Tanggapan Bencana Gerakan Tanah Kec. Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Lima Puluh Koto Provinsi Sumatera Barat

Tanggapan bencana gerakan tanah di Kecamatan Pangkalan Koto Batu, Kabupaten Lima Puluh Koto, Provinsi Sumatera Barat, berdasarkan pemberitaan https://sumbartime.com pada hari Jumat, 20 Desember 2019 (Sumber berita https://sumbartime.com/tanah-bergerak-koto-alam-mulai-menyentuh-aspal-jalur-sumbar-riau-transportasi-menggunakan-sistem-buka-tutup/), sebagai berikut:

1. Lokasi dan waktu kejadian:

Gerakan tanah terjadi pada jalur jalan Sumatera Barat – Riau di kawasan Jorong Simpang Tiga, Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Provinsi Sumatera Barat. Gerakan tanah terjadi sejak beberapa hari yang lalu dan sampai dengan hari Jumat 20 Desember 2019 gerakan tanah terus berkembang dan merusak badan jalan.

2. Jenis gerakan tanah:

Jenis gerakan tanah diperkirakan tipe lambat berupa rayapan yang terjadi di sekitar permukiman dan badan jalan. Kondisi ini diindikasikan oleh terjadinya pergeseran dan retakan pada permukaan tanah dan badan jalan.

 3. Dampak gerakan tanah:

  • Puluhan rumah mengalami kerusakan.
  • Sekitar 30 meter badan jalan Jalur Sumbar – Riau mengalami retakan.
  • Retakan pada badan jalan, jika terus berkembang dapat mengancam keselamatan pengguna jalan.

4. Kondisi daerah bencana :

  • Secara umum lokasi bencana merupakan perbukitan bergelombang yang berada pada ketinggian antara 300 sampai dengan 400 meter di atas permukaan laut. Di sekitar lokasi gerakan tanah mengalir sungai yang mengalir searah dengan jalur jalan.
  • Berdasarkan Peta Geologi Lembar Pekanbaru, Sumatera (Clarke drr., P3G, 1982), daerah bencana tersusun oleh batuan gunungapi minor yang tidak teruraikan pada bagaian atas. Di bagian bawahnya terendapkan batuan berumur lebih tua dari Formasi Sihapas yang terdiri dari Batupasir konglomerat dan Batulanau. Struktur geologi yang terdekat berkembang di sebelah timur sampai timur laut berupa sesar diperkirakan pada jarak lebih dari 6 km.
  • Berdasarkan Peta Prakiraan Terjadi Gerakan Tanah di Provinsi Sumatera Barat (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kecamatan Pangkalan Koto Baru termasuk dalam zona potensi gerakan tanah Menengah sampai Tinggi. Artinya daerah ini mempunyai potensi menengah hingga tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

5. Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan:

  • Batuan produk gunungapi yang mudah meloloskan air serta sifatnya yang berongga dan mudah luruh jika terkena air.
  • Bidang lemah berupa kontak antara batuan yang mudah meloloskan air dengan bagian bawahnya yang lebih kedap air sehingga berfungsi sebagai bidang gelincir.
  • Kemiringan lereng yang agak terjal hingga terjal.
  • Erosi lateral dan pelunakan pada bagian kaki lereng oleh aliran air sungai.
  • Hujan yang turun dengan intensitas tinggi menjadi pemicu terjadinya gerakan tanah.
  • Peningkatan volume air sungai seiring dengan curah hujan yang tinggi menyebabkan terjadinya peningkatan intensitas pengerosian dan pelunakan pada bagian kaki lereng.

6. Rekomendasi:

Mengingat curah hujan yang masih tinggi dan untuk menghindari jatuhnya korban jiwa dan kerugian harta benda yang lebih besar, direkomendasikan sebagai berikut:

  • Penduduk yang tinggal pada lokasi yang berdekatan dengan tebing, alur lembah dan alur sungai di sekitar lokasi gerakan tanah, agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah turun hujan.
  • Tidak melakukan aktivitas di atas, bawah atau pada bagian lereng pada saat dan setelah turun hujan.
  • Melakukan pemantauan mandiri dan intensif terhadap perkembangan retakan pada badan jalan dan sekitar permukiman.
  • Memasang rambu-rambu peringatan bahaya longsor pada jalur jalan yang telah mengalami retakan untuk meningkatkan kewaspadaan pengguna jalan.
  • Jika terjadi perkembangan retakan yang cepat agar segera dilakukan evakuasi penduduk yang tinggal di daerah terdampak dan mengungsi ke daerah yang aman dari ancaman gerakan tanah serta menutup atau mengalihkan arus lalu lintas menghindari lokasi gerakan tanah.
  • Tidak beraktivitas di alur lembah dan alur sungai yang berpotensi menjadi jalan mengalirnya material longsoran dan banjir bandang, terutama pada saat dan setelah turun hujan.
  • Masyarakat agar mengikuti arahan yang disampaikan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah Kabupaten Lima Puluh Koto dan Provinsi Sumatera Barat dalam penanganan bencana gerakan tanah.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dan banjir bandang dan mengenali gejala awalnya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.

 

Kotobaru-1

Gambar 1. Jorong Simpang Tiga, Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Provinsi Sumatera Barat

Kotobaru-2
Gambar 2. Peta Geologi Daerah Pangkalan Koto Baru dan sekitarnya Kabupaten Lima Puluh Koto, Provinsi Sumatera Barat

Kotobaru-3
Gambar 3. Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah, Provinsi Sumatera Barat pada Bulan Desember 2019

Kotobaru-4