Coffee Morning Informasi Kebencanaan Geologi Bandung Senin, 27 Februari 2017

Bencana geologi tidak dapat diduga waktunya, kita hanya dapat memperkirakan bencana yang akan terjadi dan mengupayakan mitigasi bencana, berdasarkan hal tersebut maka perlu menyiapkan masyarakat dan instansi yang terkait dengan kebencanaan di daerah yang rawan terhadap terjadinya bencana geologi dalam menghadapi bencana geologi.

Upaya terencana dan terukur bagi masyarakat yang daerahnya berpotensi bencana geologi, diperlukan pengelolaan sistem informasi, dokumentasi serta pelayanan dan penyebarluasan informasi mitigasi bencana geologi.

Coffee Morning informasi kebencanaan geologi merupakan salah satu upaya penyebaran informasi, membangun komunikasi dan sinergitas antar pemangku kepentingan di bidang kebencanaan geologi antara lain media masa, akademisi, lembaga swadaya masyarakat.

Informasi yang disampaikan berupa prakiraan, evaluasi, kegiatan dan tanggap darurat. Mencakup bencana gempa bumi, tsunami, gunung api dan gerakan tanah yang  ditampilkan dalam bentuk layanan informasi. Salah satu bentuk layanan informasi adalah melalui aplikasi MAGMA Indonesia, yang dapat diakses pada pranala https://magma.vsi.esdm.go.id.

Coffee Morning dihadiri oleh Akademisi yang diwakili oleh UNPAD dan ITB, perwakilan dari BMKG dan BPBD Provinsi Jabar, LSM, dan kalangan media cetak dan online sebagai sarana dengar pendapat mengenai kebencanaan geologi.

#Humas_PVMBG

MITIGASI KEBENCANAAN GEOLOGI

MITIGASI BENCANA GEMPA BUMI DAN TSUNAMI

  1. Sejak tsunami aceh tahun 2004 banyak kejadian gempa bumi besar dan merusak diwilayah barat indonesia terutama sumatra, terakhir gempa bumi besar dengan skala 6,5 skala richter terjadi di pidie aceh 7 desember 2016, jumlah korban 104 korban jiwa, sekitar 700 orang luka-luka dan merusak lebih dari 2500 bangunan.
  2. Gempa bumi dan tsunami hingga saat ini belum bisa diprediksi kapan,dimana dan besarannya.  Oleh sebab itu pendekatan mitigasi bencananya lebih menitik beratkan pada upaya-upaya sebelum terjadinya bencana. Sumber gempa bumi tidak dapat dihilangkan atau dikurangi, tetapi dampaknya bisa dipetakan dalam bentuk  Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gempa Bumi dan Tsunami.
  3. Peningkatan kapasitas ini dapat dilakukan dengan melakukan penyuluhan, sosialisasi, pelatihan penanggulangan bencana dan penyusunan rencana kontijensi bencana gempa bumi.
  4. Pada saat terjadi bencana gempa bumi, Badan Geologi mengirimkan Tim Tanggap Darurat dengan tujuan untuk melakukan pemeriksaan daerah terdampak gempa bumi untuk dianalisa dari aspek geologi sehingga dapat memberikan rekomendasi teknis yang tepat dalam rangka rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana.

MITIGASI GUNUNG API

  1. Indonesia merupakan negara dg gunungapi terbanyak di dunia (127 gunungbapi) dimana 77 diantaranya sering mengalamai erupsi (gunungpi Tipe A) dan ada 16 dari 77 tersebut berada pada tingkat aktivitas/statusnya di atas Level I/Normal. Dari 16 gunungapi tersebut sebagian besar sudah termasuk dalam gunungapi dengan katagori sistem monitoring Prioritas Pemantauan 1 (PP1), yaitu gunungapi dipantau dengan minimal 4 stasiun seismik dan 2 stasiun deformasi.
  2. Sebelum dilakukan monitoring intensif/belum dimonitor jumlah korban akibat letusan gunungapi di Indonesia sangat tinggi (sebelum 1980, diatas 250 ribu jiwa), namun jumlahnya berkurang signifikan setelah adanya sistem mitigasi yang lebih baik  di Badan Geologi (setelah 1980, kurang dari 400 jiwa).
  3. Selain penguatan sistem monitoring upaya meminimalkan dampak akibat bencana gunungapi, Para stakeholder dan masyarakat sangat diharapkan dapat  mematuhi rekomendasi daerah bahaya yg telah ditetapkan oleh Badan Geologi sesuai tingkat aktivitas gunungapinya.
  4. Pemerintah Daerah dan instansi terkait juga diharapkan dapat meningkatkan koordinasi dengan Pos Pengamatan Gunungapi di wilayahnya.

MITIGASI GERAKAN TANAH

  1. Berdasarkan database kejadian gerakan tanah  di Indonesoa selama tahun 2016, tercatat  220 kejadian bencana gerakan tanah
  2. Daerah yang paling sering terlanda bencana gerakan tanah adalah Jawa Barat dengan 108 kejadian atau 38 %
  3. Jumlah Korban  keseluruhan mencapai  213 jiwa meninggal dunia, 69 orang luka-luka, serta lebih dari 1121 bangunan mengalami kerusakan.
  4. Tahun 2017 (Januari - Februari 2017) terjadi 177 kejadian diseluruh Indonesia khususnya dibagian barat dengan korban mencapai  16 jiwa meninggal dunia, 25 orang luka-luka, serta lebih dari 286 bangunan mengalami kerusakan.
  5. Korban jiwa umumnya akibat kejadian Banjir Bandang sedangkan Gerakan Tanah tipe rayapan menyebabkan kerusakan infrastruktur.
  6. Beberapa daerah mengalami perulangan kejadian gerakan tanah, oleh karena itu diperlukan:
  1. Peraturan daerah terkait penataan ruang
  2. Peningkatan pemahaman bahaya gerakan tanah
  3. Perlu rekayasa teknis dalam penanganan kejadian gerakan tanah
  4. Penataan ruang berbasis peta zona kerentanan gerakan tanah

 

coffee morning 2

KaPus PVMBG, didampingi Kepala-kepala Bidang dilingkungan PVMBG menyampaikan paparan informasi kebencanaan geologi

 coffee morning 1

Coffee Morning Informasi Kebencanaan Geologi, Lt.1 Ruang Monitoring PVMBG

 

coffee morning 3

Penyerahan secara simbolis buku Prakiraan Potensi Gerakan Tanah bulan Maret, ke BMKG, Media Cetak dan LSM

 

coffee morning 4

Beberapa perwakilkan dari peserta yang mengajukan pertanyaan informasi kebencanaan geologi

 

Yana Karyana

Humas_PVMBG