Gempa Bumi Karangasem Tanggal 13 Desember 2022 Provinsi Bali

Laporan singkat hasil pemeriksaan gempa bumi di Karangasem, Provinsi Bali, yang dilakukan oleh Tim Tanggap Darurat (TTD) Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, sebagai berikut :

1. Parameter Gempa Bumi

Gempa bumi Karangasem terjadi pada hari Selasa, 13 Desember 2022. Gempa pertama dengan magnitudo 4.8 terjadi pada pukul 17:56:41 WITA disusul oleh gempa M 4.7 pada pukul 18:00:42 WITA dan gempa utama pada pukul 18:38:24 (M 5.2). Gempa utama ini diikuti oleh sejumlah gempa susulan, hingga tanggal 14 Desember 2022, pukul 09:00 WITA, tercatat ada 62 gempa bumi susulan.

Menurut BMKG, GFZ, maupun BMKG, gempa utama memiliki mekanisme patahan naik dengan arah relatif barat-timur, sejajar dengan Patahan Busur Belakang Flores. Dengan memperhatikan lokasi, kedalaman episenter dan mekanisme patahan, dapat patut diduga bahwa Gempa Karangasem ini berasosiasi dengan aktivitas Patahan Busur Belakang Flores.

2. Kondisi Geologi dan Potensi Bahaya Gempa Bumi

Sebagian besar wilayah Karangasem disusun oleh batuan gunung api Kuarter, yaitu lahar dan tuf Buyan-Bratan (Qpbb), breksi-lava Buyan-Bratan (Qvbb), aglomerat-lava-tuf Batur (Qhvb), aglomerat-lahar-lava-tuf-ignimbrit Batur (Qhvb) serta perselingan breksi dan lava Seraya (Qpvs).

Batuan permukaan di Bali didominasi oleh satuan Qpbb, sementara di Karangasem, satuan ini menempati wilayah paling timur di sepanjang perbatasan dengan Kabupaten Buleleng, Bangli dan Gianyar serta bagian selatan kabupaten. Secara total, Qpbb tersingkap di 30% wilayah kabupaten ini. Masih di sisi timur, di perbatasan dengan Kabupaten Bangli, Qvbb tersingkap secara terbatas. Sedangkan Qhvb hanya tersingkap di sebelah barat Danau Batur. Sebagian besar (40%) wilayah Karangasem disusun oleh batuan hasil erupsi G. Batur berupa aglomerat, lahar, lava, tuf dan ignimbrit (Qhvb). Sementara itu, Qpvs menyusun sekitar 15% wilayah Karangasem.

Selain batuan gunung api Kuarter, di Kabupaten Karangasem juga tersingkap perselingan breksi gunung api, lava, tuf dengan sisipan batuan sedimen gampingan berumur Oligo-Miosen dari Formasi Ulakan (Tomu). Formasi Ulakan mendominasi wilayah selatan kabupaten ini membentuk morfologi perbukitan dan pantai bertebing terjal.

Batuan termuda yang tersingkap di daerah ini adalah satuan Aluvium (Qal) yang berkomposisi kerakal, kerikil, lanau dan lempung. Endapan termuda ini hanya sedikit tersingkap (sekira 5%) di sepanjang aliran dan muara sungai di wilayah utara dan timur Kabupaten Karangasem (Gambar 1, Purbo-Hadiwidjojo dkk, 1998)

Peta kekerasan batuan permukaan menunjukkan bahwa Kabupaten Karangasem disusun oleh sedikit batuan kelas E (batuan lunak, Vs30 < 180 m/s) di pantai utara dan timur, kelas D (tanah kaku, Vs30 = 180-360 m/s), serta sebagian besar tanah kelas C (tanah padat dan batuan lunak, Vs30 = 360-760 m/s), terutama di daerah dengan morfologi perbukitan bergelombang (Gambar 2).

Peta bahaya gempa bumi (KRBG) yang dikeluarkan oleh Badan Geologi menunjukkan bahwa sebagian besar kawasan pantai utara dan timur Kabupaten Karangasem termasuk ke dalam wilayah rawan tinggi yang berpotensi dilanda guncangan dengan intensitas VIII atau lebih. Lembah di antara dua Gunung Agung dan Seraya juga termasuk ke dalam wilayah rawan tinggi. Bagian tengah, wilayah yang bermorfologi perbukitan bergelombang termasuk ke dalam wilayah dengan kerawanan menengah. Sementara wilayah sempit di sekitar Bebandem dan Selat termasuk wilayah dengan tingkat kerawanan rendah terhadap guncangan gempa bumi (Gambar 3).

3. Penyebab Gempa Bumi

Menurut BMKG, GFZ, maupun BMKG, gempa utama memiliki mekanisme patahan naik dengan arah relatif barat-timur, sejajar dengan Patahan Busur Belakang Flores. Dengan memperhatikan lokasi, kedalaman episenter dan mekanisme patahan, dapat patut diduga bahwa Gempa Karangasem ini berasosiasi dengan aktivitas Patahan Busur Belakang Flores.

4. Gempa Bumi Susulan

Gempa bumi utama didahului oleh 2 gempa permulaan dengan magnitudo masing-masing M 4.8 dan M 4.7. Kedua gempa tersebut terjadi masing-masing pada pukul 17:56:41 dan 18:00:42 WITA. Hingga tanggal 14 Desember 2022, pukul 09:00 WITA, tercatat ada 62 gempa bumi susulan, dengan magnitudo terbesar M 4.5 dan magnitudo terkecil adalah M 2.1. Tidak satu pun gempa susulan menyebabkan kerusakan bangunan walaupun enam gempa susulan dapat dirasakan oleh warga Karangasem.

5. Dampak Gempa Bumi

Menurut penuturan penduduk, di kota Amlapura dan Kecamatan Abang, guncangan gempa terasa dalam arah kiri-kanan sementara gempa pada Oktober 2021, guncangan gempa terasa turun-naik. Selain itu menurut penduduk kedua tempat tersebut, guncangan gempa kali ini lebih kencang dibandingkan gempa Oktober 2021. Sebaliknya bagi penduduk Desa Ban dan sekitarnya, guncangan gempa tahun lalu lebih kuat dibandingkan gempa Desember 2022.

Gempa pertama (M 4.8) telah menyebabkan kerusakan ringan pada beberapa bangunan di Kabupaten Karangasem, Kemudian gempa utama (M 5.2) menyebabkan kerusakan pada lebih banyak bangunan. Berdasarkan hasil pemeriksaan, wawancara dan koordinasi dengan BPBD Kabupaten Karangasem, didapatkan data dampak gempa bumi terhadap bangunan seperti tercantum pada Tabel 1.

Secara umum, guncangan Gempa Karangasem 13 Desember 2022 memberikan dampak ringan dan nyaris merata di 8 kecamatan yang ada di Kabupaten Karangasem, dengan intensitas berkisar III-V MMI. Guncangan dengan intensitas V dirasakan oleh penduduk di Lingkungan Gelumpang, Kelurahan Karangasem (menyebabkan 16 rumah rusak ringan) dan di Banjar Dinas Tunas Sari, Desa Tianyar (12 rumah rusak ringan). Intensitas IV dirasakan oleh penduduk di beberapa Desa Tianyar, Tianya Barat dan Tianyar Tengah (Kecamatan Kubu) serta Desa Bebandem (Kecamatan Bebandem). Wilayah lain di Kecamatan Karangasem mengalami guncangan gempa dengan intensitas III MMI (Gambar 1, 2, 3).

Jika merujuk pada peta geologi (Gambar 1), daerah yang mengalami MMI IV-V di pantai utara adalah daerah yang disusun oleh lahar dan tuf Butan-Brayan (Qpbb). Sementara itu Nasution dkk (2004) secara spesifik menyebut bahwa daerah tersebut disusun oleh produk tua Gunung Agung yang terdiri dari lava, aliran piroklastik, surge, dan aliran piroklastik yang tebal dan umumnya sudah lapuk (Bav). Daerah dengan intensitas IV-V di Desa Bebandem dan Kelurahan Karangasem juga disusun oleh batuan produk erupsi Gunung Agung (PurboHadiwidjojo dkk, 1998)

Peta Vs30 memperlihatkan bahwa titik kerusakan bangunan paling banyak terdapat pada daerah yang disusun oleh tanah kelas C, yaitu sebanyak 43 titik. Sementara di daerah yang disusun oleh tanah yang lebih lunak, kelas D dan E, jumlah titik kerusakan masing-masing 19 dan 3 titik (Gambar 2). Hal ini menunjukkan bahwa jenis bangunan harus disesuaikan dengan geologi lokal agar tidak terjadi interferensi antara gelombang gempa, tanah setempat, dan jenis bangunan.

Selain itu BPBD Karangasem juga melaporkan adanya 10 warga yang terluka baik akibat terkena jatuhan material bangunan maupun luka bakar akibat kepanikan melanda saat menjerang air. Perincian korban luka adalah sebagai berikut:

  1. 1 orang luka di Lingkungan Jasri Kaler, Kelurahan Subagan, Kecamatan Karangasem
  2. 1 orang luka bakar d Lingkungan Galiran, Kelurahan Subagan
  3. 1 orang luka bakar di Lingkungan Tengah Subagan, Kelurahan Subagan
  4. 1 warga terluka di kepala terkena jatuhan genteng di Banjar Dinas Tri Wangsa, Desa Macang, Kec. Bebandem
  5. 1 orang mengalami retak tulang di Banjar Dinas Penginyahan Desa Tianyar Tengah, Kec. Kubu
  6. 1 orang mengalami retak tulang di Kalanganyar
  7. 1 orang mengalami luka di kepala Br. Lebah, Desa Purwakerthi, Abang
  8. 1 orang mengalami cedera punggung di Dusun Magetelu, Desa Tista, Abang
  9. 1 orang luka di Dusun Pikat, Desa Ababi, Abang

 

6. Kesimpulan
  1. Gempa Karangasem dengan magnitudo Mw 5.2 ini menghasilkan guncangan dengan intensitas maksimum IV-V MMI. Guncangan sebesar ini harusnya tidak menimbulkan kerusakan tapi kerusakan ringan tetap terjadi pada beberapa puluh bangunan.
  2. Dampak paling besar dialami oleh Lingkungan Gelumpang, Kelurahan Karangasem dan Banjar Dinas Tunas Sari, Desa Tianyar (V MMI). Sementara di Desa Tianya Barat dan Tianyar Tengah (Kecamatan Kubu) serta Desa Bebandem (Kecamatan Bebandem) dan mengalami guncangan IV MMI dan wilayah lain mengalami intensitas lebih kecil (III MMI).
  3. Kerusakan di Desa Tianyar, Tianya Barat, dan Tianyar Tengah (Kecamatan Kubu) disebabkan lokasi yang paling dekat dengan sumber gempa bumi. Sementara Desa Bebandem (Kecamatan Bebandem) dan Kelurahan Karangasem (Kecamatan Karangasem) mungkin disebabkan oleh adanya amplifikasi.
  4. Sejak abad XX Kabupaten Karangasem paling tidak pernah mengalami 7 kali gempa bumi merusak dengan magnitudo 6.2 atau lebih kecil. Walaupun magnitudo kecil (M 5.6) Gempa Culik pada 18 Desember 1979 menyebabkan kerusakan parah di Desa Culik (MMI VIII). Beberapa gempa berepisenter di darat (29-7-2021 dan 16-10-2021), beberapa di Selat Lombok atau Laut Bali (20-10-1979, 18-12-1979, 2-1-2004 dan 6-122018) dan 1 di selatan (22-8-2021). Semua gempa tersebut menimbulkan kerusakan di wilayah antara G. Batur dan G. Agung. Bahkan pada tanggal 22-8-2021, gempa dengan magnitudo 5.8 dan berpusat di selatan Bali menyebabkan kerusakan di Desa Ban, sementara di wilayah terdekat pusat gempa tidak terjadi dampak apa pun terhadap bangunan. Hal ini mungkin ada kaitannya dengan amplifikasi oleh batuan vulkanik atau struktur bawah permukaan di sini.

7. Rekomendasi

  1. Masyarakat bekerja sama dengan petugas BNPB, BPBD, dan satuan kerja pemerintah daerah untuk sehingga warga dapat mengetahui informasi yang benar mengenai gempa dan tsunami dan dapat mengambil tindakan yang tepat selama masa tanggap darurat dan rehabilitasi-rekonstruksi.
  2. Warga yang rumahnya tidak mengalami kerusakan sebaiknya segera kembali ke rumah masing-masing dan beraktivitas seperti biasa. Sementara warga yang rumahnya mengalami kerusakan segera melapor kepada aparat pemerintah agar kerusakan segera dapat diverifikasi dan tahap rehabilitasi-rekonstruksi dapat segera dilaksanakan.
  3. Sejak awal abad XX telah terjadi 7 kali gempa yang menyebabkan kerusakan di Kabupaten Karangasem, semua gempa tersebut menimbulkan kerusakan di wilayah antara G. Batur dan G. Agung. Oleh karena itu perlu adanya penyelidikan khusus mengenai struktur tanah di wilayah tersebut.
  4. Bangunan vital/strategis dan mengundang konsentrasi banyak orang serta permukiman yang berada di daerah rawan gempa bumi agar dibangun mengikuti kaidah bangunan konstruksi tahan gempa bumi.
  5. Perlu lebih ditingkatkan kegiatan sosialisasi tentang bencana geologi oleh Pemerintah Daerah (Provinsi/Kabupaten) kepada masyarakat di daerah rawan gempa bumi untuk meningkatkan pengetahuan dan kewaspadaan masyarakat tentang upaya penanganan bencana gempa bumi.

karangasem-1

Gambar 1: Episenter (gempa pendahuluan, utama dan susulan) dan lokasi kerusakan akibat Gempa Karangasem tanggal 13 Desember 2022  ditumpang-susun dengan Peta Geologi Karangasem (Purbo-Hadiwidjojo dkk, 1998).

karangasem-2
Gambar 2: Episenter (gempa pendahuluan, utama dan susulan) dan lokasi kerusakan akibat Gempa Karangasem tanggal 13 Desember 2022  ditumpang-susun dengan peta Vs30. 

karangasem-3


Gambar 3: Episenter (gempa pendahuluan, utama dan susulan) dan lokasi kerusakan akibat Gempa Karangasem tanggal 13 Desember 2022  ditumpang-susun dengan peta KRB Gempa Bumi.

Tabel 1. Dampak Gempa Bumi Karangasem Tanggal 13 Desember 2022 terhadap bangunan (diolah dari data BPBD Karangasem).

 

tabel-1_1

tabel-1_2

tabel-1_3

tabel-1_4

tabel-1_5

tabel-1_6

 

karangasem-4

Gambar 4. Koordinasi dengan BPBD Karangasem, Petugas RSUD Karangasem, Petugas Puskesmas 2 Abang, dan area pemasangan tenda BPBD di halaman RSUD Karangasem.

 

karangasem-5

Gambar 5. Beberapa kerusakan yang diakibatkan gempa Karangasem 13 Desember 2022.