Kunjungan Kementrian Agraria Dan Tata Ruang (atr), Dirjen Tata Ruang, Direktorat Pengelolaan Kawasan, Ke Pusat Vulkanologi Dan Mitigasi Geologi (pvmbg), Badan Geologi

 

KUNJUNGAN KEMENTRIAN AGRARIA DAN

PVMBG menerima kunjungan Direktur Pengelolaan Kawasan, Dirjen Tata Ruang Kementrian Agraria dan Tata Ruang (ATR), Bpk Agus Sutanto, didampingi 4 orang staf dan 1 staf Bappeda Kab. Garut (terkait dengan masalah Tata Ruang Kab Garut), berlangsung Jumat, 20 Januari 2017 bertempat di Lantai 2 Ruang Rapat  PVMBG

Dari pihak PVMBG diterima dan dipimpin oleh Ibu CH. M. Supriyati, Kabid Mitigasi Gerakan Tanah  (MGT) mewakili Kapus PVMBG (kebetulan Kapus PVMBG sedang dinas ke Jakarta), didampingi Kasubid MGT Wilayah Barat dan Wliayah Timur serta beberapa pejabat fungsional dari Bidang Mitigasi Gerakan Tanah, Bidang Mitigasi Gempabumi dan Bidang Mitigasi Gunungapi. Selanjutnya PVMBG melalui Kasubid MGT Wilayah Barat (Bpk Agus Budianto) menyampaikan Tupoksi PVMBG, bencana geologi, jenis dan mekanisme serta bagaimana mitigasi bencana geologi tersebut dilakukan, sebagai bagian dari upaya pengurangan risiko bencana (PRB)

 Maksud kunjungan dan pertemuan Kementrian ATR ini disamping silaturahmi juga mohon saran dan pencerahan dari PVMBG terkait penetapan Kawasan Lindung yang berimpit dengan Kawasan Rawan Bencana Geologi baik bencana Gerakan Tanah, Gunungapi, Gempabumi dan Tsunami secara umum, maupun secara khusus terkait Tata Ruang Wilayah Kab. Garut.

 Disampaikan oleh Kementrian ATR bahwa wilayah Kab Garut 83% adalah Kawasan Lindung, sedangkan 17% nya merupakan kawasan Budidaya dan ini dirasa sangat sempit bagi kawasan Budidaya untuk pengembangan sektor Industri.

Beberapa hal hasil diskusi anatara lain :

  • Bahwa kawasan lindung Kab. Garut yang luasnya 83% ini didalamnya juga terdapat kawasan rawan bencana geologi dengan tingkat kerawanan menengah hingga tinggi (baik untuk bencana gerakan tanah, gunungapi maupun gempabumi/tsunami) namun masih bisa dijadikan untuk kawasan budidaya misal untuk perkebunan, pariwisata, industri, bangunan terbatas, dengan memperhatikan berbagai saran, kajian risiko dan rekayasa teknik.
  • Peta Kawasan Lindung yang didalamnya terdapat kawasan rawan bencana masih berskala kecil, sehingga perlu lebih detail dengan peta berskala besar.
  • Untuk itu setelah dilakukan kunjungan bersama beberapa hari yang lalu antara PVMBG dengan Kementrian ATR dan Bappeda Garut, disepakati dari luas kawasan lindung/ kawasan rawan bencana geologi sekitar 1100 hektar masih bisa didapat areal yang relative aman dari bencana geologi seluas 510 hektar untuk digunakan sebagai kawasan budidaya (untuk pengembangan industri)
  • Penjelasan baik dari Ibu CH. Supriyati, Bpk Agus Budiayanto dan hasil diskusi pada pertemuan ini akan dijadikan masukan dalam pengambilan keputusan dan kebijakan untuk Kawasan Tata Ruang Lindung maupun kebijakan yang akan dilaksanakan untuk Tata Ruang Wilayah Garut.
  • Terkait diskusi mengenai tanah yang kuat untuk dijadikan tumpuan bangunan maupun subway, perlu dilakukan survey geologi teknik guna menentukan berapa besar daya dukung tanah dan berapa kedalaman tanahnya.