Laporan Kebencanaan Geologi, 27 September 2019

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

1. Gunungapi

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)

Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G.Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013. Erupsi terakhir tanggal 9 Juni 2019.

Dari kemarin hingga pagi ini, tidak teramati asap kawah utama.

Melalui rekaman seismograf pada 26 September 2019 tercatat:

  • 5 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tektonik Lokal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius 3 km dari puncak G. Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor Selatan - Timur, dan 4 km untuk sektor Utara-Timur.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah, mengamankan sarana air bersih, dan membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
  • Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunungapi Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Juni 2019 pukul 14:21 WIB, terkait emisi gas dengan ketinggian kolom asap 2.960 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 meter dari puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur-tenggara.

Gunungapi Agung (Bali)

Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini,setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga).

Dari kemarin hingga pagi ini, asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf pada 26 September 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Melalui rekaman seismograf pada 27 September 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

- 1 kali gempa Hembusan

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di G.Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan.

VONA:

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juni 2019 pukul 01:48 WITA, terkait erupsi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom abu tidak teramati. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa 3 menit 53 detik.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G.Soputan (1.809 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.

Dari kemarin hingga pagi ini, teramati asap kawah utama putih dengan intensitas tipis hingga sedang, tinggi sekitar 20 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 26 September 2019 tercatat:

  • 11 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran.

VONA:

VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 meter di atas puncak.

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.

Dari kemarin hingga pagi ini teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 300 meter dari atas puncak, warna putih dan intensitas sedang hingga tebal. Guguran lava dari Kawah Utama meluncur ke kali Pangi , kali Sense dan kali Nanitu sejauh 1000 – 1500 m.

Melalui rekaman seismograf tanggal 25 September 2019 tercatat:

  • 123 kali gempa Guguran
  • 21 kali gempa Hembusan
  • 3 kali gempa Hybrid
  • 2 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0,25 - 3 mm dominan 1 mm

Rekomendasi:

Terhitung mulai tanggal 27 Agustus 2019 rekomendasi teknis adalah sebagai berikut:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan dihimbau agar tidak beraktivitas di dalam radius 2,5 km dari Kawah Utama (Selatan) dan Kawah II (Utara), serta di dalam area perluasan sektoral dari Kawah II ke arah Utara-Barat Iaut sejauh 4 km dan dari Kawah Utama ke arah Barat sejauh 3 km.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G.Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2.284 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 meter di atas puncak, angin bertiup ke arah timur.

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Pada Agustus 2019 erupsi masih terjadi tetapi dengan intensitas yang semakin menurun.

Dari kemarin hingga pagi ini, melalui CCTV teramati letusan dengan tinggi 150 – 200 meter dengan warna asap putih, kelabu, hitam.

Melalui seismograf tanggal 26 September 2019 tercatat:

  • 4 kali gempa Letusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 1 - 8 mm, dominan 1 mm

Rekomendasi:

- Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 September 2019 pukul 08:35 WIB. Terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 1 mm dan lama gempa 12 detik. Tinggi kolom abu 150 meter di atas kawah.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini, teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 20 meter dari atas puncak, dengan warna putih dan intensitas sedang tinggi.

Melalui rekaman seismograf pada 26 September 2019 tercatat:

  • 4 kali gempa Guguran
  • 7 kali gempa Hybrid
  • 2 gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 September 2015 pukul 11:36 WIB, terkait dengan adanya erupsi abu dengan ketinggian kolom setinggi 3.768 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 meter di atas punca.

  • Gunungapi Dukono (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini,i asap kawah utama tidak teramati.

Melalui rekaman seismograf pada 26 September 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 - 10 mm dominan 2 mm

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 September 2015 pukul 07:58 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1.929 meter di atas permukaan laut

Gunungapi Ibu (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Dari kemarin hingga pagi ini teramati asap kawah utama dengan ketinggian 200-700 m dari atas puncak, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih-kelabu bergerak ke arah utara dan timur dengan intensitas tipis, sedang,dan tebal.

Seismograf mengalami gangguan (carrier off) tanggal 26 September 2019 sehingga tidak mencatat gempa.

Rekomendasi:

- Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 04 September 2019 pukul 09:36WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1625 meter di atas permukaan laut atau sekitar 300 meter di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah selatan.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018. Letusannya hampir selalu bersifat magmatik.

Dari kemarin hingga pagi ini. Asap kawah utama teramati dengan ketinggian 100 m dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi.

Melalui rekaman seismograf tanggal 26 September 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Hembusan
  • 3 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 15 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G. Gamalama.
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1.725 meter di atas permukaan laut atau sekitar 10 meter di atas puncak.

Gunungapi Kerinci (Jambi)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini tidak teramati adanya hembusan asap/gas dari kawah.

Melalui rekaman seismograf tanggal 26 September 2019 tercatat:

  • 88 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Kerinci dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 3 km dari kawah puncak.
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Kerinci agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 31 Juli 2019 pukul 12:55 WIB, terkait erupsi pada pukul 12:48 WIB dengan ketinggian kolom abu sekitar 4.605 meter di atas permukaan air laut atau sekitar 800 meter di atas puncak. Kolom abu begerak ke arah timur laut dan timur.

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 300 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 26 September 2019 tercatat:

  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 - 1 mm dominan 1 mm

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1 km dari kawah puncak.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Juli 2019 pukul 18:52 WIB, terkait erupsi abu disertai suara gemuruh dan dentuman. Gempa letusan terekam di seismograf dengan amplituda maksimum 37mm dan durasi 7 menit 14 detik. Tinggi kolom erupsi tidak teramati dengan jelas karena tertutup kabut.

Gunungapi Tangkuban Parahu (Jawa Barat)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Tangkuban Parahu (2.084 m dpl) mengalami erupsi pada 26 Juli 2019 pukul 15:48:18 WIB dengan tinggi kolom abu teramati ± 200 m di atas puncak (± 2284 m di atas permukaan laut). Erupsi susulan yang terjadi pada tanggal 1 Agustus 2019 pukul 20:46 WIB, tinggi kolom asap 180 m dari dasar kawah, diikuti erupsi tanggal 2 Agustus 2019 mulai pukul 00:43WIB serta erupsi pada pukul 04:56 WIB yang berlangsung menerus. Terjadi Erupsi pada tanggal 31 Agustus 2019 Pukul 09:30 WIB dengan tinggi kolom abu ± 150 meter dari dasar kawah.

Dari kemarin hingga pagi ini, melalui CCTV teramati asap putih sedang dengan tinggi kolom asap mencapai 120 m dari dasar kawah.

Melalui rekaman seismograf tanggal 26 September 2019 tercatat:

  • 49 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0,5 – 1 mm, dominan 0,5 mm

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Tangkuban Parahu dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak mendekati kawah yang ada di puncak G. Tangkuban Parahu dalam radius 1,5 km dari kawah aktif. Kawasan Taman Wisata Alam Tangkuban Parahu direkomendasikan untuk sementara ditutup sampai jarak aman di atas.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 2 Agustus 2019 pukul 04:20 WIB, terkait pengamatan emisi abu vulkanik pada pukul 01:45 WIB. Dengan ketinggian kolom abu tidak teramati.

Gunungapi Slamet (Jawa Tengah)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) G. Slamet (3.432 m.dpl) pada 9 Agustus 2019 pukul 09.00 WIB. Rekaman kegempaan dan deformasi terdeteksi mengalami kenaikkan pada Juni 2019.

Dari kemarin hingga pagi ini, teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 50 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis.

Melalui rekaman seismograf tanggal 26 September 2019 tercatat:

  • 314 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5-2 mm, dominan 0.5 mm.

Rekomendasi:

  • Agar masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak berada/beraktivitas dalam radius 2 km dari kawah puncak G. Slamet.
  • Pemerintah Daerah, BPBD Provinsi dan Kabupaten agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos PGA Slamet di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Agustus 2019 pukul 14.02 WIB, terkait peningkatan aktivitas kegempaan.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan September 2019 dibandingkan Agustus 2019, potensinya potensinya mulai mengalami peningkatan disebagian wilyah indonesia . Wilaya Aceh, Sumatera Utara, sepanjang pantai Sumatera bagian Barat, Wilaya Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan papua.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

1. Kota Ambon, Provinsi Maluku

Penyebab gerakan tanah akibat gempabumi

Dampak: satu orang meninggal dunia di Kota Ambon, Provinsi Maluku

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id

Rekomendasi:

• Pengguna Jalan dan masyarakat di sekitarnya agar mewaspadai potensi longsoran susulan akibat gempa susulan;

• Memasang rambu peringatan rawan longsor serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya longsor;

• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai tingkat kerawanan longsor, tanda-tanda awal akan terjadi longsor;

• Masyarakat agar selalu mengikuti arahan pemerintah daerah setempat.

3. Gempa Bumi

Gempa bumi di timur laut Ambon, Maluku

Informasi Gempa Bumi:

Terjadi gempa bumi terjadi pada hari Kamis, 26 September 2019 pukul 06:46:45 WIB. Menurut BMKG yang sudah update, pusat gempa bumi berada pada koordinat 3.38°LS dan 128.43°BT dengan magnitudo 6.5 pada kedalaman 11 km, berjarak 40 km timur laut Ambon, Maluku. USGS mencatat gempabumi terjadi di 3.426°LS dan 128.379°BT dengan magnitudo 6.5 pada kedalaman 29.9 km. GFZ mencatat gempabumi terjadi di 3.56°LS dan 128.45°BT dengan magnitudo 6.6 pada kedalaman 10 km.

Terjadi gempa bumi susulan pukul 07:39:53 WIB. Menurut BMKG, pusat gempa bumi berada pada koordinat 3.63°LS dan 128.36°BT dengan magnitudo 5.6 pada kedalaman 10 km, berjarak 18 km timur laut Ambon, Maluku. Gempa bumi susulan masih terjadi.

Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi:

Pusat gempa bumi berada di darat. Lokasi terdekat dari pusat gempa bumi adalah P. Seram dan Ambon. Lokasi tersebut dominan tersusun oleh batuan metamorf berumur Pratersier dan batuan gunungapi Tersier. Batuan ini umumnya sudah tersesarkan, mudah longsor dan banyak yang sudah lapuk. Batuan lapuk umumnya akan memperkuat efek guncangan gempa sehingga guncangan gempa akan lebih terasa.

Penyebab gempa bumi:

Berdasarkan lokasi dan kedalaman pusat gempa bumi, diperkirakan gempa bumi ini berasosiasi dengan patahan aktif disekitar pusat gempa bumi.

Dampak gempa bumi:

Gempa bumi ini terasa di Pos PGA G. Banda Api skala II MMI. Tidak terasa di Pos PGA Gamalama, Ternate. Terasa di Ambon dan Kairatu skala V MMI, II-III di Paso dan Banda. Adanya kerusakan di pasar daerah Pelau, Maluku Tengah dan di Kantor Pusat Unpatti. Dilaporkan korban meninggal 20 jiwa. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami.

Rekomendasi:

1)            Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang, mengikuti arahan dan informasi dari pemerintah daerah dan BPPD setempat, serta tidak terpancing isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.

2)            Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan.