Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat

Kajian Teknis lokasi bencana gerakan tanah di Desa Lewo Baru dan Desa Mekarmulya, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, kami sampaikan hasil pemeriksaan sebagai berikut:

A. Desa Lewo Baru, Kecamatan Malangbong

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Bencana gerakan tanah terjadi di Kp. Lewo Kidul RT.03 dan RT.02, Desa Lewo Baru, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Secara geografis terletak pada koordinat 108° 03' 07,5" BT dan 7° 04' 10,6" LS. Gerakan tanah terjadi pada hari Rabu, 23 Oktober 2019.

2. Dampak Gerakan Tanah :

Dampak gerakan tanah di daerah bencana menyebabkan:

  • 1 (satu) bangunan rusak dan terancam;
  • 5 (lima) bangunan terancam;
  • Lahan perkebunan terancam.

3. Kondisi daerah bencana :

Morfologi:

Secara umum morfologi daerah penyelidikan merupakan daerah punggungan landai hingga agak curam, dengan kemiringan lereng 10° - 30°. Elevasi lokasi gerakan tanah di ketinggian sekitar 674 - 692 meter di atas permukaan laut (m dpl).

Geologi:

Berdasarkan peta Geologi Lembar Garut dan Pameungpeuk, Jawa (M. Alzwar dkk., 1992), daerah penyelidikan termasuk kedalam batuan hasil gunung api tua dari gunung sadakeling (QTvd) yang berupa breksi gunung api, breksi aliran, tufa dan lava bersusunan andesit – basal.

Berdasarkan hasil penyelidikan dilapangan, lokasi penyelidikan pada bagian atas tersusun oleh hasil pelapukan dari batuan hasil gunung api tua dari gunung sadakeling bersifat lepas dengan ketebalan 20 meter.

Tata Guna Lahan

Pada lereng bagian atas terdapat pemukiman yang terkonsentrasi pada bagian punggungan (bagian timur) dan kebun campuran serta pohon bamboo pada area retakan atas hingga lembah.

Keairan

Konsumsi air penduduk berasal dari sumur gali dengan kedalaman 16 meter. Pada saat musim kemarau hampir seluruh sumur mengalami kekeringan.

Kerentanan Gerakan Tanah

Berdasarkan Peta Prakiraan Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan November 2019 di Kabupaten Garut (Badan Geologi), daerah bencana terletak pada zona potensi terjadi gerakan tanah rendah, artinya pada zona ini jarang terjadi gerakan tanah jika tidak mengalami gangguan pada lereng, dan jika terdapat gerakan tanah lama, lereng telah menutup kembali.

Kondisi Gerakan Tanah

Gerakan tanah pada lokasi bencana merupakan tipe rayapan yang dicirikan dengan adanya tiga retakan yang cukup besar mengarah relatif ke barat dengan arah relatif N 250º E - N 300º E, dengan dimensi panjang 35 - 130 meter, lebar 5 – 30 cm, kedalaman 1 – 6 meter. Hampir seluruh retakan tidak memotong rumpun bambu.

Berdasarkan hasil geolistrik, karakter dari tahanan jenis listrik tanah pelapukan di lokasi gerakan tanah memiliki nilai tahanan jenis yang rendah 9,9 – 34,3 (berwarna biru), batuan yang relatif mempunyai kandungan fluida lebih tinggi daripada batuan yang lain (berwarna hijau sampai merah).

 

4. Faktor penyebab gerakan tanah

Secara umum, faktor penyebab gerakan tanah pada lokasi tersebut adalah:

  • Kemiringan lereng yang agak landai – agak curam (10º – 30º);
  • Tanah pelapukan dari hasil produk gunung api Sadakeling yang tebal dan bersifat lepas dan mudah retak pada saat musim kemarau;
  • Pada bagian atas terdapat lahan terbuka yang dijadikan pemukiman dan kebun campuran serta pohon bambu;
  • Kurangnya tanaman keras di tebing bagian atas;
  • Adanya rumpun bambu yang tumbuh di lereng bagian tengah dan atas;
  • Hembusan angin kencang (berdasarkan informasi masyarakat disekitar lokasi kejadian).

5.  Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah:

Lokasi kejadian gerakan tanah merupakan lahan terbuka yang merupakan tanah pelapukan vulkanik bersifat lepas serta ditumbuhi oleh rumpun bambu. Wilayah ini merupakan daerah yang selalu di lewati oleh angin kencang berdasarkan informasi dari pemerintah daerah dan masyarakat setempat. Hembusan angin kencang ini ditenggarai memicu tarikan pada rumpun bambu sehingga membentuk gerakan tanah tipe rayapan yang di indikasikan oleh adanya retakan-retakan struktur yang membentuk mahkota/tapal kuda yang mengarah ke lereng bagian bawah ke arah N 250º E - N 300º E.

6. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, dapat disimpulkan bahwa:

  • Daerah bencana di Lewo Kidul RT.03 dan RT.02, Desa Lewo Baru, Kecamatan Malangbong pada saat ini masih berpotensi berkembangnya gerakan tanah tipe rayapan (retakan) menjadi longsoran utamanya saat terjadinya curah hujan di atas normal.
  • Rayapan merupakan jenis gerakan tanah tipe lambat yang dapat berkembang menjadi tipe cepat dan diperkirakan dapat menyebabkan rusaknya bangunan, sarana jalan dan ketidaknyaman bertempat tinggal.

 

B. Desa Mekarmulya, Kecamatan Malangbong

 

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Bencana gerakan tanah terjadi di Kp. Cikadongdong RT.05 RW.03, Desa Mekarmulya, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Secara geografis terletak pada koordinat 108° 5' 20,7744" BT dan 7° 5' 22,9812" LS. Gerakan tanah terjadi pada hari Selasa, tanggal 29 Oktober 2019.

2. Dampak Gerakan Tanah :

Dampak gerakan tanah di daerah bencana menyebabkan:

  • Jalan Desa terancam;
  • Lahan perkebunan terancam.

3. Kondisi daerah bencana :

Morfologi:

Secara umum morfologi daerah penyelidikan merupakan morfologi tapal kuda yang dibatasi oleh bagian landai pada bagian puncaknya (10° - 16°), dan lereng dengan kemiringan pada bagian tengah agak curam hingga agak terjal. Elevasi lokasi gerakan tanah di ketinggian sekitar 888 – 901 m dpl.

Geologi:

Berdasarkan peta Geologi Lembar Garut dan Pameungpeuk, Jawa (M. Alzwar dkk., 1992), daerah penyelidikan termasuk kedalam batuan hasil gunung api tua dari gunung sadakeling (QTvd) yang berupa breksi gunung api, breksi aliran, tufa dan lava bersusunan andesit – basal.

Berdasarkan hasil penyelidikan dilapangan, lokasi penyelidikan pada bagian atas tersusun oleh hasil pelapukan dari batuan hasil gunung api tua dari gunung sadakeling bersifat lepas dengan ketebalan 20 meter.

Tata Guna Lahan

Pada lereng bagian atas merupakan tanah terbuka yang ditanami oleh tanaman semusim dan pohon bambu pada bagian lereng tengah yang berbatasan dengan jalan desa.

Keairan

Kondisi keairan pada daerah perkebunan rakyat bergantung pada curah hujan.

Kerentanan Gerakan Tanah

Berdasarkan Peta Prakiraan Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan November 2019 di Kabupaten Garut (Badan Geologi), daerah bencana terletak pada zona potensi terjadi gerakan tanah menengah, artinya pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dapat aktif kembali akibat curah hujan tinggi dan erosi kuat.

Kondisi Gerakan Tanah

Gerakan tanah pada lokasi bencana merupakan tipe rayapan yang dicirikan dengan adanya dua retakan yang cukup besar mengarah relatif ke utara dengan arah relatif N 20º E - N 340º E, dengan dimensi panjang 57 - 62 meter, lebar 5 – 30 cm, kedalaman 1 – 6 meter. Hampir seluruh retakan tidak memotong rumpun bambu.

4. Faktor penyebab gerakan tanah

Secara umum, faktor penyebab gerakan tanah pada lokasi tersebut adalah:

  • Kemiringan lereng yang agak landai – agak curam (10º – 30º);
  • Tanah pelapukan dari hasil produk gunung api Sadakeling yang tebal dan bersifat lepas dan mudah retak pada saat musim kemarau;
  • Pada bagian atas terdapat lahan terbuka yang dijadikan pemukiman dan kebun campuran serta pohon bambu;
  • Kurangnya tanaman keras di tebing bagian atas;
  • Adanya rumpun pohon bambu yang tumbuh di lereng bagian tengah dan atas;
  • Hembusan angin kencang (berdasarkan informasi masyarakat disekitar lokasi kejadian).

5. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah:

Lokasi kejadian gerakan tanah merupakan lahan terbuka yang merupakan tanah pelapukan vulkanik bersifat lepas serta ditumbuhi oleh rumpun bambu. Wilayah ini merupakan daerah yang selalu di lewati oleh angin kencang berdasarkan informasi dari pemerintah daerah setempat. Hembusan angin kencang ini ditenggarai memicu tarikan pada rumpun bambu sehingga membentuk gerakan tanah tipe rayapan yang di indikasikan oleh adanya retakan-retakan struktur yang membentuk mahkota/tapal kuda yang mengarah ke lereng bagian bawah. Retakan bertambah besar dipengaruhi juga oleh tanaman yang berakar kuat di bagian atas kebun bambu.

6.. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, dapat disimpulkan bahwa:

  • Daerah bencana di Kp. Cikadongdong RT.05 RW.03, Desa Mekarmulya, Kecamatan Malangbong pada saat ini masih berpotensi berkembangnya gerakan tanah tipe rayapan (retakan) menjadi longsoran utamanya saat terjadinya curah hujan di atas normal.
  • Tipe rayapan merupakan jenis gerakan tanah tipe lambat yang dapat berkembang menjadi tipe cepat dan diperkirakan dapat menyebabkan rusaknya bangunan, sarana jalan dan ketidaknyaman bertempat tinggal.

7. Rekomendasi Teknis

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan dan untuk mengantisipasi potensi ancaman saat turunnya curah hujan tinggi, maka direkomendasikan sebagai berikut:  

Rekomendasi Umum 

  • Masyarakat yang berada dan beraktivitas di sekitar lokasi longsoran agar selalu waspada terutama pada saat terjadi hujan deras atau angin kencang;
  • Retakan yang ada dan jika muncul retakan baru agar segera ditutup menggunakan tanah lempung/liat dan dipadatkan agar air tidak masuk ke dalam area retakan. Hal ini untuk mencegah masuknya air melalui retakan tersebut dan mencegah terjadinya longsoran tipe cepat. Jika retakan terus berkembang segera dilaporkan kepada pemerintah daerah setempat;
  • Melakukan penataan drainase secara keseluruhan dengan konstruksi yang kedap air serta membangun dan mengarahkan talang air menjauhi retakan serta langsung dialirkan ke lereng bawah yang landai / lembah/arah sungai;
  • Untuk menjaga kestabilan lereng dan mengurangi laju erosi dari limpasan air hujan
  1. Agar melandaikan lereng berbentuk terasering
  2. Memelihara vegetasi/tanaman keras berakar kuat dan dalam di daerah lereng terjal;
  3. Dengan pembuatan penahan lereng (rekayasa tekhnis) yang mengikuti kaidah – kaidah geotek (misalnya tembok penahan tebing);
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah;
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.

 

Rekomendasi Khusus

A. Desa Lewo Baru, Kecamatan Malangbong
  • Rumah-rumah yang mengalami retak agar:
  1. Dibangun/diganti dengan konstruksi sederhana berupa rumah panggung agar tidak menambah beban lereng;
  2. Rumah yang berbatasan dengan lereng disarankan untuk direlokasi ke tempat yang lebih aman;
  • Untuk mengurangi terjadinya retakan akibat tarikan dari rumpun bambu, agar tetap menjaga keberadaannya, tapi dikurangi jumlah dan tingginya;
  • Memasang rambu peringatan rawan longsor serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya gerakan tanah.
B. Desa Mekarmulya, Kecamatan Malangbong
  • Untuk menghindari potensi tertutupnya jalan desa akibat longsor agar menutup rekahan yang ada;

 

Malangbong-1

Gambar 1. Lokasi gerakan tanah di Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat.

Malangbong-2
Gambar 2. Peta Geologi lokasi gerakan tanah di Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat.

Malangbong-3
Gambar 3. Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah di Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat.

Malangbong-4

Gambar 4. Peta Situasi Gerakan Tanah di Desa Lewo Baru, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat.

Malangbong-5
Gambar 5. Penampang Gerakan Tanah di Desa Lewo Baru, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat.

Malangbong-6
Gambar 6. Peta Situasi Gerakan Tanah di Desa Mekarmulya, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat.

Malangbong-7
Gambar 7. Penampang Gerakan Tanah di Desa Mekarmulya, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. 

Malangbong-8
Gambar 8. Penampang tahanan batuan bawah permukaan di Desa Lewo Baru, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat.

foto-1

Foto 1. Retakan-retakan yang terjadi di sekitar Kp. Lewo Kidul RT.03, Desa Lewo Baru, Kecamatan Malangbong, dimana disekelilingnya ditanami pohon bambu.

foto-2
Foto 2. Pemasangan alat geolistrik di Kp. Lewo Kidul RT.03, Desa Lewo Baru, Kecamatan Malangbong untuk mengetahui kondisi dibawah permukaan.

foto-3
Foto 3. Kondisi bangunan rumah warga Kp. Lewo Kidul RT.03 yang rusak akibat retakan.

foto-4
Foto 4. Pengukuran dan pengambilan data oleh Tim PVMBG di lokasi retakan dengan didampingi oleh BPBD Kabupaten Garut, aparat Desa Lewo Baru dan Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut

foto-5
Foto 5. Retakan-retakan yang terjadi di sekitar Kp. Cikadongdong RT.05 RW.03, Desa Mekarmulya, Kecamatan Malangbong, dimana disekelilingnya ditanami pohon bambu.

foto-6
Foto 6. Tim PVMBG, Badan Geologi, Kementerian ESDM melakukan penyelidikan di lokasi retakan dengan didampingi oleh BPBD Kab. Garut, aparat Desa dan Kecamatan Malangbong.