Laporan Kebencanaan Geologi, 08 November 2019

Logo_ESDM

Hari ini, Jumat, 8 November 2019, Bencana/Bahaya Geologi yang terjadi sbb:
1. Gunungapi
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G.Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013. Erupsi terakhir tanggal 9 Juni 2019. 
Cuaca cerah hingga mendung, angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timur dan tenggara. Asap kawah tidak teramati.
Melalui rekaman seismograf pada 7 November 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tornillo
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 1 kali Getaran Banjir

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius 3 km dari puncak G. Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor Selatan - Timur, dan 4 km untuk sektor Utara-Timur.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah, mengamankan sarana air bersih, dan membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
  • Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunungapi Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Juni 2019 pukul 14:21 WIB, terkait emisi gas dengan ketinggian kolom asap 2.960 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m dari puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur-tenggara.

 

Gunungapi Agung (Bali)
Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini,setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga).
Cuaca cerah, berawan,  angin bertiup lemah ke arah barat. Gunungapi jelas hingga tertutup kabut, asap kawah bertekanan lemah, berwarna putih tipis dengan tinggi 50-200 m di atas puncak.
Melalui rekaman seismograf pada 7 November 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Melalui rekaman seismograf pada 8 November 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di G.Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan.

VONA: VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juni 2019 pukul 01:48 WITA, terkait erupsi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom abu tidak teramati. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa 3 menit 53 detik.

 

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.
Gunung jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal dan tinggi 100-150 m di atas puncak kawah. Asap Kawah II teramati putih sedang tinggi  25 m dari atas puncak/kawah disertai sinar api setinggi sekitar 10 m. Guguran lava dari puncak kawah utama mengarah ke Kali Pangi, Nanitu dan Sense sejauh 1000-1500m. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 7 November 2019 tercatat

  • 161 kali gempa Guguran
  • 25 kali gempa Hembusan
  • 8 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • Tremor Menerus dengan  amplitudo maksimum 0.25 mm (dominan 0.25 mm)

Rekomendasi: Terhitung mulai tanggal 27 Agustus 2019 rekomendasi teknis adalah sebagai berikut:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan dihimbau agar tidak beraktivitas di dalam radius 2,5 km dari Kawah Utama (Selatan) dan Kawah II (Utara), serta di dalam area perluasan sektoral dari Kawah II ke arah Utara-Barat Iaut sejauh 4 km dan dari Kawah Utama ke arah Barat sejauh 3 km.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G.Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2.284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah timur.

 

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
G. Soputan (1.809 m dpl) mengalami penurunan aktivitas vulkanik sehingga tingkat aktivitasnya diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) terhitung sejak 8 Oktober 2019 pukul 16.00 WITA.Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah berwarna putih tipis dengan tekanan lemah dan tinggi 25-50 m dari atas puncak. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 7 November 2019 tercatat:

  • 11 kali gempa Guguran
  • 19 kali Tremor Harmonik
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi: Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 2,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran.
VONA: VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 m di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 m di atas puncak.

 

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Pada  tanggal 7 November 2019  terjadi erupsi  menghasilkan kolom erupsi berwarna putih-hitam tebal setinggi 200 - 300 m dari dasar kawah.
Gunung api teramati jelas hingga tertutup kabut. Melalui CCTV yang dipasan teramati asap kawah bertekanan sedang berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal dan tinggi 25 - 300 m dari atas kawah. Erupsi menghasilkan kolom berwarna putih-hitam tebal setinggi 200 - 300 m dari dasar kawah.
Melalui seismograf tanggal 7 November 2019 tercatat:

  • 10 kali gempa Letusan
  • 3 kali gempa Hembusan
  • 6 kali gempa Low Frequency
  • Tremor Menerus dengan amplitudo maksimum 1-44 mm (dominan 10 mm).

Rekomendasi: Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 7 November 2019 pukul 07:34 WIB. Berkaitan dengan erupsi yang teramati melalui CCTV menghasilkan kolom erupsi berwarna putih kelabu tebal setinggi 150 m dari dasar kawah. Kolom erupsi bergerak ke arah utara.

 

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Cuaca cerah, angin bertiup lemah ke arah timur-timur laut. Gunungapi terlihat jelas sampai tertutup kabut, asap kawah teramati 100 m dari atas puncak berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal.
Melalui rekaman seismograf pada 7 November 2019 tercatat:

  • 10 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. 

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 14 Oktober 2019 pukul 16:44 WIB, terkait dengan adanya erupsi abu dengan ketinggian kolom setinggi 5.968 m di atas permukaan laut atau sekitar 3.000 m di atas puncak.  Kolom abu bergerak ke arah barat daya.

 

Gunungapi Dukono (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus.Gunung jelas hingga kabut, Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih-kelabu dengan intensitas tebal, tekanan lemah dan tinggi 100-200 m di atas puncak kawah. 
Melalui rekaman seismograf pada 7 November 2019 tercatat:

  • 2 Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo maksimum 1-34 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Oktober 2019 pukul 09:02 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom erupsi sekitar 400 m dari atas puncak atau 1929 m di atas permukaan laut. Kolom erupsi bergerak ke selatan.

 

Gunungapi Ibu (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.Gunung api terlihat Jelas sampai kabut. Teramati  asap berwarna putih – kelabu, Intensitas tipis dan tebal, tekanan lemah – sedang dan tinggi 200 – 800 m dari atas puncak. Angin bertiup lemah-sedang ke arah utara,timur.
Melalui rekaman seismograf pada 7 November 2019 tercatat:

  • 65 kali gempa letusan
  • 63 kali gempa hembusan
  • 19 kali gempa guguran
  • 40 kali  tremor harmonik

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA: VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 Oktober 2019 pukul 08.52 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1825 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah barat.

 

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018. Letusannya hampir selalu bersifat magmatik.
Gunung terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 7 November 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G. Gamalama.
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1.725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

 

Gunungapi Kerinci (Jambi)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah bertekanan lemah hingga sedang, berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi 50-100 m di atas puncak kawah. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 7 November 2019 tercatat:

  • 49 kali gempa Hembusan
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5-3 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Kerinci dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 3 km dari kawah puncak.
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Kerinci agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 1 November 2019 pukul 05:53 WIB, terkait hembusan asap berwarna cokat ketinggian sekitar 4.305 meter di atas permukaan air laut atau sekitar 500 meter di atas puncak, begerak ke arah timur-tenggara.

 

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang dan tinggi 50-400 m di atas puncak kawah. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 7 November 2019 tercatat:

  • Tremor Menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-1 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1 km dari kawah puncak.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Juli 2019 pukul 18:52 WIB, terkait erupsi abu disertai suara gemuruh dan dentuman.  Gempa letusan terekam di seismograf dengan amplituda maksimum 37mm dan durasi 7 menit 14 detik. Tinggi kolom erupsi tidak teramati dengan jelas karena tertutup kabut.

 

Gunungapi Slamet (Jawa Tengah)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada) G. Slamet (3.432 m.dpl) pada 9 Agustus 2019 pukul 09.00 WIB. Rekaman kegempaan dan deformasi terdeteksi mengalami kenaikkan pada Juni 2019. 
Gunung api terlihat jelas.  Teramati asap kawah utama berwarna putih intensitas tipis, tinggi 25 – 50 m dari atas puncak.
Melalui rekaman seismograf tanggal 7 November 2019 tercatat:

  • 582 kali gempa Hembusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-4 mm (dominan 2 mm). 

Rekomendasi:

  • Agar masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak berada/beraktivitas dalam radius 2 km dari kawah puncak G. Slamet.
  • Pemerintah Daerah, BPBD Provinsi dan Kabupaten agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos PGA Slamet di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Agustus 2019 pukul 14.02 WIB, terkait peningkatan aktivitas kegempaan.

 

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2019 dibandingkan  Oktober 2019, potensinya  cenderung meningkat  disebagian  wilayah indonesia . Kewaspadaan perlu dijaga  wilaya Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan  sepanjang pantai Sumatera Bagian Barat, sebagian Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Barat,, Wilaya Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan papua. Utamanya menjelang musim penghujan, wilayah di pegunungan, perbukitan, jalur jalan dan seputaran bantaran sungai.
Gerakan tanah terakhir terjadi :

  1. Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah
  2. Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat
  3. Kabupaten Siak, Provinsi Riau

Penyebab gerakan tanah diperkirakan karena lereng yang curam , tanah yang lunak , kenaikan muka air tanah di bawah badan jalan yang berasal dari sungai lama yang ditimbun. dan curah hujan tinggi sebagai pemicu gerakan tanah.
Dampak:akses jalan terhambat di  Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah; di Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat; dan di  Kabupaten Siak, Provinsi Riau
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.
Rekomendasi:

  • Masyarakat dan para pengguna jalan agar lebih waspada terhadap longsor susulan terutama pada saat hujan turun dalam waktu lama.
  • Segera memperbaiki jalan yang rusak dengan pemadatan jalan dan menambahkan dinding penahan lereng untuk meningkatkan kestabilan lereng. Proses perbaikan agar mengutamakan keselamatan dan waspada terhadap longsor susulan.
  • Membuat sistem drainase yang kedap air dan dialirkan sehingga tidak menggenang di sekitar badan jalan agar badan jalan tidak mudah jenuh air mengingat kondisi tanah di bawah jalan yang lunak (jenis gambut).
  • Diutamakan untuk menggunakan jalan alternatif terutama jika hujan turun hingga perbaikan jalan selesai dan dinyatakan aman oleh pemerintah setempat.
  • Meningkatkan kewaspadaan bagi masyarakat yang tinggal dekat dengan lereng terjal dengan kondisi yang serupa dengan lokasi gerakan tanah terutama yang terancam gerakan tanah.
  • Melestarikan vegetasi di lereng terjal agar kestabilan lereng tetap terjaga.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai daerah rawan longsor dengan memasang rambu-rambu peringatan sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah setempat.