Analisis Geologi Kejadian Gempa Bumi Tanggal 4 Maret 2022 Di Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur

Analisis geologi kejadian gempa bumi tanggal 4 Maret 2022 di Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, sebagai berikut :

I. Informasi Gempa Bumi

 Gempa bumi terjadi pada hari Jumat, tanggal 4 Maret 2022, pukul 14:00:33 WIB. Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), lokasi pusat gempa bumi terdapat di darat, pada koordinat 120,26 BT dan 9,72 LS, berjarak 6 km sebelah barat daya kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, dengan magnitudo (M5,3) pada kedalaman 10 km. Menurut data The United States Geological Survey (USGS) Amerika Serikat , lokasi pusat gempa bumi terletak pada koordinat 119,189 BT dan 9,313 LS (86 km selatan barat daya Pulau Komodo), dengan magnitudo (M4,3) pada kedalaman 78,9 km. Berdasarkan data dari GeoForschungsZentrum (GFZ), Jerman, lokasi pusat gempa bumi berada pada koordinat 119,34 BT dan 9,51 LS, dengan magnitudo (M4,7) pada kedalaman 10 km.

II. Kondisi Geologi dan Penyebab Gempa Bumi

Lokasi pusat gempa bumi berada di Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang memiliki morfologi dataran hingga dataran bergelombang dan perbukitan. Daerah tersebut pada umumnya tersusun oleh endapan Kuarter berupa endapan pantai, endapan sungai, serta batuan berumur Tersier berupa batugamping terumbu dan batugamping bioklastik. Batugamping tersebut pada umumnya bersifat segar (fresh). Endapan Kuarter pada umumnya bersifat lunak, lepas, belum kompak (unconsolidated) dan memperkuat efek guncangan, sehingga rawan gempa bumi.

Berdasarkan lokasi pusat gempa bumi dan kedalamannya maka kejadian gempa bumi ini diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas zona penunjaman di selatan Pulau Sumba. Zona penunjaman ini terbentuk akibat tumbukan antara lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia. 

III. Dampak Gempa Bumi

Hingga laporan ini dibuat, belum ada informasi korban jiwa dan kerusakan bangunan akibat gempa bumi tersebut. BMKG melaporkan efek guncangan gempa bumi dirasakan di Labuan Bajo pada skala intensitas III MMI (Modified Mercally Intensity) dan di Tambolaka pada skala intensitas II MMI. Menurut data Badan Geologi, sebaran permukiman penduduk yang terlanda guncangan gempa bumi sebagian terletak pada Kawasan Rawan Bencana (KRB) gempa bumi tinggi dan sebagian lagi terletak pada KRB gempa bumi menengah. Kejadian gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami, karena meskipun lokasi pusat gempa bumi berada di laut, namun kekuatannya relatif kecil dan tidak menyebabkan deformasi dasar laut yang dapat memicu terjadinya tsunami.
Berdasarkan atlas peta kerentanan likuefaksi yang diterbitkan oleh Badan Geologi tahun 2019, daerah sekitar pusat gempa bumi berada pada dua zona kerentanan likuefaksi yaitu zona kerentanan tinggi dan sedang. Zona kerentanan likuefaksi tinggi umumnya berada di pesisir pantai yaitu daerah Pantai Kawangu, Pantai Walakiri hingga Pantai Laipori. Zona kerentanan likuefaksi tinggi dapat mengalami likuefaksi dan struktur tanah umumnya menjadi rusak. Tipe kerusakan struktur tanah yang mungkin terjadi berupa pergeseran lateral, penurunan tanah dan semburan pasir. Daerah zona kerentanan likuefaksi sedang berada pada daerah dataran dengan tipe endapan pasiran yaitu di daerah sekitar Matawai, Bandara Umbu Mehang Kunda hingga Pandawai. Zona kerentanan likuefaksi sedang dapat mengalami likuefaksi secara tidak merata dan struktur tanah dapat mengalami kerusakan. Tipe kerusakan struktur tanah yang dapat terjadi berupa, penurunan tanah dan adanya semburan pasir.

IV. Rekomendasi

  1. Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat, namun tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan. Jangan terpancing isu yang tidak bertanggu jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
  2. Bangunan di Kabupaten Sumba Timur, diharapkan menggunakan konstruksi bangunan tahan gempa bumi dan harus dilengkapi dengan jalur dan tempat evakuasi
  3. Kejadian gempa bumi ini tidak berpotensi mengakibatkan terjadinya bahaya ikutan (collateral hazard) seperti retakan tanah, penurunan tanan, gerakan tanah dan likuefaksi.

 

waingapu04032022