Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat

Laporan hasil pemeriksaan gerakan tanah di Kecamatan Banjaran , Kabupaten Bandung , Provinsi Jawa Barat. Pemeriksaan dilaksanakan dalam rangka menindaklanjuti surat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bandung, Nomor : 360/1676/PK, tanggal 20 November 2019, perihal Permohonan Kajian Teknik Pergerakan Tanah. Pemeriksaan dilaksanakan bersama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bandung  dan aparat Desa Neglasari, hasil pemeriksaan sebagai berikut :

1. Lokasi Gerakan Tanah :

Gerakan tanah terjadi di Kampung Kp. Bugel RT 01/ RW 05, Desa Neglasari, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, yang secara geografis terletak pada koordinat 070 03” 29,4” LS dan 1070 34” 23,9” BT. Gerakan tanah pada awalnya terjadi pada bulan Juli 2019 setelah gempabumi skala 4 sr, dan masih berlangsung hingga saat pemeriksaan.

 

2. Jenis Gerakan Tanah

Jenis gerakan tanah berupa nendatan, retakan dan rayapan pada rumah yang  berada tepat di atas tebing, dengan panjang retakan ± 10 cm – 1 meter, lebar ± 5 – 10 cm dan kedalaman nendatan ± 20 – 50 cm.

 

3. Dampak Gerakan Tanah

Gerakan tanah di daerah ini menyebabkan :

  • 1 (satu) rumah retak-retak
  • 1 (satu) bangunan peternakan lantainya retak-retak.

 

4. Kondisi Umum Daerah Bencana :

  • Morfologi, Secara umum morfologi Desa Neglasari adalah daerah dataran dan tebing dengan lereng datar sampai curam, dengan kemiringan lereng berkisar 10° - 50°. Ketinggian pada wilayah ini 670-820 meter.
  • Geologi, Berdasarkan Peta Geologi Lembar Garut, Jawa (Alzwar dkk, 1992), batuan penyusun di daerah bencana adalah Endapan Danau yang terdiri dari lempung, lanau, pasir halus – kasar (Qd); Batuan Lava Andesit yang terdiri dari andesit dan basalan Gunung Tilu (Qtl); Formasi Beser yang terdiri dari Breksi tufan dan lava bersusunan andesit sampai basalt. Struktur geologi  yang berkembang di wilayah ini berdasarkan peta geologi adalah adanya sesar turun. Berdasarkan pengamatan dilapangan daerah bencana tersusun oleh batupasir tufa lapuk berwarna coklat muda – coklat tua, pasir halus – pasir kasar, agak rapuh, sarang, setempat bersisipan tufa dengan tanah pelapukan berupa lempung berwarna coklat. Tanah pelapukan dengan ketebalan 1,5 – 2,5 meter.
  • Tataguna Lahan, Tataguna lahan pada daerah bencana pada bagian atas berupa pemukiman, makam, jalan dan saluran utama tegangan tinggi. Pada bagian bawah lereng terdapat Sungai Ciendog dan persawahan
  • Keairan, Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah secara umum air melimpah pada musim hujan. Air permukaan (run off) mengalir bebas di permukaan dan sebagian meresap ke dalam tanah. Konsumsi air penduduk berasal dari sumur dengan kedalaman lebih kurang 15 meter.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Desember 2019, Kabupaten Bandung , Provinsi Jawa Barat (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Banjaran terletak pada zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah – Tinggi artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

 5. Faktor Penyebab Terjadinya Gerakan Tanah

Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di lokasi ini antara lain :

  • Kemiringan lereng yang sangat terjal,
  • Rumah berada diatas tebing terjal
  • Tanah pelapukan yang tebal, lunak.
  • Adanya struktur geologi berupa patahan,
  • Gempabumi yang terjadi pada bulan 26 Juli 2019, yang berpusat di Banten.
  • Tata guna lahan yang sebagian besar pemukiman berada pada lereng terjal, serta adanya sungai tepat dibawah lereng dan sawah, mengakibatkan pengikisan/erosi dinding sungai serta penjenuhan lahan sawah.

 

6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah 

Gerakan tanah yang terjadi pada lokasi yang disusun oleh tanah pelapukan yang bersifat sarang dan berada di atas batuan dasar (lempung) yang bersifat lebih kedap. Pada bagian bawah terdapat Sungai Panagogan Ciendog yang mengerosi tebing sungai,disamping itu karena kemiringan lereng yang sangat terjal mengakibatkan tanah mudah bergerak akibat dari erosi sungai, dan terjadi retakan atau nendatan.

Retakan tanah semakin berkembang karena adanya gempabumi dan penjenuhan oleh peresapan air dari saluran air pemukiman. Retakan tanah pada awalnya kecil menjadi besar akibat dipicu Gempabumi

 

7. Rekomendasi

  • Pemukiman di daerah tersebut masih layak huni, tetapi masyarakat harus selalu waspada terutama pada saat dan setelah hujan lebat berlangsung lama.
  • Masyarakat diharapkan terus selalu memantau perkembangan retakan yang ada dan jika terjadi perkembangan yang cepat, segera menjauh dari lokasi gerakan tanah dan melaporkannya kepada instansi yang berwenang.
  • Retakan yang ada dan jika muncul retakan baru agar segera ditutup menggunakan tanah lempung/liat dan dipadatkan agar air tidak masuk ke dalam area retakan.
  • Untuk memperlambat/menghindari peresapan/penjenuhan air ke tanah dan mengantisipasi terjadinya perkembangan gerakan tanah agar dilakukan penataan drainase (air hujan, buangan air limbah rumah tangga, mata air) pada perumahan warga maupun parit/selokan dengan saluran yang kedap air, dengan ditembok atau pemipaan. Aliran air diarahkan langsung ke arah lembah/kaki lereng/sungai.
  • Dibuat tembok penahan tebing yang berada dibawah retakan (retaining wall) yang dilengkapi dengan pipa atau lubang-lubang drainase pada dinding sungai. Pondasi dinding penahan mencapai batuan dasar/keras.
  • Tidak membangun pemukiman di atas, pada, dan di bawah lereng dengan kemiringan sedang hingga terjal.
  • Jenis bangunan yang cocok untuk wilayah ini yaitu bangunan yang mempunyai konstruksi ringan dengan pondasi mencapai batuan dasar/keras.
  • Memelihara vegetasi/tanaman keras berakar kuat dan dalam di daerah berlereng terjal.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

 

LAMPIRAN

Neglasari 1 (271219)

Gambar 1. Peta Lokasi Gerakan Tanah Desa Neglasari, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat

 

Neglasari 2 (271219)

Gambar 2. Peta Geologi Desa Neglasari, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat

 

Neglasari 3 (271219)

Gambar  3. Peta Situasi Gerakan Tanah Kp. Bugel RT 01/RW 05, Desa Neglasari,  Kecamatan Banjaran , Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat.

 

Neglasari 4 (271219)

Gambar  4. Penampang  Gerakan Tanah Kp. Bugel RT 01/RW 05, Desa Neglasari,  Kecamatan Banjaran , Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat.

 

Neglasari 5 (271219)

Gambar 5. Peta prakiraan wilayah terjadinya gerakan tanah pada bulan November 2019, Kab. Bandung, Provinsi Jawa Barat.

 

POTENSI GERAKAN TANAH

DI KABUPATEN BANDUNG, PROVINSI JAWA BARAT

 PADA BULAN NOVEMBER 2019

Neglasari 6 (271219)

Keterangan :

Neglasari 7 (271219)

 

Neglasari 8 (271219)

Foto 1.  Retakan yang terjadi pada dinding dan lantai rumah di Kp. Bugel RT 01/ RW 05, Desa Neglasari, Kec. Banjaran, Kab. Bandung. Jumlah rumah yg retak-retak adalah 2 rumah

 

Neglasari 9 (271219)

Foto 2. Memperlihatkan kondisi bagian belakang rumah retak-retak, rumah ini  berada tepat diatas tebing yang terjal.

 

Neglasari 10 (271219)

Foto 3. Tata guna lahan berupa pertanian lahan basah/ persawahan dan kolam ikan (balong) berada dibagian bawah lereng.Sebaiknya dibuat perselingan dengan tanaman keras.

 

Neglasari 11 (271219)

Foto 4. Rumpun bambu adalah salah satu tanaman yang ada dibagian bawah lereng.