Laporan Kebencanaan Geologi,31 Mei 2018

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

I. SUMMARY:

Hari ini, Kamis 31 Mei 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas tebal dengan ketinggian 150 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah selatan dan barat laut. Melalui rekaman seismograf pada 30 Mei 2018 tercatat:

  • 64 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • 4 kali gempa Tektonik Lokal
  • 6 kali gempa Tornillo
  • 1 kali Tremor dengan amplituda 10 mm
  • Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-7 mm (dominan 2 mm)

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 Mei 2018 pukul 21:43 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 4960 m di atas permukaan laut atau sekitar 2500 m di atas puncak, angin bertiup ke barat dan barat laut.

G. Agung (Bali):

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah barat. Rekaman seismograf tanggal 30 Mei 2018 tercatat:

  • 10 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 10 kali gempa Hembusan
  • 8 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal

Tanggal 31 Mei 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 3 kali gempa Hembusan
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh
  • 3 kali gempa Tektonik Lokal

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan
  • mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA:

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 Mei 2018 pukul 07:07 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 3642 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke barat daya.

G. Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan barat laut.

Melalui rekaman seismograf pada 30 Mei 2018 tercatat:

  • 9 kali gempa Guguran
  • 4 kali gempa Hembusan
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal

Rekomendasi :

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.
  • Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.
  • Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.
  • Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 26 Mei 2018 pukul 04:34 WIB, terkait tidak adanya aktivitas erupsi. Dari kawah utama teramati asap kawah bertekanan lemah dengan intensitas lemah setinggi 2993 m di atas permukaan laut atau sekitar 25 m di atas puncak.

G. Dukono (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tebal dengan ketinggian 500 m di atas puncak. Letusan teramati dengan tinggi 300-500 m di atas puncak dengan warna asap putih hingga kelabu. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui seismograf tanggal 30 Mei 2018 tercatat:

  • 2 kali gempa Letusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-7 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 31 Mei 2018 pukul 06:58 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1729 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah timur.

G. Ibu (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 200-500 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat dan utara. Melalui seismograf tanggal 30 Mei 2018 tercatat:

  • 58 kali gempa Letusan
  • 89 kali gempa Hembusan
  • 39 kali gempa Guguran

Rekomendasi:

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA:

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 5 Mei 2018 pukul 07:00 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Mei 2018 yang dibandingkan bulan April 2018,   relatif sama potensinya di seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tetap terhadap potensi kejadian gerakan tanah masih berpeluang utamanya di wilayah jawa mengingat pertumbuhan penduduk dan alih fungsi lahan yang cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

1. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat

2. Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat

3. Kota Ambon, Provinsi Maluku

4. Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Provinsi Sulawesi Utara

Penyebab : Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil, lereng yang curam dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi di sekitar daerah bencana.

 

Dampak : Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan terputusnya akses jalan dari Lubuk Basung menuju Bukitinggi di Kabupaten Agam (Provinsi Sumatera Barat); akses jalan menuju kawasan Ngarai Sianok, Bukitinggi itu putus total selama 4 jam lebih di Kota Bukittinggi (Provinsi Sumatera Barat);longsornya tebing diatas jalan dan tertutupnya badan jalan oleh material longsoran di Kota Ambon (Provinsi Maluku); material longsor menimbun jalan dan melukai seorang pengendara motor di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Provinsi Sulawesi Utara

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi

Gempa bumi di Timurlaut Maluku Tenggara Barat, Maluku.

Informasi Gempa Bumi:

Gempa bumi terjadi pada hari Rabu, 30 Mei 2018, pukul 20:06:20 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 131.56° BT dan 6.51° LS, dengan magnitudo 5,1 SR pada kedalaman 136 km, berjarak 115 km timurlaut Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku.

Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi:

Pusat gempa bumi berada di laut, tepatnya di sebelah Timurlaut Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku. Daerah yang terdekat dengan pusat gempa bumi yaitu kepulauan Tanimbar tersusun oleh endapan permukaan, dan batuan sedimen berumur Kuarter, serta batuan ketidakselarasan berumur Tersier. Pada daerah yang disusun oleh endapan Kuarter diperkirakan goncangan gempa bumi akan lebih kuat karena batuan ini bersifat urai, lepas, belum kompak dan memperkuat efek getaran sehingga rentan terhadap guncangan gempa bumi.

Penyebab gempa bumi:

Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas penunjaman Lempeng Indo-Australia di Laut Banda.

Dampak gempa bumi:

Belum ada laporan adanya kerusakan maupun korban jiwa.

Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.

Rekomendasi:

(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.

(2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diperkirakan berkekuatan lebih kecil.

II. DETAIL

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :

a. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung* (Sumut) sejak 2 Juni 2015.

b. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung* (Bali) sejak 10 Februari 2018.

c. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu*, Dukono*, Lewotolok dan Banda Api);

d. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas tebal dengan ketinggian 150 m di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah selatan dan barat laut. Melalui rekaman seismograf pada 30 Mei 2018 tercatat:

  • 64 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh
  • 4 kali gempa Tektonik Lokal
  • 6 kali gempa Tornillo
  • 1 kali Tremor dengan amplituda 10 mm
  • Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-7 mm (dominan 2 mm)

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.

Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).

Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih terjadi dalam satu bulan terakhir, namun dengan eksplosivitas rendah dan frekuensi kejadian relatif rendah. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 19 Mei 2018 pukul 17:37 WITA dengan ketinggian kolom abu mencapai 1000 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas kegempaan kembali berfluktuasi dalam tingkatan rendah. Pasca erupsi November 2017 hingga saat ini kegempaan secara umum mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (Gempa Vulkanik dan Tektonik Lokal) dan Gempa frekuensi rendah (Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Pengukuran deformasi GPS maupun Tiltmeter menunjukkan pola deflasi. Citra Satelit mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah ke arah barat. Rekaman seismograf tanggal 30 Mei 2018 tercatat:

  • 10 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 10 kali gempa Hembusan
  • 8 kali gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal

Tanggal 31 Mei 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 3 kali gempa Hembusan
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh
  • 3 kali gempa Tektonik Lokal

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta).

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih, bertekanan lemah dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 50 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan barat laut.

Melalui rekaman seismograf pada 31 Mei 2018 tercatat:

- 9 kali gempa Guguran

- 4 kali gempa Hembusan

- 1 kali gempa Tektonik Lokal

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Merapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Merapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera).

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tebal dengan ketinggian 500 m di atas puncak. Letusan teramati dengan tinggi 300-500 m di atas puncak dengan warna asap putih hingga kelabu. Angin bertiup lemah ke arah timur. Melalui seismograf tanggal 30 Mei 2018 tercatat:

  • 2 kali gempa Letusan
  • Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-7 mm (dominan 2 mm)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, bertekanan lemah hingga sedang dan intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian 200-500 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat dan utara. Melalui seismograf tanggal 30 Mei 2018 tercatat:

  • 58 kali gempa Letusan
  • 89 kali gempa Hembusan
  • 39 kali gempa Guguran

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

VONA terakhir yang terkirim:

(1) G. Sinabung, Sumatera Utara.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 20 Mei 2018 pukul 21:43 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 4960 m di atas permukaan laut atau sekitar 2500 m di atas puncak, angin bertiup ke barat dan barat laut.

(2) G. Agung, Bali.

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 Mei 2018 pukul 07:07 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 3642 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke barat daya.

(3) G. Merapi, Jawa Tengah - Yogyakarta

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 26 Mei 2018 pukul 04:34 WIB, terkait tidak adanya aktivitas erupsi. Dari kawah utama teramati asap kawah bertekanan lemah dengan intensitas lemah setinggi 2993 m di atas permukaan laut atau sekitar 25 m di atas puncak.

(4) G. Dukono, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 31 Mei 2018 pukul 06:58 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1729 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah timur.

(5) G. Ibu, Maluku Utara.

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 5 Mei 2018 pukul 07:00 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1925 m di atas permukaan laut atau sekitar 600 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke utara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Mei 2018 yang dibandingkan bulan April 2018 akan relatif potensinya sama di seluruh indonesia mulai dari sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Wilayah Indonesia yang secara umum tetap perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan, dan sepanjang aliran sungai antara lain wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan, Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan dan Tengah, Maluku , dan wilayah Papua.

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu   terjadi di:

1. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat*,

2. Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat*,

3. Kota Ambon, Provinsi Maluku*,

4. Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Provinsi Sulawesi Utara*,

5. Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan*,

6.Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu,

7.Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu,

8. Kabupaten Seluma , Provinsi Bengkulu,

9. Jakarta Selatan , Provinsi DKI Jakarta ,

10. Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat,

12. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat,

12. Kota Subulussalam dan Sabang, Provinsi Aceh,

13. Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera barat,

14.Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah,

15.Kabupaten Pakpak Bharat, Provinsi Sumatera Utara,

16. Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara,

17. Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah,

18.Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatra Utara,

19.Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat,

20.Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Provinsi Sumatera Utara,

21.Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan.

*Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat

Longsor terjadi di Kelok 44 Maninjau, tepatnya di Kelok 3, Jorong Lasa Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Selasa (29/5/2018) sekitar pukul 13.17 WIB. Material longsor berupa tanah dan pohon itu menimbun badan jalan, mengakibatkan terputusnya akses jalan dari Lubuk Basung menuju Bukitinggi dan sempat mengalami lumpuh total selama kurang lebih empat jam.

Sumber:http://pekanbaru.tribunnews.com/2018/05/29/longsor-di-maninjau-kelok-44-putus-total-tanah-dan-pohon-timbun-jalan-di-kelok-3

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil, lereng yang curam dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

2. Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat

Terjadi longsor di Bantola, Bukittinggi, Sumatera Barat, Selasa (29/5/2018) sekitar pukul 14.00 WIB, mengakibatkan akses jalan menuju kawasan Ngarai Sianok, Bukitinggi itu putus total selama 4 jam lebih

Sumber: http://batam.tribunnews.com/2018/05/29/foto-ngarai-sianok-bukittinggi-longsor-tebing-runtuh-tutup-badan-jalan-menuju-ngarai

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil, lereng yang curam dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

3. Kota Ambon, Provinsi Maluku

Longsor terjadi di kawasan Tantui, Kota Ambon, Prov. Maluku, Selasa (29/5/2018). Mengakibatkan longsornya tebing diatas jalan dan tertutupnya badan jalan oleh material longsoran,

Sumber:https://regional.kompas.com/read/2018/05/29/16443251/banjir-dan-longsor-terjang-sejumlah-kawasan-di-ambon

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil, lereng yang curam dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

4. Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Provinsi Sulawesi Utara

Terjadi longsor jalan penghubung Kota Kotamobagu dan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur tepatnya di Desa Bodaro, Kecamatan Modayag, Kabupaten Boltim, Rabu (30/5/2018). Sekitar pukul 09.00 Wita. Longsor pada dinding jalan mengakibatkan material longsor menimbun jalan dan melukai seorang pengendara motor yang sedang melintas. Longsor tersebut merupakan longsor susulan dari kejadian minggu lalu.

Sumber:http://manado.tribunnews.com/2018/05/30/seorangpengendaratertimpa-longsor-di-jalan-desa-badaro-boltim

Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil, lereng yang curam dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah.
  • Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan
  • Pemotongan lereng yang tidak terlalu tegak dan harus mengikuti kaidah-kaidah geologi tehnik.
  • Pemasangan rambu rawan bencana longsor untuk meningkatkan kewaspadaan
  • Pemasangan rambu rawan bencana longsor untuk meningkatkan kewaspadaan
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktifitas di sekitar longsoran agar selalu waspada terutama saat turun hujan deras terhadap potensi terjadi gerakan tanah susulan.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari aparat pemerintah daerah setempat.