Laporan Kebencanaan Geologi 29 Juli 2018

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

I. SUMMARY:

Hari ini, Minggu 29 Juli 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi ampak cerah hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis setinggi 100 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timur dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf pada 28 Juli 2018 tercatat:

  • 20 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tektonik Lokal

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

G. Agung (Bali):

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis setinggi 200 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat.

Rekaman seismograf tanggal 28 Juli 2018 tercatat:

  • 11 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 29 Juli 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 2 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA:

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

G. Krakatau (Lampung).

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Krakatau (305 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup Kabut. Angin lemah hingga sedang ke arah timurlaut dan barat. Asap kawah tidak teramati.

Melalui seismograf tanggal 28 Juli 2018 tercatat:

  • 79 kali gempa Letusan
  • 8 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 2-15 mm (dominan 5 mm)

Rekomendasi:

Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 1 km dari kawah.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 16 Juli 2018 pukul 18:45 WIB, terkait dengan adanya letusan yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dengan durasi sekitar 44 detik. Ketinggian kolom letusan sekitar 805 m di atas permukaan laut atau 500 m di atas puncak.

G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah tenggara dan barat. Melalui rekaman seismograf pada 28 Juli 2018 tercatat:

  • 4 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Low Frequency
  • 9 kali gempa Hybrid
  • 8 kali gempa Tektonik Lokal
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.
  • Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.
  • Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.
  • Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

G. Dukono (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal setinggi 400 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Teramati letusan dengan tinggi 200-400 m dan warna asap putih kelabu.

Melalui seismograf tanggal 28 Juli 2018 tercatat:

  • 9 kali gempa Letusan
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-10 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 16:52 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1729 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah timurlaut.

G. Ibu (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008. Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 200-800 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan tenggara.

Melalui seismograf tanggal 28 Juli 2018 tercatat:

  • 113 kali Gempa Letusan
  • 129 kali Gempa Hembusan
  • 45 kali Gempa Guguran
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Juli 2018 pukul 19:11 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke tenggara. Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gempa Bumi

1) Gempa Bumi di Baratlaut Maluku Barat Daya

Informasi Gempa Bumi:

Gempa bumi terjadi pada hari Sabtu, tanggal 28 Juli 2018, pukul 22:26:42 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat gempa bumi berada pada koordinat 6,03° LS dan 125,96° BT, dengan magnitudo 5,2 SR pada kedalaman 453 Km, berjarak 202 Km Barat Laut, Maluku Barat Daya, Maluku.

Kondisi Geologi Daerah Terkena Gempa Bumi:

Pusat gempa bumi berada di laut. Wilayah sekitarnya, pusat gempa bumi disusun oleh batuan Aluvium berumur Kuarter dan batuan sedimen berumur Tersier. Goncangan gempa bumi akan terasa kuat pada daerah batuan aluvium dan batuan sedimen Tersier terlapukkan yang bersifat urai, lepas, belum kompak (unconsolidated) dan memperkuat efek getaran, sehingga rentan terhadap goncangan gempa bumi.

Penyebab Gempa Bumi:

Berdasarkan data posisi dan kedalamannya, gempa bumi ini diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas zona subduksi yang terbentuk akibat tumbukan antara lempeng Australia dengan lempeng Pasifik di laut Banda, Maluku.

Dampak Gempa Bumi:

Belum ada laporan mengenai adanya korban jiwa dan kerusakan bangunan.

Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami, karena walaupun pusat gempa bumi berada di laut, tetapi diperkirakan tidak terjadi dislokasi dasar laut.

2) Gempa Bumi di Barat Laut Flores Timur, NTT

Informasi Gempa Bumi:

Gempa bumi terjadi pada hari Minggu, 29 Juli 2018 pukul 00:07:22 WIB. Berdasarkan informasi BMKG, pusat gempa bumi berada pada koordinat 122,72°BT dan 7,30°LS berjarak 115 km Barat Laut Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, dengan magnitude 6,1 SR pada kedalaman 596 km.

Kondisi geologi daerah terdampak gempa bumi:

Pusat gempa bumi   terasa di daerah yang disusun oleh batuan vulkanik dan aluvium berumur Kuarter serta batuan sedimen berumur Tersier yang telah mengalami pelapukan sehingga bersifat, urai, lepas, dan bersifat memperkuat efek goncangan.

Penyebab gempa bumi:

Berdasarkan posisi sumber gempa bumi, kedalaman, dan focal mekanismenya, diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas zona subduksi di selatan wilayah Nusa Tenggara Timur.

Dampak gempabumi:

Belum ada laporan kerusakan maupun korban jiwa. Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.

3) Gempa Bumi di Timurlaut Maluku Tenggara Barat, Maluku

Informasi Gempa Bumi:

Gempa bumi terjadi pada hari Minggu, tanggal 29 Juli 2018, pukul 00:38:46 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat gempa bumi berada pada koordinat 6,31° LS dan 131,46° BT, dengan magnitudo 5,3 SR pada kedalaman 109 Km, berjarak 136 Km Timur Laut, Maluku Tenggara Barat, Maluku.

Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi:

Pusat gempa bumi berada di laut. Wilayah sekitarnya, pusat gempa bumi disusun oleh batuan Aluvium berumur Kuarter dan batuan sedimen berumur Tersier. Goncangan gempa bumi akan terasa kuat pada daerah batuan aluvium dan batuan sedimen Tersier terlapukkan yang bersifat urai, lepas, belum kompak dan memperkuat efek getaran, sehingga rentan terhadap goncangan gempa bumi.

Penyebab Gempa Bumi:

Berdasarkan data posisi dan kedalamannya, gempa bumi ini diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas zona subduksi yang terbentuk akibat tumbukan antara lempeng Australia dengan lempeng Pasifik di laut Banda, Maluku.

Dampak Gempa Bumi:

Sampai tanggapan ini dibuat belum ada laporan mengenai adanya korban jiwa dan kerusakan bangunan. Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami, karena walaupun pusat gempa bumi berada di laut, tetapi diperkirakan tidak terjadi dislokasi dasar laut.

Rekomendasi:

• Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.

• Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil.

II. DETAIL

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :

a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.

b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.

c. Sebanyak 19 gunung api Status Waspada/Level II (Merapi*, Marapi, Kerinci, Dempo, Krakatau*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);

d. Sisanya 48 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tampak cerah hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis setinggi 100 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timur dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf pada 28 Juli 2018 tercatat:

- 20 kali gempa Hembusan

- 2 kali gempa Tektonik Lokal

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar.Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.

Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).

Pasca erupsi November 2017 hingga awal Februari 2018 kegempaan mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (Gempa Vulkanik dan Tektonik Lokal) dan Gempa frekuensi rendah (Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 23 juta m3. Pengukuran deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan pola deflasi. Citra Satelit masih merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih terus terjadi, namun dengan eksplosivitas rendah dan frekuensi kejadian relatif rendah.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).

Pada 23, 24 dan 25 Juni 2018 terjadi rentetan Gempa Vulkanik Dalam mengindikasikan pergerakan magma baru dari kedalaman menuju ke permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi efusif selama lk. 24 jam pada 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta m3 sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta m3. Erupsi efusif ini disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara Ngurah Rai selama lk. 10 jam. Frekuensi kejadian erupsi kemudian meningkat dimana puncaknya pada 2 Juli 2018 terjadi erupsi Strombolian disertai dentuman dengan jarak lontaran material pijar mencapai jarak 2 km dari kawah puncak ke segala arah hingga keluar kawah. Frekuensi erupsi setelah itu hingga saat ini mengalami penurunan. Data pemantauan masih mengindikasikan bahwa aktivitas Gunung Agung belum stabil dan masih rentan terjadi erupsi.

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tampak jelas hingga tertutup kabut, teramati asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis setinggi 200 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat.

Rekaman seismograf tanggal 28 Juli 2018 tercatat:

  • 11 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 29 Juli 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 2 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Krakatau (Lampung).

Gunung Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (WASPADA). G. Krakatau (305 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.

Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).

Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 ñ 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 ñ 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.

Pengamatan Visual G. Krakatau dari tanggal 18 ñ 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 ñ 100 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.

Dalam rangka Kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi tertutup Kabut. Angin lemah hingga sedang ke arah timurlaut dan barat. Asap kawah tidak teramati.

Melalui seismograf tanggal 28 Juli 2018 tercatat:

  • 79 kali gempa Letusan
  • 8 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 2-15 mm (dominan 5 mm)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta).

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah tenggara dan barat.

Melalui rekaman seismograf pada 28 Juli 2018 tercatat:

  • 4 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Low Frequency
  • 9 kali gempa Hybrid
  • 8 kali gempa Tektonik Lokal
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera).

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal setinggi 400 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah timur. Teramati letusan dengan tinggi 200-400 m dan warna asap putih kelabu.

Melalui seismograf tanggal 28 Juli 2018 tercatat:

  • 9 kali gempa Letusan
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-10 mm (dominan 2 mm)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 200-800 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan tenggara.

Melalui seismograf tanggal 28 Juli 2018 tercatat:

  • 113 kali Gempa Letusan
  • 129 kali Gempa Hembusan
  • 45 kali Gempa Guguran
  • 4 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

(2) G. Agung, Bali.

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

(3) G. Krakatau, Lampung.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 16 Juli 2018 pukul 18:45 WIB, terkait dengan adanya letusan yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 30 mm dengan durasi sekitar 44 detik. Ketinggian kolom letusan sekitar 805 m di atas permukaan laut atau 500 m di atas puncak.

(4) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta.

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

(5) G. Dukono, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 16:52 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1729 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah timurlaut.

(6) G. Ibu, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Juli 2018 pukul 19:11 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 2125 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke tenggara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.