Laporan Kebencanaan Geologi, 7 November 2019

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

Hari ini, Kamis, 7 November 2019, Bencana/Bahaya Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G.Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013. Erupsi terakhir tanggal 9 Juni 2019. Cuaca cerahhingga mendung, angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timur dan tenggara. Suhu udara sekitar 17 - 26°C. Asap kawah tteramati 50 - 200 m dari puncak, berwarna putih tipis hingga tebal.

Melalui rekaman seismograf pada 06 November 2019 tercatat :

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tornillo
  • 1 kali gempa Low Frequency
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal

Rekomendasi :

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius 3 km dari puncak G. Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor Selatan - Timur, dan 4 km untuk sektor Utara-Timur
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah, mengamankan sarana air bersih, dan membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh
  • Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunungapi Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Juni 2019 pukul 14:21 WIB, terkait emisi gas dengan ketinggian kolom asap 2.960 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m dari puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur-tenggara.

Gunungapi Agung (Bali)
Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini,setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga).

Cuaca cerah, berawan,  angin bertiup lemah ke arah barat dan barat daya. Suhu udara sekitar 18 – 30°C. Gunungapi jelas hingga tertutup kabut, asap kawah bertekanan lemah, berwarna putih tipis dengan tinggi 50-200 m di atas puncak.

Melalui rekaman seismograf pada 06 November 2019 tercatat :

  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Melalui rekaman seismograf pada 07 November 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat :

  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di G.Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan.

VONA :

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juni 2019 pukul 01:48 WITA, terkait erupsi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom abu tidak teramati. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa 3 menit 53 detik.

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.
Gunung jelas hingga kabut, Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas sedang dan tinggi 100 m di atas puncak kawah. Asap kw II putih sedang lk 25m. Guguran lava dari puncak kawah utama mengarah ke kali nanitu dan kali sense lk 1000-1500m. Cuaca berawan, Angin bertiup lemah ke arah barat laut, Suhu udara 30-32 °C. 

Melalui rekaman seismograf tanggal 06 November 2019 tercatat :

  • 29 kali Guguran
  • 4 kali Hembusan
  • 2 kali Vulkanik Dangkal
  • 1 kali Vulkanik Dalam
  • 1 kali Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0.25 mm (dominan 0.25 mm)

Rekomendasi :

Terhitung mulai tanggal 27 Agustus 2019 rekomendasi teknis adalah sebagai berikut :

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan dihimbau agar tidak beraktivitas di dalam radius 2,5 km dari Kawah Utama (Selatan) dan Kawah II (Utara), serta di dalam area perluasan sektoral dari Kawah II ke arah Utara-Barat Iaut sejauh 4 km dan dari Kawah Utama ke arah Barat sejauh 3 km
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G.Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2.284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah timur.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
G. Soputan (1.809 m dpl) mengalami penurunan aktivitas vulkanik sehingga tingkat aktivitasnya diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) terhitung sejak 8 Oktober 2019 pukul 16.00 WITA.Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. 

Cuaca cerah hingga mendung, angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat barat daya. Suhu udara sekitar 19 - 36°C. 

Melalui rekaman seismograf tanggal 06 November 2019 tercatat :

  • 4 kali gempa Guguran

Rekomendasi :

  • Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 2,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran.

VONA :

VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 m di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 m di atas puncak.

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Pada  tanggal 6 November 2019  terjadi erupsi  menghasilkan kolom erupsi berwarna kelabu tebal setinggi 200 m dari dasar kawah.

Gunung jelas hingga kabut, Asap kawah bertekanan sedang teramati berwarna putih dengan intensitas tebal dan tinggi 200 m di atas puncak kawah. Melalui CCTV teramati asap putih-hitam tipis-tebal tinggi lk 50-200 meter dari dasar kawah. Erupsi menghasilkan kolom berwarna kelabu hitam, tinggi 200 m dari dasar kawah.

Melalui seismograf tanggal 06 November 2019 tercatat :

  • 1 kali gempa Letusan
  • 71 kali gempa Hembusan
  • 2 kali Vulkanik Dangkal
  • 1 kali Vulkanik DalamT
  • Tremor Menerus Amplitudo 1-40 dominan 10 mm.

Rekomendasi :

  • Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 November 2019 pukul 13:58 WIB. Berkaitan dengan erupsi yang teramati melalui CCTV menghasilkan kolom erupsi berwarna kelabu tebal setinggi 200 m dari dasar kawah.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Cuaca berawan, mendung dan hujan, angin bertiup lemah ke arah timur laut dan tenggara. Suhu udara sekitar 14 – 28,6oC.

Gunungapi terlihat jelas sampai tertutup kabut, asap kawah teramati 150 m dari atas puncak berwarna putih sedang.

Melalui rekaman seismograf pada 06 November 2019 tercatat :

  • 4 kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 2 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal

Rekomendasi :

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. 

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 14 Oktober 2019 pukul 16:44 WIB, terkait dengan adanya erupsi abu dengan ketinggian kolom setinggi 5.968 m di atas permukaan laut atau sekitar 3.000 m di atas puncak.  Kolom abu bergerak ke arah barat daya.

Gunungapi Dukono (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Gunung jelas hingga kabut, Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tebal dan tinggi 200-500 m di atas puncak kawah. Teramati letusan dengan tinggi 500 m dan warna asap putih dan kelabu, Aktifitas kawah teramati pada sore hari asap mengarah ke barat laut dan barat. Cuaca cerah dan berawan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat dan barat laut. Suhu udara 26-31 °C. 

Melalui rekaman seismograf pada 06 November 2019 tercatat :

  • 1 kali gempa Letusan
  • 2 Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus,  amplitudo 0.5-10 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi :

  • Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA :

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Oktober 2019 pukul 09:02 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom erupsi sekitar 400 m dari atas puncak atau 1929 m di atas permukaan laut. Kolom erupsi bergerak ke selatan.

Gunungapi Ibu (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Gunung api terlihat Jelas sampai kabut, Asap berwarna putih – kelabu, Intensitas tipis dan tebal, Tinggi 200 - 800m dengan tekanan Asap lemah - sedang bertiup ke Arah utara dan timur. Cuaca cerah-berawan, Angin bertiup lemah-sedang ke arah utara,timur.

Melalui rekaman seismograf pada 06 November 2019 tercatat :

  • 83 kali gempa letusan
  • 72 kali gempa hembusan
  • 15 kali gempa guguran
  • 43 kali  tremor harmonik

Rekomendasi :

  • Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA :

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 Oktober 2019 pukul 08.52 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1825 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah barat.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018. Letusannya hampir selalu bersifat magmatik.Gunung terlihat jelas hingga kabut, Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan dan mendung. Angin bertiup lemah, sedang, hingga kencang ke arah utara dan timur laut. Suhu udara 25-30 °C. 

Melalui rekaman seismograf tanggal 06 November 2019 tercatat :

  • 1 kali Tremor Harmonik
  • 3 Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  • Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G. Gamalama
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1.725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

Gunungapi Kerinci (Jambi)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Gunung api terlihat jelas hingga kabut. Asap kawah bertekanan kuat teramati berwarna putih dengan intensitas sedang dan tinggi 100-300 m di atas puncak kawah. Terekam Noise angin Cuaca cerah. Angin bertiup sedang ke arah timur laut dan barat. Suhu udara 21-25 °C. 

Melalui rekaman seismograf tanggal 06 November 2019 tercatat :

  • 141 kali Hembusan
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5-3 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi :

  • Masyarakat di sekitar G. Kerinci dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 3 km dari kawah puncak
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Kerinci agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 30 Oktober 2019 pukul 17:21 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 4.605 m di atas permukaan air laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu begerak ke arah bara daya dan barat.

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Gunung jelas. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi 50-200 m di atas puncak kawah. Cuaca cerah, berawan, hingga mendung. Angin bertiup lemah ke arah barat daya dan barat. Suhu udara 8-18 °C. 

Melalui rekaman seismograf tanggal 06 November 2019 tercatat :

  • Tremor Menerus, amplitudo 0.5-1 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi :

  • Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1 km dari kawah puncak.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Juli 2019 pukul 18:52 WIB, terkait erupsi abu disertai suara gemuruh dan dentuman.  Gempa letusan terekam di seismograf dengan amplituda maksimum 37mm dan durasi 7 menit 14 detik. Tinggi kolom erupsi tidak teramati dengan jelas karena tertutup kabut.

Gunungapi Slamet (Jawa Tengah)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada) G. Slamet (3.432 m.dpl) pada 9 Agustus 2019 pukul 09.00 WIB. Rekaman kegempaan dan deformasi terdeteksi mengalami kenaikkan pada Juni 2019. 

Cuaca cerah hingga hujan, angin bertiup lemah  ke arah selatan dan barat. Suhu udara sekitar 23,7 – 27,3°C. Gunungapi terlihat jelas, asap kawah utama berwarna putih intensitas tipis hingga sedang, tinggi asap 100 m di atas puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 06 November 2019 tercatat :

  • 1125 kali gempa Hembusan 

Rekomendasi :

  • Agar masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak berada/beraktivitas dalam radius 2 km dari kawah puncak G. Slamet
  • Pemerintah Daerah, BPBD Provinsi dan Kabupaten agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos PGA Slamet di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Agustus 2019 pukul 14.02 WIB, terkait peningkatan aktivitas kegempaan.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan November 2019 dibandingkan  Oktober 2019, potensinya  cenderung meningkat  disebagian  wilayah indonesia. Kewaspadaan perlu dijaga  wilaya Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan  sepanjang pantai Sumatera Bagian Barat, sebagian Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Barat, Wilayah Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan papua. Utamanya menjelang musim penghujan, wilayah di pegunungan, perbukitan, jalur jalan dan seputaran bantaran sungai.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

1. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat2. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat
Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat tanah pelapukan yang tebal dan dan poros air, saluran drainasi yang kurang baik dan dipicu oleh curah hujan lebat sebelum dan pada saat terjadinya gerakan tanah.

Dampak: tiga orang pekerja Proyek TPT Dinas Pengairan terluka di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, putusnya akses jalan di  Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

Rekomendasi :

  • Warga yang bertempat tinggal di sekitar lokasi untuk tetap waspada apabila terjadi hujan yang berlangsung lama karena dikhawatirkan terjadi longsor susulan
  • Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan
  • Pemotongan lereng yang tidak terlalu tegak dan harus mengikuti kaidah-kaidah geologi teknik
  • Masyarakat yang tinggal dekat dengan lokasi gerakan tanah agar selalu waspada terhadap munculnya gejala awal gerakan tanah seperti retakan pada tanah dan bangunan dan segera melapor kepada pemerintah setempat dan mengungsi sementara hingga ada arahan dari pemerintah setempat
  • Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng dengan fondasi menembus batuan yang keras
  • Saluran air permukaan segera dibenahi agar lebih kedap air dan mampu menampung air jika debit air meningkat saat hujan
  • Penanaman pepohonan berakar kuat dan dalam untuk memperkuat lereng
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.