Laporan Kajian Potensi Gerakan Tanah Di Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, Provinsi Jawa Barat

Menindaklanjuti surat dari Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Banjar nomor 005/1399/Infraswil tanggal 18 November 2019 perihal permohonan untuk di survey tentang gerakan tanah, bersama ini kami sampaikan laporan hasil pemeriksaan survey potensi gerakan tanah di Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, Provinsi Jawa Barat, sebagai berikut:

1. Lokasi Area Survey Gerakan Tanah:

Area survey potensi gerakan tanah terletak di Kawasan Tugu Batas Kota Banjar dengan Kota Ciamis. Secara administrasi terletak di Lingkungan Cipadung, Kelurahan Purwaharja, Kecamatan Purwaharja. Secara geografis berada pada koordinat 108° 31' 52,3416" BT dan 7° 21' 22,2372" LS serta pada koordinat 108° 31' 58,1448" BT dan 7° 21' 32,9364" LS dengan luas area sekitar 29.080 m2. Menurut informasi penduduk setempat, daerah tersebut sebelumnya menjadi tempat penggalian tanah urug sehingga lereng menjadi terjal.

 2. Kondisi daerah survey :

  • Morfologi, Morfologi di daerah gerakan tanah secara umum merupakan perbukitan bergelombang dengan agak terjal berkisar 6 – 15⁰. Beberapa gawir dengan kemiringan lereng terjal hingga sangat terjal hal ini karena sisa bekas penggalian tanah urug yang tidak beraturan, dengan  beda tinggi mencapai 27 meter. Ketinggian daerah survey antara 52 – 79 mdpl. Terdapat aliran Sungai Citandui dibagian bawah lereng.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Wanareja (Jamal, Pusat Survei Geologi, 2013), secara regional lokasi gerakan tanah tersusun oleh batuan Gunungapi Slamet tak terurai yang terdiri dari breksi gunungapi, lava dan tuf. Dari hasi pengamatan lapangan breksi gunungapi bersusunan andesit dan dalam kondisi lapuk. Tanah pelapukan jenis pasir lempungan, berwarna coklat, mengandung fragmen batuan beku, dengan ketebalan 1- 2 meter.
  • Keairan, Sumber air penduduk didapat melalui air PDAM. Muka air tanah berkisar di kedalaman 8-10 meter pada bagian bawah sementara pada pemukiman bagian atas muka air tanah atau kedalaman sumur berkisar 15 – 20 m. Pada bagian bawah mengalir Sungai Citandui.
  • Tata guna lahan, Lahan di lokasi survey ini berupa ladang, kebun campuran di bagian atas berupa pemukiman dan bekas galian pasir urug. Di bagian bawah lereng pemukiman dan Jalan Nasional.
  • Potensi gerakan tanah, Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah di Kota Banjar (PVMBG-Badan Geologi), daerah gerakan tanah termasuk dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Rendah. Artinya, di daerah ini jarang terjadi gerakan tanah, gerakan tanah dapat terjadi pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan atau dipotong.

 

4. Hasil analisis geolistrik :

Dari hasil analisis pada lintasan A (Gambar 1) menunjukan bahwa pada bagian permukaan ketebalan batuan relative keras dengan ketebalan 10 – 12 meter (kedalaman 0 – 12 m) berupa breksi gunungapi dan lava lapuk. Dibawahnya berupa batuan yang relatif lunak kemungkinan lanau pasiran dengan ketebalan 4 – 14 m. Batuan lembek yang jenuh air dan akumulasi air pada kedalaman 20 – 35 m. Dari hasil analisis menunjukan pada kedalaman 20 – 35 m banyak dijumpai air.

Banjar 1 (100120)

Gambar 1.  Analisis geolistrik lintasan A.

 Hasil analisis pada lintasan B (Gambar 2) tidak jauh berbeda jika dibandingkan dengan lintasan A. Hasil analisis menunjukan bahwa pada bagian permukaan ketebalan batuan relative keras sampai ketebalan 5 – 10 meter (kedalaman 0 – 10 m) berupa breksi gunungapi dan lava lapuk. Dibawahnya berupa batuan yang relatif lunak kemungkinan lanau pasiran dengan ketebalan 4 – 20 m. Batuan lembek yang jenuh air dan akumulasi air pada kedalaman 15 – 20 m. Dari hasil analisis menunjukan pada kedalaman 15 – 20 m banyak dijumpai air, hal ini karena secara morfologi pada lintasan B ini relatif lebih datar, sehingga jaring aliran air lebih dangkal.

Banjar 2 (100120)

Gambar 2.  Analisis geolistrik lintasan B.

 Hasil analisis pada lintasan C (Gambar 3), karena mengikuti topografi menunjukan bahwa pada bagian permukaan ketebalan batuan relatif keras relative lebih tebal dengan ketebalan bervariasi dari 10 meter sampai mencapai 25 meter (kedalaman 0 – 25 m) berupa breksi gunungapi dan lava lapuk. Dibawahnya berupa batuan yang relative lunak kemungkinan lanau pasiran dengan ketebalan 14 – 20 m. Batuan lembek yang jenuh air dan akumulasi air pada kedalaman 10 – 20 m. Dari hasil analisis menunjukan pada kedalaman 25 – 35 m banyak dijumpai air, hal ini karena secara morfologi pada lintasan 3 ini relative lebih berbukit, sehingga muka air tanah lebih dalam.

Banjar 3 (100120)

Gambar 3.  Analisis geolistrik lintasan C.

 4. Penanggulangan Gerakan Tanah :

Gerakan tanah/ longsor pada lokasi ini karena sisa bekas galian pasir urug yang sangat terjal dan termasuk longsor dangkal dengan ketebalan 1 – 2 m yang dikontrol oleh faktor kelerengan yang ditimbulkan akibat sisa galian, air permukaan menjadi tidak terkontrol sehingga terjadi erosi pada gawir. Sehingga gawir yang ada perlu dilakukan penanggulangan lereng/ perkuatan lereng jika daerah ini akan di bangun serta drainase juga diperbaiki untuk mengurangi erosi pada gawir. Secara umum daerah ini masuk zona kerentanan gerakan tanah rendah atau jarang terjadi gerakan tanah. Namun gerakan tanah dapat terjadi pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan atau dipotong tanpa diikuti perkuatan lereng

 

5. Rekomendasi Teknis

Berdasarkan hasil survey lapangan dan hasil geolistrik, jika lokasi ini akan dikembangan maka direkomendasikan:

  • Meskipun batuan relative keras, namun gawir sisa pengambilan pasir urug sebaiknya dilakukan perkuatan lereng mengingat lerengnya yang terjal dan untuk mengurangi potensi longsor.
  • Penataan aliran air permukaan atau sistem drainase untuk mengurangi erosi pada gawir. Dibuat saluran alir permukaan konstruksi kedap air dan diarahkan ke lembah/sungai.
  • Penggunaan lahan sebaiknya juga ada ruang terbuka hijau dengan tanaman keras yang berakar dalam.
  • Bangunan yang didirikan jaraknya tidak terlalu dekat dengan tebing/ gawir sekurang-kurangnya 15  m dari gawir.
  • Pembangunan agar berlandaskan RTRW Kota Banjar, sehingga tidak menyalahi aturan penggunaan ruang
  • Laporan ini hanya merupakan gambaran umum potensi longsor/ gerakan tanah yang ada pada lokasi tersebut dan bukan merupakan laporan amdal

 

LAMPIRAN

Banjar 4 (100120)

Gambar 4. Peta petunjuk lokasi gerakan tanah di Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, Jawa Barat.

 

Banjar 5 (100120)

Gambar 5. Peta geologi lokasi kajian di Kecamatan Purwaharja dan sekitarnya, Kota Banjar, Jawa Barat.

 

Banjar 6 (100120)

Gambar 6.  Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kota Banjar, Jawa Barat.

 

Banjar 7 (100120)

Gambar 7.  Peta lokasi kajian dan pengambilan data geolistrik di Kelurahan Purwaharja, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, Jawa Barat.

 

Banjar 8 (100120)

Gambar 8.  Sketsa penampang A – B lokasi kajian di Kelurahan Purwaharja, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, Jawa Barat.

 

FOTO-FOTO

Banjar 9 (100120)

Foto 1. Pemeriksaan dilokasi kajian didampingi oleh Bappeda Kota Banjar.

 

Banjar 10 (100120)

Foto 2. Morfologi lokasi kajian pada bagian atas (Timur Laut) terdapat pemukiman cukup padat dilihat dari foto udara dengan menggunakan drone dari arah Barat.

 

Banjar 11 (100120)

Foto 3. Morfologi lokasi kajian dilihat dari foto udara dengan menggunakan drone dari arah Selatan yang berada dekat dengan Sungai Citandui.

 

Banjar 16 (100120)

Foto 4. Lokasi gerakan tanah yang merupakan kebun campuran berada di dekat Jalan Nasional yang menghubungkan Provinsi Jawa Barat dengan Jawa Tengah.

 

Banjar 12 (100120)

Foto 5. Pengambilan data dengan alat resistivity/geolistrik dilokasi kajian.

 

Banjar 13 (100120)

Foto 6. Lokasi kajian tersusun oleh batuan breksi gunungapi bersusunan andesit yang merupakan produk dari Gunungapi Slamet.

 

Banjar 14 (100120)

Foto 7. Jalan Nasional yang menghubungkan Provinsi Jawa Barat – Jawa Tengah bergelombang diakibatkan adanya amblesan tanah yang dikontrol oleh kondisi geologi berada dekat dengan lokasi kajian.

 

Banjar 15 (100120)

Foto 8. Koordinasi dengan Kepala Bappeda Kota Banjar sebelum pengambilan data dilokasi kajian.