Laporan Kebencanaan Geologi, 30 Agustus 2019

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

I. SUMMARY

Hari ini, Jumat 30 Agustus 2019, Bencana/Bahaya Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)

Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G. Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013. Erupsi terakhir tanggal 9 Juni 2019.

Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 200 meter dari atas puncak, bertekanan sedang dengan warna putih dan intensitas tebal.

Melalui rekaman seismograf pada 29 Agustus 2019 tercatat:

  • 6 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius 3 km dari puncak G. Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor Selatan - Timur, dan 4 km untuk sektor Utara-Timur.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah, mengamankan sarana air bersih, dan membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
  • Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunungapi Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Juni 2019 pukul 14:21 WIB, terkait emisi gas dengan ketinggian kolom asap 2.960 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 meter dari puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur-tenggara.

Gunungapi Agung (Bali)

Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga). Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap tidak teramati.

Melalui rekaman seismograf pada 29 Agustus 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Melalui rekaman seismograf pada 30 Agustus 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di G. Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan.

VONA:

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juni 2019 pukul 01:48 WITA, terkait erupsi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom abu tidak teramati. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa 3 menit 53 detik.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Soputan (1.809 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.

Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 30 meter dari atas puncak, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang.

Melalui rekaman seismograf tanggal 29 Agustus 2019 tercatat:

  • 6 kali gempa Guguran
  • 2 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran.

VONA:

VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 meter di atas puncak.

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.

Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 50 - 150 meter dari atas puncak, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.

Melalui rekaman seismograf tanggal 29 Agustus 2019 tercatat:

  • 24 kali gempa Guguran
  • 46 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 1 - 10 mm, dominan 3 mm

Rekomendasi:

Terhitung mulai tanggal 27 Agustus 2019 rekomendasi teknis adalah sebagai berikut:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan dihimbau agar tidak beraktivitas di dalam radius 2,5 km dari Kawah Utama (Selatan) dan Kawah II (Utara), serta di dalam area perluasan sektoral dari Kawah II ke arah Utara-Barat Iaut sejauh 4 km dan dari Kawah Utama ke arah Barat sejauh 3 km.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2.284 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 meter di atas puncak, angin bertiup ke arah timur.

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Pada Agustus 2019 erupsi masih terjadi tetapi dengan intensitas yang semakin menurun.

Dari kemarin hingga pagi ini, melalui CCTV teramati asap putih tipis-sedang dengan tinggi kolom asap 50-100 m di atas kawah.

Melalui seismograf tanggal 29 Agustus 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Letusan
  • 2 kali gempa Hembusan
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 2 - 40 mm, dominan 5 mm

Rekomendasi:

  • Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 Agustus 2019 pukul 00:41 WIB. Terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 45 mm dan lama gempa 77 detik. Tinggi kolom asap tidak teramati.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 20 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang.

Melalui rekaman seismograf pada 29 Agustus 2019 tercatat:

  • 11 kali gempa Guguran
  • 3 kali gempa Low Frequency
  • 1 kali gempa Hybrid
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal

Rekomendasi:

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3.768 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 meter di atas puncak.

Gunungapi Dukono (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 200 - 400 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas tebal.

Melalui rekaman seismograf pada 29 Agustus 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 - 10 mm, dominan 4 mm

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2019 pukul 11:15 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1.829 meter di atas permukaan laut atau sekitar 600 meter di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah utara dan barat laut.

Gunungapi Ibu (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi tampak jelas hingga tertutup Kabut-0III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 800 meter dari atas puncak, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih-kelabu dan intensitas tipis, sedang, dan tebal.

Melalui seismograf tanggal 29 Agustus 2019 tercatat:

  • 117 kali gempa Letusan
  • 172 kali gempa Hembusan
  • 15 kali gempa Guguran
  • 51 kali Tremor Harmonik

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Agustus 2019 pukul 07:30 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2.125 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 meter di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah barat.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018. Letusannya hampir selalu bersifat magmatik.

Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Asap nihil.

Melalui rekaman seismograf tanggal 29 Agustus 2019 tercatat:

  • 9 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G. Gamalama.
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1.725 meter di atas permukaan laut atau sekitar 10 meter di atas puncak.

Gunungapi Kerinci (Jambi)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 200 - 500 meter dari atas puncak, bertekanan sedang dengan warna dan intensitas sedang hingga tebal.

Melalui rekaman seismograf tanggal 29 Agustus 2019 tercatat:

  • 218 kali gempa Hembusan
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 - 1 mm, dominan 1 mm

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Kerinci dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 3 km dari kawah puncak.
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Kerinci agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 31 Juli 2019 pukul 12:55 WIB, terkait erupsi pada pukul 12:48 WIB dengan ketinggian kolom abu sekitar 4.605 meter di atas permukaan air laut atau sekitar 800 meter di atas puncak. Kolom abu begerak ke arah timur laut dan timur.

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 50 - 100 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis.

Melalui rekaman seismograf tanggal 29 Agustus 2019 tercatat:

  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 - 1 mm, dominan 1 mm

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1 km dari kawah puncak.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Juli 2019 pukul 18:52 WIB, terkait erupsi abu disertai suara gemuruh dan dentuman. Gempa letusan terekam di seismograf dengan amplituda maksimum 37 mm dan durasi 7 menit 14 detik. Tinggi kolom erupsi tidak teramati dengan jelas karena tertutup kabut.

Gunungapi Tangkuban Parahu (Jawa Barat)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Tangkuban Parahu (2.084 m dpl) mengalami erupsi pada 26 Juli 2019 pukul 15:48:18 WIB dengan tinggi kolom abu teramati ± 200 m di atas puncak (± 2284 m di atas permukaan laut). Erupsi susulan yang terjadi pada tanggal 1 Agustus 2019 pukul 20:46 WIB, tinggi kolom asap 180 m dari dasar kawah, diikuti erupsi tanggal 2 Agustus 2019 mulai pukul 00:43WIB serta erupsi pada pukul 04:56 WIB yang berlangsung menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Melalui CCTV teramati asap kawah utama bertekanan sedang dengan warna putih dan intensitas sedang hingga tebal dengan tinggi kolom asap mencapai 100 m dari dasar kawah.

Melalui rekaman seismograf tanggal 29 Agustus 2019 tercatat:

  • 104 kali gempa Hembusan
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 - 50 mm, dominan 20 mm

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Tangkuban Parahu dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak mendekati kawah yang ada di puncak G. Tangkuban Parahu dalam radius 1,5 km dari kawah aktif. Kawasan Taman Wisata Alam Tangkuban Parahu direkomendasikan untuk sementara ditutup sampai jarak aman di atas.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 2 Agustus 2019 pukul 04:20 WIB, terkait pengamatan emisi abu vulkanik pada pukul 01:45 WIB. Dengan ketinggian kolom abu tidak teramati.

Gunungapi Slamet (Jawa Tengah)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) G. Slamet (3.432 m.dpl) pada 9 Agustus 2019 pukul 09.00 WIB. Rekaman kegempaan dan deformasi terdeteksi mengalami kenaikkan pada Juni 2019.

Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 50 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tebal.

Melalui rekaman seismograf tanggal 29 Agustus 2019 tercatat:

  • 84 kali gempa Hembusan
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 - 4 mm, dominan 3 mm

Rekomendasi:

  • Agar masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak berada/beraktivitas dalam radius 2 km dari kawah puncak G. Slamet.
  • Pemerintah Daerah, BPBD Provinsi dan Kabupaten agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos PGA Slamet di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Agustus 2019 pukul 14.02 WIB, terkait peningkatan aktivitas kegempaan.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Agustus 2019 dibandingkan Juli 2019, potensinya relatif sama dan potensinya rendah disebagian besar wilyah indonesia . Namun untuk wilah Aceh, Kalimantan Utara, Sulawesi dan Papua mulai mengalami sedikit peningkatan potensi terjadinya gerakan tanah.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

1. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat

2. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat

3. Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal, kondisi tanah pelapukan yang labil dan liat, dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana.

Dampak: kerusakan pada area persawahan di Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat; lalu lintas terhambat di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat; jembatan terancam ambruk di Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

II. DETAIL

1. Gunungapi

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunungapi dipantau secara menerus 24 jam/hari. Tingkat aktivitas saat ini:

a. 4 gunungapi tingkat aktivitas Level III (SIAGA), yaitu: G. Sinabung (Sumut) sejak 20 Mei 2019, G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018, G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018, dan G. Karangetang (Sulut) sejak 20 Desember 2018.

b. 18 gunungapi tingkat aktivitas Level II (WASPADA), yaitu: G. Merapi, G. Marapi, G.Kerinci, G.Semeru, G.Bromo, G.Rinjani, G.Sangeangapi, G.Rokatenda, G.Lokon, G.Gamalama, G.Gamkonora, G.Ibu, G.Dukono, G.Ili Lewotolok, G.Banda Api, G.Anak Krakatau, G.Tangkuban Parahu, dan G. Slamet.

c. Sisanya 47 gunungapi tingkat aktivitas Level I (NORMAL).

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)

Gunungapi Sinabung (2.460 m dpl) - Sumatera Utara merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsinya berlangsung sejak tahun 2013. Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G. Sinabung mengalami erupsi sejak tahun 2013, erupsi terakhir tanggal 9 Juni 2019.

Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 200 meter dari atas puncak, bertekanan sedang dengan warna putih dan intensitas tebal.

Melalui rekaman seismograf pada 29 Agustus 2019 tercatat:

  • 6 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Gunungapi Agung (Bali)

Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat akrivitas saat ini adalah Level III (Siaga).

Erupsi Gunungapi Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Erupsi Gunungapi Agung selain bersifat eksplosif, juga disertai efusi lava yang sangat cepat ke dalam kawah sehingga volume lava di dalam kawah mencapai 23 juta m3 pada bulan Desember 2017. Pada tahun 2018-2019 erupsi G. Agung masih terus terjadi namun dengan jangkauan lontaran material erupsi dan frekuensi kejadian erupsi mengalami penurunan.

Erupsi terakhir terjadi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom letusan tidak dapat teramati karena tertutup kabut. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa kl. 3 menit 53 detik.

Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap tidak teramati.

Melalui rekaman seismograf pada 29 Agustus 2019 tercatat:

- 2 kali gempa Tektonik Jauh

Melalui rekaman seismograf pada 30 Agustus 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

- 1 kali gempa Tektonik Jauh

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)

Gunungapi Soputan merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Sulawesi Utara yang berada di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga).

Data pemantauan G. Soputan dari periode Agustus hingga awal Oktober 2018 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) dan pada 16 Desember pukul 01:02 dan 03:09 WITA terjadi erupsi, teramati sinar api dari puncak G. Soputan, ketinggian kolom abu teramati berkisar 3.000-5.000 m di atas puncak.

Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 30 meter dari atas puncak, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang.

Melalui rekaman seismograf tanggal 29 Agustus 2019 tercatat:

  • 6 kali gempa Guguran
  • 2 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)

Gunungapi Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara adalah salah satu gunungapi di Indonesia yang paling sering erupsi. Erupsi terakhirnya terjadi pada tahun 2016. Setelah 2 tahun istirahat. Gunungapi Karangetang kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik sejak akhir bulan November 2018 sehingga tingkat aktivitas dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 20 Desember 2018 pukul 18:00 WITA. Pada awal Februari 2019 terjadi aliran lava keluar selama beberapa hari dari kawah utara, mengalir ke arah utara-baratlaut yang mencapai jarak > 3.000 m. Pemantauan terkini menunjukkan juga bahwa aktivitas di Kawah Utama (kawah Selatan) mengalami peningkatan dimana Awan Panas guguran teramati satu kali meluncur dari Kawah Utama sejauh 2.000 m ke arah Kali Kahetang dan Kali Batuawang pada 15 April 2019 sekitar pukul 12:00 WITA.

Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 50 - 150 meter dari atas puncak, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.

Melalui rekaman seismograf tanggal 29 Agustus 2019 tercatat:

  • 24 kali gempa Guguran
  • 46 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 1 - 10 mm, dominan 3 mm

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)

Gunungapi Anak Krakatau (157 m dpl) secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, sejak 18 Juni 2018 peningkatan aktivitas vulkanik diikuti rangkaian erupsi pada September 2018 - 9 Januari 2019, dengan intensitas erupsi tertinggi pada bulan Oktober 2018. Pada akhir Desember 2018, intensitas erupsi cukup tinggi, berupa letusan menerus tipe strombolian, diselingi letusan tipe Surtseyan pada 27 Desember 2018 sehingga tingkat aktivitas dinaikan menjadi Level III (Siaga).

Pada periode Februari-Agustus 2019 erupsi masih terjadi tetapi intensitas erupsi cenderung menurun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (Waspada) sejak 25 Maret 2019.

Dari kemarin hingga pagi ini, melalui CCTV teramati asap putih tipis-sedang dengan tinggi kolom asap 50-100 m dari kawah.

Melalui seismograf tanggal 29 Agustus 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Letusan
  • 2 kali gempa Hembusan
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 2 - 40 mm, dominan 5 mm

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB tingkat aktivitas G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).

Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 20 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang.

Melalui rekaman seismograf pada 29 Agustus 2019 tercatat:

  • 11 kali gempa Guguran
  • 3 kali gempa Low Frequency
  • 1 kali gempa Hybrid
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal

Gunungapi Dukono (Maluku Utara)

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 200 - 400 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih hingga kelabu dan intensitas tebal.

Melalui rekaman seismograf pada 29 Agustus 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 - 10 mm, dominan 4 mm

Gunungapi Ibu (Maluku Utara)

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2008 menerus hingga saat ini. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan Kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi tampak jelas hingga tertutup Kabut-0III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 800 meter dari atas puncak, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih-kelabu dan intensitas tipis, sedang, dan tebal.

Melalui seismograf tanggal 29 Agustus 2019 tercatat:

  • 117 kali gempa Letusan
  • 172 kali gempa Hembusan
  • 15 kali gempa Guguran
  • 51 kali Tremor Harmonik

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)

Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1.715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara. Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timur (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.

Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada).

Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter di atas puncak atau 1965 m di atas permukaan laut.

Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Asap nihil.

Melalui rekaman seismograf tanggal 29 Agustus 2019 tercatat:

  • 9 kali gempa Tektonik Jauh

Gunungapi Kerinci (Jambi)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 200 - 500 meter dari atas puncak, bertekanan sedang dengan warna dan intensitas sedang hingga tebal.

Melalui rekaman seismograf tanggal 29 Agustus 2019 tercatat:

  • 218 kali gempa Hembusan
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 - 1 mm, dominan 1 mm

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian 50 - 100 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis.

Melalui rekaman seismograf tanggal 29 Agustus 2019 tercatat:

  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 - 1 mm, dominan 1 mm

Gunungapi Tangkuban Parahu (Jawa Barat)

Gunungapi Tangkuban Parahu merupakan gunungapi aktif yang berada di wilayah Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat. Erupsi G. Tangkuban Parahu pada umumnya berupa letusan freatik dari Kawah Ratu. Erupsi terakhir sebelum tahun ini terjadi pada 6 Oktober 2013.

Secara visual, aktivitas 2 (dua) minggu terakhir didominasi oleh erupsi abu dan hembusan asap dari kawah utama (Kawah Ratu) dengan ketinggian sekitar 15 - 150 meter dari dasar kawah, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna kelabu dan putih (intensitas tipis hingga tebal).

Pada 26 Juli 2019 pukul 15:48:18 WIB erupsi terjadi dengan tinggi kolom abu teramati ± 200 m di atas puncak (± 2284 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna abu tebal kehitaman condong kearah timurlaut dan selatan. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 50 mm (overscale) dan durasi ± 5 menit 30 detik. Pada 1 Agustus 2019 Pkl 20:46 WIB terjadi erupsi freatik dengan tinggi kolom abu 180 m dari dasar kawah. Erupsi susulan terjadi pada tanggal 1 Agustus 2019 pukul 20:46 WIB, tinggi kolom asap 180 m dari dasar kawah. Pada tanggal 2 Agustus 2019 erupsi susulan mulai pukul 00:43WIB, serta erupsi terakhir pada pukul 04:56 WIB yang berlangsung menerus.

Secara seismik, aktivitas Gunung Tangkuban Parahu masih didominasi oleh tremor erupsi yang menerus dengan amplitudo maksimum 50 mm. Terekamnya Tremor ini berkaitan dengan pelepasan erupsi abu dan asap putih. Secara deformasi, dalam 1 (satu) bulan terakhir Gunungapi Tangkuban Parahu mengalami inflasi kecil namun meningkat terus. Secara geokimia gas, di area sekitar Kawah Ratu menunjukkan telah terjadi peningkatan kandungan gas vulkanik H2S dan SO2 pada tanggal 10 Juli 2019. Kandungan gas vulkanik semakin meningkat pada tanggal 13 Juli 2019. Periode pengukuran gas terakhir tanggal 1 dan 8 Agustus 2019 menunjukkan konsentrasi gas masih cenderung naik.

Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Melalui CCTV teramati asap kawah utama bertekanan sedang dengan warna putih dan intensitas sedang hingga tebal dengan tinggi kolom asap mencapai 100 m dari dasar kawah.

Melalui rekaman seismograf tanggal 29 Agustus 2019 tercatat:

  • 104 kali gempa Hembusan
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 - 50 mm, dominan 20 mm

Gunungapi Slamet (Jawa Tengah)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) G. Slamet (3.432 m.dpl) pada 9 Agustus 2019 pkl. 09.00 WIB. Rekaman kegempaan dan deformasi terdeteksi mengalami kenaikkan pada Juni 2019. Aktivitas vulkanik G. Slamet terakhir terjadi pada Maret hingga Agustus 2014, berupa kenaikkan aktivitas diikuti erupsi menghasilkan material abu dan lontaran material pijar di sekitar kawah (Tipe letusan strombolian).

Dari kemarin hingga pagi ini, gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 50 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tebal.

Melalui rekaman seismograf tanggal 29 Agustus 2019 tercatat:

  • 84 kali gempa Hembusan
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.5 - 4 mm, dominan 3 mm

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos-Pos Pengamatan Gunungapi di atas tersebut terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD setempat disekitar masing-masing gunung, tentang penanggulangan bencana erupsi gunungapi.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll.

VONA terakhir yang terkirim:

(1) G. Sinabung, Sumatera Utara

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Juni 2019 pukul 14:21 WIB, terkait emisi gas dengan ketinggian kolom asap 2.960 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 meter dari puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur-tenggara.

(2) G. Agung, Bali

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juni 2019 pukul 01:48 WITA, terkait erupsi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom abu tidak teramati. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa 3 menit 53 detik.

(3) G. Soputan, Sulawesi Utara

VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 meter di atas puncak.

(4) G. Karangetang, Sulawesi Utara

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2.284 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 meter di atas puncak, angin bertiup ke arah timur.

(5) G. Anak Krakatau, Lampung

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 Agustus 2019 pukul 00:41 WIB. Terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 45 mm dan lama gempa 77 detik. Tinggi kolom asap tidak teramati.

(6) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3.768 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 meter di atas puncak.

(7) G. Dukono, Maluku Utara

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2019 pukul 11:15 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1.829 meter di atas permukaan laut atau sekitar 600 meter di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah utara dan barat laut.

(8) G. Ibu, Maluku Utara

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Agustus 2019 pukul 07:30 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2.125 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 meter di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah barat.

(9) G. Gamalama, Maluku Utara

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1.725 meter di atas permukaan laut atau sekitar 10 meter di atas puncak.

(10) G. Kerinci, Jambi

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 31 Juli 2019 pukul 12:55 WIB, terkait erupsi pada pukul 12:48 WIB dengan ketinggian kolom abu sekitar 4.605 meter di atas permukaan air laut atau sekitar 800 meter di atas puncak. Kolom abu begerak ke arah timur laut dan timur.

(11) G. Bromo, Jawa Timur

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Juli 2019 pukul 18:52 WIB, terkait erupsi abu disertai suara gemuruh dan dentuman. Gempa letusan terekam di seismograf dengan amplituda maksimum 37 mm dan durasi 7 menit 14 detik. Tinggi kolom erupsi tidak teramati dengan jelas karena tertutup kabut.

(12) G. Tangkuban Parahu, Jawa Barat

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 2 Agustus 2019 pukul 04:20 WIB, terkait pengamatan emisi abu vulkanik pada pukul 01:45 WIB. Dengan ketinggian kolom abu tidak teramati.

(13) G. Slamet, Jawa Tengah

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Agustus 2019 pukul 14.02 WIB, terkait peningkatan aktivitas kegempaan.

Kegiatan gunungapi lain yang di atas Normal sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Agustus 2019 dibandingkan Juli 2019 ,   potensinya relatif sama dan rendah disebagian besar wilayah Indonesia.Namun wilayah Indonesia yang secara umum tetap perlu diwaspadai karena mulau meningkat potensi terjadinya gerakan tanah utamanya di wilayah Aceh, sumatera bagian utara, kalimantan utara, Papua dan Sulawesi Tengah serta yang berada di jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan, dan sepanjang aliran sungai

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di:

1. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat*,

2. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat*,

3. Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat*,

4.Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat,

5. Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara,

6. Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur,

7. Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat,

8. Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh,

9.Kota Binjai, Provinsi Sumatera Utara,

10.Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh,

11.Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), Provinsi Sumatera Utara,

12.Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Bangka Belitung,

13.Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah.

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam satu minggu terjadi di ;

1. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat

Gerakan tanah yang terjadi di area persawahan seluas 3000 meter persegi di kampung Pajagan, RT 06/02, Desa Cihamerang Kecamatan Kabandungan, Kamis (29/08/2019) mengakibatkan kerusakan pada area persawahan dan ditaksir kerugian mencapai 450 juta rupiah. Tidak ada fasilitas umum atau pemukiman warga yang rusak dan karena longsor jauh dari pemukiman warga penduduk, tidak ada korban jiwa akibat bencana ini.

Sumber: https://sukabumiupdate.com/detail/sukabumi/peristiwa/58071-Mulai-Hujan-Sawah-di-Kabandungan-Sukabumi-Rusak-Akibat-Longsor

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal, kondisi tanah pelapukan yang labil dan liat, dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

2. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat

Gerakan tanah yang terjadi di ruas jalan raya Cibodas di Kampung Tegal Gede, Desa Cibodas, Kecamatan Rumpin, Rabu Pukul 18.00 WIB (28/08/2019) mengakibatkan mobil dan kendaraan besar dari arah Cibodas menuju Rumpin atau sebaliknya tidak bisa melintas di lokasi. Mobil atau kendaraan besar dialihkan sementara ke jalan Dukuh Malang-Cikadu. Kalau Motor masih bisa melintas tetapi tetap berhati-hati.

Sumber: https://www.beritasatu.com/megapolitan/572161/longsor-buat-jalan-di-cibodas-ambrol

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil, tebing yang terjal juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

3. Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat

Gerakan tanah yang terjadi di Jembatan Paranje di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Rabu (28/08/2019) mengakibatkan terancam ambruknya jembatan Paranje, mengingat parahnya kerusakannya dan kemungkinan adanya longsor susulan.

Sumber: http://www.radarbogor.id/2019/08/29/pondasi-tanah-labil-jembatan-paranje-rumpin-bakal-longsor-lagi/

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tebing yang curam, tanah pelapukan yang labil dan juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

Rekomendasi:

  • Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan segera setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan.
  • Melandaikan lereng, menata drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng yang mengikuti kaidah Geologi Teknik.
  • Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat untuk menguatkan kestabilan lereng
  • Masyarakat yang tinggal di dekat dengan lokasi gerakan tanah agar selalu waspada terhadap munculnya gejala awal gerakan tanah seperti retakan pada tanah dan bangunan. Segera melapor kepada pemerintah setempat dan mengungsi sementara hingga ada arahan dari pemerintah setempat
  • Mendirikan rambu tanda rawan longsor untuk peringatan bagi warga yang melintas agar berhati-hati.
  • Pemotongan tebing yang tidak terlalu tegak dan harus mengikuti kaidah Geologi teknik.
  • Membangun brojong atau penahan tebing, serta mengatur drainase dengan mengikuti kaidah-kaidah Geologi teknik.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.