Laporan Kebencanaan Geologi, 20 Oktober 2019

Logo_ESDM

Hari ini, Minggu, 20 Oktober 2019, Bencana/Bahaya Geologi yang terjadi sbb:
1. Gunungapi Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G.Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013. Erupsi terakhir tanggal 9 Juni 2019. 
Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah ke arah timur, utara dan barat. Suhu udara sekitar 16 - 24°C. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga  tebal tinggi sekitar 200 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf pada 19 Oktober 2019 tercatat:

  • 4 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tornillo
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius 3 km dari puncak G. Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor Selatan - Timur, dan 4 km untuk sektor Utara-Timur.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah, mengamankan sarana air bersih, dan membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh
  • Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunungapi Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Juni 2019 pukul 14:21 WIB, terkait emisi gas dengan ketinggian kolom asap 2.960 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 meter dari puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur-tenggara.

 

Gunungapi Agung (Bali)
Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini,setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga).
Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah selatan dan barat. Suhu udara sekitar 18 - 29°C. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf pada 19 Oktober 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Melalui rekaman seismograf pada 20 Oktober 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat: 2 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di G.Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan.

VONA: VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juni 2019 pukul 01:48 WITA, terkait erupsi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom abu tidak teramati. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa 3 menit 53 detik.

 

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.
Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah barat laut. Suhu udara sekitar 24 - 27°C. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal tinggi sekitar 300 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19  Oktober 2019 tercatat:

  • 88 kali gempa Guguran
  • 9 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Hybrid
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.25 - 3 mm , dominan 2 mm

Rekomendasi: Terhitung mulai tanggal 27 Agustus 2019 rekomendasi teknis adalah sebagai berikut:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan dihimbau agar tidak beraktivitas di dalam radius 2,5 km dari Kawah Utama (Selatan) dan Kawah II (Utara), serta di dalam area perluasan sektoral dari Kawah II ke arah Utara-Barat Iaut sejauh 4 km dan dari Kawah Utama ke arah Barat sejauh 3 km.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G.Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2.284 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 meter di atas puncak, angin bertiup ke arah timur.

 

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
G. Soputan (1.809 m dpl) mengalami penurunan aktivitas vulkanik sehingga tingkat aktivitasnya diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) terhitung sejak 8 Oktober 2019 pukul 16.00 WITA.
Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah ke arah barat dan barat laut. Suhu udara sekitar 19 - 36°C. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 Oktober 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi: Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 2,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran.
VONA: VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 meter di atas puncak.

 

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Pada  tanggal 19 Oktober 2019  terjadi erupsi  yang terekam di seismogram dengan amplitudo 42 mm durasi sekitar 1 menit 14 detik.
Cuaca  cerah hingga mendung, angin lemah ke arah timur dan barat laut. Suhu udara sekitar 23.8 - 30.2°C. Gunungapi tertutup kabut. Melalui CCTV teramati 8x letusan berwarna abu-abu hingga hitam dengan tinggi mencapai 200 m dan asap putih tipis-tebal dengan tinggi 25-150 m dari kawah.
Melalui seismograf tanggal 19 Oktober 2019 tercatat:

  • 8 kali gempa Letusan
  • 1 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 3 kali gempa Vulkanik Dalam
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 1 - 38 mm, dominan 2 mm

Rekomendasi: Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Oktober 2019 pukul 20:18 WIB. Berkaitan dengan erupsi yang terekam oleh alat pemantau gunungapi dengan amplitudo maksimum 42 mm dan durasi 74 detik.

 

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah ke arah utara dan barat. Suhu udara sekitar 13 - 33.5°C. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang tinggi sekitar 200 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf pada 19 Oktober 2019 tercatat:

  • 4 kali gempa Guguran
  • 3 kali gempa Low Frequency

Rekomendasi:

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. 

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 14 Oktober 2019 pukul 16:44 WIB, terkait dengan adanya erupsi abu dengan ketinggian kolom setinggi 5.968 meter di atas permukaan laut atau sekitar 3.000 meter di atas puncak.  Kolom abu bergerak ke arah barat daya.

 

Gunungapi Dukono (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah barat. Suhu udara sekitar 26 - 30°C. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 200 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf pada 19 Oktober 2019 tercatat: Tremor menerus dengan amplitudo 0.5 – 20 mm, dominan 2 mm
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 17 Oktober 2019 pukul 07:58 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom erupsi sekitar 600 m dari atas puncak atau 1829 meter di atas permukaan laut. Kolom erupsi bergerak ke barat - barat laut.

 

Gunungapi Ibu (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah selatan dan barat. Suhu udara tidak tercatat. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 200 - 800 meter dari puncak bergerak ke arah selatan – barat.
Melalui rekaman seismograf pada 19  Oktober 2019 tercatat:

  • 106 kali gempa Letusan
  • 140 kali gempa Hembusan
  • 25 kali gempa Guguran
  • 52  kali Tremor Harmonik

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA: VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 14 Oktober 2019 pukul 08.10 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 meter di atas permukaan laut atau sekitar 400 meter di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah selatan.

 

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018. Letusannya hampir selalu bersifat magmatik.
Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah utara dan timur laut. Suhu udara sekitar 25 - 30°C. Gunungapi tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 Oktober 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 14 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali gempa Getaran Banjir 

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G. Gamalama.
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1.725 meter di atas permukaan laut atau sekitar 10 meter di atas puncak.

 

Gunungapi Kerinci (Jambi)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Cuaca cerah hingga mendung, angin sedang hingga kencang ke arah barat daya dan barat. Suhu udara sekitar 22 - 24°C. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga coklat dengan intensitas sedang tinggi sekitar 300 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 Oktober 2019  tercatat:

  • 193 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempat Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitude 0.5-2 mm, dominan 1 mm

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Kerinci dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 3 km dari kawah puncak.
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Kerinci agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 6 Oktober 2019 pukul 13:06 WIB, terkait erupsi pada pukul 12:53 WIB dengan ketinggian kolom abu sekitar 4.405 meter di atas permukaan air laut atau sekitar 600 meter di atas puncak. Kolom abu begerak ke arah bara daya dan barat.

 

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga kencang ke arah selatan dan barat laut. Suhu udara sekitar 9 - 21°C. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 200 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 Oktober 2019 tercatat:- Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 - 1 mm dominan 1 mm
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1 km dari kawah puncak.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Juli 2019 pukul 18:52 WIB, terkait erupsi abu disertai suara gemuruh dan dentuman.  Gempa letusan terekam di seismograf dengan amplituda maksimum 37mm dan durasi 7 menit 14 detik. Tinggi kolom erupsi tidak teramati dengan jelas karena tertutup kabut.

 

Gunungapi Tangkuban Parahu (Jawa Barat)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Tangkuban Parahu (2.084 m dpl) mengalami erupsi pada 26 Juli 2019 pukul 15:48:18 WIB dengan tinggi kolom abu teramati ± 200 m di atas puncak (± 2284 m di atas permukaan laut).  Erupsi susulan yang terjadi pada tanggal 1 Agustus 2019 pukul 20:46 WIB, tinggi kolom asap 180 m dari dasar kawah, diikuti erupsi tanggal 2 Agustus 2019 mulai pukul 00:43WIB serta erupsi pada pukul 04:56 WIB yang berlangsung menerus. Terjadi Erupsi pada tanggal 31 Agustus 2019 Pukul 09:30 WIB dengan tinggi kolom abu ± 150 meter dari dasar kawah.
Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah selatan. Suhu udara sekitar 18 - 26°C. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Melalui CCTV eramati asap putih sedang-tebal dengan tinggi rata-rata 50 m dari dasar kawah.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19  Oktober 2019  tercatat:

  • 26 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Low Frequency
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Tangkuban Parahu dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak mendekati kawah yang ada di puncak G. Tangkuban Parahu dalam radius 1,5 km dari kawah aktif.  
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 2 Agustus 2019 pukul 04:20 WIB, terkait pengamatan emisi abu vulkanik pada pukul 01:45 WIB. Dengan ketinggian kolom abu tidak teramati.

 

Gunungapi Slamet (Jawa Tengah)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada) G. Slamet (3.432 m.dpl) pada 9 Agustus 2019 pukul 09.00 WIB. Rekaman kegempaan dan deformasi terdeteksi mengalami kenaikkan pada Juni 2019. 
Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah hingga kencang ke arah barat. Suhu udara sekitar 23.4 - 29.61°C. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 100 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf tanggal 19 Oktober 2019 tercatat:

  • 304 kali gempa Hembusan
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 – 1 mm, dominan 0.5 mm

Rekomendasi:

  • Agar masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak berada/beraktivitas dalam radius 2 km dari kawah puncak G. Slamet.
  • Pemerintah Daerah, BPBD Provinsi dan Kabupaten agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos PGA Slamet di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Agustus 2019 pukul 14.02 WIB, terkait peningkatan aktivitas kegempaan.

 

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Oktiber 2019 dibandingkan September  2019, potensinya   relatif sama  disebagian  wilyah indonesia . Kewaspadaan perlu dijaga  wilaya Aceh, Sumatera Utara, sepanjang pantai Sumatera bagian Barat, Wilaya Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan papua.
Gerakan tanah terakhir terjadi :
1.Kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat.
Penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan terjadi akibat hujan deras yang menguyur dari siang hingga malam hari.  
Dampak:akses jalan terhambat di Kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat.
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.
Rekomendasi :

  • Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan.
  • Agar masyarakat yang tinggal dan beraktifitas di sekitar daerah bencana lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi untuk terjadinya longsor susulan.
  • Perbaikan drainase untuk memperlancar aliran air permukaan. Dibuat drainase yang memadai agar air tidak menjenuhi lereng serta material longsoran dibersihkan.
  • Dibuat tembok penahan tebing di bagian atas dan bawah lereng dengan pondasi harus dalam sampai batuan dasar yang stabil
  • Membuat rambu-rambu lalu lintas peringatan rawan longsor, agar pengguna jalan waspada bila melalui jalur jalan ini, terutama di musim hujan.
  • Melandaikan lereng dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng (rekayasa teknis) yang mengikuti kaidah-kaidah geologi teknik.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai uapaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah/ BPBD setempat.