Temuan Endapan Paleotsunami Oleh Pvmbg Dan Sosialisasinya Di Pulau Ternate

Temuan Endapan Paleotsunami oleh PVMBG dan Sosialisasinya di Pulau Ternate

Oleh: Yudhicara

 

Kegiatan penyelidikan endapan tsunami oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi telah dilakukan pada tanggal 31 September  hingga 13 November 2022. Kegiatan ini dilakukan di sepanjang pesisir Pulau Ternate.

Berdasarkan survei pendahuluan yang dilakukan sebelum melakukan penyelidikan lapangan, diperoleh informasi bahwa baik pemerintah daerah maupun masyarakat setempat, tidak mengetahui sejarah tsunami di Pulau Ternate, mereka hanya mengenal sejarah letusan gunung api Gamalama, karena ada jejak letusannya, sehingga pencarian jejak tsunami menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan.

Di daerah Loto, dijumpai daerah pesisir dengan morfologi landai dengan pantai yang luas dan lebar, tersusun oleh pasir kasar berwarna kehitaman bercampur kerikil, kerakal hingga bongkah yang merupakan batuan produk gunung api Gamalama. Daerah ini merupakan estuari yang terbentuk dari muara beberapa sungai yang terhubung ke Laut Maluku. Daerah ini juga juga dikenal dengan nama Barangka Loto (Barangka artinya sungai), yang menjadi tempat aliran lahar, saat gunung api Gamalama memuntahkan hasil letusannya.

Masyarakat setempat memanfaatkan daerah ini untuk ditambang pasir dan batunya (bahan galian C). Di lokasi ini Tim dari PVMBG yang diketuai oleh Dr Yudhicara, S.T., M.Si., menemukan singkapan yang diduga sebagai endapan paleotsunami, yang keterdapatannya berada di bawah produk gunung api gamalama dengan jenis aglomerat dan breksi. Ketebalan produk gunung api tersebut adalah 7,3 m dengan jarak dari garis pantai sejauh 35 m. Luas area terduga menyimpan singkapan endapan paleotsunami hampir mencapai 200 m memanjang searah pantai. Sedangkan singkapan terbuka sepanjang 50 m, dan dilakukan penggalian secara vertikal.

Lapisan pertama terdiri dari tiga lapisan yang dibatasi oleh paleosoil di bagian atas dan di bagian bawahnya. Urutan endapan paleotsunami dari bawah ke atas, adalah sebagai berikut: lapisan bagian bawah memiliki ketebalan 1 cm, merupakan pasir kasar yang berwarna kuning kecoklatan, menunjukkan proses oksidasi; bagian tengah dari endapan paleotsunami adalah pasir sangat halus berwarna abu-abu dengan ketebalan 2 cm; sedangkan bagian atas endapan paleotsunami adalah lempung berwarna abu-abu kehijauan dengan ketebalan 2-3 mm. Lapisan pertama tersebut ditutupi secara tidak selaras oleh paleosoil berupa pasir kasar berwarna kehitaman dengan ketebalan 5 cm, sedangkan di bawah lapisan paleotsunami yang pertama tersebut dibatasi oleh paleosoil berupa pasir pantai purba berwarna abu-abu kehitaman dengan fragmen batuan yang memiliki orientasi hampir utara-selatan atau searah dengan arah singkapan dengan ketebalan 15 cm.

Setelah dilakukan penggalian secara vertikal ke arah bawah, dijumpai lapisan yang diduga sebagai endapan paleotsunami yang berumur lebih tua dengan ketebalan 1,8 cm, yang berdasarkan perbedaan warnanya, dapat dibagi menjadi tiga perlapisan bagian atas setebal 0,3 cm, berwarna abu-abu terang kehijauan, di bawahnya terdapat pasir sangat halus berwarna abu-abu terang setebal 1 cm dan lapisan ketiga adalah pasir halus berwarna abu-abu kecoklatan setebal 0,5 cm. 50 cm kemudian dijumpai terduga endapan paleotsunami yang ketiga yang berumur lebih tua dan lebih tebal. Namun di antara lapisan kedua dan ketiga, terdapat dua lapisan yang tegas, yang diduga sebagai endapan paleotsunami juga.

Berdasarkan peta geologi Gamalama yang dikeluarkan oleh Direktorat Vulkanologi (PVMBG Sekarang), tahun 1982, bahwa daerah Loto disusun oleh sebaran produk gunung api Gamalama Muda hasil letusan pada tahun 1907 (Gmlm1907), yang merupakan endapan lahar muda, yang terdiri dari bongkah andesit dan andesit basal yang memiliki bentuk butir meruncing tanggung sampai membulat tanggung di dalam matrik lanau dan pasir masih lepas (Bronto et al., 1982). Sedangkan di bawahnya diendapkan produk letusan gunung api Gamalama muda yang umurnya lebih tua, dengan jenis batuan yang diendapkan adalah lava blok jenis andesit basal hitam vesikuler dengan fenokris plagioklas sekitar 40% berbentuk subhedral.

Berdasarkan keterdapatan terduga endapan paleotsunami, yaitu di bawah endapan produk gunung api Gamalama hasil letusan tahun 1907, maka dapat disimpulkan bahwa lapisan paleotsunami termuda terjadi sebelum tahun 1907, sedangkan lapisan paleotsunami di bawahnya terjadi lebih dulu atau lebih tua, namun tidak ditemukan produk letusan gunung api di antaranya, maka diduga bahwa kejadian tsunami tersebut terjadi setelah letusan terakhir sebelum tahun 1907.

Merujuk hal tersebut, maka penulis menduga bahwa lapisan pertama endapan paleotsunami berasal dari kejadian tsunami tahun 1889, sedangkan lapisan-lapisan endapan paleotsunami lainnya, bisa saja terjadi pada tahun 1859, 1858, 1857 dan 1846.

Pada singkapan tersebut ditemukan lima lapisan paleotsunami yang dengan tegas dibatasi oleh batas erosional di masing-masing kontak lapisannya. Berdasarkan karakteristik dari masing-masing endapan paleotsunami tersebut, maka dapat diidentifikasi, bahwa lapisan pertama terdiri dari satu sekuen pengendapan yang menunjukkan gelombang yang datang hanya satu kali. Endapan paleotsunami yang kedua, ketiga dan keempat atau yang lebih tua dari endapan pertama, juga menunjukkan satu sekuen pengendapan, yang artinya gelombang yang datang hanya satu kali. Endapan paleotsunami yang kelima atau yang paling tua memperlihatkan lima sekuen pengendapan, yang menunjukkan bahwa gelombang tsunami yang datang sebanyak lima kali. Tidak menutup kemungkinan jika digali lebih dalam akan ditemukan endapan paleotsunami lainnya dari masa yang berbeda dengan umur yang lebih tua.

Endapan paleotsunami yang ditemukan di daerah Loto, penyebarannya cukup luas, namun pada endapannya diperlukan pengujian lebih lanjut apakah mengandung produk gunung api (misalnya abu gunung api) atau tidak, sehingga dapat diketahui penyebab tsunami, apakah murni akibat gempa bumi yang bersumber dari zona subduksi Punggungan Mayu, atau ada penyebab lainnya misalnya akibat letusan gunung api, baik Gamalama sendiri ataupun gunung api dari daerah lainnya, seperti Gunung Api Ruang dan Gunung Api Awu di Sangihe.

Keterdapatan endapan tsunami yang hanya dijumpai di lokasi tertentu, menunjukkan bahwa, diperlukan kriteria tertentu dalam menentukan lokasi yang dapat menyimpan jejak tsunami, antara lain: morfologi yang landai, tempat masuknya gelombang tsunami dan jarak genangan yang luas, serta tidak mengalami gangguan atau masih alami.

Dibandingkan dengan daerah lainnya di sepanjang pesisir di wilayah Ternate, daerah Loto memiliki morfologi yang landai, dan berada pada muara sungai, yang hingga saat ini masih alami dan belum ada aktivitas manusia. Hal ini disebabkan daerah ini adalah muara sungai yang pada musim hujan berpotensi banjir, dan pada saat terjadi letusan gunung api Gamalama, merupakan tempat mengalirkan aliran lahar.

Temuan jejak tsunami di daerah penyelidikan menjadi bukti yang dapat dijadikan pembelajaran bagi masyarakat setempat dan berbagai pihak yang terkait untuk mewaspadai potensi kejadian yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Untuk itu tim bekerjasama dengan pihak akademisi setempat untuk dapat mensosialisasikan bukti kejadian tsunami tersebut sebagai salah satu upaya mitigasi tsunami di Pulau Ternate.

Sosialisasi tersebut juga bertujuan sebagai pengetahuan yang dapat disebar luaskan dan disampaikan dari generasi yang satu ke generasi yang lainnya secara turun temurun. Sosialisasi dilakukan kepada Pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ternate, Pangkalan TNI AL (Lanal) Ternate, Pihak Akademisi yang ada di kota Ternate dan masyarakat khususnya yang tinggal di sekitar lokasi ditemukannya endapan paleotsunami. Ketua Tim dari PVMBG yang juga merupakan seorang Penyelidik Bumi Ahli Madya pada kesempatan tersebut memberikan Kuliah Lapangan kepada mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan, jurusan Geografi,

Untuk mendapatkan hasil interpretasi dan analisis yang akurat, dilakukan pengambilan sampel sedimen di setiap lapisan, dan juga sampel paleosoil yang membatasi masing-masing lapisan tersebut. Sampel sedimen tersebut akan dibawa ke laboratorium untuk dilakukan beberapa pengujian seperti analisis besar butir, kandungan mikrofauna dan penentuan umur lapisan (dating). Pihak PVMBG juga melakukan komunikasi dengan pakar tsunami Internasional dari United State Geological Survey (USGS), yang menjadi pengajar di Universitas Washington, Seattle yaitu Professor Brian F. Atwater, melalui komunikasi e-mail. Hasil temuan endapan paleotsunami ini akan disosialisasikan melalui publikasi, baik nasional maupun internasional.

 

 

gambar-1

Gambar 1. Penggalian dilakukan di Pantai Barangka Loto

 

gambar-2

Gambar 2. Sketsa singkapan temuan endapan paleotsunami

gambar-3

Gambar 3. Lapisan Pertama terduga endapan paleotsunami yang dibatasi secara tidak selaras oleh paleosoil di bagian atas dan bagian bawahnya.

gambar-4

Gambar 4. Lima lapisan terduga endapan paleotsunami (B, D, F, H dan J)

gambar-5

Gambar 5. Koordinasi dan sosialisasi dengan Pihak BPBD Kota Ternate

 

gambar-6

Gambar 6. Penyerahan Dokumen dari PVMBG kepada Kepala BPBD Kota Ternate, Bapak M. Ihsan Hamzah

gambar-7

Gambar 7. Sosialisasi kepada Pangkalan TNI AL Ternate diwakili oleh Pasops Lanal Ternate Mayor Laut (P) Ahmad Yani dan Anggota dari Pos TNI AL Togafo Bapak Azis.

gambar-8

Gambar 8. Memberikan Kuliah lapangan kepada mahasiswa semester 5 dan 7 Jurusan geografi STKIP Kie Raha Kota Ternate.

gambar-9

Gambar 9. Peserta Kuliah Lapangan Paleotsunami dari STKIP Kie Raha Ternate, diprakarsai oleh Ketua Program Studi jurusan Geografi, Dr. Syahrir Lukman, M.Pd.

gambar-10

Gambar 10. Memberikan Sosialisasi kepada Masyarakat di Lokasi ditemukannya Bukti Endapan Paleotsunami.