Laporan Kebencanaan Geologi, 03 Agustus 2019

Logo_ESDM

I. SUMMARY
Hari ini, Sabtu 3 Agustus 2019,  Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G. Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013 . Erupsi terakhir tanggal 9 Juni 2019. 
Dari kemarin hingga pagi ini visual  Gunungapi tertutup Kabut 0-III. Asap kawah utama tidak teramati.
Melalui rekaman seismograf pada 2 Agustus 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius 3 km dari puncak G. Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor Selatan - Timur, dan 4 km untuk sektor Utara-Timur.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah, mengamankan sarana air bersih, dan membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
  • Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Juni 2019 pukul 14:21 WIB, terkait emisi gas dengan ketinggian kolom asap 2960 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 m dari puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur-tenggara.

 

Gunungapi Agung (Bali)
Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat akrivitas saat ini adalah Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap kawah utama teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, tinggi lk. 50 meter dari puncak kawah.
Melalui rekaman seismograf pada 2 Agustus 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh 
  • 1 kali gempa Terasa dengan skala I MMI

Melalui rekaman seismograf pada 3 Agustus 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat: - 2 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak  berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan.

VONA: VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juni 2019 pukul 01:48 WITA , terkait erupsi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom abu tidak teramati. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa kl. 3 menit 53 detik.

 

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Soputan (1.809 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Agustus 2019 tercatat:

  • 23 kali gempa Guguran
  • 3 kali gempa Hembusan
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi: Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran.
VONA: VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 meter di atas puncak.

 

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 150 meter dari puncak. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Agustus 2019 tercatat:

  • 85 kali gempa Guguran
  • 3 kali gempa Hembusan
  • 3 kali gempa Hybrid
  • 2 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 7 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo dominan 0.25 mm

Rekomendasi: Terhitung mulai tanggal 26 Maret 2019 pukul 12:00 WITA rekomendasi teknis adalah sebagai berikut:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat Iaut-Utara sejauh 4 km, yaitu wilayah yang berada di antara Kali Batuare dan Kali Saboang.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2.284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.

 

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Pada Juli 2019 erupsi masih terjadi tetapi dengan intensitas yang semakin menurun.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi tertutup Kabut 0-III. Asap kawah utama tidak teramati.
Melalui seismograf tanggal 2 Agustus 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Letusan
  • 3 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 7 mm

Rekomendasi: Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 1 Agustus 2019 pukul 12:33 WIB. Tinggi kolom tidak teramati.

 

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 50 meter dari puncak. 
Melalui rekaman seismograf pada 2 Agustus 2019 tercatat:

  • 13 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Hybrid
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. 

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3.768 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

 

Gunungapi Dukono (Halmahera)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap kawah utama teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal, ketinggian lk. 200 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf pada 2 Agustus 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 2 mm

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 30 Juli 2019 pukul 18:46 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1.829 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah timur.

 

Gunungapi Ibu (Halmahera)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut-0II. Asap kawah utama teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal, ketinggian lk. 200 - 800 meter dari puncak   Melalui seismograf tanggal 2 Agustus 2019 tercatat:

  • 101 kali gempa Letusan
  • 77 kali gempa Hembusan
  • 19 kali gempa Guguran
  • 48 kali Tremor Harmonik
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA: VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 14 Mei 2019 pukul 18:46 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2.125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah utara.

 

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018. Letusannya hampir selalu bersifat magmatik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi tertutup kabut 0-II. Asap kawah utama tidak teramati.
Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Agustus 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 10 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G. Gamalama.Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1.725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

 

Gunungapi Kerinci (Jambi)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi tertutup Kabut 0-III. Asap kawah utama tidak teramati.
Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Agustus 2019 tercatat:

  • 192 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 1 mm

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Kerinci dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 3 km dari kawah puncak.
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Kerinci agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 31 Juli 2019 pukul 12:55 WIB, terkait erupsi pada pukul 12:48 dengan ketinggian kolom abu sekitar 4.605 m di atas permukaan air laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu begerak  ke arah timur laut dan timur.  

 

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 100 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Agustus 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 1 mm

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1 km dari kawah puncak.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Juli 2019 pukul 18:52 WIB, terkait erupsi abu disertai suara gemuruh dan dentuman.  Gempa letusan terekam di seismograf dengan amplituda maksimum 37mm dan durasi 7 menit 14 detik. Tinggi kolom erupsi tidak teramati dengan jelas karena tertutup kabut.

 

Gunungapi Tangkuban Perahu
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Tangkuban Parahu (2.084 m dpl) mengalami erupsi pada 26 Juli 2019 pukul 15:48:18 WIB dengan tinggi kolom abu teramati ± 200 m di atas puncak (± 2284 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna abu tebal kehitaman condong kearah timurlaut dan selatan. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 50 mm (overscale) dan durasi ± 5 menit 30 detik. Erupsi susulan terjadi pada tanggal 1 Agustus 2019 pukul 20:46 WIB, tinggi kolom asap 180 m dari dasar kawah. Pada tanggal 2 Agustus 2019 erupsi susulan mulai pukul 00:43WIB, serta erupsi terakhir pada pukul 04:56 WIB yang berlangsung menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal. Teramati Letusan dengan tinggi 100 meter dan warna asap kelabu, hitam. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Agustus 2019 tercatat:

  • 4 kali gempa Letusan 
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 50 mm

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Tangkuban Parahu dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak mendekati kawah yang ada di puncak G. Tangkuban Parahu dalam radius 1,5 km dari kawah aktif. Kawasan Taman Wisata Alam Tangkuban Parahu direkomendasikan untuk sementara ditutup sampai jarak aman di atas.
  • Masyarakat di sekitar G. Tangkuban Parahu diharap tenang, beraktivitas seperti biasa, tidak terpancing isu-isu tentang letusan G. Tangkuban Parahu dan harap selalu mengikuti arahan BPBD setempat.
  • Masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar G. Tangkuban Parahu dalam KRB II untuk selalu waspada dan tetap memperhatikan perkembangan kegiatan G. Tangkuban Parahu yang dikeluarkan BPBD setempat.
  • Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi selalu berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat (BPBD Jabar) dan BPBD Kabupaten Bandung Barat serta BPBD Kabupaten Subang.
  • Agar BPBD Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Subang senantiasa berkoordinasi dengan Pos Pengamatan G. Tangkuban Parahu di Desa Cikole, Kec. Lembang, Kab. Bandung Barat atau dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 1 Agustus 2019 pukul 04:20 WIB, terkait pengamatan emisi abu vulkanik pada pukul 01:45 WIB. Dengan ketinggian kolom abu tidak teramati.

 

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Agustus 2019 dibandingkan Juli 2019, potensinya relatif sama dan potensinya  rendah disebagian besar wilyah indonesia . Namun untuk wilah Aceh, Kalimantan Utara, Sulawesi dan Papua mulai mengalami sedikit peningkatan potensi terjadinya gerakan tanah.  
Gerakan tanah terakhir terjadi :

  1. Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau
  2. Kabupaten Mimika, Provinsi  Papua

Penyebab gerakan tanah adalah akibat  kelerengan, kondisi geologi serta erosi sungai pada daratan di tepian sungai  yang dijadikan pemukiman, kondisi tanah pelapukan yang labil, dan fondasi bangunan yang kurang kuat serta dipicuh curah hujan tinggi. 
Dampak: 40 jiwa yang terdiri dari 10 KK kehilangan tempat tinggal di   Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau, akses jalan terhambat di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua.
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

 

3. Gempa Bumi
Gempa bumi di baratdaya Sumur, Banten
Informasi Gempa bumi: Gempa bumi terjadi pada hari Jumat, 2 Agustus 2019, pukul 19:03:21 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 104.58° BT dan 7.54° LS, dengan magnitudo M7.4 pada kedalaman 10 km, berjarak 137 km baratdaya Sumur, Banten. Sedangkan informasi dari USGS mencatat gempa bumi pada koordinat 104.806° BT dan 7.29° LS dengan magnitudo M6.8 pada kedalaman 42.8 km.
Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi: Pusat gempa bumi berada di laut. Wilayah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi adalah wilayah pesisir selatan Banten, Jawa Barat dan Lampung yang pada umumnya disusun oleh batuan sedimen berumur Kuarter. Batuan berumur Kuarter serta batuan berumur Tersier yang telah mengalami pelapukan bersifat urai, lepas, belum kompak dapat bersifat memperkuat efek guncangan gempa bumi.
Penyebab gempa bumi: Berdasarkan lokasi pusat gempa bumi dan kedalamannya, gempa bumi berasosiasi dengan aktivitas penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia.
Dampak gempa bumi: BMKG mengeluarkan peringatan tsunami untuk gempa bumi ini dengan status siaga di Pandeglang Selatan dan pesisir selatan Lampung, waspada di Pandeglang Utara, Lebak, pesisir Lampung bagian barat, dan pesisir Bengkulu. Peringatan tsunami diakhiri pada pukul 21.35 WIB. Guncangan gempa bumi terasa dengan intensitas III-IV MMI di Pandeglang dan pesisir selatan Lampung, II-III MMI di Jakarta, Bandung, Depok hingga Yogyakarta. 
Pos PGA G. Anak Krakatau di Pasauran di sekitar pantai Carita dilaporkan tidak ada kerusakan, dan gempa bumi terasa pada skala II-III MMI. Penduduk sekitar mengungsi ke arah bukit/menjauhi pantai. Menurut informasi BPBD Kerusakan beberapa rumah ditemukan Kab. Cianjur, Sukabumi, Bandung Barat dan Bogor. Tidak ada korban jiwa yang diakibatkan gempa bumi ini.
Rekomendasi:

  1. Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
  2. Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diharapkan berkekuatan lebih kecil.

 

II. DETAIL
1. Gunungapi
Dari 127 Gunun gapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. tingkat aktivitas saat ini:

  1. 4 gunungapi tingkat aktivitas Level III (SIAGA), yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 20 Mei 2019, G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018, G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018, dan G. Karangetang (Sulut) sejak 20 Desember 2018.
  2. 17 gunungapi tingkat aktivitas Level II (WASPADA), yaitu G. (Merapi, Marapi, Kerinci, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Gamalama, Gamkonora, Ibu, Dukono, Ili Lewotolok, Banda Api, dan Anak Krakatau, Tangkuban Parahu).
  3. Sisanya 48 gunungapi tingkat aktivitas Level I (NORMAL).

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Gunungapi Sinabung Sumatera Utara merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsinya berlangsung sejak tahun 2013. Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G. Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013 . Erupsi terakhir tanggal 9 Juni 2019. 
Dari kemarin hingga pagi ini visual  Gunungapi tertutup Kabut 0-III. Asap kawah utama tidak teramati.
Melalui rekaman seismograf pada 2 Agustus 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh

 

Gunungapi Agung (Bali)
Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat akrivitas saat ini adalah Level III (Siaga).Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Erupsi Gunung Agung selain bersifat eksplosif juga disertai efusi lava yang sangat cepat ke dalam kawah sehingga volume lava di dalam kawah mencapai 23 juta m3 pada bulan Desember 2017. Pada tahun 2018-2019 erupsi G. Agung masih terus terjadi namun dengan jangkauan lontaran material erupsi dan frekuensi kejadian erupsi mengalami penurunan.Erupsi terakhir terjadi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom letusan tidak dapat teramati karena tertutup kabut. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa kl. 3 menit 53 detik. Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap kawah utama teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, tinggi lk. 50 meter dari puncak kawah.
Melalui rekaman seismograf pada 2 Agustus 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh 
  • 1 kali gempa Terasa dengan skala I MMI

Melalui rekaman seismograf pada 3 Agustus 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat: - 2 kali gempa Tektonik Jauh

 

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
Gunungapi Soputan merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Sulawesi Utara yang berada di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga).
Data pemantauan G. Soputan dari periode Agustus hingga awal Oktober 2018 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) dan pada 16 Desember pukul 01:02 dan 03:09 WITA terjadi erupsi, teramati sinar api dari puncak G. Soputan, ketinggian kolom abu teramati berkisar 3.000-5.000 m di atas puncak. 
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Agustus 2019 tercatat:

  • 23 kali gempa Guguran
  • 3 kali gempa Hembusan
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh

 

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)
Gunungapi Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara adalah salah satu gunungapi di Indonesia yang paling sering erupsi. Erupsi terakhirnya terjadi pada tahun 2016. Setelah 2 tahun istirahat. Gunungapi Karangetang kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik sejak akhir bulan November 2018 sehingga tingkat aktivitas dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 20 Desember 2018 pukul 18:00 WITA. Pada awal Februari 2019 terjadi aliran lava keluar selama beberapa hari dari kawah utara, mengalir ke arah utara-baratlaut yang mencapai jarak > 3.000 m. Pemantauan terkini menunjukkan juga bahwa aktivitas di Kawah Utama (kawah Selatan) mengalami peningkatan dimana Awan Panas guguran teramati satu kali meluncur dari Kawah Utama sejauh 2.000 m ke arah Kali Kahetang dan Kali Batuawang pada 15 April 2019 sekitar pukul 12:00 WITA. 
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-II. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 150 meter dari puncak. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Agustus 2019 tercatat:

  • 85 kali gempa Guguran
  • 3 kali gempa Hembusan
  • 3 kali gempa Hybrid 
  • 2 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 7 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo dominan 0.25 mm

 

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)
Gunung Anak Krakatau (157 m dpl) secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, sejak 18 Juni 2018 peningkatan aktivitas vulkanik diikuti rangkaian erupsi pada September 2018 - 9 Januari 2019, dengan intensitas erupsi tertinggi pada bulan Oktober 2018. Pada akhir Desember 2018, intensitas erupsi cukup tinggi, berupa letusan menerus tipe strombolian, diselingi letusan tipe Surtseyan pada 27 Desember 2018 sehingga tingkat aktivitas dinaikan menjadi Level III (Siaga). 
Pada periode Februari-Juli 2019 erupsi masih terjadi tetapi intensitas erupsi cenderung menurun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (Waspada) sejak 25 Maret 2019.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi tertutup Kabut 0-III. Asap kawah utama tidak teramati.
Melalui seismograf tanggal 2 Agustus 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Letusan
  • 3 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 7 mm

 

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB tingkat aktivitas G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 50 meter dari puncak. 
Melalui rekaman seismograf pada 2 Agustus 2019 tercatat:

  • 13 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Hybrid
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

 

Gunungapi Dukono (Halmahera)
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap kawah utama teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal, ketinggian lk. 200 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf pada 2 Agustus 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 2 mm

 

Gunungapi Ibu (Halmahera)
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2008 menerus hingga saat ini. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan Kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut-0II. Asap kawah utama teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal, ketinggian lk. 200 - 800 meter dari puncak   Melalui seismograf tanggal 2 Agustus 2019 tercatat:

  • 101 kali gempa Letusan
  • 77 kali gempa Hembusan
  • 19 kali gempa Guguran
  • 48 kali Tremor Harmonik
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

 

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1.715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara. Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timur (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.
Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada). 
Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter di atas puncak atau 1965 m di atas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi tertutup kabut 0-II. Asap kawah utama tidak teramati.
Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Agustus 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 10 kali gempa Tektonik Jauh

 

Gunungapi Kerinci (Jambi)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi tertutup Kabut 0-III. Asap kawah utama tidak teramati.
Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Agustus 2019 tercatat:

  • 192 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 1 mm

 

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 100 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Agustus 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 1 mm

 

Gunungapi Tangkuban Perahu
Gunungapi Tangkuban Parahu merupakan gunungapi aktif yang berada di wilayah Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat. Erupsi G. Tangkuban Parahu pada umumnya berupa letusan freatik dari Kawah Ratu. Erupsi terakhir sebelum tahun ini terjadi pada 6 Oktober 2013.
Secara visual, aktivitas permukaan 1 (satu) bulan terakhir didominasi oleh hembusan asap dari kawah utama (Kawah Ratu) dengan ketinggian sekitar 15 - 150 meter dari dasar kawah, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.
Pada 26 Juli 2019 pukul 15:48:18 WIB dengan tinggi kolom abu teramati ± 200 m di atas puncak (± 2284 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna abu tebal kehitaman condong kearah timurlaut dan selatan. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 50 mm (overscale) dan durasi ± 5 menit 30 detik. Pada 1 Agustus 2019 Pkl 20:46 WIB  terjadi erupsi freatik dengan tinggi kolom abu 180 m dari dasar kawah. Erupsi susulan terjadi pada tanggal 1 Agustus 2019 pukul 20:46 WIB, tinggi kolom asap 180 m dari dasar kawah. Pada tanggal 2 Agustus 2019 erupsi susulan mulai pukul 00:43WIB, serta erupsi terakhir pada pukul 04:56 WIB yang berlangsung menerus.
Secara seismik, aktivitas Gunung Tangkuban Parahu masih didominasi oleh gempa-gempa yang mencerminkan aktivitas di kedalaman dangkal berupa Gempa Hembusan. Setelah erupsi terjadi, rekaman seismik didominasi oleh Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 2-32 mm (dominan 15 mm). Terekamnya Tremor ini berkaitan dengan pelepasan tekanan berupa hembusan-hembusan yang terjadi sampai saat ini. Secara deformasi, dalam 1 (satu) bulan terakhir Gunung Tangkuban Parahu mengalami inflasi kecil bersifat lokal. Data deformasi masih mengindikasikan aktivitas Gunung Tangkuban Parahu masih belum stabil. Secara geokimia gas, di area sekitar Kawah Ratu menunjukkan telah terjadi peningkatan kandungan gas vulkanik H2S dan SO2 pada tanggal 10 Juli 2019. Kandungan gas vulkanik semakin meningkat pada tanggal 13 Juli 2019, namun hasil pengukuran konsentrasi gas-gas tersebut, setelah pukul 12:00 WIB, sudah cenderung menurun lagi secara cukup signifikan. Pengukuran gas terakhir tanggal 1 Agustus 2019 menunjukkan konsentrasi gas masih cenderung naik lagi.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal. Teramati Letusan dengan tinggi 100 meter dan warna asap kelabu, hitam. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Agustus 2019 tercatat:

  • 4 kali gempa Letusan 
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 50 mm

 

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos-Pos Pengamatan Gunungapi  di atas tersebut terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD setempat disekitar masing-masing gunung, tentang penanggulangan bencana erupsi gunungapi. Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll.

VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Sinabung, Sumatera Utara, VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Juni 2019 pukul 14:21 WIB, terkait emisi gas dengan ketinggian kolom asap 2960 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 m dari puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur-tenggara.
  2. G. Agung, Bali, VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juni 2019 pukul 01:48 WITA , terkait erupsi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom abu tidak teramati. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa kl. 3 menit 53 detik.
  3. G. Soputan, Sulawesi Utara, VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 meter di atas puncak.
  4. G. Karangetang, Sulawesi Utara, VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.
  5. G. Anak Krakatau, Lampung, VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 1 Agustus 2019 pukul 12:33 WIB. Tinggi kolom tidak teramati.
  6. G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta, VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3.768 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
  7. G. Dukono, Maluku Utara, VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 30 Juli 2019 pukul 18:46 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1.829 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah timur.
  8. G. Ibu, Maluku Utara, VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 14 Mei 2019 pukul 18:46 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2.125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah utara.
  9. G. Gamalama, Maluku Utara, VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1.725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.
  10. G. Kerinci, Jambi, VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 31 Juli 2019 pukul 12:55 WIB, terkait erupsi pada pukul 12:48 dengan ketinggian kolom abu sekitar 4.605 m di atas permukaan air laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu begerak  ke arah timur laut dan timur.
  11. G. Bromo, JawaTimur, VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Juli 2019 pukul 18:52 WIB, terkait erupsi abu disertai suara gemuruh dan dentuman.  Gempa letusan terekam di seismograf dengan amplituda maksimum 37mm dan durasi 7 menit 14 detik. Tinggi kolom erupsi tidak teramati dengan jelas karena tertutup kabut.
  12. G. Tangkuban Perahu, Jawa Barat, VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 1 Agustus 2019 pukul 04:20 WIB, terkait pengamatan emisi abu vulkanik pada pukul 01:45 WIB. Dengan ketinggian kolom abu tidak teramati.

Kegiatan gunungapi lain yang di atas Normal sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

 

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  Agustus 2019 dibandingkan Juli 2019 ,   potensinya relatif sama dan rendah disebagian besar wilayah Indonesia.Namun wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai karena mulau meningkat potensi terjadinya gerakan tanah  utamanya di wilayah Aceh, sumatera bagian utara, kalimantan utara, Papua dan Sulawesi Tengah serta yang berada  di jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di:

  1. Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau
  2. Kabupat3en Mimika, Provinsi  Papua
  3. Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi
  4. Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara
  5. Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur
  6. Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur
  7. Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah
  8. Kota Tidore Kepulauan , Provinsi Maluku Utara
  9. Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Babel. 

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam satu minggu terjadi di ; 
1. Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau

 Musibah tanah longsor terjadi di Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Jumat (2/8/2019) pagi.  Sebagian besar rumah yang runtuh akibat tanah longsor merupakan bangunan yang terbuat dari kayu. Sebanyak 40 jiwa yang terdiri dari 10 KK kehilangan tempat tinggal. Longsor terjadi akibat arus sungai yang sangat deras, sehingga rumah dan bangunan tersebut tidak mampu bertahan. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, namun kerugian mencapai ratusan juta rupiah.
Sumber: http://riaulink.com/news/detail/6501/berikut-data-korban-musibah-longsor-di-tanah-merah-inhil
Penyebab gerakan tanah adalah akibat erosi sungai pada daratan di tepian sungai  yang dijadikan pemukiman, kondisi tanah pelapukan yang labil, dan fondasi bangunan yang kurang kuat. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

2.Kabupaten Mimika, Provinsi  Papua

 Longsoran material berupa bebatuan dan tanah terjadi di Mile 69, jalan akses ke lokasi tambang milik PT Freeport Indonesia, di Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, Jumat (2/8/2019). Tak ada korban jiwa dalam insiden ini. Dampak dari bencana alam tersebut Akses jalan ke lokasi tambang terhambar tepatnya di Mile 69.
Sumber:https://kompas.id/baca/nusantara/2019/08/02/longsoran-material-timbun-jalan-tambang-freeport/
Penyebab longsor diduga karena erosi  kelerengan yang terjal dan konsisi geolologi yang rawan longsor.  Tipe gerakan tanah adalah longsoran dan jatuhan batuan pada tebing sungai.

Rekomendasi:

  • Masyarakat yang tinggal disekitar daerah tersebut agar waspada terhadap potensi longsoran terutama pada saat pasang surut secara tiba-tiba 
  • Masyarakat yang bermukim dipinggiran sungai mewaspadai tanda tanda awal longsor• Hindari konsenterasi masyarakat yang banyak atau dikasih batas pengaman agar masyarakat tidak berkumpul pada sisi sungai
  • Pembangunan sebaiknya tidak berada pada sepadan sungai karena potensi pasang surut bisa menyebabkan longsor dan banjir
  • Diperlukan penahan abrasi atau pasang surut pada sisi sungai a
  • Pembersihan material longsor agar dilakukan dengan memperhatikan situasi dan kondisi arus aliran sungai karena dikhawatirkan masih terjadi erosi dan menyebabkan longsor baru
  • Pemukiman harus mengikuti izin dan kaidah teknis pebuatan bangunan yang cocok dan tahan erosi 
  • Memasang rambu peringatan bahaya erosi sungai penyebab longsor 
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami bahaya erosi dan gerakan tanah
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah/ BPBD setempat.