Laporan Kebencanaan Geologi 28 Februari 2018 (06:00 Wib)

Logo_ESDM

I. SUMMARY:
Hari ini, Rabu 28 Februari 2018, Bencana Geologi yang terjadi sbb:
 

1. Gunung Api
G. Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.
Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih - kelabu dengan ketinggian 50-300 m di atas puncak.. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat dan selatan. Melalui rekaman seismograf pada 27 Februari 2018 tercatat:

  • 1 kali Gempa Guguran
  • 7 kali Gempa Low-frequency
  • 1 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 257 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 3 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)
  • 2 kali Gempa Tornilo

Bendungan di Sungai Laborus terbentuk akibat penumpukan endapan awan panas masih berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol.
Rekomendasi:

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan secara sektoral dari puncak dalam jarak 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur dan 4 km timur-utara.
  • Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Februari 2018 pukul 06:44 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 01:39 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak, angin bertiup ke selatan - tenggara.

G. Agung (Bali):
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2017 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).
Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah berwarna putih tipis-kelabu teramati setinggi 200-300 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah ke Timur. Rekaman seismograf tanggal 27 Februari 2018 tercatat:

  • 15 kali Gempa Hembusan
  • 8 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 5 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 2 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)
  • 3 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)

Tanggal 28 Februari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung. 
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Februari 2018 pukul 12:00 WITA, terkait dengan erupsi pada pukul 11:49 WITA dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 4642 m di atas permukaan laut atau sekitar 1500 m di atas puncak, angin bertiup ke Timur.

G. Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Abu letusan teramati berwarna putih dan kelabu tebal dengan ketinggian 100-600 m di atas puncak condong ke tenggara - selatan. Melalui seismograf tanggal 27 Februari 2018 tercatat:-

  • 1 kali Gempa Letusan
  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-20 mm (dominan 2 mm).

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Februari 2018 pukul 07:16 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah utara.

G. Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Abu letusan teramati berwarna putih dan kelabu sedang dengan ketinggian 300-600 m di atas puncak condong ke barat-selatan. Melalui seismograf tanggal 27 Februari 2018 tercatat:-

  • 130 kali Gempa Letusan
  • 109 kali Gempa Hembusan
  • 38 kali Gempa Tremor Harmonik
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m di atas puncak, kolom abu condong ke arah Utara.

G. Ili Lewotolok (Lembata NTT):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). G. Ili Lewotolok (1319 m dpl) sering mengalami krisis kegempaan yang berkaitan erat dengan kegiatan tektonik lokal di bagian utara gunungapi.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi umumnya tertutup kabut, sehingga pengamatan ke arah puncak gunung tidak dapat dilakukan dengan baik. Melalui rekaman seismograf pada 27 Februari 2018 tercatat:

  • 1 kali Gempa Hembusan
  • 6 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 5 kali Gempa Vulkanik Dalam

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Ili Lewotolok dan pengunjung/pendaki/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian, dan tidak beraktivitas dalam zona perkiraan bahaya di dalam area kawah G. Ili Lewotolok dan di seluruh area dalam radius 2 km dari puncak/pusat aktivitas G. Ili Lewotolok.
VONA: Terakhir tercatat kode warna YELLOW, terbit 09 Oktober 2017 pukul 09:26 WIT, terkait hembusan asap kawah putih tipis mencapai ketinggian 1923 m dari permukaan laut atau 500 m dari puncak. Angin bertiup ke barat.
Untuk Gunungapi status Normal: Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Januari   2018 yang dibandingkan bulan  Februari  2018,   realtif masih sama dan tetap tinggi potensinya di seluruh wilayah Indonesia. Kewaspadaan tinggi terhadap potensi  kejadian gerakan tanah utamanya di wilayah jawa  mengingat  pertumbuhan penduduk  dan alih fungsi lahan yang  cukup masif di wilayah ini dibanding wilayah lain di luar jawa.
Gerakan tanah terakhir terjadi : 

  1. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat
  2. Kota Balikpapan , Provinsi Kalimantan Timur
  3. Kabupaten  Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah

Penyebab : Penyebab gerakan tanah diperkirakan karena kelerengan, kondisi tanah yang labil karena tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap  air dan tanah pelapukan yang mudah tererosi, serta dipicuh curah  hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang lama sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah
Dampak  : Gerakan tanah / tanah longsor mengakibatkan   akses lalu lintas terganggu di Kabupaten Bogor (Provinsi Jawa Tengah); beberapa rumah terdampak longsor di    Kota Balikpapan  (Provinsi Kalimantan Timur); tidak ada korban jiwa di  Kabupaten  Wonosobo (Provinsi Jawa Tengah)
Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini.  Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

3. Gempa Bumi
Gempa bumi di Buru, Maluku
Informasi Gempa Bumi:Gempa bumi terjadi pada hari Selasa, 27 Februari 2018, pukul 16:20:41 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 126.73° BT dan 2.64° LS, dengan kekuatan 5,0 SR pada kedalaman 10 km, berjarak 76 km  timurlaut Buru, Maluku.
Penyebab gempa bumi:Diperkirakan akibat aktivitas subduksi di Laut Seram.
Dampak gempa bumi:Belum ada info mengenai korban dan kerusakan. Gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami.
Rekomendasi:

  • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempabumi susulan.


II. DETAIL
1. Gunung Api
Dari 127 Gunungapi Aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam/hari. Status saat ini : 

  1. 1 (satu) gunung api status AWAS/Level IV, yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 2 Juni 2015.
  2. 1 (satu) gunung api status SIAGA/Level III, yaitu G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018.
  3. Sebanyak 18 gunung api Status Waspada/Level II (Marapi, Kerinci, Dempo, Anak Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api); 
  4. Sisanya 49 gunung api: Status NORMAL/Level I.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas). 
Dari kemarin sampai pagi ini visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih - kelabu dengan ketinggian 50-300 m di atas puncak.. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat dan selatan. Melalui rekaman seismograf pada 27 Februari 2018 tercatat:

  • 1 kali Gempa Guguran
  • 7 kali Gempa Low-frequency
  • 1 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 257 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 3 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)
  • 2 kali Gempa Tornilo

Hasil pemantauan pada 20 Februari 2018, kubah lava dengan volume sekitar 1,60 juta m3 sudah gugur menjadi awan panas bersama erupsi pada 19 Februari 2018 pukul 08:53 WIB .
Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus  2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar. Pebendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengirimkan Tim Tanggap Darurat ke Sinabung untuk memperkuat kegiatan pemantauan secara menerus 24 jam per hari, berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan setempat (BPBD, TNI, POLRI), maupun melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat setempat.
Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

Gunungapi Agung (Bali).
Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan penurunan aktivitas erupsi sejak satu bulan terakhir, erupsi terakhir terjadi pada 24 Januari 2018 dengan ketinggian abu mencapai 1000 m di atas puncak. Setelah itu, aktivitas didominasi hembusan asap kawah dengan ketinggian 50-500. Sejak satu bulan terakhir juga kegempaan yang terekam oleh seismograf cenderung mengalami penurunan, terutama jenis gempa Hembusan dan gempa Letusan. Pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung mengindikasikan fluktuasi dan cenderung mengarah ke fase relaksasi. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 20 juta m3. Citra Satelit  juga mengindikasikan adanya penurunan energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. 
Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga). 
Dari kemarin hingga hari ini secara visual gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Asap kawah berwarna putih tipis-kelabu teramati setinggi 200-300 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah ke Timur. Rekaman seismograf tanggal 27 Februari 2018 tercatat:

  • 15 kali Gempa Hembusan
  • 8 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 5 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)
  • 2 kali Gempa Tektonik Lokal (TL)
  • 3 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ)

Tanggal 28 Februari 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:

  • 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB)
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA)

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Agung terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Karangasem tentang penanggulangan bencana erupsi Agung.

Gunungapi Dukono (Halmahera).
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Abu letusan teramati berwarna putih dan kelabu tebal dengan ketinggian 100-600 m di atas puncak condong ke tenggara - selatan. Melalui seismograf tanggal 27 Februari 2018 tercatat:-

  • 1 kali Gempa Letusan
  • Tremor menerus terkait hembusan abu dengan amplitudo 0.5-20 mm (dominan 2 mm).

Malam hari terdengar bunyi gemuruh di Pos Dukono yang berjarak 10 km di utara puncak.
Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Dukono terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara tentang penanggulangan bencana erupsi Dukono.

Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan. 
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati hingga tertutup kabut. Abu letusan teramati berwarna putih dan kelabu sedang dengan ketinggian 300-600 m di atas puncak condong ke barat-selatan. Melalui seismograf tanggal 27 Februari 2018 tercatat:

  • 130 kali Gempa Letusan
  • 109 kali Gempa Hembusan
  • 38 kali Gempa Tremor Harmonik
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ibu terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan Ibu dan BPBD Kabupaten Halmahera Barat tentang penanggulangan bencana erupsi Ibu.

Gunungapi Ili Lewotolok (Lembata NTT).
Gunungapi Ili Lewotolok di Pulau Lembata merupakan salah satu gunungapi aktif di Nusa Tenggara Timur. Karakteristik erupsi sejak Tahun 1660-1920 adalah erupsi tipe letusan bersifat vulkanian dari kawah puncak. Kegiatan vulkanik setelah Erupsi 1920 adalah krisis kegempaan vulkanik tanpa diikuti erupsi. Ili Lewotolok sering mengalami krisis Kegempaan yang selalu berkaitan dengan kegiatan tektonik lokal baik terasa maupun tidak terasa di bagian utara gunungapi. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya primer awan panas utamanya  berada di dalam radius 4 km dari puncak dan arah sektoral sejauh 6 km ke arah baratdaya, selatan, dan timurlaut. Bahaya lahar di daerah aliran sungai yang bermuara ke baratdaya dan selatan.
Dari kemarin sampai pagi ini secara visual gunungapi umumnya tertutup kabut, sehingga pengamatan ke arah puncak gunung tidak dapat dilakukan dengan baik. Melalui rekaman seismograf pada 27 Februari 2018 tercatat:

  • 1 kali Gempa Hembusan
  • 6 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 5 kali Gempa Vulkanik Dalam

Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Ili Lewotolok terus memantau perkembangan kegiatan vulkanik dan senantiasa berkoordinasi dengan satuan pelaksana (satlak) Kecamatan  dan BPBD Kabupaten Lembata tentang penanggulangan bencana erupsi Lewotolo.

Informasi mengenai abu vulkanik erupsi/letusan gunungapi Indonesia yg berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan disampaikan melalui email VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan menggunakan aplikasi MAGMA Indonesia ((https://magma.vsi.esdm.go.id) ke stakeholders nasional maupun internasional:

  • Dirjen Perhubungan Udara
  • Kemenhub,
  • BMKG,
  • Air Nav, 
  • Air Traffic Control, Airlines,
  • VAAC Darwin, 
  • VAAC Tokyo, 
  • dll


VONA terakhir yang terkirim:

  1. G. Sinabung, Sumatera Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Februari 2018 pukul 06:44 WIB, terkait dengan erupsi pada pukul 01:39 WIB dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 3160 m di atas permukaan laut atau sekitar 700 m di atas puncak, angin bertiup ke selatan - tenggara.
  2. G. Agung, Bali.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 13 Februari 2018 pukul 12:00 WITA, terkait dengan erupsi pada pukul 11:49 WITA dimana tinggi kolom abu teramati setinggi 4642 m di atas permukaan laut atau sekitar 1500 m di atas puncak, angin bertiup ke Timur.
  3. G. Dukono, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Februari 2018 pukul 07:16 WIT, terkait letusan dengan ketinggian abu 2029 m di atas permukaan laut atau 800 m di atas puncak. Kolom abu condong ke arah utara.
  4. G. Ibu, Maluku Utara.VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 28 Agustus 2017 pukul 06:12 WIT terkait dengan erupsi yg disertai kepulan abu vulkanik setinggi 1725 m di atas permukaan laut atau 400 m dari puncak, kolom abu bergerak mengarah ke Utara.
  5. G. Ili Lewotolok, Nusa Tenggara Timur.VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Desember 2017 Pukul 19:52 WIB, terkait letusan dengan ketinggian abu 3960 m di atas permukaan laut atau 1500 m dari puncak. Kolom abu condong ke arah timur-tenggara.

 

2. Gerakan Tanah
Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan Januari   2018 yang dibandingkan bulan  Februari  2018  akan  tetap tinggi potensinya di seluruh indonesia  mulai dari  Pulau Sumatra , Jawa , Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara,  Maluku dan  Papua. Wilayah Indonesia yang  secara umum berpotensi  tinggi  dan perlu diwaspadai   utamanya di daerah wulayah jalur jalan dan pemukiman di perbukitan, pegunungan,  dan sepanjang aliran sungai anara lain  wilayah Sumatera bagian Barat dan Tengah, Wilayah Jawa bagian  Barat dan Tengah dan Timur, Bali , Kalimantan bagian Barat , Selatan,  Tengah, Timur dan Utara, Sulawesi bagian Selatan, Barat , Utara, dan Tengah , Nusa Tenggara ,Selatan, Tengah  dan Utara, Maluku  , dan wilayah Papua. 
Kejadian gerakan tanah / tanah longsor dalam 1 minggu terakhir  terjadi di:

  1. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat
  2. Kota Balikpapan , Provinsi Kalimantan Timur
  3. Kabupaten  Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah
  4. Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah
  5. Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah
  6. Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur
  7. Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan
  8. Kabupaten Kota Semarang,  Provinsi Jawa Barat
  9. Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat
  10. Kabupaten Temanggung , Provinsi Jawa Tengah
  11. Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur
  12. Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah
  13. Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat
  14. Kabupaten Majalengka,  Provinsi Jawa Barat
  15. Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah
  16. Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah
  17. Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah
  18. Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah
  19. Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh
  20. Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur
  21. Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat
  22. Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah
  23. Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat,
  24. Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah
  25. Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah
  26. Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah
  27. Kabupaten Kuningan . Provinsi Jawa Barat.


Kejadian Gerakan Tanah terbaru:
1. Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Tengah 

  • Tebing di Kampung Keramat Banteng, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, longsor, Senin (26/2/2018) malam. Longsor berdampak tertutupnya akses menuju beberapa kampung di wilayah desa tersebut.Tidak ada korban jiwa dalam musibah longsor tersebut, namun kendaraan roda dua dan empat tidak bisa melintas karena tertutup material tanah dan batu. Tingginya curah hujan mengakibatkan tebing longsor sepanjang 20 meter, sehingga menutup akses jalan menuju beberapa kampung di antaranya Kampung Nirmala, Malani, dan Citalahab.
  • Longsor kembali terjadi di Kota Hujan. Tadi malam sekitar pukul 16.40, tebingan di sekitar sekolah alam di Kampung Dam, Kelurahan Katulampa RT 01/14, menumbangkan sejumlah pohon-pohon hingga menghalangi aliran air sungai di bawah tebing. Hujan lebat membuat tebing setinggi 20 meter longsor. Tidak ada korban jiwa.

Sumber: http://beritautama.net/2018/02/27/tebing-longsor-tutup-akses-jalan-ke-citalahab/, http://www.radarbogor.id/2018/02/27/longsor-ancam-rumah-warga-di-katulampa/
Penyebab gerakan tanah diperkirakan karena kelerengan, kondisi tanah yang labil karena tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap  air dan tanah pelapukan yang mudah tererosi, serta dipicuh curah  hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang lama sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah. Sedangkan Tipe gerakan tanah adalah Longsoran tanah.

2. Kota Balikpapan , Provinsi Kalimantan Timur
Tanah longsor  terjadi di Jl. Gn Rejo Rt. 15 Kel. Gn Sari Ulu Kec. Balikpapan Tengah. Waktu kejadian : Senin 26 Feb 2018, pukul 23.00 witaAkibat hujan deras semalam, terjadi Pergerakan Tanah yang mengakibatkan Tanah Longsor. Terdapat beberapa rumah yang terdampak. Tidak ada korban jiwa 
Sumber: https://www.instagram.com/p/BfsMYGIDqUN/
Penyebab gerakan tanah diperkirakan karena kelerengan, kondisi tanah yang labil karena tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap  air dan tanah pelapukan yang mudah tererosi, serta dipicuh curah  hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang lama sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah. Sedangkan Tipe gerakan tanah adalah Longsoran tanah.

3. Kabupaten  Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah
Longsor terjadi di Dusun Kalilembu Kejajar Wonosobo. Dilaporkan warga pukul 10.35 WIB, (Selasa, 27 Februari 2018).  Tidak ada korban akibar longsoran ini.
Sumber: https://www.wonosobozone.com/breaking-news-longsor-terjadi-di-kejajar/
Penyebab gerakan tanah diperkirakan karena kelerengan, kondisi tanah yang labil karena tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang mudah menyerap  air dan tanah pelapukan yang mudah tererosi, serta dipicuh curah  hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang lama sebelum dan atau saat terjadinya gerakan tanah. Sedangkan Tipe gerakan tanah adalah Longsoran aliran bahan rombakan.
Rekomendasi: 

  • Segera membersihkan material gerakan tanah dan senantiasa hati-hati terhadap potensi Gerakan tanahan susulan selama curah hujan masih tinggi
  • Masyarakat dan pengguna jalan yang melintas harap meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi jalur rawan gerakan tanah
  • Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaa
  • Melandaikan lereng, mengatur drainase dan memperkuat kestabilan lereng dengan pembuatan penahan lereng.
  • Pemasangan rambu rawan bencana gerakan tanah untuk meningkatkan kewaspadaan
  • Menata aliran air permukaan pada lereng tersebut.
  • Memelihara vegetasi berakar dalam di daerah lereng atau membuat dinding penahan pada lereng berkemiringan terjal untuk memperkuat kestabilan lereng.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah / BPBD setempat.