Laporan Kebencanaan Geologi, 09 November 2019

Logo_ESDM

Hari ini, Sabtu, 9 November 2019, Bencana/Bahaya Geologi yang terjadi sbb:
1. Gunungapi
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G.Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013. Erupsi terakhir tanggal 9 Juni 2019. 
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 50-300 meter dari puncak. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah timur dan tenggara. Suhu udara sekitar 16-26°C. 
Melalui rekaman seismograf pada 08 November 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Low Frequency
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 6 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius 3 km dari puncak G. Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor Selatan - Timur, dan 4 km untuk sektor Utara-Timur.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah, mengamankan sarana air bersih, dan membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
  • Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunungapi Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Juni 2019 pukul 14:21 WIB, terkait emisi gas dengan ketinggian kolom asap 2.960 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m dari puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur-tenggara.

 

Gunungapi Agung (Bali)
Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini,setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga).
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 100 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah barat. Suhu udara sekitar 20-30°C. Kelembaban 68-92%. 
Melalui rekaman seismograf pada 08 November 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Melalui rekaman seismograf pada 09 November 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat:Nihil
Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di G.Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan.

VONA: VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juni 2019 pukul 01:48 WITA, terkait erupsi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom abu tidak teramati. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa 3 menit 53 detik.

 

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 150 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah timur laut, tenggara dan barat laut. Suhu udara sekitar 25-32°C. Teramati guguran lava dari Kawah Utama mengarah ke Kali Pangi, Nanitu dan Sense sejauh 1000 – 1500 m. Kawah II menghasilkan aliran lava sepanjang sekitar 1000 m, dari ujung aliran lava teramati guguran lava pijar ke arah Kali Pangi sejauh 1000 m. Sinar api di Kawah Utama teramati 10-25 m dan Kawah II 10 m dari atas puncak.
Melalui rekaman seismograf pada 08 November 2019 tercatat:

  • 141 kali gempa Guguran
  • 14 kali gempa Hembusan
  • 8 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.25-0.5 mm (dominan 0.25 mm)

Rekomendasi: Terhitung mulai tanggal 27 Agustus 2019 rekomendasi teknis adalah sebagai berikut:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan dihimbau agar tidak beraktivitas di dalam radius 2,5 km dari Kawah Utama (Selatan) dan Kawah II (Utara), serta di dalam area perluasan sektoral dari Kawah II ke arah Utara-Barat Iaut sejauh 4 km dan dari Kawah Utama ke arah Barat sejauh 3 km.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G.Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2.284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah timur.

 

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
G. Soputan (1.809 m dpl) mengalami penurunan aktivitas vulkanik sehingga tingkat aktivitasnya diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) terhitung sejak 8 Oktober 2019 pukul 16.00 WITA.
Gunung api terlihat jelas. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 50 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga sedang ke arah barat. Suhu udara sekitar 19-38°C. 
Melalui rekaman seismograf pada 08 November 2019 tercatat:

  • 8 kali gempa Guguran
  • 2 kali gempa Hembusan
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali gempa Harmonik

Rekomendasi: Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 2,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran.
VONA: VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 m di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 m di atas puncak.

 

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Pada  tanggal 7 November 2019  terjadi erupsi  menghasilkan kolom erupsi berwarna putih-hitam tebal setinggi 200 - 300 m dari dasar kawah.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Melalui CCTV teramati asap kawah berwarna putih tipis –tebal tinggi 50-150 m dari dasar kawah. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah utara, timur laut dan barat laut. Suhu udara sekitar 24-30°C. Kelembaban 83-91%. 
Melalui rekaman seismograf pada 08 November 2019 tercatat:

  • 3 kali gempa Hembusan
  • 15 kali gempa Low Frequency
  • 3 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-7 mm (dominan 3 mm)

Rekomendasi: Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 7 November 2019 pukul 07:34 WIB. Berkaitan dengan erupsi yang teramati melalui CCTV menghasilkan kolom erupsi berwarna putih kelabu tebal setinggi 150 m dari dasar kawah. Kolom erupsi bergerak ke arah utara.

 

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga kencang ke arah timur dan barat. Suhu udara sekitar 14-30°C. Kelembaban 19-95%. Tekanan udara 568-709.6 mmHg. 
Melalui rekaman seismograf pada 08 November 2019 tercatat:

  • 41 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 9 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 3 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. 

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 14 Oktober 2019 pukul 16:44 WIB, terkait dengan adanya erupsi abu dengan ketinggian kolom setinggi 5.968 m di atas permukaan laut atau sekitar 3.000 m di atas puncak.  Kolom abu bergerak ke arah barat daya.

 

Gunungapi Dukono (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 200-600 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah timur laut dan timur. Suhu udara sekitar 26-31°C. Kelembaban 82-83%. 
Melalui rekaman seismograf pada 08 November 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Letusan/Erupsi
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-30 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 8 November 2019 pukul 17:32 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom erupsi sekitar 500 m dari atas puncak atau 1729 meter di atas permukaan laut. Kolom erupsi bergerak ke timur.

 

Gunungapi Ibu (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Gunung api terlihat Jelas sampai kabut. Teramati  asap berwarna putih – kelabu, Intensitas tipis, sedang  dan tebal, tekanan lemah – sedang dan tinggi 200 – 800 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah utara - timur.
Melalui rekaman seismograf pada 08 November 2019 tercatat:

  • 75 kali gempa Letusan
  • 63 kali gempa Hembusan
  • 15 kali gempa Guguran
  • 39 kali  tremor Harmoni
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA: VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 Oktober 2019 pukul 08.52 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1825 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah barat.

 

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018. Letusannya hampir selalu bersifat magmatik.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 25-50 meter dari puncak. Cuaca berawan hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah utara dan timur. Suhu udara sekitar 25-31°C. Kelembaban 76-83%. 
Melalui rekaman seismograf pada 08 November 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh
  • 2 kali gempa Harmonik

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G. Gamalama.
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1.725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

 

Gunungapi Kerinci (Jambi)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut . Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 100 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin sedang ke arah timur laut. Suhu udara sekitar 21-23°C. Kelembaban 58-61%. 
Melalui rekaman seismograf pada 08 November 2019 tercatat:

  • 58 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tektonik Lokal
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-3 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Kerinci dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 3 km dari kawah puncak
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Kerinci agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 1 November 2019 pukul 05:53 WIB, terkait hembusan asap berwarna cokat ketinggian sekitar 4.305 meter di atas permukaan air laut atau sekitar 500 meter di atas puncak, begerak ke arah timur-tenggara.

 

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 50-400 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah ke arah barat daya, barat dan barat laut. Suhu udara sekitar 8-18°C. 
Melalui rekaman seismograf pada 08 November 2019 tercatat:  Tremor Menerus, amplitudo 0.5-1 mm (dominan 1 mm)
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1 km dari kawah puncak.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Juli 2019 pukul 18:52 WIB, terkait erupsi abu disertai suara gemuruh dan dentuman.  Gempa letusan terekam di seismograf dengan amplituda maksimum 37mm dan durasi 7 menit 14 detik. Tinggi kolom erupsi tidak teramati dengan jelas karena tertutup kabut.

 

Gunungapi Slamet (Jawa Tengah)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada) G. Slamet (3.432 m.dpl) pada 9 Agustus 2019 pukul 09.00 WIB. Rekaman kegempaan dan deformasi terdeteksi mengalami kenaikkan pada Juni 2019. 
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 25-50 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah barat. Suhu udara sekitar 23.1-30.6°C. 
Melalui rekaman seismograf pada 08 November 2019 tercatat:

  • 621 kali gempa Hembusan
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-4 mm (dominan 3 mm) 

Rekomendasi:

  • Agar masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak berada/beraktivitas dalam radius 2 km dari kawah puncak G. Slamet.
  • Pemerintah Daerah, BPBD Provinsi dan Kabupaten agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos PGA Slamet di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Agustus 2019 pukul 14.02 WIB, terkait peningkatan aktivitas kegempaan.

 

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2019 dibandingkan  Oktober 2019, potensinya  cenderung meningkat  disebagian  wilayah indonesia . Kewaspadaan perlu dijaga  wilaya Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan  sepanjang pantai Sumatera Bagian Barat, sebagian Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Barat,, Wilaya Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan papua. Utamanya menjelang musim penghujan, wilayah di pegunungan, perbukitan, jalur jalan dan seputaran bantaran sungai.
Gerakan tanah terakhir terjadi :
1. Kota Bogor, Provinsi  Jawa Barat
Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran pada lereng dengan tinggi ± 7 m dan lebar ± 10 m. Penyebab gerakan tanah adalah kemiringan lereng yang terjal, kondisi turap yang sudah retak serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang lama sebelum terjadinya gerakan tanah.
Dampak: satu rumah rusak di Kota Bogor, Provinsi  Jawa Barat
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.
Rekomendasi:

  • Masyarakat yang bermukim dan beraktifitas di sekitar lokasi longsoran agar selalu waspada terutama saat hujan deras;
  • Warga yang terdampak harap mengungsi ke tempat yang lebih aman hingga ada arahan dari pemeritah daerah setempat;
  • Tidak mendirikan dan/atau mengembangkan pemukiman yang terlalu dekat dengan lereng yang terjal;
  • Membuat dinding penahan longsor dengan memperhatikan kaidah geoteknik
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaca mitigasi bencana gerakan tanah;
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah daerah setempat.

 

3. Gempa Bumi 
Gempa bumi di baratlaut Melonguane, Sulawesi Utara 
Informasi Gempa bumi: Gempa bumi terjadi pada hari Sabtu, 9 November 2019, pukul 02:57:24 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 127,37° BT dan 4,75° LU, dengan magnitudo 5,1 pada kedalaman 24 km, berjarak 113 km timur laut Melonguane, Sulawesi Utara. Berdasarkan  GFZ, Jerman, pusat gempa bumi berada pada koordinat 127,39° BT dan 5,05° LU, dengan magnitudo M 5,1 pada kedalaman 10 km. 
Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi:Pusat gempa bumi berada di laut. Wilayah-wilayah yang dekat dengan sumber gempa disusun oleh batuan sedimen berumur Tersier yang dapat bersifat lapuk, urai, dan lepas sehingga memperkuat efek guncangan gempa bumi.
Penyebab gempa bumi: Berdasarkan lokasi pusat gempa bumi dan kedalamannya, gempa bumi diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas subduksi di daerah Punggungan Mayu.
Dampak gempa bumi: Intensitas guncangan gempa bumi terbesar akan dirasakan di wilayah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. Belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini. 
Rekomendasi:

  • Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil.