Laporan Kebencanaan Geologi 04 Maret 2018

Logo_ESDM

I. SUMMARY:
Hari ini, Minggu 04 Maret 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:

1. Gunung Api
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi tertutup kabut dan hujan. Tinggi asap kawah tidak teramati. Aktivitas permukaan tidak disertai letusan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah Barat dan Baratdaya. Melalui rekaman seismograf pada 03 Maret 2018 tercatat:

  • 5 kali Gempa Guguran
  • 5 kali Gempa Low-frequency
  • 77 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 6 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)

Dari kemarin sampai pagi ini tidak tercatat adanya lahar.
Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Februari 2018 pukul 06:44 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 01:39 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak, angin bertiup ke selatan - tenggara.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2017 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Tinggi hembusan solfatara putih tipis tekanan lemah di  kawah puncak teramati 50-100 m. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah ke timur. Rekaman seismograf tanggal 03 Maret 2018 tercatat:

  • 13 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam (VB)
  • 5 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VA)
  • 2 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)(1 kali terasa)
  • 5 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)

Tanggal 04 Maret 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 3 kali Gempa Hembusan
  • 3 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung. 
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Februari 2018 pukul 12:00 WITA, terkait dengan erupsi pada pukul 11:49 WITA dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 4642 m di atas permukaan laut atau sekitar 1500 m di atas puncak, angin bertiup ke Timur.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi sering tertutup kabut. Tinggi kolom abu hembusan putih kelabu tekanan sedang teramati 300-600 m. Angin ke arah timur. Melalui seismograf tanggal 03 Maret 2018 tercatat:- Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-18 mm (dominan 2 mm).
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Februari 2018 pukul 08:56 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1929 m di atas permukaan laut atau 700 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah timurlaut.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi tertutup kabut. Tinggi kolom abu letusan tidak teramati. Arah angin condong ke timur dan utara. Melalui seismograf tanggal 03 Maret 2018 tercatat:- 126 kali Gempa Letusan- 106 kali Gempa Hembusan- 39 kali Gempa Tremor Harmonik
Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Maret  2018 yang dibandingkan bulan  Februari  2018,   realtif masih sama dan tetap tinggi potensinya di seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tetap  tinggi terhadap potensi  kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi : 

  1. Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah
  2. Kabupaten Kepulauan Sitaro, Provinsi Sulawesi Utara
  3. Kabupaten Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara

Penyebab : Penyebab gerakan tanah diduga akibat kemiringan lereng yang terjal dengan kondisi tanah pelapukan yang labil dan tebal sehingga mudah tererosi, drainase air yang tidak berfungsi  akibatnya air melimpas ke jalan,  serta dipicuh curah  hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang lama sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah. Jenis gerakan tanah merupakan tipe longsoran tanah dan aliran bahan rombakan .
Dampak  : Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan  satu warga meninggal dunia di Kabupaten Wonosobo (Provinsi Jawa Tengah); akses lalulintas terputus dan warga kampung Kinali terisolasi di Kabupaten Kepulauan Sitaro (Provinsi Sulawesi Utara); 2 rumah rusak di  Kabupaten Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi
Gempa bumi di Tenggara Boven Digoel, Papua
Informasi Gempa bumi:Gempa bumi  terjadi pada tanggal 3 Maret 20185,3 SR 04:30:57 WIB 6,27 LS ; 142,76 BT kedalaman 27 km dan pada jarak 274 km Tenggara Boven Digoel, Papua. Gempa bumi ini merupakan susulan dari gempa bumi utama tanggal 26 Februari dengan magnituda 7.6 SR .
Dampak Gempa bumi:Beberapa kerusakan bangunan terjadi akibat gempa bumi utama 7,6SR yang getarannya di rasakan di sejumlah wilayah Indonesia, seperti Kabupaten Boven Digoel, Tanah Merah, Merauke dan Oksibil. 
Penyebab Gempa Bumi:
Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas sesar aktif yang berarah  Barat timur. 
Rekomendasi:

  • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD. 
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan.



II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 

  1. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 2 Juni 2015.
  2. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018.
  3. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api); 
  4. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). 
Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Tinggi asap kawah puncak tidak teramati. Aktivitas permukaan tidak disertai letusan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat dan baratdaya. Melalui rekaman seismograf pada 03 Maret 2018 tercatat:

  • 5 kali Gempa Guguran
  • 5 kali Gempa Low Frequency
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 77 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 6 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)

Dari kemarin sampai pagi ini tidak tercatat adanya lahar.
Hasil pemantauan pada 20 Februari 2018, kubah lava dengan volume sekitar 1,60 juta m3 sudah gugur menjadi awan panas bersama erupsi pada 19 Februari 2018 pukul 08:53 WIB .
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan aktivitas erupsi sejak satu bulan terakhir, erupsi terakhir terjadi pada 24 Januari 2018 dengan ketinggian abu mencapai 1000 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas didominasi hembusan asap kawah dengan ketinggian 50-500. Sejak satu bulan terakhir juga kegempaan yang terekam oleh seismograf cenderung mengalami penurunan, terutama jenis gempa Hembusan dan gempa Letusan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Citra Satelit  juga mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. 
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). 
Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Tinggi asap solfatara putih tipis tekanan lemah teramati 50 m. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah ke timur dan barat. Rekaman seismograf tanggal 03 Maret 2018 tercatat:

  • 13 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 5 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 2 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)(1 kali terasa)
  • 5 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)

Tanggal 04 Maret 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 3 kali Gempa Hembusan
  • 3 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi lebih sering tertutup kabut. Tinggi kolom abu hembusan putih tebal tekanan sedang teramati 300-600 m dari puncak. Angin ke arah timur. Melalui seismograf tanggal 03 Maret 2018 tercatat:Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-18 mm (dominan 2 mm).
Malam hari tidak terdengar bunyi gemuruh di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi tertutup kabut. Tinggi kolom abu letusan tidak teramati. Angin ke timur dan utara. Melalui seismograf tanggal 03 Maret 2018 tercatat:

  • 126 kali Gempa Letusan
  • 106 kali Gempa Hembusan
  • 39 kali Gempa Tremor Harmonik

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Gunungapi Ibu.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia (https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara
  • Kemenhub,
  • BMKG, 
  • Air Nav, 
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin, 
  • VAAC Tokyo, 
  • dll


VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Februari 2018 pukul 06:44 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 01:39 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak, angin bertiup ke selatan - tenggara.
  2. G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Februari 2018 pukul 12:00 WITA, terkait dengan erupsi pada pukul 11:49 WITA dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 4642 m di atas permukaan laut atau sekitar 1500 m di atas puncak, angin bertiup ke Timur.
  3. G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Februari 2018 pukul 08:56 WIT, terkait tinggi hembusan putih kelabu tebal tekanan sedang 1929 m di atas permukaan laut atau 700 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah timurlaut.
  4. G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.

Kegiatan gunungapi lain yg di atas NORMAL sampai pagi ini belum diikuti tanda-tanda peningkatan kegiatan.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Maret   2018 yang dibandingkan bulan  Februari  2018  akan  tetap tinggi potensinya di seluruh indonesia  mulai dari  sebagian pulau Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu diwaspadai   utamanya di daerah wilayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai antara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan dan Tengah, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di: 

  1. Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah
  2. Kabupaten Kepulauan Sitaro, Provinsi Sulawesi Utara
  3. Kabupaten Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara
  4. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat
  5. Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah
  6. Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat
  7. Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara
  8. Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat
  9. Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat
  10. Kabupaten Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara
  11. Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat
  12. Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah
  13. Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah
  14. Kabupaten  Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan
  15. Kabupaten  Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat
  16. Kabupaten Ogan Komering Ulu, Provinsi Sumatera Selatan
  17. Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur
  18. Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah
  19. Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah
  20. Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah
  21. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat
  22. Kota Balikpapan , Provinsi Kalimantan Timur
  23. Kabupaten  Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah.


Kejadian Gerakan Tanah   terbaru:
1. Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah
Longsor terjadi di Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah, Kamis (1/3) sekitar pukul 14. 00 WIB. Seorang petani tewas tertimbun tanah longsor saat beristirahat di bawah pohon bambu. 
Sumber: http://m.liputan6.com/news/read/3332980/istirahat-di-bawah-pohon-petani-tewas-tertimbun-tanah-longsor
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil, dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

2. Kabupaten Kepulauan Sitaro, Provinsi Sulawesi Utara
Longsor terjadi di Kampung Kinali Kecamatan Siau Barat Utara, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, Jumat (2/3). Longsor ini menyebabkan warga terisolasi dan membuat puluhan kendaraan dari dua arah tidak dapat melewati tumpukan material tanah yang bercampur batang dan dahan pohon yang menutup badan jalan.
Sumber: http://manado.tribunnews.com/2018/03/02/jalan-ke-kampung-kinali-tertutup-longsor-ini-kata-bupati-sitaro-toni-supit
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil, tebing yang terjal juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

3. Kabupaten Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara
Longsor  terjadi di  Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Curah hujan yang cukup tinggi membuat bukit di kawasan tersebut longsor.  Tanah longsor menimpa dua rumah warga di Gunung Belah Tarakan.
Sumber: https://regional.kompas.com/read/2018/03/03/19352471/dua-rumah-di-tarakan-terkena-tanah-longsor-akibat-hujan-deras
Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil, tebing yang terjal juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana. Tipe gerakan tanah merupakan longsoran bahan rombakan.

Rekomendasi :

  • Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan
  • Pemotongan lereng yang tidak terlalu tegak dan harus mengikuti kaidah-kaidah geologi tehnik.
  • Pemilik rumah yang terkena longsoran agar mengungsi di tempat yang aman terutama pada saat hujan untuk menghindari gerakan tanah susulan
  • Warga yang bertempat tinggal di sekitar lokasi untuk tetap waspada apabila terjadi hujan yang berlangsung lama karena dikhawatirkan terjadi longsor susulan.
  • Menjaga fungsi lahan dengan menanami vegetasi berakar dalam dan kuat serta  menata aliran air permukaan pada tebing di atas pemukiman tersebut.
  • Pemasangan rambu rawan bencana longsor untuk meningkatkan kewaspadaan
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.