Laporan Kebencanaan Geologi 10 September 2018

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

I. SUMMARY:

Hari ini, Senin 10 September 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah teramati berwarna putih tipis - tebal setinggi 50 - 100 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timur dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf pada 9 September 2018 tercatat:

  • 5 kali gempa Hembusan
  • 4 kali gempa Tektonik Lokal
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara - Barat, 4 km untuk sektor Selatan - Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan - Tenggara, didalam jarak 6 km untuk sektor Tenggara - Timur serta didalam jarak 4 km untuk sektor Utara -Timur
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

G. Agung (Bali):

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis setinggi 30 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat.

Rekaman seismograf tanggal 9 September 2018 tercatat:

  • 3 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 9 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 10 September 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

- 7 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan
  • mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA:

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

G. Krakatau (Lampung).

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Krakatau (305 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup Kabut hingga jelas. Angin lemah ke arah tenggara dan timur. Asap kawah tidak teramati diatas puncak karena gunung tertutup kabut. pada malam hari teramati semburan material pijar dengan ketinggian 100 - 200 m diatas puncak. Terdengar suara dentuman hingga di Pos dan mengetarkan kaca.

Melalui seismograf tanggal 9 September 2018 tercatat:

- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 48-55 mm (dominan 50 mm)

Rekomendasi:

Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 1 km dari kawah.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 23 Agustus 2018 pukul 18:07 WIB, terkait dengan adanya letusan yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 27 mm dengan durasi sekitar 31 detik. Ketinggian kolom letusan sekitar 1005 m di atas permukaan laut atau 700 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke timur laut.

G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis setinggi 10 - 25 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timurlaut dan baratlaut.

Melalui rekaman seismograf pada 9 September 2018 tercatat:

  • 7 kali gempa Guguran
  • 37 kali gempa Hembusan
  • 13 kali gempa Hybrid
  • 2 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 10 kali gempa Low Frekuensi
  • 2 kali gempa Tektonik Lokal
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.
  • Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.
  • Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.
  • Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

G. Dukono (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna puti tebal - kelabu dengan ketinggian 400 - 800 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur.

Melalui seismograf tanggal 9 September 2018 tercatat:

- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-12 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 September 2018 pukul 09:27 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1629 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke arah timur.

G. Ibu (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi tidak dapat teramati di atas puncak karena gunung tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan timur.

Melalui seismograf tanggal 9 September 2018 tercatat:

  • 105 kali Gempa Letusan
  • 97 kali Gempa Hembusan
  • 33 kali Gempa Guguran
  • 3 kali Gempa Tremor Harmonik

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Agustus 2018 pukul 17:38 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke selatan.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan September 2018 yang dibandingkan bulan Agustus 2018,   umumnya potensinya cenderung sedikit mengalami peningkatan di sebagian besar wilayah Indonesia utamanya di Jawa dan sebagian Sumatera , Sulawesi , Bali , Nusa tenggara dan Kalimantan.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

1. Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara

Penyebab:   Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat lereng yang terjal, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   menyebabkan arus lalu lintas terhambat di Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

II. DETAIL

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini:

a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.

b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.

c. Sebanyak 19 gunung api Status Waspada/Level II (Merapi*, Marapi, Kerinci, Dempo, Krakatau*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);

d. Sisanya 48 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah teramati berwarna putih tipis - tebal setinggi 50 - 100 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timur dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf pada 9 September 2018 tercatat:

  • 5 kali gempa Hembusan
  • 4 kali gempa Tektonik Lokal
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir tanggal 28 Agustus 2018 tidak memperlihatkan perubahan yang signifikan dibanding hasil pengukuran tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 hanya terlihat ada pengikisan sekitar 30 cm dibagian outletnya.

Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang saat terjadi hujan lebat.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.

Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi banjir bandang/lahar pada musim hujan.

Gunungapi Agung (Bali).

Pasca erupsi November 2017 hingga awal Februari 2018 kegempaan mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (Gempa Vulkanik dan Tektonik Lokal) dan Gempa frekuensi rendah (Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 23 juta m3. Pengukuran deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan pola deflasi. Citra Satelit masih merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih terus terjadi, namun dengan eksplosivitas rendah dan frekuensi kejadian relatif rendah.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).

Pada 23, 24 dan 25 Juni 2018 terjadi rentetan Gempa Vulkanik Dalam mengindikasikan pergerakan magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Frekuensi kejadian erupsi kemudian meningkat dimana puncaknya pada 2 Juli 2018 terjadi erupsi Strombolian disertai dentuman dengan jarak lontaran material pijar mencapai jarak 2 km dari kawah puncak ke segala arah hingga keluar kawah. Frekuensi erupsi setelah itu hingga saat ini mengalami penurunan. Data pemantauan masih mengindikasikan bahwa aktivitas Gunung Agung belum stabil dan masih rentan terjadi erupsi. en.kiev.natashaescort.com

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut, asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis setinggi 30 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat.

Rekaman seismograf tanggal 9 September 2018 tercatat:

  • 3 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 9 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 10 September 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

- 7 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Krakatau (Lampung).

Gunung Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (WASPADA). G. Krakatau (305 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.

Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).

Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 – 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 – 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.

Pengamatan Visual G. Krakatau dari tanggal 18 – 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 – 100 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.

Dalam rangka Kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup Kabut hingga jelas. Angin lemah ke arah tenggara dan timur. Asap kawah tidak teramati diatas puncak karena gunung tertutup kabut. pada malam hari teramati semburan material pijar dengan ketinggian 100 - 200 m diatas puncak. Terdengar suara dentuman hingga di Pos dan mengetarkan kaca.

Melalui seismograf tanggal 9 September 2018 tercatat:

- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 48-55 mm (dominan 50 mm)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta).

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis setinggi 10 - 25 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timurlaut dan baratlaut.

Melalui rekaman seismograf pada 9 September 2018 tercatat:

  • 7 kali gempa Guguran
  • 37 kali gempa Hembusan
  • 13 kali gempa Hybrid
  • 2 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 10 kali gempa Low Frekuensi
  • 2 kali gempa Tektonik Lokal
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera).

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna puti tebal - kelabu dengan ketinggian 400 - 800 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur.

Melalui seismograf tanggal 9 September 2018 tercatat:

- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-12 mm (dominan 2 mm)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi tidak dapat teramati di atas puncak karena gunung tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan timur.

Melalui seismograf tanggal 9 September 2018 tercatat:

  • 105 kali Gempa Letusan
  • 97 kali Gempa Hembusan
  • 33 kali Gempa Guguran
  • 3 kali Gempa Tremor Harmonik

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

(2) G. Agung, Bali.

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

(3) G. Krakatau, Lampung.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 23 Agustus 2018 pukul 18:07 WIB, terkait dengan adanya letusan yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 27 mm dengan durasi sekitar 31 detik. Ketinggian kolom letusan sekitar 1005 m di atas permukaan laut atau 700 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke timur laut.

(4) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta.

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

(5) G. Dukono, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 September 2018 pukul 09:27 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1629 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak mengarah ke arah timur.

(6) G. Ibu, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 24 Agustus 2018 pukul 17:38 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke selatan.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan September 2018 yang dibandingkan bulan Agustus 2018 akan cenderung sedikit mengalami peningkatan potensinya di sebagian besar wilayah indonesia mulai dari sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Bali, kecuali wilayah Sulawesi , Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua . Wilayah Indonesia yang secara umum tetap perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan, dan sepanjang aliran sungai antara lain wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian Barat, Tengah dan Timur, Selatan,   Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Maluku , dan wilayah Papua.

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di:

1. Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara*,

2. Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur,

3.Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu,

4.Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat,

5.Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara

Tebing setinggi 50 meter sepanjang 150 meter lebih di jalan lingkar luar (outer ring road) Danau Toba tepatnya di Desa Parsaoran, Kecamatan Sitio-tio, Kabupaten Samosir, longsor, Sabtu (8/9/2018). Hujan deras yang melanda Samosir mengakibatkan bongkahan batu besar menutup akses jalan menyebabkan arus transportasi antar-kecamatan terputus. Camat Sitio-tio, Bresman Simbolon, mengatakan, kejadian itu diperkirakan, Jumat (7/9/2018) malam. Beruntung, saat longsor terjadi tidak ada pengendara dan pengguna jalan yang melintas di lokasi kejadian.

Sumber: https://kabar-samosir.blogspot.com/2018/09/hujan-deras-di-samosir-tebing-longsor.html?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter

Penyebab terjadinya gerakan tanah akibat lereng yang terjal, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

Rekomendasi :

  • Agar masyarakat yang beraktifitas dan tinggal di sekitar daerah bencana khususnya pengguna jalan lebih waspada, terutama saat maupun setelah hujan deras yang berlangsung lama, karena daerah tersebut masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
  • Material longsoran agar segera dibersihkan, dalam pelaksanaan pembersihan agar tidak dilaksanakan pada saat hujan dan setelah hujan, karena daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan.
  • Memelihara vegetasi berakar dalam di daerah lereng berkemiringan terjal untuk memperkuat kestabilan lereng.
  • Membuat Rambu di daerah jalur jalan rawan longsor untuk meningkatkan kewaspadaan.
  • Membuat penahan tebing yang lebih kuat dan dalam, menjaga fungsi lahan serta menata aliran air permukaan pada jalan penghubung tersebut.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk waspada dan selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.