempung yang merupakan bagian dari Formasi Beser (Tmbe)

 

Bunijaya 11 (290120)

Foto 2.    Gerakan tanah tipe longsoran dan amblasan yang terjadi di Kp. Cihideung, Ds. Bunijaya, Kec. Gununghalu.

 

Bunijaya 12 (290120)

Foto 3.    Banyak titik longsor di area persawahan di sekitar Kp. Cihideung, Ds. Bunijaya, Kec. Gununghalu, yang waktu kejadian longsornya bersamaan

 

Bunijaya 13 (290120)

Foto 4.    Sebanyak 4 (empat) unit rumah dan 1 (satu) mushola lantainya mengalami retak-retak, dan 10 unit rumah lainnya terancam di Kp. Cihideung, Ds. Bunijaya, Kec. Gununghalu

 

Bunijaya 14 (290120)

Foto 5.    Sebagian dasar kolam ini telah amblas, sehingga luasnya tinggal setengahnya. Selain area persawahan, adanya kolam-kolam dengan konstruksi dinding dan dasarnya yang tidak kedap air, turut memicu terjadinya longsor, di Kp. Cihideung, Ds. Bunijaya, Kec. Gununghalu

 

Bunijaya 15 (290120)

Foto 6. Retakan di salah satu pemukiman di Kp. Cihideung, Desa Bunijaya

 

2. Kp. Hegarmanah, Ds. Cilangari

Bunijaya 16 (290120)

Foto 7. Memperlihatkan material longsoran berupa lumpur dan bahan rombakan yang menutupi lahan pesawahan, anak sungai, dan lading di Kp. Hegarmanah


Bunijaya 17 (290120)

Foto 8.    Gerakan tanah tipe longsoran bahan rombakan yang terjadi di Kp. Hegarmanah, Ds. Cilangari, Kec. Gununghalu.