Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Puspahiang, Kab. Tasikmalaya, Prov. Jawa Barat

Laporan singkat hasil pemeriksaan lapangan Bencana Gerakan Tanah di Kecamatan Puspahiang, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, berdasarkan surat BPBD Kabupaten Tasikmalaya dengan nomor surat 364/2385/BPBD/2019 tanggal 4 Desember 2019 perihal Permohonan Penelitian dan Rekomendasi. Hasil pemeriksaan adalah  sebagai berikut : 

A. Kp. Singajaya RT.1, Desa Pusparahayu

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi di Kp. Singajaya RT.1, Desa Pusparahayu, Kecamatan Puspahiang, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, secara geografis terletak pada koordinat: 108° 20' 2,4" BT  - 07° 15' 57,24" LS.

 

2. Jenis Gerakan Tanah

Jenis gerakan tanah di Kp. Singajaya RT.1, Desa Pusparahayu, Kecamatan Puspahiang, berupa rayapan yang terdiri dari retakan pada pemukiman warga. Retakan pada rumah warga dengan lebar 1-5 cm dan arah retakan N144°E N309°E dengan prakiraan arah potensi longsoran ke tenggara-selatan..

 

3. Dampak Gerakan Tanah (Data BPBD Kab. Tasikmalaya):

Dampak gerakan tanah di daerah bencana menyebabkan:

  • 1 rumah rusak ringan di Kp. singajaya rumah Bpk Engkos Koswara

 

4. Kondisi daerah bencana :
  • Morfologi, Morfologi daerah Kp. Singajaya, Desa Pusparahayu Kecamatan Puspahiang secara umum berupa perbukitan bergelombang sedang dengan kemiringan antara landai - terjal (kemiringan 5°- 25°) dengan elevasi 300 -400 mdpl.
  • Geologi, Berdasarkan hasil pemeriksaan di lokasi bencana, daerah bencana tersusun pelapukan batuan vulkanik dengan ketebalan 1-3 m, dengan tanah pelapukan berupa pasir lempungan berwarna coklat tua. Berdasarkan peta Geologi Lembar Tasimalaya, Jawa (Budhistrina, dkk, 1986), daerah penyelidikan termasuk kedalam daerah penyelidikan termasuk kedalam Anggota Formasi Jampang yang terdiri dari batuan gunungapi, lava, breksi, tuff tersusun komposisi andesit basalt, batupasir gamping, batulanau, batulempung dan batupasir tufan (Tomj). Dilokasi dijumpai intrusi batuan dacite (Tmda) yang berumur miosen.
  • Tata Guna Lahan, Tata guna lahan pada daerah bencana berupa ladang pada bagian atas, pemukiman pada bagian tengah dan persawahan pada bagian bawah.
  • Keairan, Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah menggunakan sumur gali pada rumah penduduk. Drainase tidak ada, sehingga air permukaan dan air hujan tidak terkendali dengan baik.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Desember 2019 di Kabupaten Tasikmalaya (Badan Geologi), daerah bencana terletak pada zona potensi terjadi gerakan tanah menengah, artinya di daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan longsoran lama dapat aktif kembali.

 

5. Faktor penyebab gerakan tanah:

Secara umum, faktor penyebab gerakan tanah pada lokasi tersebut adalah:

  • Rumah berada pada tekuk lereng dan dekat dengan tekuk lembah sehingga memungkinkan terkumpulnya aliran permukaan mengakibatkan tanah mudah bergerak
  • Tanah pelapukan dari batuan vulkanik yang mudah menyerap air, batuan dasarnya berupa batuan yang kedap air bertindak sebagai bidang gelincir gerakan tanah
  • Kondisi geologi berupa lapukan batuan vulkanik dan tuffan berwarna kecoklatan memungkinkan terjadi gerakan tanah tipe rayapan.
  • Sistem keairan baik dari air permukaan maupun dari rumah tangga yang kurang baik sehingga air terakumulasi dan terkonsentrasi ke retakan
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama yang turun sebelum gerakan tanah terjadi memicu terjadinya gerakan tanah.

 

6. MekanismeTerjadinya Gerakan Tanah:

Kelerengan yang terjal, kondisi geologi batuan vulkanik yang sudah lapuk dapat menjadi bidang gelincir pada lokasi tersebut menyebabkan daerah tersebut rentan longsor. Posisi rumah yang dekat dengan lereng dan tekuk lembah juga berpotensi terjadi longsor karena rumah tersebut dapat menjadi beban lereng. Curah hujan yang tinggi serta sistem keairan yang kurang baik menyebabkan air hujan masuk ke dalam tanah melalui ruang antar butir tanah sehingga jenuh air menyebabkan bobot masanya bertambah dan kuat gesernya menurun, sehingga tanah tidak stabil (mudah bergerak) dan terjadilah retakan-retakan pada tanah dan bangunan.

 

7. Rekomendasi Teknis

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan sebagai berikut :

  • Agar menjauhkan bagunan dari tebing lereng, rumah yang retak terlalu dekat tebing.
  • Kontruksi bangunan/rumah yang cocok untuk daerah ini adalah kontruksi sederhana/panggung/semipermanen agar mengurangi beban tanah,
  • Tidak melakukan pemotongan lereng dengan sudut lereng lebih besar dari 10° dengan tinggi lereng lebih dari 1,5 meter, dengan perbandingan tinggi vertikal : jarak horizontal minimal 1 : 2
  • Penataan dan pembenahan saluran keairan permukaan dengan konstruksi kedap air sehingga aliran air langsung ke sungai.
  • Penataan dan pembenahan saluran keairan permukaan pada kebun, ladang dan persawahan sehingga aliran air tidak tertahan
  • Memelihara dan menanam tanaman keras berakar kuat dan dalam.
  • Pemilik rumah dan masyarakat yang berada disekitar retakan melakukan pemantauan retakan dan jika retakan bertambah luas segera melaporkan ke aparat desa setempat atau ke BPBD untuk dilakukan kegiatan pencegahan.
  • Masyarakat perlu dilakukan sosialisasi pengenalan tanda-tanda awal pergerakan tanah dan dihimbau agar selalu mengikuti arahan pemerintah atau BPBD setempat.

  

B. Kp. Cigadung RT.2, Desa Pusparahayu

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi di Kp. Cigadung RT.2, Desa Pusparahayu, Kecamatan Puspahiang, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, secara geografis terletak pada koordinat: -07° 26' 51" LS 108° 03' 46" BT dengan ketinggian 406 m dpl.

 

2. Jenis Gerakan Tanah

Potensi gerakan tanah di Kp. Cigadung RT.2, Desa Pusparahayu, Kecamatan Puspahiang, berupa rayapan dan retakan. Pada lokasi tersebut ditemukan retakan sepanjang area pemukiman warga berupa retakan pada rumah dan halaman warga sepanjang 10 meter. Dimensi potensi rayapan dengan retakan 1-5 cm dengan arah retakan N17°E, dan retakan di belakang rumah warga arah retakan N189°E. Potensi pergerakan kearah timur karena terdapat tekuk lereng yang merupakan tempat berkumpulnya aliran air bawah permukaan.

 

3. Dampak Gerakan Tanah (Data: Surat BPBD No. 364/2385/BPBD/2019) :

Dampak gerakan tanah di daerah bencana menyebabkan:

  • 1 mushola rusak ringan
  • 15 rumah terancam.

 

4. Kondisi daerah bencana :
  • Morfologi, Morfologi daerah Kp. Singajaya, Desa Pusparahayu Kecamatan Puspahiang secara umum berupa perbukitan bergelombang sedang dengan kemiringan antara landai - terjal (kemiringan 5°- 25°) dengan elevasi 400 -420 mdpl.
  • Geologi, Berdasarkan hasil pemeriksaan di lokasi bencana, daerah bencana tersusun lapkukan batuan vulkanik dengan ketebalan 1-3 m, dengan tanah pelapukan berupa pasir lempungan berwarna coklat tua. Berdasarkan peta Geologi Lembar Tasimalaya, Jawa (Budhistrina, dkk, 1986), daerah penyelidikan termasuk kedalam daerah penyelidikan termasuk kedalam Anggota Formasi Jampang yang terdiri dari batuan gunungapi, lava, breksi, tuff tersusun komposisi andesit basalt, batupasir gampinga, batulanau, batulempung dan batupasir tufan (Tomj). Dilokasi dijumpai intrusi batuan dacite (Tmda) yang berumur miosen.
  • Tata Guna Lahan, Tata guna lahan pada daerah bencana berupa pemukiman pada pada bagian atas, pemukiman pada bagian tengah dan bawah berupa kebun campuran.
  • Keairan, Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah menggunakan sumur gali pada rumah penduduk. Drainase tidak ada, sehingga air permukaan dan air hujan tidak terkendali dengan baik. Posisi Jalan juga lebih tinggi dari pekarangan dan rumah sehingga jika terjadi hujan, air permukaan masuk di pekarangan dan meresap kedalam tanah.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Desember 2019 di Kabupaten Tasikmalaya (Badan Geologi), daerah bencana terletak pada zona potensi terjadi gerakan tanah menengah, artinya di daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan longsoran lama dapat aktif kembali.

 

5. Faktor penyebab gerakan tanah:

Secara umum, faktor penyebab gerakan tanah pada lokasi tersebut adalah:

  • Rumah yang berada sangat dekat dengan lereng yang curam dan tekuk lereng,
  • Kondisi geologi berupa batuan vulkanik dan tuffan yang sangat lapuk memudahkan pergerakan,
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik sehingga air terakumulasi dan terkonsentrasi ke dalam tanah dan mudah terjadi pergerakan
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi yang turun sebelum gerakan tanah terjadi semakin memicu terjadinya gerakan tanah.

 

6. MekanismeTerjadinya Gerakan Tanah:

Rumah yang berada di dekat lereng dan tekuk lereng/lembah membuat beban lereng bertambah, ditambah kelerengan yang curam, kondisi geologi batuan vulkanik yang sudah lapuk dapat menampung air dan menambah beban lereng tersebut menyebabkan rumah dengan kontruksi tembok dapat retak hingga roboh. Curah hujan yang tinggi serta saluran drainase yang kurang baik ditambah kondisi jalan desa lebih tinggi dari rumah menyebabkan air hujan dapat masuk ke dalam tanah melalui ruang antar butir tanah sehingga jenuh air menyebabkan bobot masanya bertambah dan kuat gesernya menurun, sehingga tanah tidak stabil (mudah bergerak) dan terjadilah retakan-retakan pada tanah dan bangunan.

 

7. Rekomendasi Teknis

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan sebagai berikut :

  • Tidak mendirikan bangunan pada lereng atau pada daerah yang dekat dengan tebing, lembah atau alur sungai yang berpotensi terlanda longsor
  • Rumah dan bangunan agar membuat jarak aman dan tidak menambah beban terhadap lereng, karena kejadian retakan banyak dekat lereng,
  • Kolam-kolam penampungan air disekitar permukiman dibuat kedap air dan melakukan pengaturan air pembuangan.
  • Penataan saluran drainase/selokan di pinggir badan jalan dengan saluran kedap air, langsung dialirkan ke lereng bawah/ lembah/arah sungai, dan menghindari genangan air pada daerah datar
  • Kontruksi rumah yang cocok adalah rumah panggung/semi permanen,
  • Memelihara dan menanam tanaman keras berakar kuat dan dalam,
  • Pemilik rumah dan masyarakat yang berada disekitar retakan melakukan pemantauan retakan dan jika retakan bertambah luas segera melaporkan ke aparat desa setempat atau ke BPBD untuk dilakukan kegiatan pencegahan.
  • Masyarakat perlu dilakukan sosialisasi pengenalan tanda-tanda awal pergerakan tanah dan dihimbau agar selalu mengikuti arahan pemerintah atau BPBD setempat.

 

C. Kp. Burujul RT.3, Desa Puspahiangsari

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi di Kp. Burujul RT.3 RT 3/ RW 6, Desa Puspahiangsari, Kecamatan Puspahiang, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, secara geografis terletak pada koordinat: -07° 26' 54" LS 108° 03' 50" BT, Ketinggian 449 m dpl.

 

2. Jenis Gerakan Tanah

Jenis gerakan tanah di Kp. Burujul RT.3, Desa Puspahiangsari, Kecamatan Puspahiang, berupa rayapan yang terdiri dari retakan retakan pada daerah kebun dan pemukiman warga. Retakan N110°E pada pemukiman warga lebar bervariasi antar 1-7cm dengan prakiraan arah longsoran arah tenggara.

 

3. Dampak Gerakan Tanah (Data: Surat BPBD No. 364/2385/BPBD/2019) :

Dampak gerakan tanah di daerah bencana menyebabkan:

  • 1 mushola rusak ringan
  • 61 bangunan terancam.

 

4. Kondisi daerah bencana :
  • Morfologi, Morfologi daerah Kp. Burujul RT.3, Desa Puspahiangsari, Kecamatan Puspahiang secara umum berupa perbukitan berelif berfelombang sedang dengan kemeringan antara landai - agak terjal (kemiringan 5°- 30°) dengan elevasi 400-460 mdpl.
  • Geologi, Berdasarkan hasil pemeriksaan di lokasi bencana, daerah bencana tersusun lapkukan batuan vulkanik dengan ketebalan 1-3 m, dengan tanah pelapukan berupa pasir lempungan berwarna coklat tua. Berdasarkan peta Geologi Lembar Tasimalaya, Jawa (Budhistrina, dkk, 1986), daerah penyelidikan termasuk kedalam daerah penyelidikan termasuk kedalam Anggota Formasi Jampang yang terdiri dari batuan gunungapi, lava, breksi, tuff tersusun komposisi andesit basalt, batupasir gampinga, batulanau, batulempung dan batupasir tufan (Tomj). Dilokasi dijumpai intrusi batuan dacite (Tmda) yang berumur miosen.
  • Tata Guna Lahan, Tata guna lahan pada daerah bencana berupa perkebunan dan ladang pada bagian atas, pemukiman pada bagian tengah dan persawahan pada bagian bawah.
  • Keairan, Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah menggunakan sumur gali pada rumah penduduk. Drainase tidak ada, sehingga air permukaan dan air hujan tidak terkendali dengan baik.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Desember 2019 di Kabupaten Tasikmalaya (Badan Geologi), daerah bencana terletak pada zona potensi terjadi gerakan tanah menengah, artinya di daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan longsoran lama dapat aktif kembali.

 

5. Faktor penyebab gerakan tanah:

Secara umum, faktor penyebab gerakan tanah pada lokasi tersebut adalah:

  • Kemiringan lereng yang agak terjal mengakibatkan tanah mudah bergerak
  • Kondisi geologi yang menunjukan lapukan batuan vulkanik berada diatas batuan sedimen dengan ukuran lempung-lanau kompak memungkinkan bertindak sebagai bidang gelincir gerakan tanah
  • Sistem keairan permukaan yang kurang baik sehingga air terakumulasi antara batuan lunak (tanah) dan batuan keras.
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama yang turun sebelum gerakan tanah terjadi semakin memicu terjadinya gerakan tanah.

 

6. MekanismeTerjadinya Gerakan Tanah:

Kelerengan dan kondisi batuan vulkanik yang lapuk menyebabkan daerah tersebut rentan pergerakan tanah. Saluran drainase yang kurang baik ditambah curah hujan yang tinggi menyebabkan air hujan masuk ke dalam tanah melalui ruang antar butir tanah sehingga jenuh air menyebabkan bobot masanya bertambah dan kuat gesernya menurun, sehingga tanah tidak stabil (mudah bergerak) dan terjadilah retakan dan nendatan pada tanah. Gerakan tanah awal umumnya berupa retakan dan apabila semakin meluas akan berbentuk akan membentuk pola seperti tapal kuda. Potensi perkembangan gerakan tanah mengarah ke lembah sungai dan tekuk lereng.

 

7. Rekomendasi Teknis

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan sebagai berikut :

  • Tidak mendirikan bangunan pada lereng atau pada daerah yang dekat dengan tebing, lembah atau alur sungai dan tidak menambah beban terhadap lereng, yang berpotensi terjadi pergerakan tanah,
  • Tidak melakukan pemotongan lereng terutama pada area yang sudah curam,
  • Karena gerakan tanah yang terjadi merupakan tipe rayapan, maka rumah panggung dengan konstruksi kayu akan lebih aman digunakan dibanding rumah permanen.
  • Penataan saluran drainase/selokan di pinggir badan jalan dengan saluran kedap air, langsung dialirkan ke lereng bawah/ lembah/arah sungai, dan menghindari genangan air pada daerah datar
  • Memelihara dan menanam tanaman keras yang berakar tunggal yang berguna untuk menahan lereng,
  • Meningkatkan kewaspadaan dan pemantauan retakan, kemunculan mataair, longsoran batu (berdimensi kecil) dan amblesan tanah.
  • Ke depannya agar tidak mengembangkan permukiman mendekat ke arah lereng dan membangun rumah dengan letak yang dekat dengan lereng.
  • Jika terdapat pembangunan rumah perlu dilakukan perkuatan lereng dengan mengikuti kaidah geologi teknik dengan pondasi yang menembus batuan dasar yang keras.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
  • Masyarakat yang berada disekitar retakan tetap tenang dan selalu waspada dan melakukan pemantauan retakan serta agar selalu berkoordinasi dan mengikuti arahan aparat desa atau BPBD setempat.

 

D. Kp. Jajaway RT.4, Desa Puspahiangsari

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi di Kp. Jajaway RT.4, Desa Puspahiangsari, Kecamatan Puspahiang, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, secara geografis terletak pada koordinat: -07° 27' 10" LS 108° 04' 04" BT dengan ketinggian 310-340 m dpl.

 

2. Jenis Gerakan Tanah

Jenis gerakan tanah di Kp. Jajaway RT.4, Desa Puspahiangsari, Kecamatan Puspahiang, berupa rayapan yang berupa retakan pada rumah penduduk dan jalan desa yang dapat berkembang menjadi lonsoran. Retakan pada rumah pendudk sepanjang lk 15 meter dan lebar 1-5cm dengan arah longsoran N128°E atau kearah tenggara. Retakan ini berada pada rumah yang berada pada lereng/gawir.

 

3. Dampak Gerakan Tanah :

Dampak gerakan tanah (Data: Surat BPBD No. 364/2385/BPBD/2019):

  • 1 mushola dan masjid rusak ringan
  • 65 bangunan terancam

 

4. Kondisi daerah bencana :
  • Morfologi, Morfologi daerah Kp. Jajaway RT.4, Desa Puspahiangsari, Kecamatan Puspahiang secara umum berupa perbukitan berelif berfelombang sedang -  tinggi dengan kemeringan antara landai - terjal (kemiringan 5°- 35°) dengan elevasi 300-350 mdpl.
  • Geologi, Berdasarkan hasil pemeriksaan di lokasi bencana, daerah bencana tersusun lapkukan batuan vulkanik dengan ketebalan 1-5 m, dengan tanah pelapukan berupa pasir lempungan berwarna coklat tua. Berdasarkan peta Geologi Lembar Tasimalaya, Jawa (Budhistrina, dkk, 1986), daerah penyelidikan termasuk kedalam daerah penyelidikan termasuk kedalam Anggota Formasi Jampang yang terdiri dari batuan gunungapi, lava, breksi, tuff tersusun komposisi andesit basalt, batupasir gampinga, batulanau, batulempung dan batupasir tufan (Tomj). Dilokasi dijumpai intrusi batuan dacite (Tmda) yang berumur miosen.
  • Tata Guna Lahan, Tata guna lahan pada daerah bencana berupa perkebunan dan ladang pada bagian atas, pemukiman pada bagian tengah dan persawahan pada bagian bawah.
  • Keairan, Kondisi keairan di lokasi gerakan tanah menggunakan sumur gali pada rumah penduduk. Drainase tidak ada, sehingga air permukaan dan air hujan tidak terkendali dengan baik.
  • Kerentanan Gerakan Tanah, Berdasarkan Peta Prakiraan Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Desember 2019 di Kabupaten Tasikmalaya (Badan Geologi), daerah bencana terletak pada zona potensi terjadi gerakan tanah menengah, artinya di daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan longsoran lama dapat aktif kembali.

 

5. Faktor penyebab gerakan tanah:

Secara umum, faktor penyebab gerakan tanah pada lokasi tersebut adalah:

  • Kemiringan lereng yang terjal mengakibatkan tanah mudah bergerak
  • Tanah pelapukan yang tebal dan mudah menyerap air
  • Kondisi geologi berupa batuan vulkanik yang lapuk memungkinkan terjadi gerakan tanah tipe rayapan dan dapat berkembang menjadi longsoran.
  • Sistem drainase permukaan yang kurang baik
  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama yang turun sebelum gerakan tanah terjadi dapat memicu terjadinya gerakan tanah.

 

6. MekanismeTerjadinya Gerakan Tanah:

Kelerengan yang terjal, kondisi geologi lapukan batuan vulkanik yang berada diatas batuan yang masih kompak (bidang kedap air) pada lokasi tersebut menyebabkan daerah tersebut rentan pergerakan tanah. Curah hujan yang tinggi serta saluran drainase yang kurang baik menyebabkan air hujan masuk ke dalam tanah melalui ruang antar butir tanah sehingga jenuh air menyebabkan bobot masanya bertambah dan kuat gesernya menurun, sehingga tanah tidak stabil (mudah bergerak) dan terjadilah retakan dan nendatan pada tanah. Gerakan tanah awal umumnya berupa retakan dan apabila semakin meluas akan berbentuk seperti tapal kuda dan dapat menjadi longsoran tanah dan bahan rombakan.

 

7. Rekomendasi Teknis

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, maka direkomendasikan sebagai berikut :

  • Agar menjauhkan bagunan dari tebing lereng, rumah yang retak terlalu dekat tebing.
  • Rumah kontruksi sederhana/panggung/semipermanen disarankan agar mengurangi beban tanah,
  • Segera menutup retakan dan memadatkannya untuk mengurangi peresapan air ke dalam tanah serta mengarahkan aliran air menjauh dari retakan.
  • Tidak mendirikan bangunan pada lereng atau pada daerah yang dekat dengan tebing, lembah atau alur sungai yang berpotensi terlanda longsor
  • Tidak melakukan pemotongan lereng dengan sudut lereng lebih besar dari 10° dengan tinggi lereng lebih dari 1,5 meter, dengan perbandingan tinggi vertikal : jarak horizontal minimal 1 : 2
  • Memelihara dan melakukan penanaman pohon yang berakar kuat dan dalam.
  • Ke depannya agar tidak mengembangkan permukiman mendekat ke arah lereng dan membangun rumah dengan letak yang dekat dengan lereng.
  • Diperlukan pengendalian air permukaan (surface water drainage) dengan cara perencanaan tata saluran permukaan, pengendalian air rembesan (ground water drainage) serta pengaliran parit pencegat.
  • Warga Jajaway agar lebih meningkatkan kewaspadaan dan selalu memantau perkembangan retakan, kemunculan mataair, longsoran batu (berdimensi kecil) dan amblesan tanah yang ada dan jika terjadi perkembangan yang cepat, segera menjauh dari lokasi gerakan tanah dan melaporkannya kepada instansi yang berwenang.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah atau BPBD setempat.

 

LAMPIRAN

Tasik 1 (191219)

Gambar 1. Peta Lokasi Gerakan Tanah Desa Pusparahayu, Kecamatan Puspahiang, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat

 

Tasik 2 (191219)

Gambar 2. Peta Lokasi Google Earth di Desa Puspahiangsari, Kecamatan Puspahiang, Kab. Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat

 

Tasik 3 (191219)

Gambar 3. Peta Geologi Desa Pusparahayu dan Desa Puspahiangsari, Kec. Puspahiang, Kab. Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat

 

Tasik 4 (191219)

Gambar 4. Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah Pada Bulan Desember 2019, Kecamatan Puspahiang dan sekitarnya, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat

 

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH

DI PROVINSI JAWA BARAT

 BULAN DESEMBER 2019

Tasik 5 (191219)

Keterangan:

Tasik 6 (191219)

 

Tasik 7 (191219)

Gambar 5. Peta Situasi Kp. Singajaya RT.01 di Desa Puspahiangsari, Kec. Puspahiang, Kab. Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat

 

Tasik 8 (191219)

Gambar 6. Peta Situasi Kp. Cigadung RT.2 di Desa Puspahiangsari, Kec. Puspahiang, Kab. Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat

 

Tasik 9 (191219)

Gambar 7. Peta Situasi Kp. Burujul RT.03, di Desa Puspahiangsari, Kec. Puspahiang, Kab. Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat

 

Tasik 10 (191219)

Gambar 8. Peta Situasi Kp. Jajaway RT.04, di Desa Puspahiangsari, Kec. Puspahiang, Kab. Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat

 

LAMPIRAN FOTO

Tasik 11 (191219)

Koordinasi dan Penjelasan dengan BPBD Kab. Tasikmalaya, Camat Puspahiang, Kepala Desa Pusparahayu dan Warga Terdampak

 

Tasik 12 (191219)

Foto 1. Retakan di rumah Pak Engkos di Kp. Singajaya RT.1, Desa Pusparahayu, Kecamatan Puspahiang, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat

 

Tasik 13 (191219)

Foto 1. Kontak batuan lunak (tanah hasil pelapukan batuan vulkanik) dengan batuan keras (batupasir-batulempung) yang kompak serta terkekarkan. Di Lapangan Kp. Burujul, Desa Pusparahayu, Kecamatan Puspahiang

 

Tasik 14 (191219)

Foto 3. Retakan pada rumah sebelah timur di Kp. Cigadung RT.2, Desa Pusparahayu, Kecamatan Puspahiang

 

Tasik 15 (191219)

Foto 4. Dampak pergerakan tanah terjadi retakan pada kolam air di Kp. Cigadung RT.2. Posisi kolam air yang berada pada tekuk lembah/lereng menjadi beban lereng sehingga terjadi pergerakan kearah timur (panah merah)

 

Tasik 16 (191219)

Foto 5. Air permukaan di Kp. Cigadung RT.2, Desa Pusparahayu, Kecamatan Puspahiang yang tidak terkendali, membuat genangan dan menambah bobot tanah

 

Tasik 17 (191219)

Foto 6. Retakan pada tembok rumah di daerah Kp. Burujul RT.3, Desa Pusparahayu, Kecamatan Puspahiang

 

Tasik 18 (191219)

Foto 7. Retakan pada rumah dan jalan di Kp. Jajaway RT.4, Desa Pusparahayu, Kecamatan Puspahiang

 

Tasik 19 (191219)

Foto 8. Kelerangan yang curam rumah dan jalan di Kp. Jajaway RT.4, Desa Pusparahayu, Kecamatan Puspahiang

 

Tasik 20 (191219)

Foto 9. Morfologi perbukitan bergelombang sedang-kuat di Kp. Jajaway RT.4, Desa Pusparahayu, Kecamatan Puspahiang. Panah merah adalah potensi pergerakan tanah kearah timur-tenggara.

 

Tasik 21 (191219)

Foto 10. Batuan yang terkekarkan kuat sehingga mudah terjadi pergeseran tanah di Kp. Jajaway RT.4, Desa Pusparahayu, Kecamatan Puspahiang

 

Tasik 22 (191219)

Foto 11. Himbauan untuk tidak mendirikan rumah pada lereng yang dipotong di Kp. Siangajaya RT.1, Desa Puspahiangsari, Kecamatan Puspahiang