Analisis Geologi Kejadian Gempa Bumi Di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatra Barat, Tanggal 14 Maret 2022

1. Informasi gempa bumi

 Gempa bumi terjadi pada hari Senin, tanggal 14 Maret 2022, pukul 04:09:21 WIB. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), lokasi pusat gempa bumi terletak di Selat Siberut pada koordinat 98,5 BT dan 0,71 LS, berjarak sekitar 190,7 km barat laut Kota Tua Pejat, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatra Barat, dengan magnitudo (M6,9) pada kedalaman 25 km. Menurut informasi dari The United States Geological Survey (USGS) Amerika Serikat, lokasi pusat gempa bumi terletak pada koordinat 98,613 BT dan 0,658 LS dengan magnitudo (M6,7) pada kedalaman  21,8 km. Berdasarkan data GeoForschungsZentrum (GFZ), Jerman, lokasi pusat gempa bumi berada pada koordinat 98,62 BT dan 0,59 LS, dengan magnitudo (M6,7) pada kedalaman 19 km. Kejadian gempa bumi  ini diikuti oleh serangkaian gempa bumi susulan. 

2. Kondisi geologi dan penyebab gempa bumi

Daerah terdekat dengan lokasi pusat gempa bumi adalah Kepulauan Batu dan Pulau Siberut. Morfologi daerah terdekat yang terlanda guncangan gempa bumi merupakan dataran, dataran bergelombang dan perbukitan. Daerah tersebut pada umumnya tersusun oleh batuan berumur Pra Tersier berupa batuan metamorf, batuan berumur Tersier berupa batuan sedimen dan endapan Kuarter berupa endapan aluvial pantai dan sungai. Sebagian batuan berumur Pra Tersier dan Tersier tersebut telah mengalami pelapukan. Endapan Kuarter dan batuan berumur Pra Tersier dan Tersier yang telah mengalami pelapukan bersifat lunak, lepas, urai, belum kompak (unconsolidated) dan memperkuat efek guncangan, sehingga rawan gempa bumi. Selain itu morfologi perbukitan yang tersusun oleh batuan berumur Pra Tersier dan Tersier yang telah mengalami pelapukan berpotensi terjadi gerakan tanah. 
Berdasarkan kedudukan lokasi pusat gempa bumi dan data mekanisme sumber (focal mechanism) dari BMKG, USGS Amerika Serikat dan GFZ Jerman, maka kejadian gempa bumi tersebut diakibatkan oleh aktivitas zona subduksi pada zona interface (bidang gesek bagian atas pada zona penunjaman) dengan mekanisme sesar naik low angle (kedudukan N 305 E, dip 21 dan rake 72). Zona penunjaman ini terbentuk akibat tumbukan antara Lempeng Benua Eurasia dan Lempeng Samudera Indo-Australia yang membentang di sebelah barat Pulau Sumatera. 

3. Dampak gempa bumi

Hingga laporan ini dibuat belum ada informasi korban jiwa dan kerusakan bangunan akibat kejadian gempa bumi ini. Guncangan gempa bumi terasa kuat di sekitar lokasi pusat gempa bumi. Menurut data BMKG guncangan gempa bumi di Kepulauan Batu dan Pulau Siberut mencapai skala VI MMI (Modified Mercalli Intensity). Guncangan gempa bumi di Kota Padang, Pulau Siberut, Nias Selatan dan Kota Gunungsitoli terasa pada skala IV MMI. Kejadian gempa bumi ini diperkirakan tidak memicu terjadinya tsunami, meskipun lokasi pusat gempa bumi terletak di laut, namun energinya tidak cukup kuat untuk mengakibatkan terjadinya deformasi bawah laut yang dapat memicu terjadinya tsunami. Sehubungan dengan kekuatan gempabumi (M 6,9) dan kedalaman dangkal, sangat memungkinkan terjadinya kerusakan pada rumah rumah penduduk, terutama untuk rumah rumah sederhana yang dibangun tidak tahan guncangan gempa bumi di sekitar lokasi pusat gempa bumi. 
Menurut data Badan Geologi, sebaran permukiman penduduk yang terlanda guncangan gempa bumi sebagian besar terletak pada Kawasan Rawan Bencana (KRB) gempa bumi menengah dan sebagian terletak pada KRB gempa bumi tinggi. Daerah lokasi pusat gempa bumi tergolong rawan tsunami. Menurut data Badan Geologi potensi tinggi tsunami di garis pantai (tsunami height) Kepulauan Batu mencapai 5,7 m dan Pulau Siberut mencapai 8,36 m. 
Berdasarkan atlas peta kerentanan likuefaksi yang diterbitkan Badan Geologi tahun 2019, daerah sekitar pusat gempa berada pada dua zona kerentanan likuefaksi yaitu zona kerentanan tinggi dan sedang. Zona  kerentanan likuefaksi tinggi umumnya berada di pesisir pantai Pulau Tanahbala, Bojo dan Mentawai bagian barat. Zona kerentanan likuefaksi tinggi dapat mengalami likuefaksi secara merata dan struktur tanah umumnya menjadi rusak parah. Tipe kerusakan struktur tanah yang dapat terjadi berupa likuefaksi aliran, pergeseran lateral, penurunan tanah dan semburan pasir. Daerah zona kerentanan likuefaksi sedang berada pada daerah yang lebih jauh dari pantai dengan tipe endapan pasiran. Zona kerentanan likuefaksi sedang dapat mengalami likuefaksi secara tidak merata dan struktur tanah umumnya rusak. Tipe kerusakan struktur tanah yang terjadi berupa pergeseran lateral, penurunan tanah dan semburan pasir.

4. Rekomendasi

  1. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat, dan tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami
  2. Bagi penduduk yang rumahnya mengalami kerusakan agar mengungsi ke tempat aman dan waspada terhadap gempa bumi susulan yang dapat mengakibatkan kerusakan lanjut pada bangunan
  3. Bangunan di daerah sekitar lokasi pusat gempa bumi agar dibangun menggunakan konstruksi bangunan tahan gempa bumi dengan mengikuti ketentuan pada peraturan yang berlaku
  4. Kejadian gempa bumi ini berpotensi mengakibatkan terjadinya bahaya ikutan berupa likuefaksi, retakan tanah, penurunan tanah, dan gerakan tanah. Oleh karena itu penduduk agar waspada dengan gejala tersebut
  5. Agar penduduk mewaspadai  retakan tanah pada bagian atas perbukitan yang dapat berpotensi berkembang menjadi gerakan tanah dipicu oleh guncangan gempa bumi kuat dan/atau curah hujan tinggi.

 

Mentawai 14032022