Laporan Kebencanaan Geologi 13 April 2018

Logo_ESDM_Remake_FINAL-2

I. SUMMARY:

Hari ini, Jumat 13 April 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api

G. Sinabung (Sumatera Utara):

Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih-kelabu intensitas tebal, tekanan sedang setinggi 50-300 m di atas puncak. Terekam erupsi namun tinggi kolom abu tidak dapat diamati karena tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan, baratdaya dan barat.

Melalui rekaman seismograf pada 12 April 2018 tercatat :

  • 1 kali Gempa Letusan
  • 7 kali Gempa Hembusan
  • 3 kali Gempa Tremor Non-Harmonik
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.

Rekomendasi :

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit tanggal 6 April  2018 pukul 16:26 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 16:07 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 7460 m di atas permukaan laut atau sekitar 5000 m di atas puncak, angin bertiup ke utara - timur.

G. Agung (Bali):

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2017 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis tekanan lemah setinggi 200 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat, selatan dan timur.

Rekaman seismograf tanggal 12 April 2018 tercatat :

  • 6 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 9 kali Gempa Tektonik Jauh

Tanggal 13 April 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat :

  • 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal

Rekomendasi :

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung  yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA :

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 April 2018 pukul 09.48 WITA, terkait dengan erupsi pada pukul 09.04 WITA dimana asap letusan teramati setinggi 3642 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke baratdaya.

G. Dukono (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu intensitas sedang hingga tebal, tekanan sedang setinggi 100-400 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat dan baratlaut.

Melalui seismograf tanggal 12 April 2018 tercatat :

  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-15 mm (dominan 2 mm).

Rekomendasi :

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April  2018 pukul 09:11 WIT, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu 2129 m di atas permukaan laut atau 900 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara.

G. Ibu (Halmahera):

Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Kolom letusan/hembusan teramati berwarna putih hingga kelabu intensitas tipis hingga sedang tekanan lemah hingga sedang setinggi 200-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke selatan dan barat.

Melalui seismograf tanggal 12 April 2018 tercatat :

  • 85 kali Gempa Letusan
  • 49 kali Gempa Hembusan
  • 22 kali Gempa Tremor Harmonik

Rekomendasi :

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA : 

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.


Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan April  2018 yang dibandingkan bulan  Maret   2018, relatif potensinya menurun di seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tetap  terhadap potensi  kejadian gerakan tanah masih berpeluang  utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.

Gerakan tanah terakhir terjadi : 

  1. Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur
  2. Kabupaten Penajam Paser Utara ,Provinsi Kalimantan Timur

Penyebab :

Penyebab gerakan tanah diantaranya kemiringan lereng , sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air serta mudah tererosi  yang  dipicuh  curah hujan sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah.

Dampak  :

Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan  4 rumah rusak di Kabupaten Trenggalek (Provinsi Jawa Timur); 8 rumah rusak berat di Kabupaten Penajam Paser Utara (Provinsi Kalimantan Timur).

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.

Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

II. DETAIL

1. Gunung Api

Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 

  1. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 2 Juni 2015.
  2. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018.
  3. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api); 
  4. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).

Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). 
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih-kelabu intensitas tebal, tekanan sedang setinggi 50-300 m di atas puncak. Terekam erupsi namun tinggi kolom abu tidak dapat diamati karena tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan, baratdaya dan barat

Melalui rekaman seismograf pada 12 April 2018 tercatat :

  • 1 kali Gempa Letusan
  • 7 kali Gempa Hembusan
  • 3 kali Gempa Tremor Non-Harmonik
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh

Hasil pemantauan pada 20 Februari 2018, kubah lava dengan volume sekitar 1,60 juta m3 sudah gugur menjadi awan panas bersama erupsi pada 19 Februari 2018 pukul 08:53 WIB .
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).

Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan aktivitas erupsi sejak satu bulan terakhir, namun  pada tanggal 6 April 2018 pukul 01.37 terjadi erupsi dengan ketinggian abu mencapai 500 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas kegempaan kembali menurun. Sejak satu bulan terakhir juga kegempaan yang terekam oleh seismograf cenderung mengalami penurunan, terutama jenis gempa Hembusan dan gempa Letusan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Citra Satelit  juga mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. 
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). 
Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih tipis tekanan lemah setinggi 200 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat, selatan dan timur.

Rekaman seismograf tanggal 12 April 2018 tercatat :

  • 6 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 9 kali Gempa Tektonik Jauh

Tanggal 13 April 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat :

  • 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).

Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu intensitas sedang hingga tebal, tekanan sedang setinggi 100-400 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat dan baratlaut.

Melalui seismograf tanggal 12 April 2018 tercatat :

  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-15 mm (dominan 2 mm).

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).

Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Kolom letusan/hembusan teramati berwarna putih hingga kelabu intensitas tipis hingga sedang tekanan lemah hingga sedang setinggi 200-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke selatan dan barat.

Melalui seismograf tanggal 12 April 2018 tercatat :

  • 85 kali Gempa Letusan
  • 49 kali Gempa Hembusan
  • 22 kali Gempa Tremor Harmonik

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional :

  • Dirjen Perhubungan Udara-Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav,
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin,
  • VAAC Tokyo,
  • dll


VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit tanggal 12 April  2018 pukul 17:25 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 16:55 WIB dimana tinggi kolom abu tidak teramati karena tertutup kabut, angin bertiup ke barat - baratdaya.
  2. G. Agung, Bali.VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 April 2018 pukul 09.48 WITA, terkait dengan erupsi pada pukul 09.04 WITA dimana asap letusan teramati setinggi 3642 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke baratdaya.
  3. G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 6 April  2018 pukul 09:11 WIT, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu 2129 m di atas permukaan laut atau 900 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah tenggara.
  4. G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1425 m di atas permukaan laut atau 100 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
  5. Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan April  2018 yang dibandingkan bulan  Maret 2018  akan  relaif potensinya menurun di seluruh indonesia  mulai dari  sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum tetap  perlu diwaspadai utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan dan Tengah, Maluku  , dan wilayah Papua. 

Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 

  1. Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur,
  2. Kabupaten Penajam Paser Utara ,Provinsi Kalimantan Timur
  3. Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara,
  4. Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat,
  5. Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat,
  6. Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan,
  7. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat,
  8. Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur,
  9. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat,
  10. Kabupaten Kuansing, Provinsi Riau,
  11. Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat,
  12. Kebumen, Provinsi Jawa Tengah.

Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:

1. Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur

Hujan berintensitas tinggi di wilayah Kecamatan Bendungan Kabupaten Trenggalek, mengakibatkan bencana tanah longsor menerjang beberapa rumah warga di wilayah Bendungan, Rabu (11/04/18).Bencana longsor tersebut menimpa rumah warga yang berada di Desa Masaran, Desa Sumurup dan Desa Suren Lor. hujan lebat yang terjadi di wilayah Bendungan dalam 2 hari ini sebagai pemicu terjadinya lonsoran tanah. Gerakan tanah yang terjadi berupa longsoran material rombakan yang mengakibatkan 4rumah yang ada di 3 desa yang berbeda tersebut rusak berat. 

Sumber :  http://kodim0806trenggalek.com/2018/04/hujan-deras-tanah-longsor-terjang-beberapa-rumah-warga-kecamatan-bendungan/

Penyebab gerakan tanah diantaranya kemiringan lereng , sifat tanah pelapukan yang poros dan mudah menyerap air serta mudah tererosi  yang  dipicuh  curah hujan sebelum dan saat terjadinya gerakan tanah.

2. Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur

Bencana Tanah Longsor menerjang pemukiman warga Desa Telemow Kecamatan Sepaku Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Gerakan tanah yang terjadi berupa longsoran bahan rombakan yang mengakibatkan 8 rumah rusak berat. 

Sumber :  http://klikpenajam.com/berita-5251-diterjang-longsor-8-rumah-warga-ambruk.html

Gerakan tanah terjadi akibat tanah pelapukan yang sarang dan mudang menyerap air, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi. 

Rekomendasi:

  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu meningkatkan kewaspadaan bagi penduduk yang bermukim di sekitar lokasi gerakan tanah terutama pada saat dan setelah turun hujan.
  • Apabila terjadi hujan dengan durasi yang lama, penduduk yang bermukim serta pengguna sarana sekolah yang berada di bawah tebing yang longsor tersebut, diharapkan segera mengungsi ke tempat yang lebih aman
  • Memindahkan rumah warga yang rusak berat ke tempat yang lebih aman
  • Tidak mendirikan bangunan dengan jarak yang terlalu dekat dengan tebing
  • Masyarakat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan pemerintah daerah setempat
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu meningkatkan kewaspadaan bagi penduduk yang bermukim di sekitar lokasi gerakan tanah terutama pada saat dan setelah turun hujan.
  • Memindahkan rumah warga yang rusak berat ke tempat yang lebih aman.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari BPBD/aparat pemerintah daerah setempat.