Analisis Geologi Kejadian Gempa Bumi Merusak Di Kabupaten Kepulauan Talaud, Tanggal 22 Januari 2022

Analisis geologi kejadian gempa bumi merusak tanggal 22 Januari 2022 di perairan Kabupaten Kepulauan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara, sebagai berikut:

I. Informasi gempa bumi

Gempa bumi terjadi pada hari Sabtu, tanggal 22 Januari 2022, pukul 09:26:13 WIB. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), lokasi pusat gempa bumi terletak di laut pada koordinat 126.82° BT dan 3.67° LU, berjarak sekitar 41.3 km tenggara Kota Melonguane (ibu kota Kabupaten Kepulauan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara), dengan magnitudo (M6.1) pada kedalaman 12 km. Menurut informasi dari The United States Geological Survey (USGS) Amerika Serikat, lokasi pusat gempa bumi terletak pada koordinat 126.675° BT dan 3.695° LU dengan magnitudo (M6.0) pada kedalaman 24 km. Berdasarkan data GeoForschungsZentrum (GFZ), Jerman, lokasi pusat gempa bumi berada pada koordinat 126.63° BT dan 3.67° LU, dengan magnitudo (M6.0) pada kedalaman 24 km.

II. Kondisi geologi dan penyebab gempa bumi

Lokasi pusat gempa bumi terletak dekat dengan daerah Kabupaten Talaud. Daerah ini pada umumnya tersusun oleh morfologi dataran pantai dan pada bagian tengahnya merupakan perbukitan bergelombang hingga terjal. Batuannya tersusun oleh endapan Kuarter yang terdiri – dari endapan pantai, endapan sungai dan batuan rombakan gunungapi muda yang sebagian telah mengalami pelapukan. Endapan Kuarter dan batuan rombakan gunungapi muda yang telah mengalami pelapukan bersifat urai, lepas, lunak, belum kompak (unconsolidated) dan memperkuat efek guncangan, sehingga rawan guncangan gempa bumi.

Berdasarkan posisi lokasi pusat gempa bumi, kedalaman dan data mekanisme sumber (focal mechanism) dari BMKG, USGS Amerika Serikat dan GFZ Jerman, maka kejadian gempa bumi tersebut diakibatkan oleh aktivitas zona penunjaman ganda Punggungan Talaud – Mayu dengan mekanisme sesar naik yang berarah relatif utara – selatan. Sumber gempa bumi ini telah beberapa kali mengakibatkan bencana berupa kerusakan bangunan. Kejadian gempa bumi merusak terakhir di daerah ini terjadi pada tanggal 21 Januari 2021 dengan magnitudo (M 7,1) pada kedalaman 154 km.

III. Dampak gempa bumi

Menurut informasi yang dihimpun dari media online (https://mataram.pikiran-rakyat.com dan https://nasional.okezone.com) kejadian gempa bumi tersebut telah mengakibatkan bencana berupa kerusakan bangunan di Desa Pangeran, Pulau Kabaruan, Kabupaten Kepulauan Talaud. Menurut data BMKG guncangan gempa bumi terasa cukup kuat di Melonguane dengan intensitas mencapai IV MMI (Modified Mercally Intensity). Menurut data Badan Geologi, sebaran permukiman penduduk yang terlanda guncangan gempa bumi sebagian besar terletak pada Kawasan Rawan Bencana (KRB) gempa bumi menengah hingga tinggi. Kejadian gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami meskipun lokasi pusat gempa bumi terletak di laut, namun diperkirakan tidak mengakibatkan deformasi bawah laut yang dapat memicu terjadinya tsunami. Daerah pantai Kabupaten Kabupaten Kepulauan Talaud tergolong rawan tsunami. Menurut data Badan Geologi potensi tinggi tsunami di pantai mencapai sekitar 5,37 m.

IV. Rekomendasi

  1. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat, dan tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
  2. Bagi penduduk yang rumahnya mengalami kerusakan agar mengungsi terlebih dahulu ke tempat aman sesuai dengan arahan dari BPBD dan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud.
  3. Bangunan di Kabupaten Kepulauan Talaud harus dibangun dengan menggunakan konstruksi bangunan tahan gempa bumi guna menghindari dari risiko kerusakan. Selain itu juga harus dilengkapi dengan jalur dan tempat evakuasi.
  4. Oleh karena daerah pantai Kabupaten Kabupaten Kepulauan Talaud tergolong rawan tsunami, maka harus ditingkatkan upaya mitigasi tsunami melalui mitigasi struktural dan mitigasi non struktural.
  5. Kejadian gempa bumi ini diperkirakan tidak berpotensi mengakibatkan terjadinya bahaya ikutan (collateral hazard) berupa retakan tanah, penurunan tanah, gerakan tanah dan likuefaksi.

220122_talaud