Laporan Pemeriksaan Gerakan Tanah Dan Banjir Bandang Tahap I, Di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten

Laporan hasil pemeriksaan lapangan bencana gerakan tanah dan banjir bandang di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, sebagai berikut:

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah dan banjir bandang terjadi pada lereng jalan yang menghubungkan Kabupaten Lebak dan Kabupaten Bogor serta di sepanjang aliran Sungai Ciberang yang terjadi pada hari Rabu, 1 Januari 2019. Lokasi gerakan tanah sementara berjumlah 114 titik berdasarkan pengamatan lapangan dan visual menggunakan drone, beberapa lokasi yang memiliki dampak signifikan, antara lain:

  • Jalan amblas di Jalan Raya Cipanas, sekitar Kp. Bujal, Kecamatan Cipanas, yang secara geografi terletak pada koordinat 06º 33’ 24,7” LS dan 106º 24’ 15,1” BT.
  • Jembatan gantung yang menghubungkan Kp. Cikomara   dengan Kp. Buluheun di Kelurahan Banjar Irigasi, Kecamatan Lebakgedong, secara geografis terletak pada koordinat 06º 34’ 27,2” LS dan 106º 24’ 49,5” BT.
  • Kantor Kecamatan Lebakgedong yang secara geografi terletak pada koordinat 06º 34’ 51,2” LS dan 106º 24’ 38,6” BT.
  • Pondok Pesantren Al-Futuyah, Kecamatan Lebakgedong. Secara geografi terletak pada koordinat 06º 35’ 27,4” LS dan 106º 24’ 46,0” BT.
  • Lereng bukit longsor, di sekitar Kp. Jaha, Desa Banjarsari, Kecamatan Lebakgedong yang secara geografi terletak pada koordinat 06º 35’ 11,9” LS dan 106º 24’ 44,9” BT.
  • Kp. Cinyiru, Desa Banjarsari, Kecamatan Lebakgedong. Secara geografi terletak pada koordinat 06º 35’ 44,2” LS dan 106º 24’ 52,4” BT.
  • Kp. Muara, Kecamatan Lebakgedong, Kabupaten Lebak. Secara geografi terletak pada koordinat 06º 35’ 55,4” LS dan 106º 24’ 36,1” BT.

2. Kondisi daerah bencana :

a. Morfologi

Morfologi daerah bencana berupa perbukitan bergelombang dengan relief kasar pada bagian hulu Sungai Ciberang sedangkan pada bagian hilir berupa pedataran. Kemiringan lereng secara umum berkisar antara 30° - 50°. Lokasi gerakan tanah terjadi pada elevasi antara 271 – 355 meter di atas permukaan laut.

b. Geologi

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Leuwidamar, Jawa (Sujatmiko dan S. Santosa, 1992), secara regional gerakan tanah terjadi pada batuan gunungapi Endut (Qpv) yang tersusun oleh breksi gunungapi, lava, dan tuf. Di bawah batuan gunungapi tersebut terendapkan satuan yang tersusun oleh batulempung, betulempung pasiran, dan lignit dari Anggota Batulempung dari Formasi Bojong Manik (Tmbc).

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, secara umum batuan tersusun oleh breksi gunungapi, tuf, dan lava. Sebagian besar batuan tersebut telah teralterasi menjadi lempung. Kondisi di permukaan sebagian besar telah mengalami pelapukan tinggi.

c. Keairan 

Keairan dalam kondisi melimpah. Air permukaan berupa aliran sungai dan air hujan, di beberapa titik terdapat mata air. Aliran sungai bersifat permanen seperti Sungai Ciberang yang mengalir deras, sedangkan limpasan air hujan pada badan jalan mengalir melalui saluran drainase di beberapa tempat.

d. Tata guna lahan 

Tata guna lahan pada bagian hulu berupa hutan dan kebun campuran. Pada beberapa tempat terdapat sawah dan lahan terbuka. Sedangkan pada bagian hilir didominasi oleh pemukiman.

e. Kerentanan gerakan tanah

Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah pada Bulan Januari 2020 di Kabupaten Lebak, Banten (PVMBG, Badan Geologi), daerah bencana terletak pada zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah sampai Tinggi. Artinya, daerah ini mempunyai potensi menengah hingga tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

3. Situasi gerakan tanah dan dampak bencana

Gerakan tanah yang terjadi pada tebing jalan penghubung Kabupaten Lebak dan Kabupaten Bogor didominasi oleh longsoran bahan rombakan yang materialnya menimbun badan jalan dan beberapa lokasi jalannya amblas. Sedangkan gerakan tanah yang terjadi di sepanjang aliran Sungai Ciberang berupa longsoran bahan rombakan yang materialnya menimbun aliran sungai sehingga terjadi pembendungan. Longsoran tersebut berkembang menjadi aliran bahan rombakan/banjir bandang.

Dampak dari gerakan tanah dan banjir bandang berdasarkan data dari BPBD Kabupaten Lebak (6 Januari 2020) :

  • 10 orang meninggal dunia
  • 1.410 rumah rusak berat
  • 520 rumah rusak ringan
  • 1.226 rumah terendam
  • 4.618 KK mengungsi

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah dan banjir:

  • Kemiringan lereng yang terjal mengakibatkan tanah mudah bergerak,
  • Tanah pelapukan yang tebal yang bersifat poros, mudah jenuh, mudah tererosi dan permeabel sehingga memicu terbentuknya rembesan air di dasar lereng saat kondisi jenuh.
  • Material longsoran di bagian hulu Sungai Ciberang terutama pada anak-anak sungainya yang membendung aliran sungai. Saat material longsor tersebut sudah tidak kuat menahan aliran air, terjadi aliran bahan rombakan yang merusak dan mengikis lereng sungai di sekitar alirannya.
  • Curah hujan yang tinggi. Menurut informasi dari BMKG curah hujan tanggal 31 Desember 2019 yang tercatat di stasiun ARG Cikasungka mencapai 301,6 mm.

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah :

 Curah hujan yang tinggi dan lama mengakibatkan terjadinya peresapan air ke dalam lapisan tanah penutup yang bersifat sarang dan mudah meloloskan air. Peresapan air ini menyebabkan terjadinya penjenuhan dan penambahan beban massa tanah. Setelah tanah jenuh, air kemudian tertahan pada lapisan bagian bawah yang bersifat kedap air, sehingga terjadi akumulasi air. Kemiringan lereng yang terjal dan hujan yang turun terus menerus semakin memicu terjadinya gerakan tanah/longsor yang jatuh menimbun aliran Sungai Ciberang dan anak-anak Sungai Ciberang dan terjadi pembendungan alami oleh material longsoran. Karena volume air terus bertambah sehingga tanggul genangan tidak kuat menahan dan terjadilah aliran bahan rombakan/banjir bandang yang bergerak sangat cepat ke arah hilir. Luncuran banjir bandang ini menimbulkan erosi di sepanjang alur yang dilaluinya sehingga aliran menjadi semakin pekat dan mengakibatkan terjadinya peningkatan daya rusak di bagian hilir pada daerah yang dilalui Sungai Ciberang.

 6. Rekomendasi

 Mengingat curah hujan yang masih tinggi dan masih adanya potensi gerakan tanah tersebut, untuk menghindari terjadinya longsor susulan yang lebih besar dan jatuhnya korban jiwa disarankan:

  • Penduduk yang bermukim di bawah longsoran, pemukiman yang rusak terlanda banjir bandang dan longsoran sebaiknya mengungsi ke tempat yang lebih aman,
  • Jalan amblas di jalan raya Cipanas, sekitar Kp. Bujal, Kecamatan Cipanas agar digeser ke arah utara menjauhi sungai.
  • Rumah-rumah yang berdekatan dengan tebing di Kp. Cinyiru agar direlokasi ke tempat yang lebih aman.
  • Segera melakukan pembersihan terhadap material longsoran yang menutupi jalan agar lalu lintas pulih kembali. Proses perbaikan agar mengutamakan aspek keselamatan dan kewaspadaan terhadap longsor susulan.
  • Membenahi saluran drainase agar alur musiman, limpasan air dan rembesan tidak mengalir liar.
  • Tidak mengembangkan permukiman mendekat ke arah lereng terjal dan pada jalur air.
  • Melakukan pelandaian atau perkuatan lereng atau membuat buffer area antara lereng dengan badan jalan.
  • Melestarikan pepohonan kuat berakar dalam terutama pada lereng terjal guna mempertahankan kestabilan lereng dan mencegah erosi air permukaan.
  • Berkoordinasi dengan BMKG setempat terkait prediksi curah hujan harian hingga mingguan untuk meningkatkan kewaspadaan serta untuk monitoring.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

 

Banten-1

Gambar 1. Peta sebaran titik lokasi gerakan tanah di Kecamatan Lebak Gedong, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten

Banten-2

Gambar 2. Peta gelogi Kecamatan Lebak Gedong, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten

Banten-3

Gambar 3. Peta prakiraan terjadinya gerakan tanah di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten bulan Januari 2019

Banten-4

Banten-5

Gambar 4. Peta situasi gerakan tanah di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten

Banten-6

Foto 1. Longsoran-longsoran yang terjadi pada tebing di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten

Banten-7

Foto 2. Kondisi jalan yang rusak dan terancam longsoran di jalan raya Cipanas, sekitar Kp. Bujal, Cipanas. Jalan ini harus dipindahkan/relokasi menjauhi sungai.

Banten-8

Foto 3. Jembatan dan pemukiman yang hancur akibat banjir bandang di Desa Banjar Irigasi, Kecamatan Lebak Gedong, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten

Banten-9

Foto 4. Kantor Kecamatan Lebak Gedong yang rusak akibat gerakan tanah. Terlihat retakan pada permukaan tanah di sekitar halaman gedung kecamatan.

Banten-10

Foto 5. Gerakan tanah yang merusak bagian belakan asrama Pesantren Al-Futuyah, Kecamatan Lebakgedong, Lebak

Banten-11

Foto 6. Lereng perbukitan yang longsor, menimbun area perkebunan, jalan raya dan jembatan (kiri), dan rumah yang letaknya berdekatan dengan jembatan (kanan), di Desa Banjarsari, Kecamatan Lebakgedong

Banten-12

Foto 7. Jembatan dan pemukiman yang hancur gerakan tanah dan banjir bandang di Kp. Cinyiru, Desa Banjarsari, Kecamatan Lebakgedong

Banten-13

Foto 8. Batuan vulkanik (tuf) yang sudah teralterasi (atas), dan kontak antara lava dibagian atasnya dan batulempung dibagian bawahnya (kiri bawah), terlihat jelas “baking effect” (pembakaran) (kanan bawah) pada batu lempungnya.

Banten-14

Foto 9. Jembatan dan rumah-rumah yang rusak dan terancam akibat gerakan tanah dan banjir bandang di Kp. Muara, Kecamatan Lebakgedong, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten

Banten-15

Foto 10. Koordinasi antara Badan Geologi dan BPBD Kabupaten Lebak terkait mitigasi gerakan tanah dan banjir bandang yang terjadi di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten