Laporan Kebencanaan Geologi 14 Oktober 2018

Logo_ESDM

I. SUMMARY:
Hari ini, Minggu 14 Oktober 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunungapi
Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut, asap kawah teramati 100 m dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Selatan dan Timur Laut. 
Melalui rekaman seismograf pada 13 Oktober 2018 tercatat:

  • 5 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tornillo
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
Rekomendasi:
  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara -Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, didalam jarak 6km untuk sektor Tenggara - Timur serta didalam jarak  4 km untuk sektor Utara -Timur
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

 

Gunungapi Agung (Bali):
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah teramati 100 m dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Barat dan Barat daya.
Rekaman seismograf tanggal 13 Oktober 2018 tercatat:

  • 4 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 11 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 14 Oktober 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 6 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh


Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA: VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

 

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)

 Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gamalama (1715 m dpl) mengalami erupsi minor  pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut, asap kawah teramati 50 m dari puncak. Angin bertiup lemah ke arah Barat dan Barat Laut.
Melalui rekaman seismograf pada 13 Oktober 2018 tercatat:

  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam 
  • 7 kali gempa Hembusan
  • 20 kali gempa Tektonik Jauh
  • 5 kali gempa Tektonik Lokal

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari kawah puncak G.GamalamaPada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 17:52 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m. Kolom abu bergerak mengarah baratlaut.

 

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)

 Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Soputan (1784 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkank.Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut, kolom asap kawah utama teramati 150 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Barat dan Baratlaut.
Melalui rekaman seismograf pada 13 Oktober 2018 tercatat:

  • 15 kali gempa Guguran
  • 3 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Low Frekuensi
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali gempa Terasa

Rekomendasi: Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran 
VONA: VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 4 Oktober 2018 pukul 06:36 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 3309 m di atas permukaan laut atau sekitar 1500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat - baratdaya.

 

Gunungapi Krakatau (Lampung)
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup kabut. Angin lemah ke arah Timur Laut dan Tenggara. Asap kawah utama tidak teramati. 
Melalui seismograf tanggal 13 Oktober 2018 tercatat:- 40 kali gempa Letusan- 1 kali gempa Tektonik Jauh- Tremor menerus dengan amplitude 1-6 mm, dominan 1 mm. 
Rekomendasi: Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 September 2018 pukul 06:56 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 538 m di atas permukaan laut atau sekitar 200 m diatas puncak. Kolom abu bergerak mengarah selatan.

 

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut. Angin lemah ke arah Utara - Barat Laut. Asap kawah teramati putih tipis setinggi 50 m diatas puncak. 
Melalui seismograf tanggal 13 Oktober 2018 tercatat:

  • 33 kali gempa Guguran
  • 10 kali gempa Low Frekuensi
  • 7 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.- Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. 
  • Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.- Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No.15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.- Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

 

Gunungapi Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah berwarna putih hingga kelabu dengan tekanan sedang, intensitas tebal, tinggi asap mencapai 400 m di atas puncak. Teramati Letusan dengan tinggi 100-400 meter dan warna asap putih kelabu.
Melalui seismograf tanggal 13 Oktober 2018 tercatat:

  • 2 kali gempa Letusan
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo 0,5 - 6 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 5 Oktober 2018 pukul 17:28 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1929 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke arah Barat.

 

Gunungapi Ibu (Halmahera): 
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi teramati dengan jelas hingga kabut. Asap kawah berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, ketinggian mencapai 600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Barat dan  Barat Laut. Teramati letusan dengan tinggi 200-600 meter dengan warna asap putih kelabu. 
Melalui seismograf tanggal 11 Oktober 2018 tercatat:

  • 60 kali gempa Letusan
  • 147 kali gempa Hembusan
  • 13 kali gempa Guguran
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA: VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Agustus 2018 pukul 17:38 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke selatan.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

 

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  Oktober 2018  yang dibandingkan bulan  Agustus 2018,   umumnya potensinya cenderung sedikit mengalami peningkatan di sebagian besar wilayah Indonesia utamanya  Sumatera , JawaBagian Barat, Sulawesi , Bali , dan Kalimantan.
Gerakan tanah terakhir terjadi :

  1. Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara
  2. Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh

Penyebab:  Penyebab gerakan tanah diperkirakan lereng bukit yang sangat terjal sifat tanah pelapukan yang sarang serta mudah luruh jika terkena air, pemotongan lereng  dan dipicuh curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama  
Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   menyebabkan 10 warga meninggal, listrik padam dan rumah rusak di Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara , transportasi terhambat di Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

 

3. Gempa Bumi
1).Gempa bumi di Tenggara Bitung, Sulawesi Utara
Informasi Gempa Bumi: Gempa bumi terjadi pada hari Sabtu  tanggal 13 Oktober  2018, pukul 11:34:16 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat   gempabumi berada pada koordinat 1.36° LU dan 125.46° BT, dengan magnitudo 5.6 SR pada kedalaman 97 Km, berjarak 38, menurut GFZ gempabumi berada pada koordinat 1.42° LU dan 125.47° BT, dengan magnitudo 5,2 SR pada kedalaman 123 km
Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi: Pusat gempa bumi berada di laut. Daerah yang terdekat dengan pusat gempa bumi, sebagian besar tersusun oleh endapan Aluvium berumur Kuarter, dan endapan sedimen Tersier. Pada daerah yang disusun oleh endapan aluvium, dan endapan sedimen Tersier yang terlapukkan diperkirakan goncangan gempa bumi akan lebih kuat karena batuan ini bersifat urai, lepas, belum kompak dan memperkuat efek getaran, sehingga rentan terhadap goncangan gempa bumi.
Dampak gempa bumi: Gempa bumi dirasakan di Tomohon Skala MMI I, Menado Skala MMI II - III dan di Pos G. Soputan Skala MMI II.Belum ada laporan mengenai adanya korban jiwa dan kerusakan bangunan.Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.
Penyebab gempa bumi: Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas zona subduksi  Punggungan mayu sebelah timur pulau Sulawesi 

2) Gempa bumi di Perairan Selatan Banten, Banten
Informasi Gempa Bumi: Gempa bumi terjadi pada hari Minggu, 14 Oktober 2018, pukul 02:38 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 105,26° BT dan 9,0° LS, dengan magnitudo 5,2 pada kedalaman 10 km, berjarak 292 km barat daya Lebak, Banten. Berdasarkan informasi dari GFZ Jerman, pusat gempa bumi berada pada koordinat 8,95°LS dan 105,25°BT, dengan magnitudo 5,0 Mw dan kedalaman 10 km. USGS, Amerika Serikat melaporkan bahwa pusat gempa bumi berada pada koordinat 8,955°LS dan 105,369°BT, dengan magnitudo M 5,0 dan kedalaman 4,1 km.
Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi: Pusat gempa bumi berada di laut. Daerah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi yaitu pesisir selatan Banten secara umum tersusun oleh batuan sedimen berumur Tersier, serta batuan Kuarter berupa batuan gunungapi dan batuan sedimen serta endapan alluvium.  Guncangan gempa bumi biasanya akan terasa lebih kuat pada batuan Kuarter serta batuan Tersier yang telah mengalami pelapukan karena bersifat urai, lepas, tidak kompak dan memperkuat efek guncangan.
Penyebab gempa bumi: Gempa bumi berpusat di lempeng samudra Indo-Australia, di luar zona subduksi atau disebut gempa bumi outer rise. Gempa bumi terjadi akibat reaktivasi sesar yang disebabkan oleh litosfer samudera yang mendekati zona subduksi dan menekuk ke dalam parit (trench) laut dalam. Berdasarkan GFZ, sesar penyebab gempa ini mempunyai mekanisme sesar normal dengan orientasi baratlaut-tenggara.
Dampak gempa bumi: Gempa bumi ini juga tidak memicu tsunami. Belum ada laporan terkait intensitas guncangan gempa bumi. 
Rekomendasi:

  • Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diharapkan berkekuatan lebih kecil.



II. DETAIL
1. Gunungapi
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:

  1. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 2 Juni 2015.
  2. 2 (dua) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018 dan G. Soputan (Sulut) sejak 3 Oktober 2018
  3. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Merapi, Marapi, Kerinci, Dempo, Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api);
  4. Sisanya 48 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut, asap kawah teramati dengan ketinggian 200 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Selatan -  Barat.Melalui rekaman seismograf pada 13 Oktober 2018 tercatat:

  • 5 kali gempa Hembusan 
  • 2 kali gempa Tornillo
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir tanggal 28 Agustus 2018 tidak memperlihatkan perubahan yang signifikan dibanding  hasil pengukuran tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 hanya terlihat pengikisan sekitar 30 cm dibagian outletnya.
Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang saat terjadi hujan lebat.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi banjir bandang/lahar pada musim hujan.

 

Gunungapi Agung (Bali)
Erupsi Gunung Agung mencapai puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Setelah itu, frekuensi erupsi cenderung mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (terutama Gempa Vulkanik) dan Gempa frekuensi rendah (terutama Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam namun berfluktuasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava sekitar 23 juta m3. Pola deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan trend deflasi. Citra Satelit sesekali merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung yang mengindikasikan bahwa masih ada suplai magma ke permukaan dengan laju rendah. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih teramati namun dengan eksplosivitas rendah.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Pada tanggal 23, 24 dan 25 Juni 2018 terekam rentetan Gempa Vulkanik Dalam yang mengindikasikan intrusi magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada periode 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Erupsi eksplosif Strombolian terjadi pada malam hari di tanggal 2 Juli 2018 disertai suara dentuman dan lontaran material pijar teramati keluar kawah ke segala arah mencapai jarak maksimum sekitar 2-3 km dari kawah puncak. Setelah erupsi ini, frekuensi Gempa Letusan mengalami penurunan. Erupsi terakhir G. Agung terjadi pada 27 Juli 2018. Pasca Gempa Lombok, erupsi G. Agung tidak lagi teramati, kemungkinan karena gempa tektonik ini mengganggu sistem vulkanik G. Agung (efek botol soda) sehingga suplai gas magmatik dari kedalaman tidak dapat terakumulasi melainkan segera dikeluarkan ke permukaan secara perlahan seiring dengan goncangan-goncangan gempa tektonik. Meskipun erupsi saat ini belum terjadi lagi, aktivitas G. Agung belum sepenuhnya stabil dan masih berpotensi untuk mengalami erupsi karena kegempaan vulkanik maupun hembusan masih terjadi yang mengindikasikan masih adanya suplai magma ke permukaan namun dengan laju rendah. Jika terjadi erupsi pada saat ini, kemungkinan eksplosivitasnya masih relatif rendah. Eksplosivitas yang lebih tinggi hanya dapat terjadi jika ada intrusi magma baru dengan volume yang signifikan, namun demikian indikasi ke arah erupsi yang besar hingga saat ini belum teramati.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah utama tinggi 100 meter dari puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Barat daya dan Barat.
Rekaman seismograf tanggal 13 Oktober 2018 tercatat:

  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 4 kali gempa Hembusan
  • 11 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 14  Oktober 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 6 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Agung.

 

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)
Gunungapi Gamalama yang memiliki ketinggian 1715 m dml, secara adinistratif terletak di Kota Ternate (Pulau  Ternate) , Provinsi Maluku Utara. Letusan G. Gamalama pada umumnya berlangsung di Kawah Utama dan hampir selalu magmatik. Kecuali letusan yang terjadi dalam tahun 1907 yang mengambil tempat di lereng timut (letusan samping) dan menghasilkan leleran lava (Batu Angus) hingga ke pantai. Letusan 1980 juga menghasilkan Kawah Baru, lokasinya sekitar  175 m ke arah timur dari Kawah Utama.Gunungapi Gamalama merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Gamalama mengalami erupsi minor  pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut, asap kawah teramati dengan ketinggian 50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah Barat Laut -  Utara.
Melalui rekaman seismograf pada 13 Oktober 2018 tercatat:

  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 7 kali gempa Hembusan
  • 20 kali gempa Tektonik Jauh
  • 5 kali gempa Tektonik Lokal

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Gamalama terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Gamalama.

 

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)
Gunungapi Soputan merupakan gunungapi strato yang terletak di Kabupaten Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara. Ketinggian G. Soputan sekitar 1784 m di atas muka laut.Pertumbuhan kubah lava dimulai sejak tahun 1991, hingga meluber keluar dari bibir kawah menyebabkan sering terjadi guguran lava, dengan jarak luncur sekitar 2 hingga 6.5 km dari puncak ke arah barat, timur dan utara, penduduk terdekat berada pada berjarak 12 km dari puncak.Pada saat musim hujan dapat terjadi pembentukan uap dari air hujan oleh kubah lava yang masih panas, sehingga terjadi letusan sekunder, berupa letusan freatik (letusan uap) yang dapat memicu guguran kubah lava dan awan panas guguran (tipe Karangetang).Pada daerah perkemahan (camping ground) di lereng timur laut berjarak sekitar 3 sampai 4 km dari puncak G. Soputan, berpotensi terlanda hujan abu lebat dan dapat terkena lontaran batu (pijar).Endapan material letusan G. Soputan di lereng sebelah barat – tenggara, apabila terjadi hujan lebat bisa mengakibatkan terjadinya aliran lahar yang mengarah ke: S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang, Londola Kelewehu dan Londola Katayan.Potensi bahaya lainnya ialah guguran lava yang masih sering terjadi di sekitar tubuh gunungapi, umumnya terjadi di bagian utara. Tetapi yang harus diwaspadai ialah jika terjadi guguran kubah lava yang diikuti awan panas guguran ke arah Silian, karena bukaan kawahnya menuju ke daerah tersebut.Potensi bahaya erupsi G. Soputan dapat berupa abu vulkanik yang dapat berdampak pada keselamatan penerbangan.Pengamatan visual pada periode 1 Agustus hingga 2 Oktober 2018 menunjukkan kolom asap teramati dari kawah utama dengan tinggi maksimum 400 meter dari bibir kawah, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal. Tingkat kegempaan sejak 1 Agustus hingga 2 Oktober 2018 secara umum cenderung mengalami peningkatan. Gempa Vulkanik Dalam cenderung meningkat secara perlahan, namun gempa Vulkanik Dangkal masih fluktuatif. Sedangkan gempa Hembusan dan gempa Guguran mengalami trend peningkatan sejak pertengahan Agustus 2018.Data RSAM periode 3 Agustus – 2 Oktober 2018 cenderung fluktuatif hingga tanggal 27 Agustus 2018. Baseline data RSAM mulai menunjukkan peningkatan secara perlahan pada tanggal 17 September hingga 2 Oktober 2018.Pada tanggal 3 Oktober 2016 pukul 01:00 WITA tingkat aktivitas G. Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi jelas hingga tertutup kabut, kolom asap kawah teramati berwarna berwarna putih tipis setinggi 100 m diatas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Barat dan Baratlaut.
Melalui rekaman seismograf pada 13 Oktober 2018 tercatat:

  • 15 kali gempa Guguran
  • 3 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Low Frekuensi
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali gempa Terasa

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Soputan terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Soputan.

 

Gunungapi Krakatau (Lampung)
Gunung Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (WASPADA). G. Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.
Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).
Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 – 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 – 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.
Pengamatan Visual G. Krakatau dari tanggal 18 – 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 – 100 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.
Dalam rangka Kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup kabut. Angin lemah ke arah Timur Laut dan Tenggara. Asap kawah tidak teramati. 
Melalui seismograf tanggal 13 Oktober 2018 tercatat:

  • 40 kali gempa Letusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus dengan amplitude 1-6 mm, dominan 45 mm. 

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

 

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta)
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup kabut. Angin lemah hingga sedang ke arah Utara - Barat Laut. Asap kawah teramati putih tipis setinggi 50 m diatas puncak. 
Melalui seismograf tanggal 13 Oktober 2018 tercatat:

  • 33 kali gempa Guguran
  • 10 kali gempa Low Frekuensi
  • 7 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

 

Gunungapi Dukono (Halmahera)
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi teramati jelas hingga  tertutup kabut. Asap kawah berwarna putih hingga kelabu dengan tekanan sedang, intensitas tebal, tinggi asap mencapai 400 m di atas puncak. Angin bertiup kearah barat. Teramati Letusan dengan tinggi 100-400 meter dengan warna asap putih kelabu.
Melalui seismograf tanggal 13 Oktober 2018 tercatat:

  • 2 kali gempa Letusan
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo 0,5-6 mm (dominan 2 mm)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

 

Gunungapi Ibu (Halmahera)
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi teramati dengan jelas hingga kabut. Asap kawah berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dengan intensitas tipis hingga sedang, ketinggian mencapai 200 - 600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Utara dan Timur. 
Melalui seismograf tanggal 11 Oktober 2018 tercatat:

  • 60 kali gempa Letusan
  • 147 kali gempa Hembusan
  • 13 kali gempa Guguran
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

  • G. Sinabung, Sumatera Utara, VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.
  • G. Agung, Bali, VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.
  • G. Gamalama, Maluku Utara. VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 17:52 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1725 m di atas permukaan laut. Kolom abu bergerak mengarah baratlaut.
  • G. Soputan, Sulawesi Utara, VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 4 Oktober 2018 pukul 06:36 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 3309 m di atas permukaan laut atau sekitar 1500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat - baratdaya.
  • G. Krakatau, Lampung. VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 September 2018 pukul 06:56 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 538 m di atas permukaan laut atau sekitar 200 m diatas puncak. Kolom abu bergerak mengarah selatan.
  • G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta. VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni1 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya akivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.
  • G. Dukono, Maluku Utara. VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 5 Oktober 2018 pukul 17:28 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1929 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke arah Barat.
  • G. Ibu, Maluku Utara. VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Agustus 2018 pukul 17:38 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke selatan.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Oktober 2018 yang dibandingkan bulan September  2018  akan   mengalami peningkatan potensinya di sebagian besar wilayah indonesia  mulai dari  sebagian besar pulau Pulau Sumatra , sebagian pulau jawa bagian  Kalimantan, Bali,   Maluku dan  Papua . Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat, Tengah dan Timur,  Selatan,   Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di: 

  1. Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara
  2. Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh
  3. Kabupaten Sibolga, Provinsi Sumatera Utara
  4. Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat
  5. Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat
  6. Pasaman Barat, Sumatra Barat
  7. Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh
  8. Kabupaten Hulu Sungai Utara, Provinsi Kalimantan
  9. Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara.

Kejadian gerakan tanah terbaru: 
1. Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara
Longsor dan banjir terjadi dari Kecamatan Panyabungan hingga Kecamatan Natal, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara sejak Kamis (11/10) hingga Jumat (12/10). Terdapat 24 desa yang tersebar di 11 kecamatan yang berdampak langsung bencana alam ini.Banjir dan longsor tersebut mengakibatkan 10 orang tewas. Sepuluh orang lainnya tertimbun lingsor di Desa Ulu Pungkut masih dalam proses evakuasi. Selain korban jiwa, longsor dan banjir menyebabkan sejumlah tiang listrik roboh dan aliran listrik padam. Sejumlah rumah rusak berat dan hanyut.
Sumber: https://m.detik.com/news/berita/4254731/banjir-dan-longsor-di-mandailing-natal-sumut-10-orang-tewas; http://aceh.tribunnews.com/2018/10/13/banjir-dan-longsor-hantam-11-kecamatan-di-madina-18-orang-meninggal-dan-21-rumah-hanyut
Gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan. Gerakan tanah tersebut terjadi karena tanah pelapukan pada lokasi tersebut bersifat sarang dan mudah menyerap air, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

2. Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh
Gerakan tanah terjadi di Desa Situbuh-tubuh, Kecamatan Danau Paris, Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Singkil, melansir hingga Sabtu (13/10/2018) siang, dampak banjir dan tanah longsor di kabupaten itu mengakibatkan sejumlah jalan lintas utama terputus, yaitu : ruas jalan yang menghubungkan Kecamatan Danau Paris, Kabupaten Aceh Singkil ke Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, dan jalan penghubung antara Desa Lae Sipola, Kecamatan Singkohor, Aceh Singkil, menuju Kota Subulussalam, Provinsi Aceh juga retak. Sehingga tak bisa dilalui oleh kendaraan berat.
Sumber: https://regional.kompas.com/read/2018/10/13/14464851/banjir-dan-longsor-3-jalan-utama-terputus-di-aceh-singkil
Gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan dan terjadi karena tanah pelapukan pada lokasi tersebut bersifat sarang dan mudah menyerap air, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

Rekomendasi:

  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu meningkatkan kewaspadaan bagi penduduk yang bermukim di sekitar lokasi gerakan tanah terutama pada saat dan setelah turun hujan
  • Apabila terjadi hujan dengan durasi yang lama, penduduk yang bermukim serta pengguna sarana sekolah yang berada di bawah tebing yang longsor tersebut, diharapkan segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.
  • Apabila dijumpai bendung alam, harap segera dilakukan pembobolan supaya tidak menimbulkan banjir bandang
  • Masyarakat pengguna jalan diharap selalu waspada terutama pada saat dan setelah turun hujan deras karena ada kemungkinan adanya longsor susulan
  • Segera membersihkan material longsor dan selalu waspada terhadap potensi longsor susulan
  • Memasang rambu rawan longsor pada titik rawan longsor
  • Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta  menata aliran air permukaan pada tebing di atas pemukiman tersebut.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat sekitar 
  • Masyarakat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan pemerintah daerah setempat.