Laporan Kebencanaan Geologi, 24 November 2019

Logo_ESDM

Hari ini, Minggu, 24 November 2019, Bencana/Bahaya Geologi yang terjadi sbb:
1. Gunungapi
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G.Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 09 Juni 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 7000 m. Warna kolom abu teramati Hitam.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 400 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah barat dan barat laut. Suhu udara sekitar 17-28°C. 
Melalui rekaman seismograf pada 23 November 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tornillo
  • 2 kali gempa Tektonik Lokal 
  • 10 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius radial 3 km dari puncak G.Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor selatan-timur, dan 4 km untuk sektor timur-utara.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah untuk mengurangi dampak kesehatan dari abu vulkanik. Mengamankan sarana air bersih serta membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh
  • Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Juni 2019 pukul 14:21 WIB, terkait emisi gas dengan ketinggian kolom asap 2.960 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m dari puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur-tenggara.

 

Gunungapi Agung (Bali)
Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini,setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga). Letusan terakhir terjadi pada tanggal 13 Juni 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah barat. Suhu udara sekitar 21-31°C. Kelembaban 67-92%. 
Melalui rekaman seismograf pada 23 November 2019 tercatat:- 3 kali gempa Tektonik Jauh
Melalui rekaman seismograf pada 24 November 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat:- 1 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.

VONA: VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juni 2019 pukul 01:48 WITA, terkait erupsi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom abu tidak teramati. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa 3 menit 53 detik.

 

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 25 November 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 500 m. Warna kolom abu teramati Kelabu.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang tinggi sekitar 100 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur dan barat laut. Suhu udara sekitar 27-30°C. 
Asap kw II putih sedang lk 75 m. Guguran lava dari puncak kawah utama mengarah ke kali pangi, nanitu dan sense lk 1000-1500m. Sesekali ke kali beha barat lk 750m. Hembusan asap kw II kelabu tebal lk 300m. Sinar api lk 10m , Nihil , Asap kw II putih tipis lk 25m. Guguran lava dari puncak kawah utama mengarah ke kali pangi, nanitu dan sense lk 1000-1500m , Asap kw II putih tipis lk 25m. Guguran lava dari puncak kawah utama mengarah ke kali pangi, nanitu dan sense lk 1000-1500m. Sesekali ke kali beha barat lk 800m. Sinar api lk 10m.
Melalui rekaman seismograf pada 23 November 2019 tercatat:

  • 119 kali gempa Guguran
  • 15 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 9 kali gempa Harmonik
  • 8 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.25-5 mm (dominan 3 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat Laut-Utara sejauh 4 km. Dan dari kawah utama sejauh 3 km ke arah barat.
  • Masyarakat di sekitar G. Karangetang dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2.284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah timur.

 

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
G. Soputan (1.809 m dpl) mengalami penurunan aktivitas vulkanik sehingga tingkat aktivitasnya diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) terhitung sejak 8 Oktober 2019 pukul 16.00 WITA. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 16 Desember 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 7000 m. Warna kolom abu teramati Kelabu hingga Hitam.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi 10-20 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah selatan dan barat daya. Suhu udara sekitar 20-36°C. 
Melalui rekaman seismograf pada 23 November 2019 tercatat:

  • 13 kali gempa Guguran
  • 7 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 2.5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman leleran lava dan awan panas guguran.
  • Mewaspadai terjadinya ancaman aliran lahar, terutama pada sungai-sungai yang berhulu di sekitar lereng G. Soputan, seperti S. Ranowangko, S. Lawian,  S. Popang dan Londola Kelewahu.     
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dianjurkan menggunakan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi terhadap gangguan saluran pernapasan.

VONA: VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 m di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 m di atas puncak.

 

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 13 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 200 m dari dasar kawah. Warna kolom abu teramati putih-hitam tebal.
Gunung api tertutup kabut. Melalui CCTV teramati asap putih tipis dengan tinggi 25-150 m dari kawah. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah timur dan barat. Suhu udara sekitar 25-31.8°C. Kelembaban 81-91%. 
Melalui rekaman seismograf pada 23 November 2019 tercatat

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 5 kali gempa Low Frequency
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • Tremor Menerus, amplitudo 1-5 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi: Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 November 2019 pukul 18:32 WIB. Berkaitan dengan erupsi yang teramati melalui CCTV menghasilkan kolom erupsi berwarna putih –hitam tebal setinggi 207 m di atas permukaan laut atau sekitar 50 m di atas puncak. Kolom erupsi bergerak ke arah utara.

 

Gunungapi Merapi (Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 17 November 2019  menghasilkan tinggi kolom erupsi 1000 m dari puncak.  Warna kolom abu teramati Kelabu.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah ke timur, barat dan barat laut. Suhu udara sekitar 14.5-29.3°C. Kelembaban 20-90%. Tekanan udara 568.7-709.5 mmHg. 
Melalui rekaman seismograf pada 23 November 2019 tercatat:

  • 6 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Potensi ancaman bahaya saat ini berupa luncuran awan panas dari runtuhnya kubah lava dan jatuhan material vulkanik dari letusan eksplosif.
  • Area dalam radius 3 km dari puncak G. Merapi agar tidak ada aktivitas manusia.
  • Masyarakat agar mengantisipasi bahaya abu vulkanik darikejadian awanpanas maupun letusan eksplosif.
  • Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di sekitar puncak G. Merapi
  • Informasi aktivitas G. Merapi dapat diakses melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 Mhz, melalui telepon (0274) 514180/514192, website www.merapi.bgl.esdm.go.id, dan media sosial BPPTKG (facebook: infobpptkg, twiter: @bpptkg)

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 17 November 2019 pukul 10:54 WIB, terkait dengan adanya erupsi abu dengan ketinggian kolom setinggi 3.968 meter di atas permukaan laut atau sekitar 1.000 meter di atas puncak.  Kolom abu bergerak ke arah barat.

 

Gunungapi Dukono (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 16 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 600 m. Warna kolom abu teramati Putih hingga Kelabu.
Gunung api terlihat jelas. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 200-400 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah timur dan tenggara. Suhu udara sekitar 25-34°C. Kelembaban 75-83%.
Melalui rekaman seismograf pada 23 November 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-10 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km
  • Mengingat letusan dengan abu vulkanik secara periodik terjadi dan sebaran abu mengikuti arah dan kecepatan angin, sehingga area landaan abunya tidak tetap, maka direkomendasikan agar masyarakat di sekitar G. Dukono untuk selalu menyediakan masker/penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernafasan.

VONA: VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 23 November 2019 pukul 06:01 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom erupsi sekitar 400 m dari atas puncak atau 1.629 meter di atas permukaan laut. Kolom erupsi bergerak ke baratdaya.

 

Gunungapi Ibu (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Gunung api terlihat jelas sampai tertutup kabut. Teramati asap berwarna putih – kelabu, Intensitas tipis, sedang  dan tebal, tekanan lemah – sedang dan tinggi 200 – 800 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah utara dan timur.
Melalui rekaman seismograf pada 23 November 2019 tercatat:

  • 69 kali gempa Letusan
  • 181 kali gempa Hembusan
  • 34 kali gempa Guguran
  • 54 kali tremor Harmonik
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali gempa Low Frequency

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA: VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 November 2019 pukul 10.58 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah utara.

 

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018. Letusannya hampir selalu bersifat magmatik. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 04 Oktober 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 250 m. Warna kolom abu teramati Putih hingga Kelabu.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramatai asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 25-50 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah ke arah timur selatan dan barat. Suhu udara sekitar 22.5-30.1°C. 
Melalui rekaman seismograf pada 23 November 2019 tercatat:

  • 668 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • Tremor Menerus, amplituda 0.5-3 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari kawah puncak G.Gamalama
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1.725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

 

Gunungapi Kerinci (Jambi, Sumatera Barat)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 30 Maret 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 600 m. Warna kolom abu teramati Kelabu.
Gunung api tampak jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah dengan intensitas sedang berwarna putih tinggi 200-300 meter di atas puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin sedang ke arah timur laut. Suhu udara sekitar 21-24°C. Kelembaban 59-67%. 
Melalui rekaman seismograf pada 23 November 2019 tercatat:

  • 130 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-3 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat disekitar gunungapi kerinci dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki kawah yang ada dipuncak gunungapi kerinci didalam radius 3 km dari kawah aktif (masyarakat dilarang beraktifitas didalam radius bahaya/KRB III).
  • Sebaiknya jalur penerbangan disekitar gunungapi kerinci dihindari karena sewaktu-waktu masih memiliki potensi letusan abu dengan ketinggian yang dapat mengganggu jalur penerbangan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 2 November 2019 pukul 06:12 WIB, terkait hembusan asap berwarna cokat ketinggian sekitar 4.305 meter di atas permukaan air laut atau sekitar 500 meter di atas puncak, begerak ke arah timur-tenggara.

 

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Juli 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50-200 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah selatan, barat daya dan barat laut. Suhu udara sekitar 7-18°C. 
Melalui rekaman seismograf pada 23 November 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-1 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengujung/wisatawan/pendaki tidak diperbolehkan memasuki kawasan dalam radius 1 km dari kawah aktif G. Bromo
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Juli 2019 pukul 18:52 WIB, terkait erupsi abu disertai suara gemuruh dan dentuman.  Gempa letusan terekam di seismograf dengan amplituda maksimum 37mm dan durasi 7 menit 14 detik. Tinggi kolom erupsi tidak teramati dengan jelas karena tertutup kabut.

 

Gunungapi Slamet (Jawa Tengah)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada) G. Slamet (3.432 m.dpl) pada 9 Agustus 2019 pukul 09.00 WIB. Rekaman kegempaan dan deformasi terdeteksi mengalami kenaikkan pada Juni 2019.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi 50 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah ke arah selatan dan barat. Suhu udara sekitar 23.2-26.2°C. 
Melalui rekaman seismograf pada 23 November 2019 tercatat:

  • 376 kali gempa Hembusan
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-3 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi: Masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak berada/beraktivitas dalam radius 2km dari kawah puncak G. Slamet.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Agustus 2019 pukul 14.02 WIB, terkait peningkatan aktivitas kegempaan.

 

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2019 dibandingkan  Oktober 2019, potensinya  cenderung meningkat  disebagian  wilayah indonesia . Kewaspadaan perlu dijaga  wilaya Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan  sepanjang pantai Sumatera Bagian Barat, sebagian Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Barat,, Wilaya Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan papua. Utamanya menjelang musim penghujan, wilayah di pegunungan, perbukitan, jalur jalan dan seputaran bantaran sungai.
Gerakan tanah terakhir terjadi :

  1. Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi  Aceh
  2. Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat

Penyebab dari gerakan tanah ini diduga karena kemiringan lereng yang terjal dan curah hujan tinggi sebagai pemicu gerakan tanah
Dampak: sejumlah rumah terdampak dan badan jalan antar gampong terganggu di Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi  Aceh;  jalan desa dan areal pesawahan tertimbun di Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat; lahan pertanian tertimbun dan saluran irigasi rusak di  Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.
Rekomendasi:

  • Masyarakat yang beraktivitas di sekitar lokasi bencana agar meningkatkan kewaspadaan terhadap gerakan tanah susulan terutama saat hujan deras dalam waktu lama.
  • Segera membersihkan material longsoran yang menutup badan jalan agar akses warga kembali pulih.
  • Memasang pembatas atau tanda di sepanjang area longsor untuk mencegah pengguna jalan dan warga mendekati area longsoran.
  • Tidak berhenti atau memarkir kendaraan di sekitar lokasi bencana atau di daerah berlereng terjal yang kondisinya serupa dengan lokasi gerakan tanah
  • Segera memperbaiki saluran irigasi agar aliran air tidak melimpas yang dapat mempercepat pergerakan tanah
  • Membuat tembok penahan lereng yang diberi lubang-lubang agar kejenuhan lereng berkurang dan dapat meningkatkan kestabilan lereng.
  • Melestarikan vegetasi berakar kuat dan dalam di sekitar tebing terjal untuk menjaga kestabilan lereng
  • Melakukan sosialisasi kepada masyarakat dengan memasang rambu-rambu peringatan mengenai lokasi gerakan tanah beserta gejala yang menyertainya.
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah setempat.


3. Gempa Bumi
1) Gempa bumi di Timurlaut Maluku Barat Daya, Maluku
Informasi Gempa Bumi: Gempa bumi terjadi pada hari Sabtu, tanggal 23 November 2019, pukul: 18:39:59 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat gempa bumi berada pada koordinat 7,61° LS  dan 128,89° BT, dengan magnitudo 5,5 pada kedalaman 155 Km, berjarak 136 Km Timurlaut Maluku Barat Daya. Sedangkan menurut keterangan GFZ episenter gempa bumi berada pada koordinat 7,49° LS  dan 128,82° BT, dengan magnituda 5,3 Mw, dan kedalaman 144 km. 
Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi: Pusat gempa bumi berada di laut. Daerah yang terdekat dengan pusat gempa bumi terutama daerah Kep. Babar dan Pulau Moa. Sebagian besar daerah tersebut tersusun oleh endapan gunung api Kuarter, sedimen dan metamorf Tersier sampai Pra Tersier. Sebagian besar endapan tersebut telah tersesarkan dan terlapukkan. Pada endapan yang terlapukkan dan tersesarkan diperkirakan goncangan gempa bumi akan lebih kuat karena batuan ini bersifat urai, lepas, belum kompak dan memperkuat efek getaran, sehingga rentan terhadap goncangan gempa bumi.
Dampak gempa bumi: Belum ada laporan kerusakan dan korban jiwa. Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.
Penyebab gempa bumi: Berdasarkan posisi dan kedalamannya diperkirakan sumber gempa bumi berasosiasi dengan aktivitas di zona subduksi antara Lempeng Indo-Australia yang menghujam ke arah Lempeng Eurasia. 

2) Gempa bumi di Tenggara Manokwari, Papua Barat 
Informasi Gempa Bumi: Gempa bumi terjadi pada hari Sabtu, tanggal 23 November 2019, pukul 19:11:14 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat gempa bumi berada pada koordinat 1,69°LS dan 132,90°BT, dengan magnitudo 6,1 pada kedalaman 10 km, berjarak 280 km Timurlaut Tambraw, Papua Barat. Sedangkan  menurut GFZ pusat gempa bumi berada pada koordinat 1,61°LS dan 132,85°BT dengan magnituda 6,1 Mw pada kedalaman 10 km. 
Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi: Pusat gempa bumi berada di Laut. Kejadian gempa bumi tersebut diperkirakan melanda wilayah yang tersusun oleh batuan berumur Tersier berupa batuan sedimen, batuan gunungapi, batuan beku  dan batuan malihan. Goncangan gempa bumi akan terasa pada batuan endapan kuarter dan batuan tersier terlapukkan yang bersifat urai, lepas, belum kompak (unconsolidated) dan memperkuat efek goncangan, sehingga rentan terhadap goncangan gempa bumi.
Penyebab gempa bumi: Gempa bumi ini diperkirakan berasosiasi dengan tumbukan antara Lempeng Carolina dengan Phillipine Sea Plate dengan mekanisme sesar normal.
Dampak gempa bumi: Belum ada laporan kerusakan maupun korban jiwa. Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.
Rekomendasi:

  • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari Pemerintah Daerah setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa susulan, yang diharapkan berkekuatan lebih kecil.