Laporan Kebencanaan Geologi, 15 Juli 2019

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

I. SUMMARY

Hari ini, Senin 15 Juli 2019, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi

Gunungapi Sinabung - Sumatera Utara

Tingkat aktivitas sejak 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). Gunung Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013. Erupsi terakhir terjadi 9 Juni 2019.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah utama berwarna putih tipis hingga tebal tinggi 300 - 500 meter dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf pada 14 Juli 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 7 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali gempa Getaran Banjir

Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius 3 km dari puncak G. Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor Selatan - Timur, dan 4 km untuk sektor Utara-Timur.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker, mengamankan sarana air bersih, dan membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
  • Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Juni 2019 pukul 14:21 WIB, terkait emisi gas dengan ketinggian kolom asap 2960 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 m dari puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur-tenggara.

Gunungapi Agung - Bali

Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga).

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih tipis tinggi 50 meter dari puncak. Angin lemah hingga sedang ke arah baratdaya dan barat.

Melalui rekaman seismograf pada 14 Juli 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 7 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 15 Juli 2019 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 5 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada dan tidak melakukan pendakian serta tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan.

VONA:

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juni 2019 pukul 01:48 WITA, terkait erupsi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom abu tidak teramati. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa kl. 3 menit 53 detik.

Gunungapi Soputan - Sulawesi Utara

Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Gunungapi Soputan (1784 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati. Angin bertiup sedang hingga kencang ke arah barat dan baratlaut.

Melalui rekaman seismograf tanggal 14 Juli 2019 tercatat:

  • 6 kali gempa Guguran
  • 3 kali gempa Hembusan
  • 6 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran

VONA:

VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7000 meter di atas puncak.

Gunungapi Karangetang - Sulawesi Utara

Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). G. Karangetang (2460 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara.

Melalui rekaman seismograf tanggal 14 Juli 2019 tercatat:

  • 22 kali gempa Guguran
  • 5 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Hybrid
  • 10 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.25 - 3 mm, dominan 2 mm

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat Iaut-Utara sejauh 4 km, yaitu wilayah yang berada di antara Kali Batuare dan Kali Saboang.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.

Gunungapi Anak Krakatau - Lampung

Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Juni 2019. Pada Juli 2019 erupsi masih terjadi tetapi dengan intensitas yang semakin menurun.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah timur dan baratdaya.

Melalui rekaman seismograf tanggal 14 Juli 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Low Frequency
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 1 - 5 mm, dominan 2 mm

Rekomendasi:

Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juli 2019 pukul 22:42 WIB, terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 50 mm dan lama gempa 34 detik.

Gunungapi Merapi - Jawa Tengah - Yogyakarta

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah utama berwarna putih tipis hingga tebal tinggi 25 - 30 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat, timurlaut, dan timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 14 Juli 2019 tercatat:

  • 4 kali gempa Awan Panas Guguran
  • 36 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Hembusan
  • 3 kali gempa low Frequency
  • 4 kali gempa Hybrid
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunungapi Dukono – Maluku Utara

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu tebal tinggi   400 - 600 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan timurlaut.

Melalui rekaman seismograf tanggal 14 Juli 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Terasa Skala II MMI
  • 4 kali Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo 0.5 - 24 mm, dominan 18 mm

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 14 Juli 2019 pukul 13:50 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1.829 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah utara.

Gunungapi Ibu - Maluku Utara

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi 200 - 600 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat.

Melalui rekaman seismograf tanggal 14 Juli 2019 tercatat:

  • 76 kali gempa Letusan
  • 31 kali gempa Hembusan
  • 12 kali gempa Guguran
  • 6 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali gempa Terasa Skala II MMI

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 14 Mei 2019 pukul 18:46 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2.125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah utara.

Gunungapi Gamalama - Maluku Utara

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gamalama (1715 m dpl) mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati. Angin bertiup sedang hingga kencang ke arah utara dan timurlaut.

Melalui rekaman seismograf tanggal 14 Juli 2019 tercatat:

  • 3 kali gempa Tektonik Lokal
  • 1 kali gempa Terasa skala III MMI
  • 75 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G.Gamalama

Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G.Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.

Gunungapi Kerinci - Jambi

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama teramati berwarna putih tipis hingga tebal tinggi 150 - 400 meter dari puncak. Angin bertiup sedang hingga kencang ke arah utara, timurlaut, dan timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 14 Juli 2019 tercatat:

  • 144 kali gempa Hembusan
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo 0.5 – 2 mm, dominan 1 mm

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Kerinci dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 3 km dari kawah puncak.
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Kerinci agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 7 Juni 2019 pukul 06:42 WIB, terkait pengamatan emisi abu vulkanik berwarna kelabu pada pukul 06:04 WIB. Dengan ketinggian kolom abu sekitar 4.605 m di atas permukaan air laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu begerak ke arah timur.

Gunungapi Bromo - Jawa Timur

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama berwarna putih tipis tinggi 50 - 300 meter dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat dan baratlaut.

Melalui rekaman seismograf tanggal 14 Juli 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo 0.5 – 1 mm, dominan 1 mm

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1 km dari kawah puncak.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2019 pukul 07:18 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus dengan tinggi sekitar 3.829 m di atas permukaan laut atau sekitar 900 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah tenggara.

Untuk Gunungapi Status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gempa Bumi

1) Gempa bumi di timurlaut Labuha, Maluku Utara

Informasi Gempa bumi:

Gempa bumi terjadi pada hari Minggu, 14 Juli 2019, pukul 16:10 WIB. Berdasarkan informasi BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 128,06° BT dan 0,59° LS, dengan magnitudo 7,2 pada kedalaman 10 km, berjarak 62 km timur laut Labuha, Maluku Utara.

Berdasarkan GFZ, Jerman, pusat gempa bumi berada pada koordinat 128,12° BT dan 0,53° LS, dengan magnitudo 7,0 pada kedalaman 10 km.

Berdasarkan USGS, Amerika, pusat gempa bumi berada pada koordinat 128,093° BT dan 0,529° LS, dengan magnitudo M 7,3 pada kedalaman 10,0 km.

Sampai saat ini sudah tercatat sedikitnya ada 52 gempa bumi susulan.

Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi:

Pusat gempa bumi berada di darat. Wilayah-wilayah yang dekat dengan sumber gempa disusun oleh batuan vulkanik dan sedimen berumur Tersier yang dapat bersifat urai, lepas, dan belum kompak (unconsolidated) sehingga memperkuat efek guncangan gempabumi.

Penyebab gempa bumi:

Berdasarkan lokasi pusat gempa bumi dan kedalamannya, gempa bumi diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas sesar aktif yang berada di daerah tersebut.

Dampak gempa bumi:

Berdasarkan BMKG, guncangan gempa bumi dirasakan di Obi dengan intensitas V MMI, di Labuha III MMI, Manado II-III MMI, Ambon II-III MMI, Ternate II MMI, Namlea II MMI, Gorontalo II MMI, Sorong II MMI dan Bolang Mongondow II MMI.

Gempa bumi ini juga dirasakan dengan sekala II-III MMI di Pos Pengamatan G. Gamalama dan II MMI di Pos Pengamatan G. Dukono. Di Pos PGA Kie Besi pada skala III MMI.

Gempa bumi ini menimbulkan kerusakan bangunan di Desa Sebatang, Kec. Bacan; Desa Seketa, Desa Gandasuli, Kec. Gane, Kabupaten Halmahera Selatan. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami, karena sumbernya berada di darat. Dilaporkab sedikitnya 160 rumah rusak, dan satu orang meninggal.

Tim Tanggap Darurat Gempa bumi Badan Geologi akan segera diberangkatkan ke

lokasi.

2) Gempa bumi di baratdaya Biak Numfor, Papua

Informasi Gempa bumi:

Gempa bumi terjadi pada hari Minggu, 14 Juli 2019, pukul 17:04 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 135,67° BT dan 1,5° LS, dengan magnitudo 5,2 pada kedalaman 11 km, berjarak 61 km timur laut Biak Numfor, Papua.

Berdasarkan USGS, Amerika, pusat gempa bumi berada pada koordinat 135,646° BT dan 1,616° LS, dengan magnitudo M 5,1 pada kedalaman 28,5 km.

Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi:

Wilayah-wilayah yang dekat dengan sumber gempa sebagian besar disusun oleh batuan vulkanik berumur Tersier serta batuan sedimen berumur Kuarter dan Tersier. Batuan tersebut dapat bersifat lapuk, urai/lepas, dan belum kompak (unconsolidated) sehingga memperkuat efek guncangan gempabumi.

Penyebab gempa bumi:

Berdasarkan lokasi pusat gempa bumi dan kedalamannya, gempa bumi diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas sesar pada Zona Sesar Yapen yang relatif berarah barat - timur.

Dampak gempa bumi:

Belum ada informasi kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.

3) Gempa bumi di Tenggara Tuapejat, Sumatera Barat

Informasi Gempa bumi:

Gempa bumi terjadi pada hari Minggu 14 Juli 2019, pukul 23:47:00 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat gempabumi berada pada koordinat 2,35°LS – 99,68°BT, dengan magnitudo 5,0 SR pada kedalaman 49 km, berjarak 36 km tenggara Tuapejat, Sumatera Barat.

Kondisi Daerah Terkena Gempa bumi:

Wilayah Kepulauan Mentawai dan kawasan pesisir barat Provinsi Sumatera Barat pada umumnya disusun oleh endapan Kuarter berupa endapan rawa, endapan pantai, endapan aluvial, endapan rombakan gunungapi, endapan Tersier dan Pra Tersier yang telah mengalami pelapukan. Endapan – endapan tersebut bersifat urai, lepas, belum kompak (unconsolidated) dan memperkuat efek goncangan (amplifikasi) sehingga rentan terhadap goncangan gempabumi.

Penyebab Gempabumi:

Sumber gempa bumi diperkirakan berasal dari aktivitas zona subduksi di sebelah barat Pulau Sumatera .

Dampak Gempa bumi:

Belum ada laporan mengenai adanya korban jiwa dan kerusakan bangunan akibat goncangan gempabumi ini.

Rekomendasi:

  • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan dan informasi dari BPBD setempat, serta tidak terpancing isu yang tidak bertanggung jawab tentang gempabumi dan tsunami.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil.

II. DETAIL

1. Gunungapi

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:

a. 4 (empat) gunungapi status Level III (SIAGA), yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 20 Mei 2019, G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018, G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018, dan G. Karangetang (Sulut) sejak 20 Desember 2018.

b. Sebanyak 16 gunungapi Status Level II (WASPADA), yaitu G. Merapi, Marapi, Kerinci, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Gamalama, Gamkonora, Ibu, Dukono, Ili Lewotolok, Banda Api, dan Anak Krakatau.

c. Sisanya 49 gunungapi: Status Level I (NORMAL).

Gunungapi Sinabung - Sumatera Utara

Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini. Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G. Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013 . Erupsi terakhir tanggal 9 Juni 2019.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah utama berwarna putih tipis hingga tebal tinggi 300 - 500 meter dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf pada 14 Juli 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 7 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali gempa Getaran Banjir

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius 3 km dari puncak G. Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor Selatan - Timur, dan 4 km untuk sektor Utara-Timur.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah, mengamankan sarana air bersih, dan membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
  • Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

Gunungapi Agung - Bali

Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga). Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Erupsi Gunung Agung selain bersifat eksplosif juga disertai efusi lava yang sangat cepat ke dalam kawah sehingga volume lava di dalam kawah mencapai 23 juta m3 pada bulan Desember 2017. Pada tahun 2018-2019 erupsi G. Agung masih terus terjadi namun dengan jangkauan lontaran material erupsi dan frekuensi kejadian erupsi mengalami penurunan. Erupsi terakhir terjadi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom letusan tidak dapat teramati karena tertutup kabut. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa kl. 3 menit 53 detik.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih tipis tinggi 50 meter dari puncak. Angin lemah hingga sedang ke arah baratdaya dan barat.

Melalui rekaman seismograf pada 14 Juli 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 7 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 15 Juli 2019 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 5 kali gempa Tektonik Jauh

Gunungapi Soputan - Sulawesi Utara

Gunungapi Soputan merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Sulawesi Utara yang berada di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga).

Data pemantauan G. Soputan dari periode Agustus hingga awal Oktober 2018 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pada tanggal 3 Oktober 2018 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) dan pada 16 Desember pukul 01:02 dan 03:09 WITA terjadi erupsi, teramati sinar api dari puncak G. Soputan, ketinggian kolom abu teramati berkisar 3.000-5.000 m di atas puncak.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati. Angin bertiup sedang hingga kencang ke arah barat dan baratlaut.

Melalui rekaman seismograf tanggal 14 Juli 2019 tercatat:

  • 6 kali gempa Guguran
  • 3 kali gempa Hembusan
  • 6 kali gempa Tektonik Jauh

Gunungapi Karangetang - Sulawesi Utara

Gunungapi Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara adalah salah satu gunungapi di Indonesia yang paling sering erupsi. Erupsi terakhirnya terjadi pada tahun 2016. Setelah 2 tahun istirahat. Gunungapi Karangetang kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik sejak akhir bulan November 2018 sehingga tingkat aktivitas dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 20 Desember 2018 pukul 18:00 WITA. Pada awal Februari 2019 terjadi aliran lava keluar selama beberapa hari dari kawah utara, mengalir ke arah utara-baratlaut yang mencapai jarak > 3.000 m. Pemantauan terkini menunjukkan juga bahwa aktivitas di Kawah Utama (kawah Selatan) mengalami peningkatan dimana Awan Panas guguran teramati satu kali meluncur dari Kawah Utama sejauh 2.000 m ke arah Kali Kahetang dan Kali Batuawang pada 15 April 2019 sekitar pukul 12:00 WITA.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara.

Melalui rekaman seismograf tanggal 14 Juli 2019 tercatat:

  • 22 kali gempa Guguran
  • 5 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Hybrid
  • 10 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0.25 - 3 mm, dominan 2 mm

Gunungapi Anak Krakatau - Lampung

Gunung Anak Krakatau (157 m dpl) secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, sejak 18 Juni 2018 peningkatan aktivitas vulkanik diikuti rangkaian erupsi pada September 2018 - 9 Januari 2019, dengan intensitas erupsi tertinggi pada bulan Oktober 2018. Pada akhir Desember 2018, intensitas erupsi cukup tinggi, berupa letusan menerus tipe strombolian, diselingi letusan tipe Surtseyan pada 27 Desember 2018 sehingga tingkat aktivitas dinaikan menjadi Level III (Siaga)

Pada periode Februari-Juli 2019 erupsi masih terjadi tetapi intensitas erupsi cenderung menurun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (Waspada) sejak 25 Maret 2019 pukul 12:00 WIB.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah timur dan baratdaya.

Melalui rekaman seismograf tanggal 14 Juli 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Low Frequency
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 1 - 5 mm, dominan 2 mm

Gunungapi Merapi - Jawa Tengah - Yogyakarta

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB tingkat aktivitas G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah utama berwarna putih tipis hingga tebal tinggi 25 - 30 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat, timurlaut, dan timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 14 Juli 2019 tercatat:

  • 4 kali gempa Awan Panas Guguran
  • 36 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Hembusan
  • 3 kali gempa low Frequency
  • 4 kali gempa Hybrid
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Gunungapi Dukono - Maluku Utara

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu tebal tinggi   400 - 600 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan timurlaut.

Melalui rekaman seismograf tanggal 14 Juli 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Terasa Skala II MMI
  • 4 kali Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo 0.5 - 24 mm, dominan 18 mm

Gunungapi Ibu - Maluku Utara

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2008 menerus hingga saat ini. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan Kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi 200 - 600 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat.

Melalui rekaman seismograf tanggal 14 Juli 2019 tercatat:

  • 76 kali gempa Letusan
  • 31 kali gempa Hembusan
  • 12 kali gempa Guguran
  • 6 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali gempa Terasa Skala II MMI

Gunungapi Gamalama - Maluku Utara

Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1.715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara. Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timur (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.

Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada).

Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter di atas puncak atau 1965 m di atas permukaan laut.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati. Angin bertiup sedang hingga kencang ke arah utara dan timurlaut.

Melalui rekaman seismograf tanggal 14 Juli 2019 tercatat:

  • 3 kali gempa Tektonik Lokal
  • 1 kali gempa Terasa skala III MMI
  • 75 kali gempa Tektonik Jauh

Gunungapi Kerinci - Jambi

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama teramati berwarna putih tipis hingga tebal tinggi 150 - 400 meter dari puncak. Angin bertiup sedang hingga kencang ke arah utara, timurlaut, dan timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 14 Juli 2019 tercatat:

  • 144 kali gempa Hembusan
  • 5 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo 0.5 – 2 mm, dominan 1 mm

Gunungapi Bromo – Jawa Timur

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama berwarna putih tipis tinggi 50 - 300 meter dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah barat dan baratlaut.

Melalui rekaman seismograf tanggal 14 Juli 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo 0.5 – 1 mm, dominan 1 mm

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos-Pos Pengamatan Gunungapi di atas tersebut terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD setempat disekitar masing-masing gunung, tentang penanggulangan bencana erupsi gunungapi.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll.

VONA terakhir yang terkirim:

(1) G. Sinabung, Sumatera Utara

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Juni 2019 pukul 14:21 WIB, terkait emisi gas dengan ketinggian kolom asap 2960 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 m dari puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur-tenggara.

(2) G. Agung, Bali

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juni 2019 pukul 01:48 WITA , terkait erupsi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom abu tidak teramati. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa kl. 3 menit 53 detik.

(3) G. Soputan, Sulawesi Utara

VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7000 meter di atas puncak.

(4) G. Karangetang, Sulawesi Utara

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.

(5) G. Anak Krakatau, Lampung

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juli 2019 pukul 22:42 WIB, terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 50 mm dan lama gempa 34 detik.

(6) G. Merapi, Jawa Tengah – Yogyakarta

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

(7) G. Dukono, Maluku Utara

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 14 Juli 2019 pukul 13:50 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1.829 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah utara.

(8) G. Ibu, Maluku Utara

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 14 Mei 2019 pukul 18:46 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2.125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah utara.

(9) G. Gamalama, Maluku Utara

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.

(10) G. Kerinci, Jambi

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 7 Juni 2019 pukul 06:42 WIB, terkait pengamatan emisi abu vulkanik berwarna kelabu pada pukul 06:04 WIB. Dengan ketinggian kolom abu sekitar 4.605 m di atas permukaan air laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu begerak ke arah timur.

(11) G. Bromo, JawaTimur

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2019 pukul 07:18 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus dengan tinggi sekitar 3.829 m di atas permukaan laut atau sekitar 900 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah tenggara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas Normal sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.