Laporan Kebencanaan Geologi 12 Juli 2018

 Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

I. SUMMARY:

Hari ini, Kamis 12 Juli 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. You can find a list of all Canadian casinos. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas sedang ketinggian sekitar 200 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah utara dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf pada 11 Juli 2018 tercatat:

  • 56 kali gempa Hembusan
  • 5   kali gempa Tornillo
  • 3   kali gempa Tektonik Jauh

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam area radius 3 km untuk sektor Utara-Barat, di dalam jarak 4 km untuk sektor Barat-Selatan, di dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan-Tenggara, di dalam jarak 6 km untuk sektor Tenggara-Timur, serta di dalam jarak 4 km untuk sektor Timur-Utara G. Sinabung.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu-waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

G. Agung (Bali):

Tingkat aktivitas Level III (Siaga) G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah barat. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal. Tinggi kolom asap sekitar 300 meter dari atas puncak kawah.

Rekaman seismograf tanggal 11 Juli 2018 tercatat :

  • 1 kali gempa Letusan
  • 25 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 12 Juli 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat

  • 4 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujanmengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA:

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 09 Juli 2018 pukul 11:25 WITA, terkait erupsi adanya letusan dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

G. Anak Krakatau (Lampung):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Anak Krakatau (2968 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas sejak 18 Juni 2018.

Dari kemarin hingga pagi ini, cuaca cerah dan visual gunung tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah timur dan barat. Asap kawah utama tidak teramati.

Rekaman seismograf tanggal 11 Juli 2018 tercatat:

  • 56 kali gempa Letusan
  • 141 kali gempa Hembusan
  • 5 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • gempa Tremor menerus dengan amplituda 2 - 50 mm

Rekomendasi:

Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 1 km dari kawah.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 7 Juli 2018 pukul 05:59 WIB, terkait dengan adanya letusan yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 51 mm dengan durasi sekitar 45 detik. Ketinggian kolom letusan tidak teramati.

G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak dapat teramati karena tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan baratlaut.

Melalui rekaman seismograf pada 11 Juli 2018 tercatat:

  • kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 11 kali gempa Guguran

Rekomendasi :

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.
  • Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.
  • Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.
  • Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

G. Dukono (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual cuaca berawan hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah utara dan timur laut. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 200-500 meter dari puncak. Teramati letusan dengan tinggi 200-500 meter dengan warna asap putih kelabu.

Melalui seismograf tanggal 11 Juli 2018 tercatat :

  • 3 kali Gempa Letusan
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo 0.5-15 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 Juli 2018 pukul 09:16 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1529 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah timur.

G. Ibu (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 200-800 m di atas puncak. Angin bertiup perlahan hingga sedang ke arah utara.

Melalui seismograf tanggal 11 Juli 2018 tercatat:

  • 102 kali gempa Letusan
  • 173 kali gempa Hembusan
  • 44 kali gempa Guguran
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 Juli 2018 pukul 18:43 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara. Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Juli 2018 yang dibandingkan bulan Juni 2018,   umumnya potensinya cenderung menurun di sebagian besar wilayah Indonesia utamanya di Jawa dan sebagian Sumatera sementara di wilayah Sulawesi Maluku dan Papua perlu waspada terhadap potensi kejadian gerakan tanah .

Gerakan tanah terakhir terjadi :

1. Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi

Penyebab: Penyebab gerakan tanah diduga akibat pembangunan diatas areal bekas timbunan ,tanpa drainase, tidak mengikuti kaidah geologi teknik yang baik, serta di picuh curah hujan yang tinggi sebelumnya.

Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor   mengakibatkan lahan rencana untuk penyelenggaraan MTQ rusak di Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi

1) Gempa bumi di Baratdaya Boalemo, Gorontalo

Informasi Gempa:

Gempa bumi terjadi pada hari Selasa, tanggal 10 Juli 2018, pukul: 22:33:21 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat gempa bumi berada pada koordinat 0,24° LS dan 122,09° BT, dengan magnitudo 5,1 SR pada kedalaman 186 Km, berjarak 54 Km baratdaya Boalemo Provinsi Gorontalo.

Kondisi Daerah Terkena Gempa:

Secara geologi, daerah yang terkena gempa bumi tersusun oleh batuan volkanik yang berumur Tersier, dan endapan aluvium yang berumur Kuarter. Goncangan gempa bumi juga akan dirasakan di daerah yang tersusun batuan sedimen Tersier dan Batuan berumur Pra-Tersier yang telah terlapukkan yang berada di sekitar daerah tersebut. Endapan yang bersifat lepas dan belum terkonsolidasi akan berpotensi memperkuat efek goncangan gempabumi, sehingga rentan terhadap goncangan gempa bumi.

Penyebab Gempa bumi:

Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas tektonik di wilayah Penunjaman Palung Sulawesi di sebelah Utara.

Dampak Gempa bumi:

Belum ada laporan kerusakan dan korban jiwa akibat gempa bumi ini. Informasi dar Pos PGA Colo, gempa bumi tidak dirasakan, terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 43 mm, lama gempa 555 detik, skala intensitas I MMI.

Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.

2) Gempa bumi di Perairan Tenggara Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara

Informasi Gempa Bumi:

Gempa Bumi terjadi pada hari Rabu, tanggal 11 Juli 2018, pukul 15:22:54 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG pusat gempa bumi berada pada koordinat 0,21°LS dan 124,65°BT, dengan magnitudo 5,0 S.R. pada kedalaman 10 km, berjarak 104 km tenggara Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara.

Kondisi Geologi Daerah Terkena Dampak Gempa Bumi:

Daerah disekitar pusat gempa bumi didominasi oleh batuan sedimen, batuan gunungapi, batuan beku serta batuan malihan yang berumur Pratersier hingga Kuarter. Endapan Kuarter berada di daerah pesisir selatan yang telah mengalami pelapukan bersifat urai, lepas, belum kompak dan memperkuat efek getaran, sehingga rawan terhadap goncangan gempa bumi.

Penyebab Gempa Bumi;

Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas zona subduksi Punggungan Mayu.

Dampak Gempa Bumi:

Belum ada laporan mengenai kerusakan dan korban jiwa. Informasi dari pos PGA Soputan, gempa bumi tidak dirasakan, tercatat dengan amplitudo maksimum 40 mm, lama gempa bumi 230 detik, dan skala I MMI. Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.

Rekomendasi:

(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami

(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa susulan, yang diharapkan berkekuatan lebih kecil.

II. DETAIL

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :

a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.

b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.

c. Sebanyak 19 gunung api Status Waspada/Level II (Merapi*, Marapi, Kerinci, Dempo, Krakatau*, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);

d. Sisanya 48 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas sedang ketinggian sekitar 200 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah utara dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf pada 11 Juli 2018 tercatat:

  • 56 kali gempa Hembusan
  • 5   kali gempa Tornillo
  • 3   kali gempa Tektonik Jauh

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar.

Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.

Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).

Pasca erupsi November 2017 hingga saat ini kegempaan secara umum mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (Gempa Vulkanik dan Tektonik Lokal) dan Gempa frekuensi rendah (Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 23 juta m3. Pengukuran deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan pola deflasi. Citra Satelit masih merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih terus terjadi, namun dengan eksplosivitas rendah dan frekuensi kejadian relatif rendah.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah barat. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal. Tinggi kolom asap sekitar 300 meter dari atas puncak kawah.

Rekaman seismograf tanggal 11 Juli 2018 tercatat :

  • 1 kali gempa Letusan
  • 25 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 12 Juli 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 4 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

G. Anak Krakatau (Lampung):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Anak Krakatau (2968 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas sejak 18 Juni 2018.

Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Anak Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).

Tanggal 18 Juni 2018, selain gempa vulkanik dan tektonik, mulai terekam juga gempa Tremor menerus dengan amplitudo 1 – 21 mm (dominan 6 mm). Tanggal 19 Juni 2018, gempa Hembusan mengalami peningkatan jumlah dari rata-rata 1 kejadian per hari menjadi 69 kejadian per hari. Selain itu mulai terekam juga gempa Low Frekuensi sebanyak 12 kejadian per hari. Gempa Tremor menerus dengan amplitude 1 – 14 mm (dominan 4 mm). Tanggal 20 Juni 2018, terekam 88 kali gempa hembusan, 11 kali gempa Low frekuensi dan 36 kali gempa Vulkanik Dangkal. Tanggal 21 Juni 2018, terekam 49 kali gempa Hembusan, 8 kali gempa Low Frekuensi, 50 kali gempa Vulkanik Dangkal dan 4 kali gempa Vulkanik Dalam.

Pengamatan Visual G. Anak Krakatau dari tanggal 18 – 20 Juni 2018, pada umumnya gunung tertutup kabut. Sedangkan pada tanggal 21 Juni 2018, gunung tampak jelas hingga kabut, teramati asap kawah utama dengan ketinggian 25 – 100 meter dari puncak, bertekanan sedang berwarna kelabu dengan intensitas tipis.

Dalam rangka Kesiapsiagaan sejak tanggal 18 Juni 2018 sudah dikoordinaskan dan diinformasikan kepada pihak BPBD Prov. Banten, BPBD Prov. Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

Dari kemarin hingga pagi ini, cuaca cerah dan visual gunung tertutup kabut. Angin bertiup lemah ke arah timur dan barat. Asap kawah utama tidak teramati.

Rekaman seismograf tanggal 11 Juli 2018 tercatat:

  • 56 kali gempa Letusan
  • 141 kali gempa Hembusan
  • 5 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • gempa Tremor menerus dengan amplituda 2 - 50 mm

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Banten maupun BPBD Provinsi Lampung dan BKSDA Lampung agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekat ke pulau Anak Krakatau.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta).

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak dapat teramati karena tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan baratlaut.

Melalui rekaman seismograf pada 11 Juli 2018 tercatat:

  • kali gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 11 kali gempa Guguran

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera).

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual cuaca berawan hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah utara dan timur laut. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 200-500 meter dari puncak. Teramati letusan dengan tinggi 200-500 meter dengan warna asap putih kelabu.

Melalui seismograf tanggal 11 Juli 2018 tercatat :

  • 3 kali Gempa Letusan
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus dengan amplitudo 0.5-15 mm (dominan 2 mm)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 200-800 m di atas puncak. Angin bertiup perlahan hingga sedang ke arah utara.

Melalui seismograf tanggal 11 Juli 2018 tercatat:

  • 102 kali gempa Letusan
  • 173 kali gempa Hembusan
  • 44 kali gempa Guguran
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yang berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.

VVONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

(2) G. Agung, Bali.

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 09 Juli 2018 pukul 11:25 WITA, terkait erupsi adanya letusan dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

(3) G. Anak Krakatau, Lampung.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 7 Juli 2018 pukul 05:59 WIB, terkait dengan adanya letusan yang terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 51 mm dengan durasi sekitar 45 detik. Ketinggian kolom letusan tidak teramati.

(4) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta.

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

(5) G. Dukono, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 Juli 2018 pukul 09:16 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1529 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah timur.

(6) G. Ibu, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 Juli 2018 pukul 18:43 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu

sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.