Laporan Kebencanaan Geologi, 02 Agustus 2019

Logo_ESDM

I. SUMMARY
Hari ini, Jumat 2 Agustus 2019,  Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G. Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013 . Erupsi terakhir tanggal 9 Juni 2019. 
Dari kemarin hingga pagi ini visual  Gunungapi tampak jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap kawah utama teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hinggatebal, ketinggian lk. 500 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf pada 1 Agustus 2019 tercatat:

  • 4 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tornillo

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius 3 km dari puncak G. Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor Selatan - Timur, dan 4 km untuk sektor Utara-Timur.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah, mengamankan sarana air bersih, dan membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
  • Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Juni 2019 pukul 14:21 WIB, terkait emisi gas dengan ketinggian kolom asap 2960 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 m dari puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur-tenggara.

 

Gunungapi Agung (Bali)
Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat akrivitas saat ini adalah Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap kawah utama teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, tinggi lk. 50 meter dari puncak kawah.
Melalui rekaman seismograf pada 1 Agustus 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh

Melalui rekaman seismograf pada 2 Agustus 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat: kegempaan Nihil
Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak  berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan.

VONA: VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juni 2019 pukul 01:48 WITA , terkait erupsi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom abu tidak teramati. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa kl. 3 menit 53 detik.

 

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Soputan (1.809 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Agustus 2019 tercatat:

  • 23 kali gempa Guguran
  • 5 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Harmonik
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi: Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran.
VONA: VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 meter di atas puncak.

 

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang tinggi sekitar 100 meter dari puncak. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Agustus 2019 tercatat:

  • 97 kali gempa Guguran
  • 3 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Hybrid 
  • 3 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo dominan 0.28 mm

Rekomendasi: Terhitung mulai tanggal 26 Maret 2019 pukul 12:00 WITA rekomendasi teknis adalah sebagai berikut:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat Iaut-Utara sejauh 4 km, yaitu wilayah yang berada di antara Kali Batuare dan Kali Saboang.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2.284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.

 

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Pada Juli 2019 erupsi masih terjadi tetapi dengan intensitas yang semakin menurun.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi tertutup Kabut 0-III. Asap kawah utama tidak teramati.
Melalui seismograf tanggal 1 Agustus 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Letusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali gempa Harmonik
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 3 mm

Rekomendasi: Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 1 Agustus 2019 pukul 12:33 WIB. Tinggi kolom tidak teramati.

 

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama tidak teramati. 
Melalui rekaman seismograf pada 1 Agustus 2019 tercatat:

  • 14 kali gempa Guguran
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. 

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3.768 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

 

Gunungapi Dukono (Halmahera)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap kawah utama teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal, ketinggian lk. 200 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf pada 1 Agustus 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Letusan
  • 7 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 4 mm

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 30 Juli 2019 pukul 18:46 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1.829 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah timur.

 

Gunungapi Ibu (Halmahera)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut-0II. Asap kawah utama teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal, ketinggian lk. 200 - 800 meter dari puncak   Melalui seismograf tanggal 1 Agustus 2019 tercatat:

  • 106 kali gempa Letusan
  • 87 kali gempa Hembusan
  • 17 kali gempa Guguran
  • 47 kali gempa Tremor Harmonik

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA: VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 14 Mei 2019 pukul 18:46 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2.125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah utara.

 

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018. Letusannya hampir selalu bersifat magmatik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati.
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Agustus 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Tektonik Lokal
  • 7 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G. Gamalama.Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1.725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

 

Gunungapi Kerinci (Jambi)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap kawah utama teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal, tinggi lk. 300 meter dari puncak. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Agustus 2019 tercatat:

  • 60 kali gempa Hembusan
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 1 mm

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Kerinci dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 3 km dari kawah puncak.
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Kerinci agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 31 Juli 2019 pukul 12:55 WIB, terkait erupsi pada pukul 12:48 dengan ketinggian kolom abu sekitar 4.605 m di atas permukaan air laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu begerak  ke arah timur laut dan timur.  

 

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 100 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Agustus 2019 tercatat:- Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 1 mm
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1 km dari kawah puncak.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Juli 2019 pukul 18:52 WIB, terkait erupsi abu disertai suara gemuruh dan dentuman.  Gempa letusan terekam di seismograf dengan amplituda maksimum 37mm dan durasi 7 menit 14 detik. Tinggi kolom erupsi tidak teramati dengan jelas karena tertutup kabut.

 

Gunungapi Tangkuban Perahu
Tingkat aktivitas Level I (Normal) G. Tangkubanparahu (2.084 m dpl) mengalami erupsi pada 26 Juli 2019 pukul 15:48:18 WIB dengan tinggi kolom abu teramati ± 200 m di atas puncak (± 2284 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna abu tebal kehitaman condong kearah timurlaut dan selatan. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 50 mm (overscale) dan durasi ± 5 menit 30 detik. Erupsi susulan terjadi pada tgl 2 Agustus 2019 mulai Pkl 01:45 WIB selama lk 2 jam, tinggi kolom asap 180 m dari dasar kawah.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal. Teramati Letusan dengan tinggi 100 - 180 meter dengan warna asap putih, kelabu. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Agustus 2019 tercatat:

  • 4 kali gempa Letusan
  • 255 kali gempa Hembusan
  • 4 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 20 mm
Melalui rekaman seismograf tanggal 2 Agystus 2019 Pkl 00-06 WIB tercatati- 1 kali tremor letusan selama lk 2 jam

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Tangkubanparahu, pedagang, wisatawan, dan pendaki tidak diperbolehkan mendekati Kawah Ratu dan Kawah Upas dengan radius 500 meter, serta tidak diperbolehkan menginap dalam kawasan kawah-kawah aktif yang ada di dalam kompleks G. Tangkubanparahu.
  • Masyarakat di sekitar G. Tangkubanparahu, pedagang, wisatawan, pendaki, dan pengelola wisata G. Tangkubanparahu agar mewaspadai meningkatnya konsentrasi gas gas vulkanik dan dihimbau tidak berlama-lama berada di bibir kawah aktif G. Tangkubanparahu agar terhindar dari paparan gas yang dapat berdampak bagi kesehatan dan keselamatan jiwa.
  • Masyarakat di sekitar G. Tangkubanparahu, pedagang, wisatawan, pendaki, dan pengelola wisata G. Tangkubanparahu agar mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tibatiba dan tanpa didahului oleh gejala vulkanik yang jelas.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Juli 2019 pukul 16:35 WIB, terkait pengamatan emisi abu vulkanik pada pukul 15:48 WIB. Dengan ketinggian kolom abu sekitar 2.284 m di atas permukaan air laut atau sekitar 200 m di atas puncak. Kolom abu begerak  ke arah timurlaut dan selatan.

 

2. Gempa Bumi

Gempa bumi di Pegunungan Arfak, Papua Barat                                     
Informasi Gempa Bumi: Gempa bumi terjadi pada hari Kamis, 1 Agustus 2019, pukul 01:35:53 WIB. Menurut BMKG, pusat gempa bumi berada pada koordinat 133,24°BT dan 0,71°LS dengan magnitudo 5,4 pada kedalaman 72 km, berjarak 71 km baratlaut Pegunungan Arfak, Papua Barat. Informasi dari Geo Forschungs Zentrum_ (GFZ) Jerman, pusat gempa bumi berada pada koordinat 133,28°BT dan 0,66°LS, magnitudo 5,2 pada kedalaman 10 km. Sedangkan menurut USGS, pusat gempa bumi berada pada koordinat 133,229°BT dan 0,7321°LS, dengan magnitudo M 5,3 pada kedalaman 17,1 km.
Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi: Pusat gempa bumi berada di darat. Lokasi gempa bumi tersusun oleh batuan yang berumur Pratersier hingga Kuarter, terdiri dari batuan sedimen dan batuan gunung api, batuan beku, malihan dan bancuh. Sepanjang pesisir tersusun oleh endapan aluvium yang bersifat lepas dan belum terkonsolidasi sehingga bisa memperkuat efek guncangan gempa.
Penyebab gempa bumi: Berdasarkan lokasi dan kedalaman pusat gempa bumi, diperkirakan gempa bumi ini disebabkan Sesar Sorong yg relatif berarah timur-barat.
Dampak gempa bumi: Belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan. Gempa bumi ini dirasakan di Manokwari pada skala Intensitas II-III MMI.Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.
Rekomendasi:

  1. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, mengikuti arahan dan informasi dari pemerintah daerah dan BPPD setempat, serta tidak terpancing isu yang tidak bertanggung jawab mengenai  gempa bumi dan tsunami.
  2. Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diperkirakan energinya lebih kecil.

 

II. DETAIL
1. Gunungapi
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. tingkat aktivitas saat ini:

  1. 4 gunungapi tingkat aktivitas Level III (SIAGA), yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 20 Mei 2019, G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018, G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018, dan G. Karangetang (Sulut) sejak 20 Desember 2018.
  2. 16 gunungapi tingkat aktivitas Level II (WASPADA), yaitu G. (Merapi, Marapi, Kerinci, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Gamalama, Gamkonora, Ibu, Dukono, Ili Lewotolok, Banda Api, dan Anak Krakatau).
  3. Sisanya 49 gunungapi tingkat aktivitas Level I (NORMAL).

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Gunungapi Sinabung Sumatera Utara merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsinya berlangsung sejak tahun 2013. Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G. Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013 . Erupsi terakhir tanggal 9 Juni 2019. 
Dari kemarin hingga pagi ini visual  Gunungapi tampak jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap kawah utama teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hinggatebal, ketinggian lk. 500 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf pada 1 Agustus 2019 tercatat:

  • 4 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tornillo

 

Gunungapi Agung (Bali)
Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat akrivitas saat ini adalah Level III (Siaga).Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Erupsi Gunung Agung selain bersifat eksplosif juga disertai efusi lava yang sangat cepat ke dalam kawah sehingga volume lava di dalam kawah mencapai 23 juta m3 pada bulan Desember 2017. Pada tahun 2018-2019 erupsi G. Agung masih terus terjadi namun dengan jangkauan lontaran material erupsi dan frekuensi kejadian erupsi mengalami penurunan.Erupsi terakhir terjadi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom letusan tidak dapat teramati karena tertutup kabut. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa kl. 3 menit 53 detik. Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap kawah utama teramati berwarna putih dengan intensitas tipis, tinggi lk. 50 meter dari puncak kawah.
Melalui rekaman seismograf pada 1 Agustus 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh

Melalui rekaman seismograf pada 2 Agustus 2019 (Pukul. 00:00-06:00 WITA) tercatat: kegempaan Nihil

 

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
Gunungapi Soputan merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Sulawesi Utara yang berada di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga).
Data pemantauan G. Soputan dari periode Agustus hingga awal Oktober 2018 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) dan pada 16 Desember pukul 01:02 dan 03:09 WITA terjadi erupsi, teramati sinar api dari puncak G. Soputan, ketinggian kolom abu teramati berkisar 3.000-5.000 m di atas puncak. 
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut. Asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Agustus 2019 tercatat:

  • 23 kali gempa Guguran
  • 5 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Harmonik
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

 

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)
Gunungapi Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara adalah salah satu gunungapi di Indonesia yang paling sering erupsi. Erupsi terakhirnya terjadi pada tahun 2016. Setelah 2 tahun istirahat. Gunungapi Karangetang kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik sejak akhir bulan November 2018 sehingga tingkat aktivitas dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 20 Desember 2018 pukul 18:00 WITA. Pada awal Februari 2019 terjadi aliran lava keluar selama beberapa hari dari kawah utara, mengalir ke arah utara-baratlaut yang mencapai jarak > 3.000 m. Pemantauan terkini menunjukkan juga bahwa aktivitas di Kawah Utama (kawah Selatan) mengalami peningkatan dimana Awan Panas guguran teramati satu kali meluncur dari Kawah Utama sejauh 2.000 m ke arah Kali Kahetang dan Kali Batuawang pada 15 April 2019 sekitar pukul 12:00 WITA. 
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang tinggi sekitar 100 meter dari puncak. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Agustus 2019 tercatat:

  • 97 kali gempa Guguran
  • 3 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Hybrid
  • 3 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo dominan 0.28 mm

 

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)
Gunung Anak Krakatau (157 m dpl) secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, sejak 18 Juni 2018 peningkatan aktivitas vulkanik diikuti rangkaian erupsi pada September 2018 - 9 Januari 2019, dengan intensitas erupsi tertinggi pada bulan Oktober 2018. Pada akhir Desember 2018, intensitas erupsi cukup tinggi, berupa letusan menerus tipe strombolian, diselingi letusan tipe Surtseyan pada 27 Desember 2018 sehingga tingkat aktivitas dinaikan menjadi Level III (Siaga). 
Pada periode Februari-April 2019 erupsi masih terjadi tetapi intensitas erupsi cenderung menurun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (Waspada) sejak 25 Maret 2019.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi tertutup Kabut 0-III. Asap kawah utama tidak teramati.
Melalui seismograf tanggal 1 Agustus 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Letusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali gempa Harmonik
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 3 mm

 

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB tingkat aktivitas G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama tidak teramati. 
Melalui rekaman seismograf pada 1 Agustus 2019 tercatat:

  • 14 kali gempa Guguran
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

 

Gunungapi Dukono (Halmahera)
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap kawah utama teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal, ketinggian lk. 200 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf pada 1 Agustus 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Letusan 
  • 7 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 4 mm

 

Gunungapi Ibu (Halmahera)
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2008 menerus hingga saat ini. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan Kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut-0II. Asap kawah utama teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal, ketinggian lk. 200 - 800 meter dari puncak   Melalui seismograf tanggal 1 Agustus 2019 tercatat:

  • 106 kali gempa Letusan
  • 87 kali gempa Hembusan
  • 17 kali gempa Guguran
  • 47 kali gempa Tremor Harmonik

 

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1.715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara. Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timur (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.
Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada). 
Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter di atas puncak atau 1965 m di atas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati.
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Agustus 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Tektonik Lokal
  • 7 kali gempa Tektonik Jauh

 

Gunungapi Kerinci (Jambi)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap kawah utama teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal, tinggi lk. 300 meter dari puncak. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Agustus 2019 tercatat:

  • 60 kali gempa Hembusan 
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 1 mm

 

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 100 meter dari puncak.
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Agustus 2019 tercatat:- Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 1 mm

 

Gunungapi Tangkuban Perahu
Gunungapi Tangkubanparahu merupakan gunungapi aktif yang berada di wilayah Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat. Erupsi G. Tangkubanparahu pada umumnya berupa letusan freatik dari Kawah Ratu. Erupsi terakhir sebelum tahun ini terjadi pada 6 Oktober 2013.
Secara visual, aktivitas permukaan 1 (satu) bulan terakhir didominasi oleh hembusan asap dari kawah utama (Kawah Ratu) dengan ketinggian sekitar 15 - 150 meter dari dasar kawah, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.
Pada 26 Juli 2019 pukul 15:48:18 WIB dengan tinggi kolom abu teramati ± 200 m di atas puncak (± 2284 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna abu tebal kehitaman condong kearah timurlaut dan selatan. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 50 mm (overscale) dan durasi ± 5 menit 30 detik. Pada 1 Agustus 2019 Pkl 20:46 WIB  terjadi erupsi freatik dengan tinggi kolom abu 180 m dari dasar kawah, yang diikuti erupsi terakhir pada 2 Agustus 2019 Pkl 01:45 WIB selama lebih kurang 2 jam.
Secara seismik, aktivitas Gunung Tangkubanparahu masih didominasi oleh gempa-gempa yang mencerminkan aktivitas di kedalaman dangkal berupa Gempa Hembusan. Setelah erupsi terjadi, rekaman seismik didominasi oleh Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 2-32 mm (dominan 15 mm). Terekamnya Tremor ini berkaitan dengan pelepasan tekanan berupa hembusan-hembusan yang terjadi sampai saat ini. Secara deformasi, dalam 1 (satu) bulan terakhir Gunung Tangkubanparahu mengalami inflasi kecil bersifat lokal. Data deformasi masih mengindikasikan aktivitas Gunung Tangkubanparahu masih belum stabil. Secara geokimia gas, di area sekitar Kawah Ratu menunjukkan telah terjadi peningkatan kandungan gas vulkanik H2S dan SO2 pada tanggal 10 Juli 2019. Kandungan gas vulkanik semakin meningkat pada tanggal 13 Juli 2019, namun hasil pengukuran konsentrasi gas-gas tersebut, setelah pukul 12:00 WIB, sudah cenderung menurun lagi secara cukup signifikan. Pengukuran gas terakhir tanggal 1 Agustus 2019 menunjukkan konsentrasi gas masih cenderung naik lagi.
Dari kemarin hingga pagi ini visual Gunungapi terlihat jelas. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal. Teramati Letusan dengan tinggi 100 - 180 meter dengan warna asap putih, kelabu. 
Melalui rekaman seismograf tanggal 1 Agustus 2019 tercatat:

  • 4 kali gempa Letusan
  • 255 kali gempa Hembusan
  • 4 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • Tremor Menerus dengan amplitudo dominan 20 mm

Melalui rekaman seismograf tgl 2 Agustus 2019 Pkl 00-06 WIB tercatat :

  • tremor letusan, selama 2 jam

 

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos-Pos Pengamatan Gunungapi  di atas tersebut terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD setempat disekitar masing-masing gunung, tentang penanggulangan bencana erupsi gunungapi. Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll.

VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Sinabung, Sumatera UtaraVONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Juni 2019 pukul 14:21 WIB, terkait emisi gas dengan ketinggian kolom asap 2960 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 m dari puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur-tenggara.
  2. G. Agung, BaliVONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juni 2019 pukul 01:48 WITA , terkait erupsi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom abu tidak teramati. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa kl. 3 menit 53 detik.
  3. G. Soputan, Sulawesi UtaraVONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8.809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7.000 meter di atas puncak.
  4. G. Karangetang, Sulawesi UtaraVONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.
  5. G. Anak Krakatau, LampungVONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 1 Agustus 2019 pukul 12:33 WIB. Tinggi kolom tidak teramati.
  6. G. Merapi, Jawa Tengah - YogyakartaVONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3.768 meter di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
  7. G. Dukono, Maluku UtaraVONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 30 Juli 2019 pukul 18:46 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1.829 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah timur.
  8. G. Ibu, Maluku UtaraVONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 14 Mei 2019 pukul 18:46 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2.125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah utara.
  9. G. Gamalama, Maluku UtaraVONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1.725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.
  10. G. Kerinci, JambiVONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 31 Juli 2019 pukul 12:55 WIB, terkait erupsi pada pukul 12:48 dengan ketinggian kolom abu sekitar 4.605 m di atas permukaan air laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu begerak  ke arah timur laut dan timur.
  11. G. Bromo, JawaTimurVONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 Juli 2019 pukul 18:52 WIB, terkait erupsi abu disertai suara gemuruh dan dentuman.  Gempa letusan terekam di seismograf dengan amplituda maksimum 37mm dan durasi 7 menit 14 detik. Tinggi kolom erupsi tidak teramati dengan jelas karena tertutup kabut.
  12. G. Tangkuban Perahu, Jawa BaratVONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Juli 2019 pukul 16:35 WIB, terkait pengamatan emisi abu vulkanik pada pukul 15:48 WIB. Dengan ketinggian kolom abu sekitar 2.284 m di atas permukaan air laut atau sekitar 200 m di atas puncak. Kolom abu begerak  ke arah timurlaut dan selatan.

Kegiatan gunungapi lain yang di atas Normal sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.