Laporan Kebencanaan Geologi, 4 Mei 2018

Logo_ESDM

I. SUMMARY : 

 Hari ini, Jumat 4 Mei 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

  G. Sinabung (Sumatera Utara):

 

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013. Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis-tebal, tekanan lemah hingga sedang setinggi 200-1000 m di atas puncak. Angin bertiup lemah, sedang hingga kencang ke arah barat, baratdaya, selatan, timur dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf pada 3 Mei 2018 tercatat :

  • 4 kali Gempa Hembusan
  • 10 kali Gempa Tektonik Lokal 
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh  

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi : 

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir. 

VONA:

 VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 April 2018 pukul 16:14 WIB, erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 5460 m di atas permukaan laut atau sekitar 3000 m di atas puncak, angin bertiup ke timur-tenggara.

 

G. Agung (Bali) 

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2017 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis setinggi 100 m diatas puncak. Angin lemah hingga sedang ke arah barat.

Rekaman seismograf tanggal 3 Mei 2018 tercatat :

  • 3 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali Gempa Tektonik Lokal 


Tanggal 4 Mei 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat :

  • 2 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal

Rekomendasi :

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan. 

VONA :

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 30 April 2018 pukul 23.17 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 4642 m di atas permukaan laut atau sekitar 1500 m di atas puncak, angin bertiup ke baratdaya.

G. Marapi (Sumatera Barat):

  Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Marapi (2891 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat, utara, dan selatan. Asap kawah tidak teramati di atas puncak.

Melalui seismograf tanggal 3 Mei 2018 tercatat :

  • 4 kali Gempa Hembusan
  • 3 kali Gempa Tektonik Lokal
  •  5 kali Gempa Tektonik Jauh 

 Rekomendasi: 

Masyarakat di sekitar Gunungapi Marapi dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki Gunungapi Marapi pada radius 3 Km dari kawah/puncak.

VONA :  

 VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 2 Mei 2018 pukul 08:10 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 6891 m di atas permukaan laut atau sekitar 4000 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara.

G. Dukono (Halmahera):

  Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah dan abu erupsi teramati setinggi 400-500 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur. Teramati 1 kali letusan dengan tinggi kolom asap 400 m di atas puncak berwarna putih dan kelabu. Dari Pos PGA Dukono suara gemuruh letusan terdengar lemah pada malam hari.

Melalui seismograf tanggal 3 Mei 2018 tercatat :

  • 1 kali Gempa Letusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus (mikrotremor) dengan amplitudo maksimum 0,5-10 mm (dominan 2 mm) 

Rekomendasi : 

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA : 

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 3 Mei 2018 pukul 18:10 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1729 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah utara.

G. Ibu (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008. Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Kolom letusan/hembusan teramati berwarna putih hingga kelabu intensitas tipis hingga sedang tekanan lemah hingga sedang setinggi 300-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke utara dan timur.

Melalui seismograf tanggal 3 Mei 2018 tercatat :

  • 100 kali Gempa Letusan
  • 102 kali Gempa Hembusan
  • 33 kali Gempa Guguran
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi : 

 Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA : 

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 1 Mei 2018 pukul 17:33 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1825 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke timur.

Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

 

2. Gerakan Tanah

  Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Mei 2018 yang dibandingkan bulan April 2018, relatif sama potensinya di seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tetap terhadap potensi kejadian gerakan tanah masih berpeluang utamanya di wilayah jawa mengingat pertumbuhan penduduk dan alih fungsi lahan yang cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

  1. Kabupeten Majene, Provinsi Sulawesi Barat
  2. Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur

Penyebab :

 Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat lereng yang terjal, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air, dan dipicuh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah.

Dampak :

  Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan dua (2) rumah warga setempat rusak parah di Kabupeten Majene (Provinsi Sulawesi Barat);1 kendaraan sepeda motor serta badan jalan tertimbun material longsor.di Kabupaten Trenggalek (Provinsi Jawa Timur)

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

 

II. DETAIL

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini :

  1. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 2 Juni 2015.
  2. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018.
  3. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api);
  4.  Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I. 


Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis-tebal, tekanan lemah hingga sedang setinggi 200-1000 m di atas puncak. Angin bertiup lemah, sedang hingga kencang ke arah barat, baratdaya, selatan, timur dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf pada 3 Mei 2018 tercatat :

  • 4 kali Gempa Hembusan
  • 10 kali Gempa Tektonik Lokal 
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh  

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat. Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).

Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih terjadi dalam satu bulan terakhir, namun dengan eksplosivitas rendah dan frekuensi kejadian relatif menurun. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 15 April 2018 pukul 15:03 WITA terjadi erupsi dengan ketinggian kolom abu mencapai 500 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas kegempaan kembali menurun. Pasca erupsi November 2017 hingga saat ini kegempaansecara umum mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (Gempa Vulkanik dan Tektonik Lokal) dan Gempa frekuensi rendah (Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Pengukuran deformasi GPS maupun Tiltmeter menunjukkan pola deflasi. Citra Satelit juga mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis setinggi 100 m diatas puncak. Angin lemah hingga sedang ke arah barat.

Rekaman seismograf tanggal 3 Mei 2018 tercatat :

  • 3 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali Gempa Tektonik Lokal 

Tanggal 4 Mei 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat :

  • 2 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

G. Marapi (Sumatera Barat)

 Gunungapi Marapi di Sumatera Barat merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif sering dalam intensitas yang kecil, namun tanpa didahului oleh gejala peningkatan aktivitas vlkanik yang signifikan. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat, utara, dan selatan. Asap kawah tidak teramati di atas puncak.

Melalui seismograf tanggal 3 Mei 2018 tercatat :

  • 4 kali Gempa Hembusan
  • 3 kali Gempa Tektonik Lokal 
  • 5 kali Gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Marapi terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Agam dan Kabupaten Batusangkar tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Marapi.

Gunungapi Dukono (Halmahera).

  Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah dan abu erupsi teramati setinggi 400-500 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur. Teramati 1 kali letusan dengan tinggi kolom asap 400 m di atas puncak berwarna putih dan kelabu. Dari Pos PGA Dukono suara gemuruh letusan terdengar lemah pada malam hari.

Melalui seismograf tanggal 3 Mei 2018 tercatat :

  • 1 kali Gempa Letusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus (mikrotremor) dengan amplitudo maksimum 0,5-10 mm (dominan 2 mm) 

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).

  Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Kolom letusan/hembusan teramati berwarna putih hingga kelabu intensitas tipis hingga sedang tekanan lemah hingga sedang setinggi 300-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke utara dan timur.

Melalui seismograf tanggal 3 Mei 2018 tercatat :

  • 100 kali Gempa Letusan
  • 102 kali Gempa Hembusan
  • 33 kali Gempa Guguran
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional :

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll

 
VONA terakhir yang terkirim : 

  1. G. Sinabung, Sumatera Utara. VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 19 April 2018 pukul 16:14 WIB, erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 5460 m di atas permukaan laut atau sekitar 3000 m di atas puncak, angin bertiup ke timur-tenggara.
  2. G. Agung, Bali. VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 30 April 2018 pukul 23.17 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 4642 m di atas permukaan laut atau sekitar 1500 m di atas puncak, angin bertiup ke baratdaya.
  3. G. Marapi, Sumatera Barat. VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 2 Mei 2018 pukul 08:10 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 6891 m di atas permukaan laut atau sekitar 4000 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara.
  4. G. Dukono, Maluku Utara. VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 3 Mei 2018 pukul 18:10 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1729 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah utara.
  5. G. Ibu, Maluku Utara. VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 1 Mei 2018 pukul 17:33 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1825 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, kolom abu bergerak mengarah ke timur.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Mei 2018 yang dibandingkan bulan April 2018 akan relatif potensinya sama di seluruh indonesia mulai dari sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Wilayah Indonesia yang secara umum tetap perlu diwaspadai utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan, dan sepanjang aliran sungai antara lain wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan, Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan dan Tengah, Maluku , dan wilayah Papua.

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir terjadi di :

  1. Kabupeten Majene, Provinsi Sulawesi Barat,
  2. Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur,
  3. Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara,
  4. Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah,
  5. Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo
  6. Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara
  7. Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat,
  8. Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo,
  9. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat,
  10. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat,
  11. Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan,
  12. Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat.


Kejadian Gerakan Tanah terbaru:

1. Kabupeten Majene, Provinsi Sulawesi Barat

Gerakan tanah terjadi di Dusun Lombe, Desa Tandeallo, Kecamatan Ulumanda, Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat. Gerakan tanah terjadi pada hari Rabu, 2 Mei 2018. Atas kejadian tersebut, sedikitnya dua (2) rumah warga setempat rusak parah akibat tertimbun material longsor. Selain itu, akses jalan yang sering dilewati juga terhalang timbunan longsor.

Sumber berita :

https://tribratanews.sulbar.polri.go.id/longsor-di-ulumanda-bhabinkamtibmas-gotong-royong-bersama-warga-setempat/

Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan . Penyebab gerakan tanah diperkirakan akibat lereng yang terjal, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap air, dan dipicuh curah hujan yang tinggi sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah.

2. Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur

  Gerakan tanah terjadi di ruas jalan utama Trenggalek-Pule, Desa Gamping, Kecamatan Suruh, Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur. Gerakan tanah terjadi pada hari Rabu, 2 Mei 2018. Gerakan tanah mengakibatkan 1 kendaraan sepeda motor serta badan jalan tertimbun material longsor.

Sumber berita : https://news.detik.com/jawatimur/4001193/longsor-di-trenggalek-timbun-garasi-dan-satu-unit-motor

Gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan pada tebing setinggi 5 meter yang materialnya menimpa garasi serta jalan yang ada di bawahnya. Penyebab gerakan tanah diantaranya kemiringan lereng yang terjal, saluran drainase yang kurang baik.

Rekomendasi :

  • Masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi bencana serta pengguna jalan harus waspada bila melalui jalan ini, terutama pada waktu dan setelah hujan;
  • Masyarakat yang terdampak agar mengungsi ke tempat yang lebih aman serta selalu mengikuti intruksi dari petugas yang berwenang;
  • Tidak melakukan aktivitas dibawah lereng yang terjal;
  • Segera membersihkan material longsoran dengan tetap waspada terhadap longsoran susulan pada saat pembersihan;
  • Masyarakat dan pengguna jalan harus waspada bila melalui jalan ini, terutama pada waktu dan setelah hujan;
  • Segera membersihkan material longsoran dengan tetap waspada terhadap longsoran susulan pada saat pembersihan;
  • Membuat saluran drainase yang kedap air, serta mengalirkannya menjauh dari lereng yang longsor;
  • Memasang rambu peringatan rawan longsor;
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaca mitigasi bencana gerakan tanah.