Laporan Kebencanaan Geologi, 28 Juni 2019

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

I. SUMMARY

Hari ini, Jumat 28 Juni 2019, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi

Gunungapi Sinabung - Sumatera Utara

Tingkat aktivitas sejak 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). Gunung Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013. Erupsi terakhir terjadi 9 Juni 2019.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah utama berwarna putih tipis hingga tebal tinggi 200 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timur dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf pada 27 Juni 2019 tercatat:

  • 9 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius 3 km dari puncak G. Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor Selatan - Timur, dan 4 km untuk sektor Utara-Timur.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker, mengamankan sarana air bersih, dan membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
  • Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Juni 2019 pukul 14:21 WIB, terkait emisi gas dengan ketinggian kolom asap 2960 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 m dari puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur-tenggara.

Gunungapi Agung - Bali

Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat akrivitas saat ini adalah Level III (Siaga).

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut. angin lemah ke arah barat. Asap kawah utama berwarna putih tipis tinggi 150 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf pada 27 Juni 2019 tercatat:

- 6 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 28 Juni 2019 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada dan tidak melakukan pendakian serta tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan.

VONA:

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juni 2019 pukul 01:48 WITA, terkait erupsi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom abu tidak teramati. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa kl. 3 menit 53 detik.

Gunungapi Soputan - Sulawesi Utara

Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Gunungapi Soputan (1784 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama berwarna putih tipis tinggi 25 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat daya dan barat.

Melalui rekaman seismograf tanggal 27 Juni 2019 tercatat:

  • 3 kali gempa Guguran
  • 6 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran

VONA:

VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7000 meter di atas puncak.

Gunungapi Karangetang - Sulawesi Utara

Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). G. Karangetang (2460 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama berwarna putih tebal tinggi 100 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat laut

Melalui rekaman seismograf tanggal 27 Juni 2019 tercatat:

  • 7 kali gempa Hybrid
  • 3 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 8 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0,25 - 8 mm, dominan 1 mm

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat Iaut-Utara sejauh 4 km, yaitu wilayah yang berada di antara Kali Batuare dan Kali Saboang.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.

Gunungapi Anak Krakatau - Lampung

Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Pada Mei 2019 erupsi masih terjadi tetapi dengan intensitas yang semakin menurun.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah timur laut dan barat laut.

Melalui rekaman seismograf tanggal 27 Juni 2019 tercatat:

  • 3 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 1 - 20 mm, dominan 13 mm

Rekomendasi:

Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Juni 2019 pukul 06:27 WIB, terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 45 mm dan lama gempa 52 detik.

Gunungapi Merapi - Jawa Tengah - Yogyakarta

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat. Asap kawah utama berwarna putih tipis hingga tebal tinggi 50 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 27 Juni 2019 tercatat:

  • 13 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Low Frequency
  • 5 kali gempa Hybrid
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal

Rekomendasi:

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunungapi Dukono – Maluku Utara

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu tebal tinggi 200 meter dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 27 Juni 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo 0.5 - 2 mm, dominan 1 mm

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juni 2019 pukul 08:56 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1.429 m di atas permukaan laut atau sekitar 200 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah timur.

Gunungapi Ibu - Maluku Utara

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama berwarna putih kelabu tipis hingga tebal tinggi 800 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat.

Melalui rekaman seismograf tanggal 27 Juni 2019 tercatat:

  • 112 kali gempa Letusan
  • 83 kali gempa Hembusan
  • 17 kali gempa Guguran
  • 42 kali gempa Tremor Harmonik

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 14 Mei 2019 pukul 18:46 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2.125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah utara.

Gunungapi Gamalama - Maluku Utara

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gamalama (1715 m dpl) mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama berwarna putih tipis hingga sedang tinggi 25 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara.

Melalui rekaman seismograf tanggal 27 Juni 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 7 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G.Gamalama

Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G.Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.

Gunungapi Kerinci - Jambi

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati. Angin bertiup sedang ke arah timur laut.

Melalui rekaman seismograf tanggal 27 Juni 2019 tercatat:

- 81 kali gempa Hembusan

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Kerinci dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 3 km dari kawah puncak.
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Kerinci agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 7 Juni 2019 pukul 06:42 WIB, terkait pengamatan emisi abu vulkanik berwarna kelabu pada pukul 06:04 WIB. Dengan ketinggian kolom abu sekitar 4.605 m di atas permukaan air laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu begerak ke arah timur.

Gunungapi Bromo - Jawa Timur

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama berwarna putih tipis tinggi 300 meter dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah selatan dan barat.

Melalui rekaman seismograf tanggal 27 Juni 2019 tercatat:

- Tremor menerus dengan amplitudo 0.5 - 1 mm, dominan 1 mm

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1 km dari kawah puncak.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2019 pukul 07:18 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus dengan tinggi sekitar 3.829 m di atas permukaan laut atau sekitar 900 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah tenggara.

Untuk Gunungapi Status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Juni 2019 dibandingkan Mei 2019, potensinya relatif sama dan potensinya rendah disebagian besar wilyah indonesia, namun kewaspadaan tetap terhadap potensi terjadinya gerakan tanah yang meliputi wilayah   Wilayah pantai Sumatera bagian utara dan barat , Sulawesi bagian Tengah

Gerakan tanah terakhir terjadi :

1.Kabupaten Bireun, Provinsi Aceh

2. Kabupaten Parimo, Provinsi Sulawesi Tengah

3. Kabupaten Rejang Lebong , Provinsi Bengkulu

4. Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi geologi yaitu litologi batuan dan kemiringan lereng yang sangat curam di daerah lokasi bencana. Selain itu Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah

Dampak : akses terhambat di Kabupaten Bireun, Provinsi Aceh dan di Kabupaten Parimo, Provinsi Sulawesi Tengah; saluran irigasi rusak di Kabupaten Rejang Lebong , Provinsi Bengkulu; dua rumah terancam longsor di Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

II. DETAIL

1. Gunungapi

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:

a. 4 (empat) gunungapi status Level III (SIAGA), yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 20 Mei 2019, G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018, G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018, dan G. Karangetang (Sulut) sejak 20 Desember 2018.

b. Sebanyak 16 gunungapi Status Level II (WASPADA), yaitu G. (Merapi, Marapi, Kerinci, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Gamalama, Gamkonora, Ibu, Dukono, Ili Lewotolok, Banda Api, dan Anak Krakatau).

c. Sisanya 49 gunungapi: Status Level I (NORMAL).

Gunungapi Sinabung - Sumatera Utara

Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak tahun 2013. Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G. Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013 . Erupsi terakhir tanggal 9 Juni 2019.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah utama berwarna putih tipis hingga tebal tinggi 200 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timur dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf pada 27 Juni 2019 tercatat:

  • 9 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius 3 km dari puncak G. Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor Selatan - Timur, dan 4 km untuk sektor Utara-Timur.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah, mengamankan sarana air bersih, dan membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
  • Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

Gunungapi Agung - Bali

Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga). Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Erupsi Gunung Agung selain bersifat eksplosif juga disertai efusi lava yang sangat cepat ke dalam kawah sehingga volume lava di dalam kawah mencapai 23 juta m3 pada bulan Desember 2017. Pada tahun 2018-2019 erupsi G. Agung masih terus terjadi namun dengan jangkauan lontaran material erupsi dan frekuensi kejadian erupsi mengalami penurunan. Erupsi terakhir terjadi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom letusan tidak dapat teramati karena tertutup kabut. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa kl. 3 menit 53 detik.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut. angin lemah ke arah barat. Asap kawah utama berwarna putih tipis tinggi 150 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf pada 27 Juni 2019 tercatat:

- 6 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 28 Juni 2019 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Gunungapi Soputan - Sulawesi Utara

Gunungapi Soputan merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Sulawesi Utara yang berada di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga).

Data pemantauan G. Soputan dari periode Agustus hingga awal Oktober 2018 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) dan pada 16 Desember pukul 01:02 dan 03:09 WITA terjadi erupsi, teramati sinar api dari puncak G. Soputan, ketinggian kolom abu teramati berkisar 3.000-5.000 m di atas puncak.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama berwarna putih tipis tinggi 25 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat daya dan barat.

Melalui rekaman seismograf tanggal 27 Juni 2019 tercatat:

  • 3 kali gempa Guguran
  • 6 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Gunungapi Karangetang - Sulawesi Utara

Gunungapi Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara adalah salah satu gunungapi di Indonesia yang paling sering erupsi. Erupsi terakhirnya terjadi pada tahun 2016. Setelah 2 tahun istirahat. Gunungapi Karangetang kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik sejak akhir bulan November 2018 sehingga tingkat aktivitas dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 20 Desember 2018 pukul 18:00 WITA. Pada awal Februari 2019 terjadi aliran lava keluar selama beberapa hari dari kawah utara, mengalir ke arah utara-baratlaut yang mencapai jarak > 3.000 m. Pemantauan terkini menunjukkan juga bahwa aktivitas di Kawah Utama (kawah Selatan) mengalami peningkatan dimana Awan Panas guguran teramati satu kali meluncur dari Kawah Utama sejauh 2.000 m ke arah Kali Kahetang dan Kali Batuawang pada 15 April 2019 sekitar pukul 12:00 WITA.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama berwarna putih tebal tinggi 100 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat laut.

Melalui rekaman seismograf tanggal 27 Juni 2019 tercatat:

  • 7 kali gempa Hybrid
  • 3 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 8 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 0,25 - 8 mm, dominan 1 mm

Gunungapi Anak Krakatau - Lampung

Gunung Anak Krakatau (157 m dpl) secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, sejak 18 Juni 2018 peningkatan aktivitas vulkanik diikuti rangkaian erupsi pada September 2018 - 9 Januari 2019, dengan intensitas erupsi tertinggi pada bulan Oktober 2018. Pada akhir Desember 2018, intensitas erupsi cukup tinggi, berupa letusan menerus tipe strombolian, diselingi letusan tipe Surtseyan pada 27 Desember 2018 sehingga tingkat aktivitas dinaikan menjadi Level III (Siaga)

Pada periode Februari-April 2019 erupsi masih terjadi tetapi intensitas erupsi cenderung menurun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (Waspada) sejak 25 Maret 2019 pukul 12:00 WIB.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah timur laut dan barat laut.

Melalui rekaman seismograf tanggal 27 Juni 2019 tercatat:

  • 3 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • Tremor Menerus dengan amplitudo 1 - 20 mm, dominan 13 mm

Gunungapi Merapi - Jawa Tengah - Yogyakarta

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB tingkat aktivitas G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat. Asap kawah utama berwarna putih tipis hingga tebal tinggi 50 meter dari puncak.

Melalui rekaman seismograf tanggal 27 Juni 2019 tercatat:

  • 13 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Low Frequency
  • 5 kali gempa Hybrid
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal

Gunungapi Dukono - Maluku Utara

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu tebal tinggi 200 meter dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 27 Juni 2019 tercatat:

  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo 0.5 - 2 mm, dominan 1 mm

Gunungapi Ibu - Maluku Utara

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2008 menerus hingga saat ini. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan Kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama berwarna putih kelabu tipis hingga tebal tinggi 800 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat.

Melalui rekaman seismograf tanggal 27 Juni 2019 tercatat:

  • 112 kali gempa Letusan
  • 83 kali gempa Hembusan
  • 17 kali gempa Guguran
  • 42 kali gempa Tremor Harmonik

Gunungapi Gamalama - Maluku Utara

Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1.715 m dpl, secara administratif terletak di Kota Ternate (Pulau Ternate), Provinsi Maluku Utara. Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timur (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar 175 m ke arah timur dari Kawah Utama.

Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Tingkat aktivitas sekarang adalah Level II (Waspada).

Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter di atas puncak atau 1965 m di atas permukaan laut.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama berwarna putih tipis hingga sedang tinggi 25 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara.

Melalui rekaman seismograf tanggal 27 Juni 2019 tercatat:

  • 1 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 7 kali gempa Tektonik Jauh

Gunungapi Kerinci - Jambi

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah utama tidak teramati. Angin bertiup sedang ke arah timur laut.

Melalui rekaman seismograf tanggal 27 Juni 2019 tercatat:

- 81 kali gempa Hembusan

Gunungapi Bromo – Jawa Timur

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama berwarna putih tipis tinggi 300 meter dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah selatan dan barat.

Melalui rekaman seismograf tanggal 27 Juni 2019 tercatat:

- Tremor menerus dengan amplitudo 0.5 - 1 mm, dominan 1 mm

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos-Pos Pengamatan Gunungapi di atas tersebut terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD setempat disekitar masing-masing gunung, tentang penanggulangan bencana erupsi gunungapi.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll.

VONA terakhir yang terkirim:

(1) G. Sinabung, Sumatera Utara

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 10 Juni 2019 pukul 14:21 WIB, terkait emisi gas dengan ketinggian kolom asap 2960 meter di atas permukaan laut atau sekitar 500 m dari puncak. Kolom asap bergerak ke arah timur-tenggara.

(2) G. Agung, Bali

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Juni 2019 pukul 01:48 WITA , terkait erupsi pada 13 Juni 2019 pukul 01:38 WITA. Kolom abu tidak teramati. Erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dan lama gempa kl. 3 menit 53 detik.

(3) G. Soputan, Sulawesi Utara

VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7000 meter di atas puncak.

(4) G. Karangetang, Sulawesi Utara

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.

(5) G. Anak Krakatau, Lampung

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Juni 2019 pukul 06:27 WIB, terkait erupsi yang terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 45 mm dan lama gempa 52 detik.

(6) G. Merapi, Jawa Tengah – Yogyakarta

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

(7) G. Dukono, Maluku Utara

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juni 2019 pukul 08:56 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1.429 m di atas permukaan laut atau sekitar 200 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah timur.

(8) G. Ibu, Maluku Utara

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 14 Mei 2019 pukul 18:46 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2.125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah utara.

(9) G. Gamalama, Maluku Utara

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.

(10) G. Kerinci, Jambi

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 7 Juni 2019 pukul 06:42 WIB, terkait pengamatan emisi abu vulkanik berwarna kelabu pada pukul 06:04 WIB. Dengan ketinggian kolom abu sekitar 4.605 m di atas permukaan air laut atau sekitar 800 m di atas puncak. Kolom abu begerak ke arah timur.

(11) G. Bromo, JawaTimur

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April 2019 pukul 07:18 WIB, terkait hembusan asap kawah menerus dengan tinggi sekitar 3.829 m di atas permukaan laut atau sekitar 900 m di atas puncak. Kolom asap bergerak ke arah tenggara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas Normal sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Juni 2019 dibandingkan Mei 2019 ,   potensinya relatif sama dan rendah disebagian besar wilayah Indonesia.Namun wilayah Indonesia yang secara umum tetap perlu diwaspadai utamanya di jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan, dan sepanjang aliran sungai antara lain di wilayah Sumatera bagian barat meliputi wilaya Aceh hingga Lampung,   Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat , Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Tenggara .

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di:

1.Kabupaten Bireun, Provinsi Aceh*,

2. Kabupaten Parimo, Provinsi Sulawesi Tengah*,

3. Kabupaten Rejang Lebong , Provinsi Bengkulu*,

4. Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat*,

5.Kabupaten Tegal,Provinsi Jawa Tengah,

6.Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara,

7.Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat.

*Gerakan tanah seminggu terakhir terjadi terakhir di :

1.Kabupaten Bireun, Provinsi Aceh

Gerakan tanah terjadi di Ruas Jalan Bireun – Tekengon, tepatnya di kilometer 18,5 arah ke Objek Wisata Krueng SImpo, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireun, Provinsi Aceh. Gerakan tanah terjadi pada hari Kamis 27 Juni 2019 yang mengakibatkan sekitar 200 meter badan jalan mengalami longsor dan akses jalan menjadi terganggu.

Sumber : https://penanegeri.com/jalan-di-kilometer-18-5-krueng-simpo-bireuen-longsor-dan-ancam-keselamatan/46322/

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi geologi yaitu litologi batuan dan kemiringan lereng yang sangat curam di daerah lokasi bencana. Selain itu Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran bahan rombakan.

2. Kabupaten Parimo, Provinsi Sulawesi Tengah

Gerakan tanah/ Tanah Longsor terjadi di Jalan penghubung Desa Suli dan Desa Braban Kecamatan Balinggi, Kabupaten Parimo. Akibatnya, sarana penghubung desa tersebut dilalui kendaraan roda dua dan roda empat setiap harinya yang menghubungkan beberapa desa nyaris putus.

Sumber:https://gemasulawesi.com/jalan-penghubung-desa-suli-dan-beraban-parimo-longsor/

Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat kelerengan, tanah lapukan yang tebal dan labil serta dipicu oleh curah hujan tinggi.

3. Kabupaten Rejang Lebong , Provinsi Bengkulu

Gerakan tanah terjadi pada saluran air di desa seguring, kecamatan Curup Utara, Selasa 25 Juni 2019. Akibatnya 50 ha sawah di desa Seguring dan Kota Pagu tidak terairi air.

Sumber:http://gerbangbengkulu.com/longsor-rusakan-puluhan-meter-irigasi-di-kabupaten-rejang-lebong/

Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat kelerengan, tanah lapukan yang tebal, air yang melimpah serta dipicu erosi air yang tinggi.

4. Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat

Gerakan Tanah terjadi di Wilayah Kp. Salabenda Got RT 02/RW 09 Kel. Curug, Kec. Bogor Barat, Kota Bogor, Selasa, 25 Juni 2019. Pukul 15.30 WIB.. Longsoran dengan panjang 20 m dengan tinggi 3 m ini terjadi dibelakang rumah milik Bpk. Enan 1 KK/2 Jiwa dan rumah milik Bpk. Daman 1 KK/3 Jiwa.

Sumber:https://www.instagram.com/p/BzKYpotjCVr/?igshid=b2evdr6hkemo

Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat kelerengan, tanah lapukan yang tebal, serta dipicu oleh curah hujan.

Rekomendasi :

  • Para pengguna jalan dan masyarakat disekitar lokasi bencana agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan deras yang berlangsung lama karena masih berpotensi terjadinya longsor susulan;
  • Menata kembali drainase/air permukaan;
  • Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan;
  • Segera memasang garis pengaman agar tidak dijadikan sebagai ajang tontonan warga dan tetap waspada karena masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan terutama saat terjadi hujan;
  • Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng (rekayasa teknis) yang mengikuti kaidah – kaidah geotek;
  • Membatasi kendaraan berat yang melintas harus sesuai dengan aturan tonase tipe jalan tersebut;
  • Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta menata aliran air permukaan pada tebing.