Laporan Dan Rekomendasi Teknis Gempa Bumi, Tanggal 1 Oktober 2022 Di Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara

Laporan dan rekomendasi teknis hasil pemeriksaan lapangan kejadian gempa bumi tanggal 1 Oktober 2022 di Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatra Utara yang dilakukan oleh Tim Tanggap Darurat (TTD) Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi (BG) sebagai berikut :

Parameter Gempa Bumi

 Gempa bumi utama terjadi pada hari Sabtu, tanggal 1 Oktober 2022, pukul 02:28 WIB. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), lokasi pusat gempa bumi terletak di wilayah Kabupaten Tapanuli Utara pada koordinat 98,89° BT dan 2,13° LU, berjarak sekitar 15 km barat laut Kecamatan Tarutung (ibu kota Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatra Utara), dengan magnitudo M6,0 pada kedalaman 10 km. Menurut informasi dari The United States Geological Survey (USGS) Amerika Serikat, lokasi pusat gempa bumi terletak pada koordinat 98,897° BT dan 2,089° LU dengan magnitudo M5,9 pada kedalaman 13,2 km. Berdasarkan data GeoForschungsZentrum (GFZ), Jerman, lokasi pusat gempa bumi berada pada koordinat 98,86° BT dan 2,06° LU, dengan magnitudo 5,7 Mw pada kedalaman 10 km.

Kondisi Geologi Daerah Bencana Gempa Bumi

Pusat gempa bumi terletak di darat, di wilayah Kabupaten Tapanuli Utara. Morfologi daerah sekitar pusat gempa bumi merupakan perbukitan bergelombang sebagai daerah yang tersesarkan dan sebagian kecil pedataran (Tarutung) yang merupakan Pull-Apart Basin. Secara litologi, wilayah ini tersusun dominan oleh endapan Kuarter berupa batuan rombakan gunung api muda dan sebagian lainnya berupa batuan berumur Tersier. Sebagian batuan berumur Tersier tersebut telah mengalami pelapukan. Endapan Kuarter dan batuan berumur Tersier yang telah mengalami pelapukan bersifat lunak, lepas, belum kompak (unconsolidated) dan memperkuat efek guncangan, sehingga rawan gempa bumi. Selain itu, pada morfologi perbukitan dan tersusun oleh batuan yang telah mengalami pelapukan berpotensi terjadi gerakan tanah yang dapat dipicu oleh guncangan gempa bumi kuat dan curah hujan tinggi.

Penyebab Gempa Bumi

 Berdasarkan lokasi pusat gempa bumi, kedalaman dan data mekanisme sumber dari BMKG dan GFZ Jerman, kejadian gempa bumi ini diakibatkan oleh aktivitas Sesar Sumatra pada Segmen Renun dengan mekanisme sesar mendatar menganan (dextral strike-slip) dengan kedudukan N143°E, dip 76° dan slip 166°.

Gempa Bumi Susulan

 Hingga tanggal 10 Oktober 2022, stasiun BMKG telah mencatat adanya 155 kejadian gempa bumi susulan setelah gempa bumi utama dengan kisaran magnitudo M5,0 – M1,7. Penduduk setempat dan TTD BG juga merasakan kejadian gempa bumi susulan tersebut. Pada umumnya, jumlah dan kekuatan kejadian gempa bumi susulan yang terjadi akan terus menurun, hal ini mengindikasikan bahwa blok batuan yang telah terpatahkan dan mengakibatkan terjadinya gempa bumi sedang menuju proses keseimbangan. Selama menuju proses keseimbangan akan dilepas energi sebagai gempa bumi susulan.

Dampak Gempa Bumi

 Berdasarkan data BNPB dan pengamatan lapangan, kejadian gempa bumi ini telah mengakibatkan terjadinya bencana yaitu : 1 orang meninggal dunia, 24 orang luka-luka, 1.591 bangunan mengalami kerusakan (rumah, tempat ibadah, ruas jalan, jembatan, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, dan kantor pemerintah). Kerusakan tersebut terjadi di Kabupaten Tapanuli Utara yaitu di Kecamatan Parmonangan, Sipoholon, Siatas Barita dan Tarutung. Selain korban jiwa dan kerusakan bangunan kejadian gempa bumi tersebut juga mengakibatkan terjadinya fenomena geologi permukaan berupa retakan tanah dan gerakan tanah/ longsoran yang dipicu guncangan gempa bumi.

Kerusakan yang terdapat di Kecamatan Parmonangan cukup luas. Informasi dari masyarakat guncangan gempa bumi terasa sangat keras dan berarah vertikal. Kerusakan bangunan berupa retakan dinding dan tanah pondasi terangkat. Jalan desa juga mengalami retakan tanah tipe lateral spreading berarah N 320°E. Retakan tanah ini mengarah ke lembah dan ditemukan longsor pada beberapa ruas jalan. Bangunan rumah ibadah mengalami rusak ringan. Batuan didominasi oleh endapan Tuff Toba. Skala intensitas gempa bumi diperkirakan VI MMI (Modified Mercally Intensity).

Informasi dari masyarakat di Kecamatan Sipoholon guncangan gempa bumi terasa sangat keras dan berarah vertikal. Masyarakat panik berlarian keluar. Barang di dalam rumah atau toko berjatuhan. Bangunan Museum dan Arsip HKBP mengalami kerusakan, retakan dinding dan terkelupas plesteran, dan retakan lantai bawah. Bangunan terletak di atas bukit, yang didominasi oleh endapan Tuff Toba. Secara umum tidak ditemukan kerusakan berat. Tidak ditemukan gerakan tanah atau retakan tanah di sepanjang jalan desa. Pada area komplek pemandian mata air panas di Desa Situmeang-Habinsaran terbentuk mineral travertine. Menurut informasi penduduk, air panas sempat berhenti/mengering setelah gempa bumi tanggal 1 Oktober 2022, namun muncul lagi setelah terjadi gempa bumi susulan. Terdapat retakan tanah dengan arah N 150o E dan mengeluarkan uap panas. Batuan didominasi oleh endapan Tuff Toba. Skala intensitas gempa bumi diperkirakan V MMI.

Kerusakan di Kecamatan Tarutung bagian kota pada umumnya tergolong kerusakan ringan berupa retakan dinding. Guncangan terasa keras dan pada beberapa lokasi seperti di jalan Desa Parbubu II ditemukan banyak retakan tanah. Jalan desa berada pada pinggir tebing dan lembah. Ditemukan juga beberapa rumah dengan kerusakan sedang. Rumah ini berdiri diatas tanah urugan yang sebelumnya berupa sawah/rawa. Pada Desa Hutapea-Banuarea ditemukan retakan tanah di jalan desa yang retak (kini retakannya sudah ditutup tanah). Beberapa rumah kayu pondasinya mengalami kerusakan. Batuannya masih dominan endapan Tuff Toba. Skala intensitas diperkirakan V MMI.

Dampak kerusakan di Kecamatan Siatas Barita ditemukan di Jalan Simorangkir berupa retakan tanah sepanjang 100 m searah jalan. Retakan tanah tersebut sudah ditutup oleh Dinas PUPR Kabupaten Tapanuli Utara. Tidak terdapat kerusakan pada rumah kayu. Kerusakan terjadi pada Gereja HKBP Pansurnapitu di Desa Pansurnapitu berupa retakan dinding dan jendela kaca pecah. Rumah di sekitar gereja tidak mengalami kerusakan yang signifikan. Daerah ini didominasi oleh endapan Tuff Toba. Skala intensitas gempa bumi diperkirakan V MMI.

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan memperlihatkan bahwa skala intensitas maksimum kejadian gempa bumi tersebut melanda daerah Kecamatan Parmonangan, Kabupaten Tapanuli Utara yang mencapai skala intensitas VI MMI. Hal ini dicirikan : terasa oleh semua orang; sebagian besar orang terkejut dan lari keluar; barang-barang di dalam rumah yaitu lemari bergeser, hiasan dinding jatuh, piring/ gelas jatuh dan pecah; retakan dinding dan plesteran terkelupas; retakan tanah dan gerakan tanah/ longsoran. Pengamatan lapangan memperlihatkan bahwa daerah yang mengalami kerusakan terletak pada kawasan rawan bencana gempa bumi tinggi. Hal ini sesuai dengan Peta Kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi Provinsi Sumatra Utara yang diterbitkan oleh Badan Geologi tahun 2012.

Selama melaksanakan kegiatan tanggap darurat bencana gempa bumi, disamping melakukan pemetaan dan pemeriksaan dampak gempa bumi tanggal 1 Oktober 2022 secara langsung di lapangan, TTD BG juga melakukan diskusi dengan masyarakat tentang mitigasi gempa bumi di daerah bencana dan melakukan pengukuran mikrotremor pada lokasi terpilih. Hasil pengukuran mikrotremor memperlihatkan bahwa nilai frekuensi tanah berkisar antara 1,06 Hertz (Hz) hingga 2,98 Hz yang tersusun oleh endapan Tuff Toba dan tergolong kelas tanah lunak hingga tanah sedang. Hal ini diperkirakan merupakan faktor yang turut mengakibatkan kerusakan bangunan selain kondisi bangunan tidak tahan gempa bumi. Pengamatan lapangan memperlihatkan bahwa bangunan yang mengalami kerusakan pada umumnya merupakan bangunan tembok, sedangkan bangunan kayu jarang yang mengalami kerusakan.

Kesimpulan

  • Kabupaten Tapanuli Utara merupakan wilayah rawan gempa bumi karena terletak dekat dengan sumber gempa bumi yaitu Sesar Sumatra. Kejadian gempa bumi tanggal 1 Oktober 2022 diakibatkan oleh Sesar Sumatra pada Segmen Renun dengan mekanisme sesar mendatar menganan pada kedudukan N143°E, dip 76° dan slip 166°.
  • Kejadian gempa bumi tanggal 1 Oktober 2022 telah mengakibatkan kerusakan bangunan dan fenomena geologi permukaan berupa retakan tanah dan gerakan tanah/ longsoran.
  • Kerusakan bangunan akibat kejadian gempa bumi tanggal 1 Oktober 2022 diakibatkan oleh beberapa faktor, yaitu : bangunan tidak menggunakan konstruksi bangunan tahan gempa bumi, dibangun pada tanah urugan dan pada kondisi tanah lunak, serta terletak pada bagian atas lereng.

Rekomendasi

  • Masyarakat dihimbau untuk tenang, mengikuti arahan dan informasi dari petugas BPBD setempat, dan tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan. Jangan terpancing oleh isu yang tidak jelas sumbernya tentang gempa bumi.
  • Bagi penduduk yang rumahnya mengalami kerusakan agar mengungsi ke tempat aman sesuai dengan arahan petugas.
  • Bangunan vital, strategis dan mengundang konsentrasi banyak orang agar dibangun mengikuti kaidah bangunan tahan gempa bumi. Selain itu juga harus dilengkapi dengan jalur dan tempat evakuasi.
  • Hindari membangun pada tanah urug dan tanah rawa yang tidak memenuhi persyaratan teknis, karena rawan terhadap guncangan gempa bumi.
  • Hindari membangun pada bagian bawah, pada lereng terjal yang batuannya telah mengalami pelapukan dan kondisi tanahnya gembur karena akan berpotensi terjadi gerakan tanah/ longsor yang dipicu oleh guncangan gempa bumi maupun curah hujan tinggi.
  • Pemerintah Provinsi Sumatra Utara dan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara agar lebih meningkatkan upaya mitigasi gempa bumi secara strukural dan non struktural untuk mengurangi risiko bencana gempa bumi yang mungkin akan terulang di kemudian hari.
  • Agar Pemerintah Provinsi Sumatra Utara, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara memasukkan materi kebencanaan geologi ke dalam kurikulum pendidikan agar para guru dan pelajar dapat meningkatkan kapasitas berkaitan dengan mitigasi bencana geologi.
  • Agar Pemerintah Provinsi Sumatra Utara melaksanakan kegiatan pemetaan geologi pasca kejadian bencana geologi. Hal ini sejalan dengan pasal 7 dan 9 Permen ESDM nomor 11 tahun 2016 tentang Penetapan KRB Geologi. Pemetaan geologi bertujuan untuk memetakan kerusakan tanah dan batuan akibat kejadian bencana geologi termasuk kejadian gempa bumi, dan peta ini menjadi data untuk revisi tata ruang. Oleh karena itu kami mohon kepada Pemerintah Provinsi Sumatra Utara agar mengalokasikan anggaran untuk melaksanakan kegiatan tersebut secara rutin guna mengantisipasi perulangan kejadian serupa. Untuk hasil kegiatan yang lebih optimal maka kegiatan ini dilakukan oleh SKPD yang memiliki tugas dan fungsi di bidang geologi.

Taput 2 (1022)

Gambar 1. Peta intensitas gempa bumi tanggal 1 Oktober 2022.

Taput 1 (1022)

Gambar 2. Kerusakan bangunan Museum dan Arsip HKBP di Kecamatan Sipoholon (gambar kiri). Sumber mata air Sipoholon yang sempat berhenti mengalir setelah gempa bumi utama dan setelah gempa bumi susulan muncul kembali (gambar kanan).

Taput 3 (1022)

Gambar 3. Kerusakan rumah penduduk yang berada pada lereng di Kecamatan Parmonangan (a). Retakan tanah di jalan antara Desa Hutatinggi dan Desa Lobusunut (b). Gerakan tanah di pinggir jalan menuju Desa Lobusunut.

Taput 4 (1022)

Gambar 4. Kerusakan jalan dan tanggul serta retakan tanah pada lereng dekat pemukiman di Desa Parbubu II, Kecamatan Tarutung.

Taput 5 (1022)

Gambar 5. Kerusakan Gereja HKBP Pansurnapitu dan kerusakan jalan di Desa Parbubu, Kecamatan Siatas Barita. Terdapat beberapa mata air panas di Desa Parbubu.