Laporan Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Desa Kaliloka, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah

Menindaklanjuti surat dari Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Brebes No. S/55743/760/XII/2019, perihal Permohonan Survey Susulan Tanah Longsor/Gerakan Tanah, bersama ini  kami  sampaikan  laporan  hasil  pemeriksaan  lapangan  sebagai berikut:

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi pada ruas jalan kabupaten yang menghubungkan wilayah Kaliloka dengan Plompong. Lokasi gerakan tanah secara administratif berlokasi di Kampung Karangdadap, Desa Kaliloka, Kecamatan Sirampog pada  koordinat 109°03'10" BT dan 7° 13' 14.2" LS (Gambar 1).

Berdasarkan keterangan penduduk setempat, gerakan tanah terjadi pada hari Sabtu 23 November 2019 sekitar pukul 23:00 WIB. Sebelum terjadi gerakan tanah turun hujan gerimis.

 

2.  Kondisi daerah bencana :

  • Morfologi, Morfologi pada lahan yang berada di atas tubuh longsoran berupa pedataran, sedangkan pada bagian bawah atau lereng yang bergerak berupa lembah dengan kemiringan lereng antara 25° sampai lebih dari 40°. Gerakan tanah terjadi pada lahan tegalan dan ladang pada ketinggian  438 – 475 mdpl.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Purwokerto dan Tegal, Jawa (Djuri drr., 1996), secara regional lokasi gerakan tanah berada pada lokasi yang disusun oleh endapan lahar Gunung Slamet (Qls) berupa bongkahan batu gunungapi bersusunan andesit-basal dan batuan Gunungapi Slamet Tak Terurai (Qvs) yang terdiri dari breksi gunungapi, lava, dan tuf pada bagian atas. Di bawah batuan gunungapi ini terendapkan batuan yang lebih tua dari Formasi Rambatan (Tmr) yang terdiri dari serpih, napal, dan batupasir gampingan. Napal berselang seling dengan batupasir gampingan berwarna kelabu muda. Banyak dijumpai lapisan tipis kalsit yang tegak lurus bidang perlapisan dan banyak mengandung foraminifera kecil (Gambar 2). Berdasarkan pengamatan lapangan, lokasi gerakan tanah disusun oleh tanah pelapukan berupa lempung pasiran sampai pasir sangat halus berwarna coklat sampai coklat tua. Tanah pelapukan dengan ketebalan antara 2 hingga mencapai 5 meter, bersifat gembur dan mudah luruh ketika terkena air. Tanah penutup juga bersifat mudah retak ketika kering atau kemarau, hal ini terlihat pada lahan di bagian atas tubuh longsoran yang retak-retak. Pada bagian bawah dijumpai kontak antara lapisan tanah dengan batupasir yang lebih keras berwarna abu-abu muda dan muncul aliran ai (mata air).
  • Keairan, Kondisi air permukaan di daerah bencana baik dan banyak dijumpai mata air. Di bagian lembah yang terletak di selatan tubuh longsoran mengalir sungai Kali Keruh yang berair sepanjang tahun. Untuk keperluan sehari-hari masyarakat setempat memanfaatkan air dari mata air.
  • Tata guna lahan, Lahan di lokasi tubuh longsoran berupa tegalan dan ladang. Mahkota longsoran berada pada lahan sawah yang kering ketika musim kemarau. Di utara tubuh longsoran, lahan dimanfaatkan sebagai sawah dan permukiman. Di sebelah barat dan timur lokasi gerakan tanah lahan dimanfaatkan menjadi ladang, tegalan, dan kebun campuran.
  • Kerentanan gerakan tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan November 2019 di Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Sirampog termasuk dalam zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah sampai Tinggi. Artinya daerah ini mempunyai potensi menengah hingga tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali (Gambar 3 dan Tabel 1).

 

3. Situasi dan Dampak Bencana

Jenis gerakan tanah yang terjadi adalah longsoran melengkung (rotasional) yang berkembang menjadi aliran bahan rombakan. Lebar mahkota longsoran 24,6 meter dan bertambah lebar ke arah tubuh longsoran dengan arah            N 145° E. Ketinggian lereng yang bergerak 12 m dengan kemiringan antara 25° pada bagian atas sampai lebih dari 40° di sekitar tekuk lereng yang bergerak.  Panjang landaan material longsoran dari mahkota sampai ujung landaan mencapai 128 meter hingga menutupi sebagian aliran sungai Kali Keruh. Pada saat pemeriksaan dijumpai retakan-retakan dengan lebar antara 2 – 10 cm yang berkembang pada lahan sawah yang kering di atas mahkota longsoran (Gambar 4 dan 5). Untuk normalisasi arus lalu lintas, telah dibuatkan jalan sementara dengan kelokan yang sangat tajam, licin, serta berada pada jarak yang sangat dekat dengan lereng sangat terjal akibat gerakan tanah.

Berdasarkan hasil pengamatan bawah permukaan dengan geolistrik terindikasi zona jenuh air pada lereng yang bergerak mulai kedalaman 9 sampai dengan 10 meter. Kontak antara lapisan jenuh air dengan batuan di bawahnya yang kedap dengan nilai resistivitas tinggi (107 – >220 ohm.m) memperlihatkan pola bidang gelincir yang terbentuk mulai kedalaman 9 sampai dengan 13 meter di bawah permukaan tanah (Gambar 6). Di lapangan, kondisi jenuh air ini ditunjukkan dengan kemunculan mata air pada kontak antara tanah penutup pada bagian atas dengan pasir gampingan di bawahnya yang kedap air.

Dampak bencana:

  • Badan Jalan Kabupaten Ruas Kaliloka – Plompong terputus sepanjang 30 meter.
  • Arus lalu lintas antara Kaliloka – Plompong dan sebaliknya terganggu.

 

4. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah :

Faktor penyebab gerakan tanah antara lain:

  • Tanah pelapukan lempung pasiran sampai pasir sangat halus yang bersifat porous dan mudah retak pada saat kering dan mudah luruh jika terkena air.
  • Bidang lemah berupa kontak antara lapisan penutup dengan batuan dasar berwarna abu-abu terang yang kedap air sebagai bidang gelincir.
  • Peresapan air ke dalam rongga berupa retakan pada permukaan tanah.
  • Kemiringan lereng yang terjal sampai sangat terjal.

 

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah :

Gerakan tanah dikontrol oleh interaksi kondisi geologi dengan sifat tanah pelapukan yang porous dan mudah retak pada saat kering dan mudah luruh jika terkena air, kemiringan lereng yang terjal sampai sangat terjal dan perubahan tekanan air pori akibat peresapan air ke dalam tanah yang berongga dan membentuk bidang gelincir pada kontak dengan batuan dasar yang kedap air.

Menurut keterangan penduduk setempat, sebelum tejadinya longsor, turun hujan gerimis dan ada aliran air yang mengarah ke lahan sawah yang kering dan retak-retak pada permukaannya. Aliran air ini meresap dengan cepat ke dalam permukaan tanah melalui retakan tersebut. Peresapan air yang cepat menyebabkan terbentuknya zona lemah akibat akumulasi air pada kontak dengan batuan dasar yang kedap. Kondisi di atas ditambah dengan kemiringan yang terjal sampai sangat terjal, mengakibatkan tanah mudah untuk bergerak ke luar lereng dengan bidang gelincir pada kontak dengan batuan dasar yang kedap air yang telah jenuh air.

 

6. Rekomendasi Teknis

Mengingat curah hujan yang diperkirakan meningkat, terdapatnya retakan pada lahan di atas mahkota longsoran, dan terdapatnya zona jenuh air di bawah permukaan, maka direkomendasikan:

  • Masyarakat pengguna jalan sementara agar selalu waspada dan berhati-hati, mengingat jalan yang licin dan kelokan yang tajam serta masih adanya potensi longsor kembali karena jarak jalan dengan lereng yang sangat dekat.
  • Segera melakukan pengalihan jalur jalan bergeser ke timur laut menjauh dari zona jenuh air dan lereng yang sangat terjal bahkan hampir tegak akibat longsoran yang terjadi.
  • Segera menutup retakan pada lahan di atas tubuh longsoran dan dipadatkan untuk memperlambat masuknya air ke dalam tanah. Aktivitas ini agar dilakukan dengan selalu memperhatikan kondisi cuaca dan faktor keselamatan.
  • Memasang rambu peringatan rawan longsor pada jalan sementara yang dipergunakan untuk meningkatkan kewaspadaan pengguna jalan.
  • Memantau pembentukan bendung alam oleh material longsoran pada aliran sungai. Jika dijumpai bendung alam agar segera dilakukan pembobolan dan normalisasi aliran sungai  untuk menghindari terjadinya banjir bandang yang dapat mengancam penduduk di bagian hilir sungai.
  • Tidak memanfaatkan lahan yang berdekatan dengan tebing menjadi lahan basah untuk menghindari pembebanan dan pelunakan yang dapat mempermudah terjadinya gerakan tanah.
  • Tidak melakukan pemotongan lereng tanpa memperhatikan tingkat kestabilan lerengnya.
  • Untuk menghindari berulangnya longsoran, agar dilakukan pelandaian lereng pada lahan yang mengalami longsoran, mengarahkan aliran air permukaan menjauh dari lahan yang retak-retak, dan dibuat perkuatan lereng pada bagian bawah lereng dengan dilengkapi pembuangan air yang memadai.
  • Agar dilakukan penataan sistim aliran permukaan (drainase) dengan konstruksi kedap air.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk mengenal tanda-tanda awal terjadinya gerakan tanah.
  • Masyarakat  agar mengikuti arahan yang disampaikan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah Kabupaten Brebes dan Provinsi Jawa Tengah dalam penanganan gerakan tanah.

 

LAMPIRAN

Brebes 1 (311219)

Gambar 1. Peta lokasi gerakan tanah di Desa Kaliloka Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

 

Brebes 2 (311219)

Gambar 2. Peta geologi Desa Kaliloka dan sekitarnya Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah.

 

Brebes 3 (311219)

Gambar 3. Peta prakiraan wilayah terjadinya gerakan tanah pada bulan November 2019, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah

 

TABEL 1. POTENSI GERAKAN TANAH

DI KABUPATEN BREBES PROVINSI JAWA TENGAH

 BULAN NOVEMBER 2019

Brebes 4 (311219)

Keterangan :

Brebes 5 (311219)

 

Brebes 6 (311219)

Gambar 4. Peta situasi gerakan tanah di Desa Kaliloka Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah

 

Brebes 7 (311219)

Gambar 5. Penampang gerakan tanah Desa Kaliloka Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah

 

Brebes 8 (311219)

Gambar 6. Penampang Geolistrik pada lokasi gerakan tanah di Desa Kaliloka Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah

 

Brebes 9 (311219)

Foto 1. Longsoran pada badan jalan di Desa Kaliloka, Kecamatan Sirampog. Insert kontak antara lapisan panutup yang porous dengan batuan dasar yang keras dan kedap air. Tanda panah merah menunjukkan  mata air yang muncul pada kontak batuan tersebut.

 

Brebes 10 (311219)

Foto 2. Mata air yang dijumpai pada lahan di bawah tubuh longsoran

 

Brebes 11 (311219)

Foto 3. Material longsoran bergerak ke arah lembah dan menutup sebagian aliran sungai Kali Keruh (panah merah). Material longsoran yang menutup aliran sungai sudah bersih tersapu aliran air sungai.

 

Brebes 12 (311219)

Foto 4. Jalan sementara yang berbelok tajam dan licin serta mendekat ke arah lereng yang tergerus longsor. Bawah bagian tepi jalan yang jaraknya sudah sangat dekat dengan lereng yang tergerus.

 

Brebes 13 (311219)

Foto 5. Persiapan pengambilan data geolistrik di samping tubuh longsoran dan melewati jalan sementara (atas). Bawah pengambilan data geolistrik menggunakan 24 elektroda dengan spasi 4 meter.

 

Brebes 14 (311219)

Foto 6. Koordinasi dan sosialisasi bersama dengan petugas dari Dinas Pekerjaan Umum dan BPBD Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah