Laporan Kebencaan Geologi 27 Desember 2018

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

Hari ini, Kamis 27 Desember 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah setinggi 200 meter, berwarna putih, dengan intensitas tipis hingga tebal. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan barat.

Melalui rekaman seismograf tanggal 26 Desember 2018 tercatat :

  • 2 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tektonik Lokal
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara -Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, didalam jarak 6 km untuk sektor Tenggara - Timur serta didalam jarak 4 km untuk sektor Utara -Timur.
  • Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

Gunungapi Agung (Bali):
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.Dari kemarin hingga pagi ini visual cuaca visual cuaca berawan hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah timurlaut dan barat. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-III. Asap kawah utama teramati setinggi 400 m dari puncak, berwarna putih dengan intesitas tipis.

Melalui rekaman seismograf tanggal 26 Desember 2018 tercatat :

  • 5 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 8 kali gempa Tektonik Jauh

Kegempaan tanggal 27 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat: Nihil

Rekomendasi :

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA :

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara):
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Gunungapi Soputan (1784 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timur dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf tanggal 26 Desember 2018 tercatat :

  • 11 kali gempa Guguran
  • 5 kali gempa Hembusan

Tanggal 27 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat :

  • 13 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Hembusan

Rekomendasi :

Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran

VONA :

VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7000 meter di atas puncak.

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara):
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). G. Karangetang (2460 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur. 

Melalui rekaman seismograf tanggal 26 Desember 2018 tercatat :

  • 40 kali gempa Hembusan
  • 13 kali gempa Harmonik
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 27 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat :

  • 15 kali gempa Hembusan
  • 3 kali gempa Harmonik

Rekomendasi :

  • Masyarakat di sekitar G. Karangetang dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam radius 2.5 km dari Kawah 2 (kawah utara) dan Kawah Utama (kawah Selatan) ke arah Utara-Timur-Selatan-Barat dan radius 3 km ke arah Baratlaut
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai
  • Masyarakat disekitar G. Karangetang dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung):
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Gunungapi Anak Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan tingkat aktivitasnya dinaikkan dari Level II (WASPADA) ke Level III (SIAGA) pada 27 Desember 2018 pukul 06:00 WIB.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati dengan tinggi sekitar 700 meter dari puncak berwarna hitam dan intensitas tebal. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah utara dan timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 26 Desember 2018 tercatat :

  • Tremor menerus dengan amplitudo 9-35 mm, dominan 25 mm

Rekomendasi :

Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 5 km dari kawah.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Desember 2018 pukul 16:00 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu yang tidak dapat teramati karena faktor cuaca. Kolom abu bergerak ke arah utara dan timurlaut.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati dengan tinggi sekitar 20 meter dari puncak dan intensitas sedang hingga tebal. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan tenggara. 

Melalui rekaman seismograf tanggal 26 Desember 2018 tercatat :

  • 25 kali gempa Guguran
  • 2 kali gempa Low Frequency
  • 3 kali gempa Hybrid 
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali gempa Hembusan

Rekomendasi :

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi
  • Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.
  • Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No.15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192
  • Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunungapi Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati.  Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah dan timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 26 Desember 2018 tercatat :

  • 1 kali gempa Letusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • Tremor Menerus terekam dengan amplitudo 0.5 – 5 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi :

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 17 Desember 2018 pukul 11:27 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1629 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Selatan.

Gunungapi Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup sedang hingga kencang ke arah timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 26 Desember 2018 tercatat :

  • 86 kali gempa Letusan
  • 32 kali gempa Hembusan
  • 13 kali gempa Guguran
  • 3 kali gempa Harmonik

Rekomendasi :

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA :

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 Desember 2018 pukul 13:57 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1825 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.Kolom abu bergerak ke arah Selatan.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara):
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gamalama (1715 m dpl) mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan dan timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 26 Desember 2018 tercatat :

  • 3 kali gempa Hembusan
  • 7 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 7 kali gempa Tektonik Lokal
  • 7 kali gempa Tektonik Jauh 

Rekomendasi :

Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G.GamalamaPada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G.Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.

Untuk Gunungapi Status Normal : Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  Desember  2018  yang dibandingkan bulan  November 2018,   umumnya potensinya mengalami peningkatan dan semakin meluas  ke sebagian besar wilayah Indonesia  Sumatera , Jawa Bagian Barat dan Tengah, Sulawesi , Kalimantan, Maluku, NTB, NTT, dan Papua

Gerakan tanah terakhir terjadi :

  1. Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah
  2. Kabupaten Lebak, Provinsi Banten
  3. Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat 
  4. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah

Penyebab :

Penyebab gerakan tanah diperkirakan diantaranya kemiringan lereng yang terjal, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang serta mudah menyerap air, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. 

Dampak :

Gerakan tanah / tanah longsor   menyebabkan talut rusak menimpa 1 (satu) rumah yang di bawahnya dan 1 (satu) orang luka-luka di Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah;  jalan terputus dan satu unit kendaraan bersama pengemudinya  (luka-luka) terjatuh ke bawah bagian Oprit di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten; akses jalan terputus di Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat ; 7 bangunan mengalami rusak, 5 bangunan terancam, dan menututp beberapa akses jalan desa di Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi

Laporan Harian Tim TD Tsunami Selat Sunda Badan Geologi, Rabu, 26 Desember 2018

  1. Melakukan diskusi tentang tsunami, gempabumi dan gunungapi Krakatau dgn tim siaga bencana ESDM di posko ESDM di Sumur.
  2. Melapor dan Diskusi tentang gempabumi dan tsunami dengan Sekda Kab. Pandeglang.
  3. Melapor dan diskusi tentang tsunami dan gempabumi dgn Ka BNPB di Posko BNPB di kec. Sumur.
  4. Melakukan sosialisasi dan diskusi tentang gempa bumi dan tsunami dengan masyarakat : Kp Legon, Sumberjaya, Sumur; dan Ds Tangkilsari, Cimanggu.
  5. Melakukan pemeriksaan dan pengukuran landaan tsunami di Kec Cigeulis, Cimanggu dan Sumur dengan hasil sebagai:Ds Banyuasih, kec Cigeulis : Flow Depth (FD) 320 cm dan 240 cm, Run up distance (RD) 274  m.Objek wisata waterboom Citiih : FD 170 cm,  RD 191 m.Ds Tangkilsari, kec Cimanggu: RD 213 m dan  142 m.Kp Legon, Sumberjaya, kec Sumur: FD 328 cm, RD 144 m dan 167 m.Kp Basisir, Sumberjaya, Kec Sumur FD 333 cm.Kp Sumur, Sumberjaya, kec Sumur FD 390 cm.Kota kec Sumur RD 244 m.
  6. Jumlah korban  meninggal di Kec.Sumur 64 org. Akses ke Kec. Cimanggu, Cigeulis dan Sumur tidak bisa ditempuh lewat jalan pantai karena rusak dan ada jembatan putus oleh tsunami. TIm Badan Geologi menempuh lokasi tersebut melalui daerah Cibaliung dan daerah gunung dengan kondisi jalan rusak dan berlubang, serta waktu tempuh dari Labuan sekitar 4,5 jam.